Selasa, 10 Mei 2011

Nikmatnya Makan Siang Sambil Menyusuri Sungai Kapuas di Pontianak

Menemukan restoran “Serasan’ di Banjarsari yang terletak persis di pinggir sungai Kapuas, boleh dikata ‘cukup sulit’. Dari jalur Kota Pontianak menuju Siantan harus melewati jembatan Sungai Kapuas dan Sungai Landak, baru kemudian belok ke arah kanan dan di dekat situ ada jalan kecil namanya Jl Swadiri. Di ujung jalan itulah ditemukan yang namanya Restoran Serasan. Restoran ini kekhasannya adalah menyediakan tempat makan di perahu sambil berjalan menyusuri Sungai Kapuas Pontianak. Dan karena hal itu, kami tuju restoran ini.
Kami pesan makanannya dulu untuk dimasak di dapur restoran yang berada di dermaga. Setelah pesanan siap dan dibawa ke atas perahu, baru kami menikmati santapan sedap sambil menyusuri Sungai Kapuas. Saya mau komentar terhadap makanannya, lingkungan sungai Kapuas yang kami susuri dan sensasi makan siang di perahu.
Menu makanan yang tersedia di restoran ini adalah seafood. Pilihan ini tentu disesuaikan dengan panorama dari sekitar lingkungan restoran yang berupa perairan. Kami memilih kepiting lada hitam, udang galah (udang sungai) goreng, ikan bawal bakar serta sayurannya berupa cah kangkung. Terus terang kalau soal rasa, kami nilai ‘biasa’. Malah bagi yang perutnya sensitif, saya tidak menganjurkan untuk makan menu udang galah. Hal itu kami alami sendiri dan kejadiannya berulang setelah menyantap udang galah walaupun di tempat berbeda di Kalimantan.
Pada kesempatan kali ini, kami menyusuri Sungai Kapuas tidak terlalu jauh, hanya satu jam tiga puluh menit atau sekitar 6 km pulang pergi. Jadi pemandangan yang kami dapatkan hanyalah berupa pemukiman, pasar dll beserta aktifitas masyarakatnya. Hal yang paling utama yang tertangkap mata saya adalah tidak adanya sempadan sungai dimana seharusnya ada jarak dari bibir sungai ke komplek pemukiman atau bangunan lainnya. Malah rumah-rumah dibangun menjorok ke dalam sungai tentunya hal itu dikerjakan dengan pertimbangan kemudahan dalam beraktifitas warganya. Termasuk dalam hal mandi, cuci dan buang hajat. Satu sisi hal tersebut memudahkan aktifitas warganya yang sangat tergantung kepada sungai namun di sisi lain hal tersebut dapat berakibat negatif terhadap lingkungan sungai itu berada. Pemandangan sekeliling sungai menjadi kumuh, sampah membusuk bertumpuk tumpuk di pinggiran sungai, bau tidak sedap, terjadinya pendangkalan sungai yang lebih cepat dan tentu kualitas air itu sendiri menjadi lebih tercemar, apalagi air sungai ini selain dipergunakan untuk mandi juga untuk kebutuhan memasak. Apakah aku bermasalah dengan perut setelah menyantap udang sungai dimana udangnya didapat dari sungai ini? Mungkin juga ya? Hal lainnya yang mengherankan adalah di sepanjang sungai Kapuas yang kami susuri –tidak- ditemukan satu batang pohon-pun, padahal imagenya Kalimantan itu adalah hutan kalaupun hutannya sudah menghilang, mestinya satu dua pohon tertinggal tidak terbabat semuanya.
Lalu, sensasi apa yang didapat dari acara makan di perahu sambil menyusuri Sungai Kapuas? Bagi saya hanya mendapatkan angin semilir saja lainnya tidak ada. Bagaimana dapat nikmat? Sementara kami makan enak tetapi anak anak di pinggir sungai sana bermandi ria di air sungai yang coklat kehitaman dengan aroma kurang sedap atau terlihat seorang bapak bapak sedang membetulkan rumah panggungnya yang sudah rusak berat dan hampir roboh. Sekeliling kami melulu adalah kesederhanaan yang butuh media untuk dapat mengangkat derajat keekonomian mereka. Kami merasa bersalah sudah makan enak sambil menjadi penonton realita kehidupan mereka. Maafkan kami....

Makan Sambil Menyusuri Sungai Kapuas
Semilir Angin dalam Menikmati Makan Siang
Melihat Aktifitas Masyarakat di Sungai Kapuas
Kumuh
Sungai Kapuas Untuk: Mandi, Nyuci dan
untuk Memasak  
Mesjid Kodariah
Peninggalan Kesultanan Pontianak
Pasar di Pinggir Sungai Kapuas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar