Kamis, 19 Mei 2011

Mudahnya Transportasi Menyebrang ke Gili Trawangan, Air dan Meno di Lombok

Laut sekitar Lombok memang sangat menarik untuk dijadikan destinasi wisata, selain masih berkesan alami dan relatif baik terumbu karangnya juga memiliki tiga gili (pulau kecil) yaitu: Gili Meno, Air dan Trawangan yang sudah terkenal ke manca negara.
Wisata bahari telah jadi andalan bagi perekonomian setempat. Yang menarik adalah fenomena kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan, Air dan Meno semakin tahun semakin meningkat, padahal tiga Gili itu daya dukung untuk mendapat kunjungan wisata sangat terbatas. Kalau kebablasan malah dapat membuat buruk kondisi lingkungannya. Nah, yang ingin saya sampaikan adalah kenapa kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan, Air dan Meno meningkat terus dari sudut pandang lainnya.
Menurut data dari Dinas Budpar Kabupaten Lobok Utara (KLU), pada tahun 2009 kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan sebanyak 60.000 orang dan masing masing 20.000 orang yang bekunjung ke Gili Air dan Melo. Data ini menunjukkan kenaikan jumlah wisatawan dari tahun tahun sebelumnya. Salah satu pendukung kenaikan kunjungan wisatawa tersebut adalah semakin mudahnya transportasi dari Senggigi ke Gili-Gili tersebut.
Rahman (43th) warga Senggigi adalah salah seorang yang menyewakan perahu cadiknya untuk mengantar wisatawan keliling laut sekitar Senggigi atau berlayar ke Gili Trawangan, Air dan Gili Meno. Rahman sudah lebih 20 tahun berusaha dalam menyewakan perahu wisata. ‘Dulu, hampir setiap hari kami mendapat order penyewaan, namun saat ini agak susah, paling dalam seminggu kami dapat 2 – 3 orderan’ jelas Rahman. Kenapa dahulu mudah mendapatkan order? Karena jumlah perahu sewa tidak sebanyak sekarang. Dahulu hanya beberapa saja dan itupun terkonsentrasi di dekat dermaga penyebrangan di daerah Bangsal Pemenang yang jaraknya 25 km dari Senggigi. Sekarang perahu sewa tersebut telah tersedia di sepanjang 25 km dari pantai senggigi sampai Pantai Pemenang, jumlahnya ratusan. ‘Perahu –perahu kami sekarang lebih banyak menganggurnya’ jelas Rahman.
Sewa perahu cadik ini untuk pulang pergi ke Gili Trawangan maksimum hanya Rp 700.000,- untuk perahu kecil berkapasitas 7 orang. Dengan Rp 100.000 per orang, perahu akan menunggu di tempat wisata di Gili Trawangan dari pagi sampai petang. Dan dengan harga itu sudah lengkap dipinjami: jaket pelampung dan alat snorkel. Wisata di Gili lebih menarik kalau beraktifitas snorkel atau menyelam. Biayanya murah kan?
Dengan biaya yang murah dan fasilitas tersedia serta jumlah perahu yang ratusan itu, bagaimana tidak menarik minat para wisatawan untuk berkunjung ke Gili Trawangan, Air dan Meno, toh? Masalahnya  adalah adanya dampak negatif dari peningkatan kunjungan wisatawan terhadap lingkungan dan ekosistem ke tiga gili tersebut.
Sampai saat ini belum ada aturan jelas kunjungan ke Gili gili tersebut. Padahal di negara lain yang wisatanya mengandalkan pulau kecil, menerapkan aturan sangat ketat. ‘Garbage in garbage Out’ yang artinya apa yang masuk ke pulau kecil itu harus dibawa keluar lagi tidak boleh ada yang ditinggalkan –sangat kuat diterapkan-. Kita mau kan kalau gili-gili ini masih terus dapat dinikmati oleh anak cucu kita?
Dibalik Pantai Senggigi
ada Gili Trawangan, Air dan Meno
Gili Trawangan dilihat dari Bukit Malimbu
Deretan Perahu Sewa di Pantai Senggigi
Rahman dengan Perahu Sewanya


1 komentar: