Selasa, 31 Mei 2011

Mengunjungi Museum Ranggawarsito di Semarang, Jawa Tengah

Membaca nama Ranggawarsito yang dicantumkan dalam nama museum ini, tentu dengan cepat melintas dan membayangkan dalam pikiran kita, bahwa museum ini adalah museum yang mengoleksi segala hal ihwal dan karya karya sastra dari Raden Ngabehi Ranggawarsito. Kalau itu ada dalam pikiran anda seperti halnya terjadi pada saya, sebelum saya menyaksikan sendiri isi dari museum ini, anda akan ‘kecele’. Karena isi koleksi museum ini adalah ragam aspek kehidupan masyarakat Jawa Tengah dari jaman baheula sampai sekarang. Memang di pendopo atau lobi museum terpajang patung setengah badan dari Raden Ngabehi Ronggowarsito(15 Maret 1802 – 24 Desember 1873), seorang ahli susastra pada jaman kerajaan Mataram era Sinuhun Paku Buwono V bertahta. Di kanan kiri patung Ranggawarsito terpampang serat Katiladha hasil karya sastra Ranggawarsito. Sebelah kiri dalam tulisan dan bahasa Jawa Kuno dan di sebelah kanannya dalam bahasa Jawa dengan huruf latin. Salah satu penggalan serat Katiladha yang terkenal adalah berbunyi kira kira seperti ini: hidup di dalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti, tidak sampai hati. Tetapi kalau tidak mengikuti, tidak akan mendapat apapun. Namun bagaimanapun, manusia akan lebih bahagia kalau orang itu senantiasa ingat dan waspada. Tentang Ranggawarsito ‘hanya itu’ lainnya tidak ada.
Namun bagaimanapun museum ini sangat unik dan menarik. Saya yang biasanya ingin cepat cepat berlalu dari suatu momen apalagi kalau tidak menarik hati, tapi di tempat ini, saya bisa lebih dua jam tetap berada dalam museum ini sambil menikmati berbagai koleksi koleksinya. Apalagi para pemandu yang tersedia cukup informatif menjelaskan berbagai kolesi yang tergelar di museum ini. Persepsi akan museum ini terbentuk dari bagaimana caranya menyampaikan informasi oleh para pemandu ini.
Masuk ruangan pertama, kita akan disambut oleh gunungan blumbangan dalam ukuran besar yang biasa tampil sebagai pembuka dan penutup dalam pagelaran pewayangan. Gunungan bagi orang jawa adalah penggambaran kehidupan manusia bentuk gunung sebagai yang tenang, sejuk, dapat menerawang ke bawah dan beroksigen tipis. Pegunungan adalah tempatnya hutan belukar namun di sisi lain juga sebagai tempat yang subur untuk menghasilkan pangan. Tempatnya yang tenang, sejuk dan beroksigen tipis adalah tempat yang cocok untuk bersemedi atau dalam rangga kontemplasi/introduksi diri. Karena oksigen yang tipis menjadikan kita untuk sedikit bicara. Tempat yang tinggi yang dapat melihat ke bawah adalah memiliki filosofi bahwa hidup akan indah kalau sering menengok ke bawah, jangan hanya melihat ke atas melulu. Lebih simpel lagi filosofi dari gunungan ini adalah kontradiksi dalam berbagai kehidupan, ada kiri ada kanan, ada atas ada bawah, ada depan ada belakang. Atas berarti kejayaan yang dapat dicapai melalui proses spiritualis terhadap Allah ta’ala, kanan menggambarkan kejujuran, depan menggambarkan ketulusan/ihklas. Gunungan diciptakan pertama kali oleh Raden Patah pada abad XVI. Setelah mengamati gunungan blumbangan, kita akan dibawa kepada koleksi jenis bebatuan bahkan fosil fosil yang di dapat di sekitar Jawa Tengah, termasuk fosil dari situs Sangiran yang sudah terkenal itu. Fosil dan bebatuan ini menunjukkan kepada kita bahwa Jawa Tengah sudah memiliki kebudayaan tinggi dari jaman dahulu kala dan kaya akan sumberdaya alam.
Berikutnya adalah koleksi benda benda peralatan rumah tangga dan kehidupan. Saya tertarik dengan duplikat tandu yang digunakan Jendral Soedirman ketika bergerilya melawan Belanda. Tandunya sangat sederhana, hanya dari kursi kayu beralaskan anyaman rotan. Ruang berikutnya adalah ruang pamer koleksi mata uang kuno dan mata uang  sekarang. Saya baru tahu bahwa ada koin uang yang bentuknya tidak bulat tetapi tidak beraturan. Uang koin logam itu adalah uang dari kerajaan Sumenep pada tahun 1600-an.
Secara keseluruhan, saya menyukai museum ini, apalagi seandainya tata cahayanya diperbaiki, tidak terlalu redup bahkan tidak ada penerangan lampu sama sekali seperti yang terjadi di ruang pamer keramik/gerabah. Saya suka karena saya bisa mempelajari dengan cepat tentang salah satu sudut kehidupan masyarakat Jawa Tengah. Bagus.
 
Raden Ngabehi Ranggawarsito
Pendopo Museum Ranggawarsito

Gunungan yang Pertama Kali
Diciptakan oleh Raden Fatah
abad XVI
Tandu Jendral Soedirman
Pada Waktu Bergerilya

Nini Towok
Permainan Magis
Krn Bisa Diajak Komunikasi Lisan

Koin Sumenep th 1600-an
yang Tidak Bulat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar