Senin, 07 Februari 2011

Investasi di Gili Sunut di Lombok Timur Perlu Diakselerasi

Buka Pintu
Compared to other gili’s in Lombok, such as Gili Trawangan, Gili Air or Gili Meno. Gili Sunut has not enjoyed the same level of prestige. Tetapi Gili Sunut memiliki potensi pengembangan yang jauh lebih baik karena begitu masih alaminya akibat belum banyak tersentuh tangan manusia.
 Kali ini kunjungan kami ke Lombok (Senin, 07 Februari 2011) adalah dalam rangka kajian pengembangan salah satu gili (gili=pulau kecil) di Lombok Timur yaitu Gili Sunut sebagai sebagai destinasi wisata baru yang dikaitkan dengan aturan sebagaimana tercantum dalam Undang Undang no 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil. Tetapi kami juga mesti tahu dahulu tetang NTB terutama tentang Gili-nya.
Tengtang Gili/Pulau Kecil di Nusa Tenggara Barat (NTB)
Provinsi Kepulauan  Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki lebih dari 350 pulau yang termasuk dalam bentang Sunda Leuser (Sunda Leuser dimulai dari ujung sumatera sampai ujung Nusa Tenggara Timur/NTT) yang dilewati jajaran gunung api yang masih aktif , yaitu diantaranya gunung;  Rinjani, Tambora dan Sangiang. Gili atau pulau kecil yang berserakan di NTB termasuk tipe pulau kecil low lying island atau pulau dataran rendah seperti halnya Kepulauan Seribu di DKI Jakarta. Gili ini umumnya berpanorama daratan maupun lautnya yang sangat indah. Mayoritas mata pencaharian penduduk yang menempati gili adalah sebagai nelayan.
Kondisi batuan dari gili di NTB tersusun oleh batuan sendimentasi yang berumur tersier dan batuan gunung api kuarter serta terumbu karang . Beberapa gili, kondisi alamnya masih sangat alami dan dijumpai beberapa flora fauna endemik atau  khas dan tidak dijumpai di tempat lain. Namun perlu mendapat perhatian adalah masalah kebencanaan. Wilayah NTB termasuk darerah rawan bencana terutama kebencanaan geologi seperti gempa bumi dimana kalau terjadi guncangan gempa akan berpotensi menimbulkan tsunami.
Beberapa gili yang sudah maju sebagai destinasi wisata adalah 3 gili yang berada di Bagian Utara Kabupaten Lombok Barat atau 40 km ke arah Kota Mataram, ibu kota NTB yaitu gili: Trawangan, Air dan Meno, dimana letak ke tiga gili tersebut terletak sejajar
Tentang Gili di Lombok Timur
A.  Aturan
Sebelum jauh berbicara tentang investasi di pulau kecil khususnya di Gili Sunut, kita simak dulu aturan aturan yang melingkupinya agar tidak terjadi masalah hukum yang tidak diinginkan kelak. Aturan aturan yang perlu disimak adalah:
1.    Undang Undang no 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil
2.    Perda Prov. NTB Nomor 3 Tahun 2010 tentang RTRW Prov. NTB 2009-2029
3.    Perda Kab. Lotim Nomor 9 Tahun 1993 tentang Pengembangan Pariwisata Kab. Lotim
4.    Perda Kab. Lotim Nomor 9 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pantai Secara Partisifatif
5.    Perda Kab. Lotim Nomor 10 Tahun 2006 tentang Pengelolaan KKLD
6.    Perda Kab. Lotim Nomor 2 Tahun 2009 tentang Larangan Pengambilan Karang Laut di Kab. Lotim
7.    Perda Kab. Lotim Nomor 9 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Pantai Secara Partisifatif
8.    Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no 20 tahun 2008 tentang Pemanfaatan Pulau Kecil
9.    SK. Bupati Lombok Timur Nomor :  188.45/452/KP/2004 tentang Penetapan Gili Sulat dan Gili Lawang sebagai KKLD Kab. Lotim
10.                       SK. Bupati Lombok Timur Nomor :  188.45/445/KP/2004 tentang Tim Terpadu Pengawasan Pengendalian dan Penanggulangan Pengambilan Karang Laut di Kab. Lotim
11.                       Peraturan Bupati Lombok Timur  Nomor 13 Tahun 2008 tentang Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) diantaranya Pembentukan UPTD Balai Pengelolaan KKP.
B.  Selintas Tentang Lombok Timur
                  
Luas wilayah Kab Lombok Timur  =  2.679,88 Km²
      Wilayah Daratan                             =  1.605,55 Km²
               Wilayah Laut                           =  1.074,33 Km²

               Panjang Garis Pantai
=
220 km
              Wilayah Pesisir
=
1.654,15 km2
              Jumlah Kecamatan Pesisir
=
6
              Jumlah Desa/Kelurahan Pantai
=
     Jumlah Gili (Pulau Kecil)
=
35 buah
              Jumlah Penduduk Pesisir
=
251.891 jiwa

              Tidak Berpenghuni                              :  29 Gili
Berpenghuni           :  6 Gili (Maringkik, Belek, Ree, Ujung Betok, Sunut, dan Bembek)
              Jumlah Gili Berdasarkan Letak Geografis  
§  Kec. Sambalia     :  7 Gili
§  Kec. Keruak        :  6 Gili
§  Kec. Jerowaru     :  22 Gili


C.  Gili Sunut
Nah, kini kami akan mengunjungi salah satu gili yang ada di Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru Kab Lombok Timur.
Mencapai Gili Sunut dari Mataram kami gunakan mobil pribadi dan itu ditempuh + 2 jam sampai di bibir pantai di Desa Jerowaru Kec Jerowaru Lotim. Jalannya mulus walaupun kadang kadang terganggu oleh ulah pengendara motor ugal ugalan yang banyak lalu lalang. Sesampai di Desa Jerowaru terasa sekali suasana pedesaan yang kental dengan beberapa perempuan duduk duduk di depan rumah menunggu suaminya pulang mencari ikan. Desa ini cukup sepi, sayangnya masalah sampah dan sanitasi lainnya kurang mendapat perhatian.

Dari bibir pantai Desa Pemongkan, Kec Jerowaru, kami menggunakan boat bermesin tempel dua yang masing masing berkekuatan 40 pk. Kami menempuh Gili Sunut selama 45 menit. Selama dalam perjalan, kami benar benar disuguhi aneka pemandangan laut yang sulit untuk melepaskan kamera ini. Terpukau aku! Pertama, kami melewati beberapa bagang ikan yang tidak ditunggui pemiliknya, berderet deret keramba jaring apung yang memelihara lobster, kerapu, beronang dan ikan karang lainnya, kemudian beberapa gili seperti gili: Nusa, Beleh, rei, Meriki, Srewe, Tanjung Segui, Temeak, dan lainnya, gili mulai dari yang kecil dan tidak berpenghuni sampai yang agak besaran dengan ada penghuninya. Kalau yang berpenghuni tentunya pasti tersedia air tawar. Karena air tawar merupakan kebutuhan pokok kehidupan. Kami juga disuguhi laut yang biru dan tenang karena gili yang kami tuju berada di dalam sebuah teluk, melewati beberapa nelayan yang sedang beraktifitas dan kami juga menemui jarang karamba tempat budidaya mutiara milik PMA dari Jepang.
Beberapa gili terlihat sangat asri dan berpasir putih, sangat nyaman untuk dijadikan tempat wisata bahari exclusive.

Sesampainya di Gili Sunut yang menurut informasi mempunyai luas 8 hektar ini kami disambut anak anak pulau dengan amat ceria yang berlari lari di atas pasir putih terbentang. Aku terpesona sekali. Gili Sunut dihuni oleh 300-an jiwa.
Tutupan Gili Sunut terdiri tanah cadas terbuka, padang rumput, hutan kecil, pemukiman dan pasir putih. Gili ini dikelilingi laut yang tenang, biru dan terumbu karang yang masih baik.
Salah satu investor yang berminat mengelola Gili Sunut untuk dijadikan kawasan wisata bahari exclusif adalah ‘blue ocean’ sebuah perusahaan dari Singapore. Bahkan, gili yang bertetangga dengan Gili Sunut, yaitu Gili Tanjung Ringgit, sebulan kemarin sudah ditinjau oleh investor dari Swedia beserta Duta Besarnya untuk Indonesia ditemani tidak kurang 15 orang tenaga ahli asing dengan keahlian mulai dari turisme, civil enginering, oceonografi sampai ahli feng sui. Dan hasilnya: Gili Tanjung Ringgit –sangat layak- untuk dijadikan kawasan ekowisata. Mantap!
Penduduk yang menghuni Gili Sunut sudah setuju untuk direlokasi ke Gili Srewe yang berdampingan dengan Gili Sunut. Di Gili Srewe sudah dibuatkan rumah rumah layak huni dengan segala fasilitasnya. Tinggal dihuni saja. Kenapa direlokasi hanya ke gili yang berdampingan? Itu dilakukan agar warga yang direlokasi tidak lepas jauh dari sumberdaya laut tempat dimana selama ini mencari nafkah. Sebuah ‘win win solution’ yang patut ditiru.

Lalu...
Puas mengamati Gili Sunut nan cantik kami sebenarnya masih enggan beranjak, namun petang sudah hampir berlalu, kami harus segera kembali. Tentu kami mendapat banyak pekerjaan rumah dimana kami sudah banyak membawa data data tentang berbagai hal Gili Sunut, kini tinggal kami kerjakan perencanaannya dan bagaimana hasilnya: kalau Gili Sunut ini dijadikan kawasan wisata bahari?

Penulis: didi sadili



sebelum ke Gili Sunut, mampir di warung kelor di pancor lombok timur

 lahap. terutama sup daun kelornya

ibu ibu di Desa Pemongkang sedang menunggu suaminya pulang melaut


Dengan boat kami menuju Gili Sunut

45 menit dengan boat dari Desa Pemongkang, Kec Jerowaru ke Gili Sunut




 melewati bagang ikan



melewati Gili Temeak


melewati nelayan yang sedang mencari ikan

melewati keramba budidaya mutiara milik PMA Jepang


anak pulau di Gili Sunut

sudut Gili Sunut

pemukiman di Gili Sunut yang lagi proses direlokasi
melewati Gili Belek 'kampung nelayan'

sudut depan Gili Sunut

Kembali ke darat






1 komentar:

  1. menarik pak..terus terang, sy slalu tertarik dgn pengembangan wisata bahari di pulau2 kecil di Indonesia..atau bahasa kerennya "Island Tourism", dgn contoh skrg yg paling terkenal a/ Maldives..mereka berhasil menancapkan brand sbg negara yg menawarkan Island Tourism sbg 'barang dagangannya'...

    andaikan Indonesia bs spt Maldives..

    PMA sudah dan akan smakin banyak yg mau berinvestasi d pulau2 kecil Indonesia sepertinya..tp pertanyaannya adalah "gmn yah caranya agar Island Tourism dgn PMA-nya itu bs memberikan keuntungan maksimal bagi masyarakat lokal dan lebih jauh lg bagi pertumbuhan wilayah itu???"

    BalasHapus