Senin, 31 Januari 2011

Begitu Bermaknanya Perkawinan Adat Jawa

Pada hari Minggu tanggal 30 Januari 2011, kami menghadiri pernikahan adik ipar saya di Blitar Jawa Timur. Kesempatan itu selain turut berbahagia atas pernikahan itu, sayapun sempat memperhatikan pernikahan adat Jawa khusnya Blitar ini. Saya sangat terpesona dengan acara yang sakral dan tentunya penuh makna yang divisualisasikan dalam bentuk simbol simbol tahapan upacara.
Pernikahan adat Jawa sebagaimana perkawinan adat lainnya adalah kesempatan untuk memberikan petatah petitih / nasehat dalam bentuk ritual adat,  dimana kalau kita ikuti petatah petitih dalam bentuk simbol itu, setidaknya kita akan lebih lapang untuk mengarungi kehidupan ini.
Langkah langkah upacara perkawinan adat Jawa ini khususnya di Blitar dimulai setelah pengucapan akad nikah, langkah itu adalah sebagai berikut:
Langkah l; panggih, yaitu dimana pengantin laki laki dipertemukan dengan pengantin perempuan,    yang kini telah dipersatukan dalam ikatan perkawinan.
Langkah ll: balangan gantal, yaitu saling lempar daun sirih dimana artinyanya adalah daun itu terdiri  dua sisi namun tetap saja itu satu daun atau  bermakna bahwa kehidupan selalu ada dua      anak manusia selalu ada perbedaan tetapi harus tetap satu walaupun pahit rasanya   seperti rasa daun sirih dalam mengarungi bahtera rumah tangga agar cita cita yang diangankan dapat tercapai.
Langkah lll: midak tigan atau menginjang telor ayam bermakna bahwa rumah tangga itu harus mandiri, harus bisa memecahkan sendiri persoalan  yang timbul.
Langkah IV: toya wening atau masing masing pengantin laki perempuan meminum air putih dimana
artinya adalah memandang persoalan itu harus secara jernih.
Langkah V: sinduran atau pengantin laki perempuan dikerudung kain merah putih dan dipapah oleh mertua perempuan artinya adalah orang tua selalu mengantarkan kepada kebaikan dan selalu mengingatkan untuk amar ma’ruf nahi mungkar.
Langkah VI: krobongan dimana pengantin laki perempuan sudah berada di pelaminan. Krobongan ini terdiri dari:
1.    Bobot timbang dimana pengantin perempuan duduk di pangkuan ibunya dan pengantin laki duduk di pangkuan bapak mertuanya. Ini bermakna bahwa orangtua itu tidak akan membedakan perlakuan kepada anaknya atau kepada menantunya.
2.   Tanem jero atau mendudukkan penganten laki perempuan oleh pihak orang tua penganten perempuan di pelaminan yang berarti bahwa kini sudah diwisuda sebagai keluarga yang mandiri.
3.   Kacar kucur atau mengucurkan beras beserta koin uang oleh pengantin laki laki yang diterima oleh pengantin perempuan yang artinya adalah bahwa pihak laki laki bertanggung jawab untuk menafkahi lahir batin istrinya.
4.   Dahar boga jenar atau saling bersuap nasi kuning antara pengantin laki dan perempuan yang artinya adalah dalam berumah tangga pahit manis makan tidak makan harus tetap dalam satu biduk.

Langkah VII: mapag besan atau pihak penganten menjemput orang tua penganten laki laki untuk ke
pelaminan
Langkah VIII: sungkeman kepada orangtua dari pihak penganten laki maupun perempuan sebagai
tanda hormat.
LangkahIX: walimahan atau resepsi.

Sungguh maknanya dari upacara adat perkawinan adat Jawa itu sangat dalam dimana dapat menuntun ke arah kebaikan. Kita wajib untuk melestarikannya.

Penulis: didi sadili















Tidak ada komentar:

Posting Komentar