Selasa, 15 Februari 2011

Definisi Pulau

Khususnya di Kementrian Kelautan dan Perikanan, pulau sebagai objek pembangunan masih 'kencang' mendapat porsi tersendiri, karena memang di KKP ada Direktorat Jenderal yang  menanganinya. Maka masih penting untuk mengulas apa itu 'pulau'? Berikut adalah tulisan tentang itu yang banyak menyitir dari pendapat seorang pakar geografi Indonesia: Prof Yacub Rais:

  1. Kamus Umum Bahasa Indonesia – W.J.S. Poerwodarminto - PN Balai Pustaka 1982
Pulau :  tanah (daratan) yang dikelilingi air (di laut, di sungai, di danau)
Darat : tanah yang tidak tertutup oleh air  (sebagai lawan dari laut atau air)
Daratan: tanah yang luas sbg lawan lawan laut atau pulau (sebagai contoh “Panglima sekutu melancarkan serangan ke daratan Eropa”

  1. Kamus lengkap Bahasa Indonesia Terbaru
Pulau : tanah, daratan yang dikelilingi air di laut, di sungai, di danau.
Kepulauan:  gugusan beberapa pulau

Kesimpulan : “Pulau” adalah daratan  yang dikelilingi oleh air (di laut, di sungai, di danau)

  1. Webster’s New World Dictionary of the American Language  - 1967
Island : a land mass not as large as a continent, surrounded by water.

Kesimpulan:  Pulau adalah massa daratan, tidak seluas benua, yang dikelilingi oleh air

  1. Compact Oxford Dictionary – Oxford University Press 2005
Island : a piece of land surrounded by water. (Sepotong daratan yang dikelilingi oleh air)

Land : the part of the earth surface that is not covered by water (Daratan adalah bagian dari permukaan bumi yang tidak ditutup air)
  1. UNCLOS Article 121 – Regime of Islands
Article 121:
1.      An island is a naturally formed area of land, surrounded by water, which is above water at high tide.
2.      Except as provided for in paragraph 3, the territorial sea, the
                  Unarang di Kaltim dan satu karang kering yang berbatasan dengan Palau

3.      Karang contiguous zone, the exclusive economic zone and the continental shelf of an island are determined in accordance with the provision of this  Convention applicable to land territory;
4.      Rocks which cannot sustain human habitation or economic life of their own shall have no exclusive economic zone or continental shelf;

Penjelasan:
Pasal 1: Definisi pulau secara umumnya sama dengan  definisi di kamus sebagai daratan, tetapi ditambah dengan syarat “naturally formed area of land”, artinya daratan yang dibentuk secara alami (mis. bukan daratan hasil reklamasi) dan selalu berada di atas muka air tinggi (tidak boleh tenggelam pada saat air tinggi).

Pasal 2: pulau yang dibentuk secara alami, berdasarkan hukum laut  dapat dipakai sebagai titik pangkal  penentuan lebar laut territorial, zona tambahan,  ZEE, dan landas kontinen.

Pasal 3 : terkait dengan Pasal 2 kecuali apa yang disebut dengan Pasal 3, tentang ‘rock” (batu dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, sic.) yang tidak dapat menopang kehidupan.

Dengan kata lain, “rock” (batu di laut) dapat dianggap sebagai pulau, kecuali kalau batu-batu ini tidak dapat menopang kehidupan tidak dapat dipakai sebagai titik pangkal hanya untuk menentukan lebar zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen , tetapi boleh untuk menentukan lebar laut territorial dan zona tambahan).  Syarat “rock” dianggap pulau, harus memenuhi syarat sebagai daratan dikelilingi oleh air dan harus selalu berada diatas muka air tinggi, dapat dipakai sebagai titik pangkal untuk menentukan lebar laut territorial dan zona tambahan.

Kesimpulan Umum 1 : pulau dan batu masuk dalam klasifikasi “pulau” selama memenuhi definisi umum tentang pulau (daratan, dikelilingi oleh air, di laut, di sungai , di danau dan tidak tenggelam pada saat air pasang ditambah dengan ketentuan bukan hasil reklamasi.

Dalam semua definisi, sebutan “dikelilingi oleh air” (secara permanen), sebagai syarat suatu pulau, artinya,  jika pada surut (air rendah) daratan tidak lagi dikelilingi oleh air maka syarat sebagai pulau tidak dipenuhi – artinya bukan pulau. Kalau dekat/menyatu dengan daratan dapat berupa tanjung atau ujung.

Tidak ada ketentuan berapa tinggi air pada surut rendah. Secara logika, sebutan “dikelililngi oleh air”, jika manusia tidak dapat melaluinya

Hanya batu-batu di laut yang tidak dapat menopang kehidupan tidak dapat dipakai sebagai titik pangkal untuk menentukan lebar laut  ZEE dan landas kontinen, tetapi memenuhi syarat sebagai pulau, selama definisi pulau dipenuhi.

Kesimpulan Umum 2: Pulau dan Batu  sebagai unsur rupabumi harus diberi nama karena sebagai objek yang menonjol dan terlihat oleh semua orang yang melintas di laut.


Batu sebagai pulau juga diterapkan di Pacific. Dalam Proceedings South Pacific Place Names Conference di Wellington, November 5 -7, 1990 [1],  disebut tentang  katagori yang perlu dikaji dalam kegiatan pembakuan nama geografis (nama tempat ) di Kepulauan Hawai’i, adalah:

a.       Names of principal islands (inhabited) -  Nama pulau-pulau utama (berpenduduk)
b.       Names of uninhabited and offshore islands/rocks – Nama pulau-pulau /batu lepas pantai yang tak berpenduduk
c.         Names of channels between islands - Nama selat antara pulau-pulau
d.      Names of reefs passages and bays (anchorage) -  Nama lintasan antara karang dan teluk (utk lego jangkar)
e.       Names of points/capes/reefs – Nama-nama  ujung/tanjung/karang (dalam Kamus  Inggris-Indonesia Nichols & Shadyli, 1975, reefs diterjemahkan dengan batu/gosong karang, artinya batu dan karang yang tenggelam ketika air tinggi (ini masuk underwater features)
f.         Names of ocean currents/seas – Nama-nama arus laut/laut
g.       Names of beaches and surfing sites – Nama-nama pantai dan tempat-tempat selancar
h.       Names of inland waterways – nama jalan lintas air di pedalaman
                                                              i.      navigable rivers – sungai-sungai yang dapat dilayari
                                                           ii.      streams – aliran air
                                                         iii.      waterfalls – air terjum
                                                         iv.      natural lagoons, lakes, ponds – laguna alami, danau, situ
i.         Names of mountain peaks
                                                              i.      volcanic craters – kawah-kawah gunung api
                                                            ii.      hills – bukit-bukit

Kesimpulan: Kelompok Kerja Nama Unsur Maritim (kini namanya Kelompok Kerja Nama-Nama Pulau) dari Tim Nasional berdasarkan Perpres No. 121 Tahun 2006 meliputi ruang lingkup nama-nama rupabumi di laut, mencakup:
  1. Pulau dan Batu
  2. Laut, Teluk , Selat, dan Tanjung
  3. Batas Laut dan Selat

Butir 3 ini terkait dengan Resolusi UNCSGN No. 22 / 1977.

Standardization of Maritime Nomenclature

The Conference,
Recognizing that the increased interest and activities of countries in the marine environment require an improvement in international nomenclatural standardization,
Recommends that the United Nations Group of Experts study the existing national and international practices concerning the delimitation and naming of oceans and seas, including their integral subdivisions, beyond the limits of national jurisdiction, with a view to recommending improvements in current nomenclatural practices and procedures.

Pedoman lainnya adalah konperensi Intenational Hydrographic Organization  (IHO) tahun 1919, kutip buka: “Menentukan batas (limits) dari samudera dan laut dan harus menyebut samudera dan laut mana suatu selat menyambung.” kurung tutup


Definisi Negara Kepulauan  (UNCLOS 182)

Article 47 tentang Archipelagic Baseline

  1. An archipelagic State may draw archipelagic baseline  joining the outermost points of the outermost islands and drying reef of the archipelago, provided that within such baselines…………..
 Dalam makalah ini dibahas apa yang dinamakan “drying reef” dalam bahasa Indonesia “karang kering” artinya karang yang muncul di atas muka laut. Apakah karang ini tenggelam pada saat pasang, tidak dijelaskan pada pasal ini, tetapi Pasal 7 jo. Pasal 13

Dalam pasal 7 tentang Straight Baseline, ayat 4 disebut  “Straight baseline should not be drawn  to and from low tide elevation, unless lighthouses or similar installations which are permanently above sea level  have been built. Dengan kata lain, garis dasar lurus dapat ditarik dari dan ke “low tide elevation” jika ada bangunan yang secara permanen telah dibangun sejak kapan tidak disebut. Tetapi istilah “have been built” adalah suatu bentuk “continuous form”, artinya sejak suatu waktu di masa lalu. Misalnya the lighthouse has been built since the enactment of UNCLOS 1982.  Juga tidak disebut “should have been built”

Definisi “low tide elevation” dapat dibaca pada pasal 13, disebut : A low tide elevation is a naturally formed area of land which is surrounded by water (sama dengan definisi pulau), but submerged at high tide (tapi tenggelam saat air pasang, sama dengan gosong. Ketentuan terakhir ini yang membedakan “pulau” dengan karang kering’ atau “drying reef” atau “low tide elevation”)

Ada tidak kecermatan dalam daftar pulau-pulau terluar NKRI hanya menyebut pulau-pulau saja, sedangkan  ada beberapa karang kering (low tide elevation) yang merupakan juga titik dasar terluar NKRI, seperti Karang Unarang tidak memenuhi definisi pulau menurut UNCLOS Pasal 121, tetapi memenuhi sebagai titik dasar NKRI sebagai karang kering yang tenggelam pada pasang tertinggi (low tide elevation) Pasal 7 (4) dan Pasal 13.





[1] NZGB (New Zealand Geographic Board). 1991. Proceedings of  .. Wellington.
South Pacific Place
Names Conference


Kalau definisi pulau kecil itu sudah jelas yaitu sesuai dengan Undang Undang No.27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil. Pulau Kecil adalah pulau yang memilik luas lebih kecil atau sama dengan 2000km2.

Semoga bermanfaat.
(ds)
Beberapa pulau di Gunung Kidul Jogjakarta

Dihitung ada dua pulau kecil

Pulau kotok Kep Seribu Jakarta

Pulau Gundul di Kab Jepara Jateng

Pulau Rondo di Aceh

Pulau Tambat di Balikpapan

Batu-batu ini termasuk klasifikasi beberapa pulau

2 komentar: