Jumat, 18 Februari 2011

Pengembangan Budidaya Rumput Laut Sebagai Alternatif Peningkatan Pendapatan Petani Pembudidaya Ikan

A.   PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Budidaya rumput laut merupakan komoditas yang bernilai ekonomis penting. Keberhasilan pengembangan budidaya rumput lautdiharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat, devisa negara dan daya beli masyarakat untuk mengkonsumsi protein. Sebagaimana dianjurkan oleh Badan Organisasi Dunia FAO, bahwa dalam pembangunan perikanan hendaknya pengembangan usaha perikanan budidaya dapat lebih dipacu untuk mengurangi tekanan akibat dari usaha penangkapan. Kebijakan pembangunan nasional yang terpadu dapat mewujudkan pemanfaatan lahan secara optimal dengan tujuan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

Pengembangan budidaya rumput laut Di Indonesia mempunyai prospek yang baik antara lain :
v  karena tersedianya lahan yang luas;
v  permintaan pasar terhadap produksi rumput laut cukup tinggi, sedangkan produksi rumput laut di Indonesia sampai saat ini baru mencapai 3 % dari permintaan pasar dunia;
v  Modal yang dibutuhkan untuk kegiatan budidaya rumput laut relatif kecil, sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan oleh para petani/nelayan rumput laut, baik secara sambilan maupun penuh
v  Metode budidaya rumput laut mudah dilaksanakan oleh masyarakat petani/budidaya rumput laut;
v  Bibit mudah diperoleh;
v  Pertumbuhan cepat;
v  Berkembangnya industri kosmetika dan obat-obatan juga berdampak pada permintaan terhadap rumput laut sebagai bahan baku;
v  Kegiatan budidaya rumput laut ini juga dampat menyerap tenaga kerja yang cukup besar

Pengembangan potensi budidaya rumput laut pada suatu kawasan, selain untuk mewadahi upaya pemanfaatan sumberdaya yang ada juga akan mempunyai peran dalam mendukung strategi pengembangan kawasan dari segi geopolitik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan, yang pada akhirnya untuk mengembangkan kegiatan pembangunan di wilayah laut serta dapat meningkatkan pemasaran di negara ASEAN dan Asia lainnya serta negara lainnya. Dengan demikian pengembangan budidaya rumput laut dapat memanfaatkan ruang secara harmonis antara pemanfaatan sumberdaya secara optimal dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mensejahterakan rakyat .

B. STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT
    1.     Legalitas Peraturan Daerah (PERDA)
    2.     Tata ruang untuk pengembangan budidaya rumput laut dalam menjamin kelangsungan usaha
    3.     Penyederhanaan prosedur perijinan usaha budidaya rumput laut
    4.     Manajemen kesehatan mutu bibit
    5.     Pengelolaan daya dukung lingkungan
    6.     Pembinaan mutu produk rumput laut
    7.     Pengembangan mitra usaha
    8.     Pengembangan modal usaha
    9.     Memperluas Jaringan Pemasaran Internasional
    10.    Peningkatan penerapan alih teknologi budidaya rumput laut tepat guna
    11.    Pengembangan prasarana pendukung budidaya rumput laut
    12.    Pengembangan sumberdaya manusia baik secara kuantitas dan kualitas
    13.    Pengembangan kelembagaan
    14.    Peningkatan system MCS (monitoring, contoling dan survailance)

C. JENIS RUMPUT LAUT YANG DIKEMBANGKAN
Jenis rumput laut yang umum dibudidayakan dan bernilai ekonomis adalah Euchema, Gracilaria, GelidiumI dan Hypena.
1. Metode Budidaya
Berdasarkan posisi tanaman rumput laut terhadap dasar perairan, metode budidaya rumput laut dapat dibedakan menjadi :
·         Metode dasar (menempel di dasar pantai),
·         Metode lepas dasar (melayang-layang di bawah air laut) dan
·         Metode apung (modifikasi metode lepas dasar dengan penambahan pelampung).
2. Manfaat Rumput Laut
Pada mulanya rumput laut hanya terbatas sebagai bahan pembuatan agar-agar. Setelah diketahui kandungan gizi dan vitamin serta manfaatnya, rumput laut semakin berkembang penggunaannya yaitu :
·         Dalam industri farmasi, sebagai pembungkus kapsul.
·         Dalam industri makanan, sebagai bahan pembuat es krim, jelly, permen, puding, saos, selai, dodol dan sejenisnya.
·         Dalam industri kosmetik , sebagai bahan pembuatan lipstik, cream, sabun, salep dan sejenisnya.
·         Dapat dikonsumsi dalam bentuk aslinya yaitu manisan rumput laut, cendol rumput laut. es campur, es buah dan sejenisnya.
Rumput laut banyak mengandung gizi dan juga vitamin sehingga apabila dikonsumsi sangat bermanfaat bagi tubuh manusia antara lain dapat mencegah kanker, menghaluskan kulit, mencegah penyakit hipertensi, mencegah penyakit gula, dan memperlancar proses pencernaan makanan

Tabel  1
Jenis-Jenis Rumput Laut Dan Pengembangan Di Indonesia
Yang Bernilai Ekonomi dan Kandungannya
No.
Nama ilmiah
Nama daerah
Kandungan
Lokasi

1.

Acanthophora sp


Bulong tombong hideng (Bali) Bulung (Bali)
Agar-agar


Kep. Kangean, Lombok, Sumut, Kep. Seribu, Dobo, Bawean
2.

Corallopsis minor

-

-

Bali

3.

Eucheuma cottonii

Agar-agar besar (Kep. Seribu)

Kappa karaginan
Karaginan
Bali, Maluku, Sulteng, Selat Alas, Sumba
4.
E. edule
Agar-agar halus (Makassar
Karaginan

5.

E. minicatum

Agar-agar gesewr (seram)
Iota karaginan

Kep. Seribu, Jateng, Bali, Madura, Sumut, Riau, Sulawesi, Maluku, Lombok, P. Komodo
6

E. spinosum

Geranggang (Lombok)
Agar-agar
Seram, P. Komodo, Bali, Sulawesi, Kep. Serib
7.

E. striatum
Agar-agar geser (seram)
Agar-agar kasar (Ujung Pandang)
Agar patah tulang (Kep. Seribu)
Agar kembang (Sulteng)
Agar-agar
Sumut, Riau, Sulteng, Sultra, Kep. Seribu, Maluku, Jateng, Bali, NTT, NTB.



D. MANAGEMEN PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Penetapan suatu kawasan laut untuk dijadikan pengembangan usaha budidaya rumput laut harus berazaskan lingkungan pembudidayaan yang bertanggung jawab, keterpaduan,  tertata dengan baik dan berkelanjutan sehingga pengembangan kawasan budidaya rumput laut ini dapat lebih rasional dan operasional.
Dalam pengembangan kawasan budidaya rumput laut harus memperhatikan :
v  Tersedia wilayah budidaya rumput laut dengan luasan yang cukup memadai
v  Tersedianya air tawar dalam jumlah dan mutu memadai
v  Kesesuaian untuk penerapan teknologi anjuran
v  Tersedianya sarana dan fasilitas penunjang (pembenihan, penampungan hasil, pengolahan dan pemasaran)
v  Efisiensi usaha
v  Luas kawasan areal tanam minimal 25 unit

1. Perencanaan kawasan budidaya rumput laut :
a.   Penentuan kawasan bagi kegiatan budidaya rumput laut sangat dipengaruhi oleh kegiatan di daratan, terutama yang berada di sekitar wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS)
b.   Lokasi kegiatan budidaya rumput laut harus jauh dari kawasan industri atau tidak dalam pengaruh pembuangan limbah yang berasal dari kawasan pemukiman, industri, pertanian, penambangan dan minyak bumi;
c.   Kegiatan budidaya rumput laut salingbersinegi dan berdampiingan dengan kegiatan lain dan tidak saling memberikan dampak negatif;
d.   Kondisi perairan sesuai dengan habitat rumput laut;
e.   Kondisi sifat fisik, kimia dan biologi oseanografi yang sesuai (baku mutu) untuk kegiatan budidaya rumput laut.
f.    Daya Dukung Lingkungan terhadap jumlah individu atau biomassa biotaperairan persatuan unit budidaya rumput laut dan daya dukung lingkungan kawasan terhadap jumlah unit budidaya

  1. Faktor-faktor lingkungan perairan dan biota budidaya
Faktor lingkungan perairan meliputi parameter fisika (suhu, arus, kedalaman, kecerahan, tinggi gelomban, amplitudo, pasangsurut dan lain-lain), kimia (oksigen terlarut, salinitas dan lain-lain) dan biologi (keragaman dan kelimpahan plankton). Sedangkan factor penghambat biota budidaya meliputi keberdaan bahan beracun(karbondioksida, ammonia, nitrit, H2S, logam berat,deterjen, minyak dan lain-lain) dan kondisi ekstrim factor lingkungan fisika,kimia dan biologi.

3. Kondisi Sosial, ekonomi dan budaya.
a.   Jumlah dan kepadatan penduduk
b.   Komposisi penduduk (berdasarkan umur dan jenis kelamin)
c.   Mata pencaharian
d.   Pendidikan, agama dan kesehatan
e.   Komunikasi dan transportasi
f.    Sosial budaya.
-          Norma-norma dan sistem nilai pengelolaan wilayah laut
-          Partisipasi masyarakat terhadap pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan serta pemanfaatan sumberdaya alam yang lestari.

4. POLA KERJASAMA BUDIDAYA RUMPUT LAUT
1.   Pola Kemitraan Tripatit
Pola kemitraan ini melibatkan 3 unsur pokok yaitu : Investor (pengusaha), Pemerintah Daerah dan masyarakat/koperasi.
-          Investor berkewajiban menyediakan biaya investasi dan modal kerja, teknologi dan pemasaran;
-          Pemerintah Daerah dapat berperan sebagai pemegang saham dan modal kerja maupunbiaya investasi, perijinan atau konsesi lahan;
-          Masyarakat/koperasi mempunyai saham melalui penyertaan nilai lahandan tenaga kerja

2.   Pola Inkubasi Pengembangan Usaha
Pola inkubasi pengembangan usaha dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam rangka pembinaan pengusaha kecil dengan paket modal bergulir dan teknologi
 
D.  ANALISIS USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT
1. Luas lahan budidaya Rumput laut 500 m2
                                                                                                               (Rp)

No

JENIS

SATUAN

JUMLAH
HARGA
SATUAN
TOTAL
I. SARANA PENANAMAN
1.
Tali plastic 4 mm
kg
15
18.000
270.000
2
Tali plastic 2 mm
Kg
7
10.000
70.000
3
Tali plastic 7 mm
Kg
5
18.000
90.000
4
Bibit
Kg
500
1.000
500.000
5
Pelampung Utama
Buah
2
20.000
40.000
6
Pelampung aqua
buah
200
250
50.000
7
Sampan
Buah
1
300.000
300.000
8
Jangkar, kayu


100.000
100.000
SUB TOTAL I
1.420.000
II. SARANA PENJEMURAN
1
Waring
M
100
2.500
250.000
2
Plastik
M
100
2.500
250.000
3
Bambu
batang
20
6.000
120.000
4
Paku,kayu dll


50.000
50.000
SUB TOTAL II
670.000
TOTAL BIAYA  I  + II
2.090.000
III. PENDAPATAN
  1. Hasil rumput laut basah = 4.000 titik x 1 kg = 4.000 kg
  2. Hasil rumput laut kering = 4.000 kg/10     = 400 kg
  3. Pendapatan sebelum dipotong cicilan = 400 kg x rp. 4.000 = Rp 1.600.000
  4. Pendapatan bersih = Rp 1.600.000 – ( Rp. 1.600.000 x 25 %) = Rp. 1.200.000,-

2. Luas lahan Budidaya rumput laut 0,25 Ha
      (Rp)

No

JENIS

SATUAN

JUMLAH
HARGA
SATUAN
TOTAL
I. BIAYA INVESTASI
1.
Tali plastic 4 mm
rol
65
18.000
1.170.000
2
Tali plastic 2 mm
rol
3
10.000
60.000
3
Tali plastic 5 mm
Kg
75
20.000
1.500.000
4
Tali plastic 10 mm
kg
52
20.000
1.040.000
5
Tali plastic 12 mm
Kg
17
20.000
340.000
6
Tali rapia
gulung
1
10.000
10.000
7
Jangkar tancap besi
buah
26
22.000
572.000
8.
Tenda
lembar
3
150.000
450.000
9
Pelampung Utama
Buah
10
20.000
200.000
10
Pelampung aqua
buah
1.000
250
250.000
11
Sampan
Buah
1
300.000
300.000
12
Jangkar, kayu


100.000
100.000
SUB TOTAL I
5.992.000
II. BIAYA SARANA PENJEMURAN
1
Waring
M
300
2.500
750.000
2
Plastik
M
300
2.500
750.000
3
Bambu
batang
60
6.000
360.000
4
Paku,kayu dll


50.000
50.000
5
Biaya pembuatan
unit
1
300.000
300.000
SUB TOTAL II
2.210.000
III. BIAYA TETAP DAN BIAYA OPERASIONAL
1
bibit
kg
2.500
1.000
2.500.000
2
Ongkos ikat bibit
Bentang
1000
1.500
1.500.000
3
BBM
Liter
300
4.500
1.350.000
4
Karung
lembar
75
1.500
112.500
5
Biaya penyusutan
persen
0,25
5.992.000
1.498.000
SUB TOTAL III
6.960.000
TOTAL BIAYA  I  + II + III
15.162.000
IV. PENDAPATAN
  1. Hasil rumput laut basah = 20.000 titik x 1 kg = 20.000 kg
  2. Hasil rumput laut kering = 20.000 kg/10     = 2.000 kg
  3. Pendapatan  kotor= 2.000 kg x rp. 4.000 = Rp 8.000.000
  4. Pendapatan kotor = Rp 8.000.000 – 6.960.000 = Rp. 1.040.000,-

Analisa Titik impas (Break Event Point/BEP)
1.   Total Biaya/harga satuan :
-                Produksi Pertama : total biaya/harga satuan = 1.740 kg
-                Produksi Kedua : 1.115 kg
2.   Total biaya/Produksi :
      -   Produksi pertama : 3480 kg        -       Produksi kedua : 2230 kg
3.   R/C Rasio :
      -   Produksi pertama = 1,15
      -   Produksi kedua =  1,79
       (R/C  > 1 menunjukkan dengan biaya produksi menguntungkan)

4.   Pengembalian modal :
-   Produksi pertama = 87 %
(modal yang telah dikeluarkan akan kembali setelah 0,87 kali periode produksi)
-   Produksi kedua = 55,75 % 
(modal yang telah dikeluarkan akan kembali setelah 0,55 kali periode produksi)

5.       Efisiensi Penggunaan Modal :
-          Produksi pertama = 114,94 %
-          Produksi kedua = 179,37 %

Penulis: Pandu Prahoro
            Direktorat Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau Pulau Kecil
            Ditjen KP3K
            Kementrian Kelautan dan Perikanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar