Sabtu, 05 Februari 2011

Gang Aut Jalan Suryakencana: Dinamika Sepenggal Pecinan di Kota Bogor

Sabtu pagi 5 Februari 2011 ini, aku sempatkan untuk sarapan soto kuning di sekitaran gang Aut  Bogor yang sudah menjadi favoritku sejak lama. Lokasi sekitaran gang Aut yang merupakan anak cabang jalan Suryakencana ini adalah surganya panganan terutama panganan khas keturunan di Bogor. Panganan yang umum dijajakan disini terdiri dari makanan yang asal usulnya dari negeri China sana, seperti: bubur, asinan, kue kue basah, loh mi, ngohiang, bakso, soto dan masih banyak lagi. Hal tersebut dapat terjadi karena disekitaran itu adalah tempat komunitas China bermukim dari sejak kolonial dahulu. Hal tersebut, nyata terlihat dari sisa sisa bangunan exotic peninggalan jaman Belanda yang masih ada disekitaran gang Aut dan Jalan Suryakencana ini yang kini kebanyakan sudah tidak terawat atau setidaknya sudah berubah fungsi yang tidak saja sebagai rumah tinggal menjadi juga sebagai tempat usaha.  Dari lamunan dan berbincang dengan para penikmat soto kuning lainnya, timbullah hasrat dalam diri ini untuk sekedar lebih tahu tentang bangunan bangunan dan sejarah pecinan di Bogor.
Jaman Belanda, yang menjadi koridor utama pecinan di Bogor adalah jalan Suryakencana, dimana di belakang kanan kiri jalan Suryakencana ini bermukim dan tempat usaha etnis China juga. Ke belakang di Sebelah timur Jalan Suryakencana di hubungkan oleh gang Aut dan di belakang sebelah barat jalan Suryakencana dihubungkan oleh gang roda dan jalan Lawang saketeng. Para etnis China menempati koridor jalan Suryakencana karena terkait ketentuan pemerintah kolonial Belanda tahun 1845 bahwa warga etnis China harus berada di jalan Postway (jalan raya pos. Jalan ini menghubungkan Bogor dengan Sukabumi) dimana dimaksudkan agar berbagai keperluan hidup termasuk barang konsumsi dapat dengan mudah didapatkan. Berkembanglah  pecinan di jalan Suryakencana ini yang ditandai oleh adanya kelenteng yang kini lebih populer disebut Vihara yaitu Vihara Hok Tek Bio  (Tek itu berarti kebajikan dan Bio itu artinya tempat peribatan) yang dibangun tahun 1860 setelah kelenteng pertama dibangun di tempat komunitas China di muara sungai Cisadane (sekarang lebih dikenal dengan sebutan wilayah Cina benteng di Tanggerang)  serta berderet bangunan berarsitek ruko ruko.
Pada tahun 1915 pemerintah kolonial belanda menghapuskan peraturan Wijkenstelsel maka terjadilah pembauran pemukiman etnis China dengan kaum pribumi. Namun kaum pribumi membangun pemukimannya hanya menempel ke koridor jalan Suryakencana. Di Sebelah barat berkembang pemukiman empang sampai batas sungai Cipakancilan dan di sebelah timur berkembang pemukiman lebak pasar, pulo sampe ke arah batas sungai Ciliwung. Sejak itulah arsitektur kolonial pecinan mulai berubah. Begitu juga dengan bangunan bangunannya dimana banyak yang berfungsi ganda yaitu menjadi sebuah tempat tinggal dan juga sebagai tempat usaha. Apakah perlu kita lestarikan bangunan bangunan berassitektur kolonial ini?
Tindakan pelestarian bangunan kuno dilakukan dengan mempertibangkan aspek: sejarah, estetika, keunikan, kelangkaan, keluarbiasaan dan keterawatan. Ada beberapa tingkatan tindakan pelestarian bangunan bangunan ini yang sangat tergantung dari kondisi bangunan itu sendiri, yaitu: (1) Preservasi atau hanya melakukan pelestarian, pemeliharaan dan perlindungan terhadap orisinilitas bangunan. Bangunan yang dilakukan tindakan preservasi adalah yang kondisinya sangat bagus. (2) Konservasi yaitu tindakan mengadaptasi fungsi bangunan kuno tanpa merubah elemen/ciri khas dari bangunan itu. Konservasi dilakukan terhadap bangunan yang kondisi orisinilitasnya sekitar 75% ke atas. Dan (3) Rehabilitasi atau pengembalian kondisi bangunan ke bentuk semula denga mereduksi elemen elemen tambahan yang dibuat belakangan ini.
Fungsi pelestarian bangunan kuno lebih bertitik tolak kepada sejarah kota itu dan sebagai suatu identitas kawasan/landmark. Menurut saya pribadi, kalau soal revitalisasi kawasan itu tergantung dari tumbuh tidaknya perekonomian di kawasan itu. Kalau ekonominya tumbuh seperti di kawasan jalan Suryakencana ini, tentunya bangunan bangunan ini menjadi ruang vital dalam menyokong ekonomi, cuma persoalannya adalah memungkinkan tidak untuk tetap mempertahankan arsitektur yang ada apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yang tinggi ini?
Kalau mau, bangunan bangunan kuno khas pecinan yang relatif jauh dari pasar Bogor dapat difungsikan sebagai rumah budaya, cafe, restoran dan lainnya. Dimana nantinya pelestarian dapat dilakukan berbarengan dengan tempat mencari nafkah/ekonomi. Harmoni kan?
Penulis: didi sadili
Kelenteng Hok Tek Bio

Ruko Pecinan Yang Kurang Terawat

Bangunan Kuno Pecinan Yang Cukup Terawat

Kuliner Khas Pecinan 'Ngohiang'

Andai Dijadikan Cafe Exclusive?

Bangunan Berfungsi Usaha Yang Sudah Dimodernkan
Jajanan Khas Gg Out

Yang Tersisa

Cantiknya

Masih Berfungsi Dengan Baik

Menunggu Waktu

Ini adalah Gang Aut itu

Menarik

Sisa Keanggunan

Keseharian di Pecinan

Ikan Asin

Sabar Menanti

Menunggu Pembeli

Menempel di Ruko Pecinan

Kesibukan Mencari Kemakmuran





6 komentar:

  1. kalau megaswara tv di mana ya?

    BalasHapus
  2. sudah lama pengen berkunjung ke gang aut, tapi belom pernah kesampaian, ditambah info dari kanan kiri yang bilang Bogor sekarang sudah gak nyaman (macet luar biasa) baik hari biasa maupun weekend. jadi males ke sana .... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kalau soal kuliner, Bogor jagonya. cari apapun jenis makanan, so pasti ada. jadi masih ditunggu kedatangan inferno di Bogor

      Hapus
  3. Jika ingin bertanya seputar info sejarah gang aut ini bisa bertanya ke mana ya?

    BalasHapus
  4. Jika ingin bertanya seputar info sejarah gang aut ini bisa bertanya ke mana ya?

    BalasHapus
  5. Saran saya hubungi kantor Dinas Kebudayaan dan Parisata Kota Bogor . Di Jalan Pandu no 45.

    BalasHapus