Senin, 11 April 2011

Sempadan Pantai yang Perlu Pedoman Penentuan Batasnya

Menurut Undang-Undang No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proposional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 meter dari pasang tertinggi ke arah darat. Sempadan pantai ini berfungsi sebagai: pengatur iklim, sumber plasma nutfah, dan benteng wilayah daratan dari pengaruh negatif dinamika laut.
Sisi legalitas urgensi sempadan pantai sudah tersedia dalam berbagai perangkat peraturan, yaitu:
1.    Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
2.    Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
3.    Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia.
4.    Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
5.    Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
6.    Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah.
7.    Undang-Undang No. 28 Tahun 2004 tentang Bangunan Gedung.
8.    Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
9.    Undang-Undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan.
Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
11  Keputusan Presiden R.I No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
12 Berbagai Keputusan Menteri Sektoral/Teknis.

Yang kini belum tersedia justru mengenai pedoman penentuan batas sempadan pantai berdasarkan karakteristik pantai yang ada di wilayahnya.

Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, pasal (31) menyatakan:
(1)  Pemerintah Daerah menetapkan batas sempadan pantai yang disesuaikan dengan karakteristik topografi, biofisik, hidrooseonografi pesisir, kebutuhan ekonomi dan budaya, serta ketentuan lain.
(2)  Penetapan batas sempadan pantai mengikuti ketentuan:
a.   Perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami;
b.  Perlindungan pantai dari erosi dan abrasi;
c.   Perlindungan sumberdaya buatan di pesisir dari badai, banjir, dan bencana alam lainnya;
d.  Perlindungan terhadap ekosistem pesiisir, seperti lahan basah, mangrove, terumbu karang, padang lamun, gumuk pasir, estuaria, dan delta;
e.   Pengaturan akses publik; serta
f.    Pengaturan untuk saluran air dan limbah.
(3)  Ketentuan lebih lanjut mengenai batas sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden.

Penentu Batas Sempadan Pantai
Banyak versi parameter yang digunakan untuk menentukan lebar  batas sempadan. Diantaranya adalah yang menggunakan parameter-parameter berikut:
1.    Arus laut
2.    Gelombang laut
3.    Tipe dan jenis pantai
4.    Status ruang lahan

Arus Laut
Arus laut (sea current) adalah gerakan massa air laut dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping). Contoh-contoh gerakan itu seperti gaya coriolis, yaitu gaya yang membelok arah arus dari tenaga rotasi bumi. Pembelokan itu akan mengarah ke kanan di belahan bumi utara dan mangarah ke kiri di belahan bumi selatan. Gaya ini yang mengakibatkan adanya aliran gyre yang searah jarum jam (ke kanan) pada belahan bumi utara dan berlawanan dengan arah jarum jam di belahan bumi selatan. Perubahan arah arus dari pengaruh angin ke pengaruh gaya coriolis dikenal dengan spiral ekman.  Menurut letaknya arus dibedakan menjadi dua yaitu arus atas dan arus bawah. Arus atas adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Sedangkan arus bawah adalah arus yang bergerak di bawah permukaan laut.
Faktor pembangkit arus permukaan adalah angin yang bertiup diatasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh terhadap arus permukaan (atas) sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus ini akan berkurang sesuai dengan makin bertambahnya kedalaman perairan sampai pada akhirnya angin tidak berpengaruh pada kedalaman 200 meter.

Gelombang Laut
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak lurus permukaan laut. Ada tiga jenis gelombang berdasarkan penyebabnya; gelombang karena angin (gelombang angin), gelombang karena daya tarik menarik bumi-bulan-matahari (gelombang pasut), dan gelombang karena akibat gempa vulkanik maupun tektonik di dasar laut (gelombang tsunami). Kalau dilihat dari sifatnya, gelombang dibagi 2 tipe, yaitu:
1.    Gelombang pembentuk pantai (constructive wave)
2.    Gelombang perusak pantai (destructive wave)
Gelombang pembentuk pantai bercirikan mempunyai ketinggian kecil dan kecepatan rambat rendah. Sehingga saat gelombang itu ppecah di pantai akan mengangkut sedimen. Sedimen akan tertinggal di pantai sebagai deposit ketika air balik ke laut atau perlahan merembes ke tanah.
Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan kecepatan rambat yang tinggi. Ketika gelombang menghantam dan pecah di pantai, maka banyak material pantai yang terangkut menuju tengah laut atau terbawa ke tempat lain.

Tipe dan Jenis Pantai
Secara sederhana, pantai dapat diklasifikasikan berdasarkan material penyusunnya, yaitu menjadi:
1.    Pantai Batu (rocky shore), yaitu pantai yang tersusun oleh batuan induk yang keras seperti batuan beku atau sedimen yang keras.
2.    Beach, yaitu pantai yang tersusun oleh material lepas. Pantai tipe ini dapat dibedakan menjadi:
a.     Sandy beach (pantai pasir), yaitu bila pantai tersusun oleh endapan pasir.
b.   Gravely beach (pantai gravel, pantai berbatu), yaitu bila pantai tersusun oleh gravel atau   batuan lepas. Seperti pantai kerakal.
3.    Pantai bervegetasi, yaitu pantai yang ditumbuhi oleh vegetasi pantai.  Di daerah tropis, vegetasi pantai yang dijumpai tumbuh di sepanjang garis pantai adalah mangrove, sehingga dapat disebut Pantai Mangrove.
Bila tipe-tipe pantai di atas kita lihat dari sudut pandang proses yang bekerja membentuknya, maka pantai dapat dibedakan menjadi:
1.    Pantai hasil proses erosi, yaitu pantai yang terbentuk terutama melalui proses erosi yang bekerja di     pantai. Termasuk dalam kategori ini adalah pantai batu (rocky shore).
2.    Pantai hasil proses sedimentasi, yaitu pantai yang terbentuk terutama kerena prose sedimentasi yang bekerja di pantai. Termasuk kategori ini adalah beach. Baik sandy beach maupun gravely beach.
3.    Pantai hasil aktifitas organisme, yaitu pantai yang terbentuk karena aktifitas organisme tumbuhan yang tumbuh di pantai. Termasuk kategori ini adalah pantai mangrove.
Kemudian, bila dilihat dari sudut morfologinya, pantai dapat dibedakan menjadi:
1.    Pantai bertebing (cliffed coast), yaitu pantai yang memiliki tebing vertikal. Keberadaan tebing ini menunjukkan bahwa pantai dalam kondisi erosional. Tebing yang terbentuk dapat berupa tebing pada batuan induk, maupun endapan pasir.
2.    Pantai berlereng (non-cliffed coast), yaitu pantai dengan lereng pantai. Pantai berlereng ini biasanya merupakan pantai pasir.

Sedimen pantai adalah material sedimen yang diendapkan di pantai. Berdasarkan ukuran butirnya, sedimen pantai dapat berkisar dari sedimen berukuran butir lempung sampai gravel. Kemudian, berdasarkan pada tipe sedimennya, pantai dapat diklasifikasikan menjadi:
1.    Pantai gravel, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran gravel (diameter butir > 2 mm).
2.    Pantai pasir, bila pantai tersusun oleh endapan sedimen berukuran pasir (0,5 – 2 mm).
3.    Pantai lumpur, bila pantai tersusun oleh endapan lumpur (material berukuran lempung sampai lanau, diameter < 0,5 mm).

Klasifikasi tipe-tipe pantai berdasarkan pada sedimen penyusunnya itu juga mencerminkan tingkat energi (gelombang dan atau arus) yang ada di lingkungan pantai tersebut. Pantai gravel mencerminkan pantai dengan energi tinggi, sedang pantai lumpur mencerminkan lingkungan berenergi rendah atau sangat rendah. Pantai pasir menggambarkan kondisi energi menengah. Di Pulau Jawa, pantai berenergi tinggi umumnya diojumpai di kawasan pantai selatan yang menghadap ke Samudera Hindia, sedang pantai bernergi rendah umumnya di kawasan pantai utara yang menghadap ke Laut Jawa.

Daerah pantai yang masih mendapat pengaruh air laut dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Beach (daerah pantai)
Yaitu daerah yang langsung mendapat pengaruh air laut dan selalu dapat dicapai oleh pasang naik dan pasang turun.
2. Shore line (garis pantai)
Jalur pemisah yang relatif berbentuk baris dan merupakan batas antara daerah yang dicapai air laut dan yang tidak bisa dicapai.
3. Coast (pantai)
Daerah yang berdekatan dengan laut dan masih mendapat pengaruh air laut.

Antara pantai yang satu dengan garis pantai yang lainnya mempunyai perbedaan. Perbedaan dari masing-masing jenis pantai tersebut umumnya disebabkan oleh kegiatan gelombang dan arus laut. Menurut Johnson, pantai dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
1.    Pantai yang Tenggelam (Shoreline of submergence)
Shoreline of submergence merupakan jenis pantai yang terjadi apabila permukaan air mencapai atau menggenangi permukaan daratan yang mengalami penenggelaman. Disebut pantai tenggelam karena permukaan air berada jauh di bawah permukaan air yang sekarang. Untuk mengetahui apakah laut mengalami penenggelaman atau tidak dapat dilihat dari keadaan pantainya. Naik turunnya permukaan air laut selama periode glasial pada jaman pleistosin menyebabkan maju mundurnya permukaan air laut yang sangat besar. Selain itu, penenggelaman pantai juga bisa terjadi akibat penenggelaman daratan. Hal ini terjadi karena permukaan bumi pada daerah tertentu dapat mengalami pengangkatan atau penurunan yang juga dapat mempengaruhi keadaan permukaan air laut. Pengaruh ini sangat terlihat di daerah pantai dan pesisir.
Pada bentang lahan yang disebabkan oleh proses geomorfologi, pantai yang tenggelam dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pantai yang berbeda sebagai akibat dari pengaruh gelombang dan arus laut. Jenis-jenis pantai tersebut antara lain:
a. Lembah sungai yang tenggelam
Pada umumnya lembah sungai yang tenggelam ini disebut estuarium, sedangkan pantainya disebut pantai ria. Lembah sungai ini dapat mengalami penenggelaman yang disebabkan oleh pola aliran sungai serta komposisi dan struktur batuannya.
b. Fjords atau lembah glasial yang tenggelam
Fjords merupakan pantai curam yang berbentuk segitiga atau berbentuk corong. Fjords atau lembah glasial yang tenggelam ini terjadi akibat pengikisan es. Ciri khas dari bagian pantai yang tenggelam ini yaitu panjang, sempit, tebingnya terjal dan bertingkat-tingkat, lautnya dalam, dan kadang-kadang memiliki sisi yang landai. Pantai fjords ini terbentuk apabila daratan mengalami penurunan secara perlahan-lahan. Bentang lahan ini banyak terdapat di pantai laut di daerah lintang tinggi, dimana daerahnya mengalami pembekuan di musim dingin. Misalnya di Chili, Norwegia, Tanah Hijau, Alaska, dan sebagainya.
c. Bentuk pengendapan sungai
Bentuk pengendapan sungai dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) Delta, yaitu endapan sungai di pantai yang berbentuk segitiga dan cembung ke arah laut; (2) Dataran banjir, yaitu sungai yang terdapat di kanan dan kiri sungai yang terjadi setelah sungai mengalami banjir; (3) Kipas alluvial, yaitu bentuk pengendapan sungai seperti segitiga, biasanya terdapat di daerah pedalaman, dan ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan delta, serta sungainya tidak bercabang-cabang.
d.  Bentuk pengendapan glacial
Bentuk pengendapan ini disebabkan oleh proses pencairan es.
e.   Bentuk permukaan hasil diastrofisme
Bentuk kenampakan ini dapat diilustrasikan sebagai fault scraps (bidang patahan), fault line scraps (bidang patahan yang sudah tidak asli), graben (terban), dan hocgbacks. Setelah mengalami penenggelaman, fault scraps, fault line scraps, dan dinding graben akan langsung menjadi pantai.
f.    Bentuk permukaan hasil kegiatan gunung api
Jenis pantai yang disebabkan oleh kegiatan gunung api ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: (1) Merupakan hasil kegiatan kerucut vulkanis (mound), yang menyebabkan terbentuknya pantai yang cembung ke luar; (2) Merupakan hasil kegiatan aliran lava (lava flow), yang menyebabkan terbentuknya pantai yang cekung ke luar
2.    Pantai yang Terangkat (Shoreline of emergence)
Pantai ini terjadi akibat adanya pengangkatan daratan atau adanya penurunan permukaan air laut. Pengangkatan pantai ini dapat diketahui dari gejala-gejala yang terdapat di lapangan dengan sifat yang khas, yaitu:
1. Terdapatnya bagian atau lubang dataran gelombang yang terangkat
Di daerah ini banyak dijumpai teras-teras pantai (stacks), lengkungan tapak (arches), pantai terjal (cliffs), serta gua-gua pantai (caves).
2. Terdapatnya teras-teras gelombang
Teras gelombang ini terbentuk pada saat permukaan air mencapai tempat-tempat di mana teras tersebut berada. Teras-teras ini merupakan batas permukaan air.
3. Terdapatnya gisik (beaches)
Gisik yaitu tepian laut yang terdapat di atas permukaan air laut yang terjadi karena adanya pengangkatan dasar laut.
4. Terdapatnya laut terbuka
Laut terbuka ini terjadi karena adanya dasar laut yang terangkat.
5. Garis pantai yang lurus (straight shoreline)
Erosi gelombang dan pengendapannya pada laut dangkal cenderung menurunkan bentang lahan dan menyebabkan dasar laut dasar laut yang dangkal menjadi datar. Apabila dasar laut yang dangkal tersebut sekarang mengalami pengangkatan, maka garis pantai yang terbentuk akan kelihatan lurus.
3.   Pantai yang Netral (Neutral shoreline)
Jenis pantai ini terjadi di luar proses penenggelaman dan pengangkatan, misalnya pantai yang terjadi pada delta, plain hanyutan, terumbu karang, gunung api, gumuk-gumuk pasir, dan jenis pantai yang merupakan hasil dari sesar (patahan).
4.          4.   Pantai Majemuk (Compound shorelines)
Jenis pantai ini terjadi sebagai gabungan dua atau lebih proses di atas. Berarti dalam suatu daerah bisa terjadi proses penenggelaman, pengangkatan, pengendapan, dan sebagainya.

Status Lahan Ruang Wilayah Pantai
Status lahan di wilayah pantai sangat terkait dengan Perda RTRW wilayah setempat, dimana tata ruang itu sendiri adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
struktur ruang
susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional
pola ruang
distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya

kawasan lindung
wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
Sumberdaya alam yang berada di pantai sebagai kawasan lindung, salah satunya adalah lahan gambut.
Kawasan bergambut
a) Kawasan bergambut yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten dan Kota memiliki
kriteria sebagai berikut :
1) Tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih;
2) Terdapat di bagian muara sungai dan rawa;
3) Tingkat pelapukan muda (febrist) dan bervegetasi berupa hutan;
4) Merupakan hamparan yang utuh > 50 ha.

b) Pengelolaan kawasan bergambut :
1) Harus melibatkan pemerintah dan stakeholders secara aktif;
2) Program pengelolaan kawasan bergambut harus tersosialisasi dengan baik;
3) Pemberian insentif kepada perorangan atau kelompok dalam rangka peningkatan
kualitas fungsi kawasan bergambut.

c) Pengembangan kegiatan budidaya di kawasan bergambut :
1) Kegiatan budidaya yang dkembangkan harus disesuaikan dengan karakteristik kawasan.
2) Perlu dilengkapi dengan pengendalian pemanfaatan ruang yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dengan melibatkan secara aktif masyarakat setempat;
3) Untuk tetap menjaga fungsi lindungnya maka perlu adanya rekayasa teknis dalam pengembangan kawasan bergambut; dan
4) Pengenaan sanksi kepada pihak-pihak yang menimbulkan kerusakan lingkungan di kawasan bergambut

kawasan budidaya
wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan
Padahal seyogyanya wilayah pantai dengan lebar tertentu adalah kawasan lindung, namun kenyataannya banyak wilayah pantai yang telah berubah menjadi kawasan budidaya, baik untuk kegiatan pemukiman, pertanian, industri dan lainnya. Sehingga ketika ada Pemerintah Daerah yang akan membuat garis sempadan pantai di wilayahnya akan mengalami kendala. Tidak mungkin menggeser bangunan beton bertingkat yang telah ada toh? Sehingga kemungkinan besar bahwa penerapan aturan sempadan pantai hanya bisa diberlakukan kepada area yang belum terbangun.

Wilayah pantai yang sudah jadi kawasan budidaya, berdasarkan fungsi dikelompokkan atas:
1) Kawasan peruntukan permukiman;
2) Kawasan perdagangan dan jasa;
3) Kawasan peruntukan industri;
4) Kawasan peruntukan pariwisata;
5) Kawasan pendidikan;
6) Kawasan pelabuhan laut / penyeberangan;
7) Kawasan bandar udara;
8) Kawasan mixed-use (campuran);
9) Kawasan ruang terbuka hijau.

Pattinaja (2011), parameter yang diukur untuk menentukan batas sempadan pantai menggunakan pertimbangan 5 karakteristik berikut ini:
(1)   Karakteristik topografi ditentukan berdasarkan parameter kemiringan pantai.
(2)   Karakteristik biofisik ditentukan berdasarkan keberadaan ekosistem lahan basah, terumbu karang, padang lamun, gumuk pasir, estuaria, laguna, dan delta.
(3)   Karakteristik hidro-oseanografi pesisir ditentukan berdasarkan parameter tinggi gelombang.
(4)   Karakteristik kebutuhan ekonomi dan budaya ditentukan berdasarkan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilakukan oleh pemangku kepentingan utama.
(5)   Karakteristik ketentuan lain ditentukan berdasarkan parameter potensi bencana alam, struktur batuan, posisi geografis, dan keunikan bentang alam.





Saran
Apapun rumus yang akan digunakan untuk menentukan batas sempadan pantai, seyogyanya mempertimbangakan:
a) Keseimbangan antara rencana pemanfaatan lahan untuk fungsi budi daya dan lahan untuk fungsi lindung dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan;
b) Peruntukan lahan wilayah pantai harus dimanfaatkan secara efektif,
menghargai signifikasi ruang perairan, ada kesinergisan pola ruang kawasan budidaya dengan lingkungan alami di sekitarnya;
c) Ruang di sepanjang garis pantai yang merupakan wilayah Sempadan Pantai yang harus diarahkan menjadi ruang publik yang dapat diakses dan dinikmati publik;
d) Dapat menjadi tameng terhadap terjadi dampak negatif akibat terjadi aktifitas negatif manusia seperti pencemaran di laut dan terjadinya bencana alam seperti tsunami.
e) dapat menjadi sumber plasma nutfah dengan menjadi kelestarian sumberdaya alam yang tersedia seperi terumbu karang, mangrove, lamun dll
f) Pemanfaatan ruang wilayah pantai diarahkan untuk mengakumulasi beberapa fungsi kawasan yang menghargai, menyatu dan memanfaatkan potensi pantai dengan tetap berprinsip terhadap fungsi kelestarian alam.

Sempadan Pantai Di Kalasey Manado




22 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih Nurul atas kunjungannya

      Hapus
  2. Postingan yang menarik pak..
    Pak didi.. mau tanya..
    buku Pattinaja 2011 itu judulnya apa ya??
    terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judul buku: SEMPADAN PANTAI
      Penyusun: Yvonne Indrajati Pattinaja
      Diterbitkan oleh: Direktorat Tata Ruang Laut, Pesisir dan Pulau Pulau Kecil
      Jalan Medan Merdeka Timur No. 16
      Gedung Mina Bahari III Lt. 9 Jakarta Pusat 10110
      Telp/fax 021·3522040

      Kalau Mas AfwanAboy memerlukan buku tersebut, silahkan hubungi alamat di atas

      Terima kasih

      Hapus
  3. Terima kasih banyak pak atas infonya...

    BalasHapus
  4. Sangat informatif Pak,
    Mohon informasi status Rancanagan Perpres Penentuan Sempadan Pantai.
    Saya pernah baca di Pedoman Pemanfaatan Ruang Tepi pantai Kementerian PU, pennetuan sempadan pantai menggunakan kriteria bentuk dan kondisi fisik pentai.
    salam--ita sualia--

    BalasHapus
  5. Dalam draft Perpres pedoman penentuan batas sempadan pantai ini ada rumus tertentu dalam perhitungannya Yang disesuaikan dengan Jenis Dan tipe pantainya. Namun setelah draft ini masuk ke Sekneg, draft ini dikembalikan untuk disempurnakan terutama menyangkut kawasan hutan (definisi hutan dengan kawasan hutan, jauh berbeda) dan perlu dilihat juga aspek sosial, ekonomi, Dan religi Yang melekat di wilayah kota/kab/provinsi ybs. Di Bali, rumus penentuan sempadan pantai tsb tdk dapat dengan serta Meta diterapkan. Sekarang draft tsb sedang disempurnakan di Ditjen Kelautan pesisir Dan pulau pulau kecil. Terima kasih at as atensinya

    BalasHapus
  6. terimakasih buat tulisannya pak,
    saya mau bertanya, apakah perpresnya tentang sempadan pantai sudah ada ya? mohon informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bang Parlin atas kunjungannya. Rancangan Perpres Sempadan Pantai -belum terbit-. Masih ada beberapa pasal yang dibahas ulang. Mudah mudahkan tidak terlalu lama bisa terbit Perpresnya.

      Hapus
  7. Pak..Saya mau tanya kalo tanh yang berada di wilayah sempadan pantai sudah ada sertipikatnya bagaimana keabsahan sertifikat tsb...dan bagai mana pula kalau tanah tsb sudah diperjualbelikan..apa sanksi dan tindakan dari pemerintah RI...terimakasih pak,....mohon penjelasanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama sertifikat tsb sah menurut hukum, yg dikeluarkan oleh instansi yg berwenang maka ketentuan ketentuan dan hak hak kepemilikan atas tanah tersebut berlaku sebagaimana umumnya. Tanah tersebut boleh diperjualbelikan belikan

      Hapus
    2. Selama sertifikat tsb sah menurut hukum, yg dikeluarkan oleh instansi yg berwenang maka ketentuan ketentuan dan hak hak kepemilikan atas tanah tersebut berlaku sebagaimana umumnya. Tanah tersebut boleh diperjualbelikan belikan

      Hapus
  8. Informasi yang menarik sekali...

    ijin revisi sedikit...

    Undang-Undang No. 28 Tahun 2004 tentang Bangunan Gedung, yang benar adalah Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksinya Mas Joko Aji. Sebagai tambahan informasi 2 minggu lalu sudah dibahas rancangan Peraturan Presiden tentang Sempadan Pantai secara lintas sektoral/interdept di Kementerian Hukum dan Ham. mudah mudahan tidak lama lagi, Perpresnya bisa keluar

      Hapus
  9. mohon informasinya pak didi...

    jika saya ingin mendesain sebuah resort di pinggir pantai, apakah boleh menggunakan daerah sempadan pantai untuk bangunan yang bersifat termporer seperti beach club, beach volleyball...kemudian pengajuan ijinnya haruskah saya bertemu langsung dengan dinas tata kota daerah setempat ???

    mohon penjelasan lebih lanjut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara normatif di Sempadan pantai tidak diperbolehkan adanya bangunan karena sempadan pantai selain sebagai ruang terbuka hijau juga sebagai area mitigasi bencana yaitu sebagai penahan adanya gelombang besar/tsunami , abrasi, jalur evakuasi, dll. Namun dalam rancangan Perpres ttg sempadan pantai disebutkan bhw pengaturan sempadan pantai diatur melalaui Peraturan Daerah Kabupaten/kota masing masing. Dalam Perda tsb nantinya akan berisi berapa lebar sempadan pantai dan aturan aturan lainnya termasuk dimungkinkan atau tidaknya ada pemanfaatannya.

      Hapus
  10. Mohon penjelasan.. Kawasan pesisir pelabuhanratu. Termasuk zona apa? Apakah sudah pula di terapkan uud tersebut? Kalau sudah kenapa masih terjadi pembangunan dibibir pantai. Terima kaaih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Ade, sepengetahuan saya Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (dalam bentuk Peraturan Daerah) untuk Kab. Sukabumi (termasuk pesisir Pelabuhan Ratu) itu belum ada. Sehingga pembagian mana kawasan pemanfaatan umum, mana kawasan konservasi, mana kawasan strategis, mana untuk alur (pelayaran dll) itu belum ada. Seyogyanya pesisir Pelabuhan Ratu Memiliki kawasan pemanfaatan umum (kawasan budidaya) dan ada sebagian masuk kawasan konservasi (kawasan lindung). Di kawasan pemanfaatan umum atau kawasan budidaya dapat dijadikan zona perikanan, pemukiman, bisnis dll. Masalah masih adanya pembangunan di bibir pantai atau di sempadan pantai karena Kab. Sukabumi belum memiliki Peraturan Daerah tentang Sempadan Pantai termasuk juga belum memiliki Peraturan Daerah tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisirnya. Mudah mudahan dalam waktu dekat Kab. Sukabumi sudah bisa menerbitkan kedua Perda tersebut. Nuhun atas tanggapannya.

      Hapus
    2. terima kasih atas penjelasannya pak, saat ini saya beserta rekan rekan sedang memperjuangkan area publik yang ada di zona kawasan Garis sempadan pantai, patok nya sudah ada,dan saya banyak mendapat tentangan dari para pengusaha ada yang WNA, ada juga yang pribumi, hingga terjadi perselisihan untuk ini. pendapat saya bila pembangunan tetap di biarkan, maka akan terjadi seperti pantai anyer dan ancol, akses publik tertutup, kami tidak menginginkan hal itu terjadi di pesisir kami( desa Karang papak Kec.cisolok) mohon bimbingannya pak... terima kasih
      salam pesisir

      Hapus
  11. Pa Didi, mohon konfirmasi:
    1. apakah perpres tentang batas sempadan pantai sudah ditetapkan? kalau sudah no berapa dan tahun berapa?
    2. dalam UU no 27/2007 pasal 31 penentuan batas sempadan pantai ditentukan oleh pemerintah daerah. dalam rancanagan perpres, pemerintah daerah yang di maksud adalah bupati/wali kota keculai DKI, dan harus berupa perda. berkaitan dengan hal tersebut dengan telah diundangkannya UU no 23/2014 tentang pemerintahan daerah, apakah bupati/wali kota masih berwenang untuk menentukan batas sempadan pantai?
    terima kasih

    BalasHapus
  12. Mnta tlng infonya,saya tgl 18 mei mau ke bandara soekarno,saya dr cileungsi,apa damri di terminal cileungsi ada jurusan bandara soekarno hatta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari cileungsi gak ada mas. Tapi kalau dari cibubur atau kampung rambutan ada

      Hapus