Rabu, 29 Juni 2011

Seluk Beluk Jualan Bensin (BBM Bersubsidi) Secara Eceran

Saya mengambil contoh dari seorang penjual bensin eceran dekat rumah, sebut saja namanya Andi. Sebelum bisa membeli bensin dengan wadah jerigen di salah satu SPBU di jalan Warung Jambu Kota Bogor, Andi harus punya kartu biru sebagai tanda bahwa dia adalah pelanggan di SPBU tersebut. Kartu ini dikeluarkan oleh SPBU dimaksud. Syarat diterbitkannya kartu biru ini hanya berbekal adanya Surat Keterangan Usaha Bensin Eceran dari kelurahan Tegalega, Kota Bogor dimana usaha jualan bensin eceran Andi berada. Berbekal surat keterangan usaha tersebut, Andi mengajukan diri untuk menjadi pelanggan ke salah satu SPBU di Warung Jambu. Dengan membayar Rp 50 ribu, keluarlah kartu biru tersebut.
Andi setiap hari membeli bensin/premium bersubsidi sekitar 100 liter. Jumlah tersebut adalah besaran pasar premium eceran di warung Andi. Sebenarnya tidak disebutkan secara pasti berapa jumlah liter yang dapat dibeli Andi di SPBU tersebut. Andi membeli bensin tersebut dengan harga normal sebesar Rp 4.500/liter, namun harus ada uang rokok kepada petugas SPBU sebesar Rp 10.000 untuk setiap pembelian. Andi dapat membeli bensin di SPBU ini kapan saja, tidak harus pada malam hari. Kemudian Andi menjualnya Rp 5000/liter.
Yang menarik dari pembeli bensin eceran di warung Andi ini adalah sebagian besar adalah anak-anak remaja yang nota bene mereka bermotor roda dua itu bukan untuk kegiatan produktif seperti ngojek sekalipun, tetapi hanya untuk wara-wiri tanpa tujuan yang pasti. Pembeliannyapun hanya 1 liter saja tiap motor.
Saya menyampaikan hal tersebut terkait dengan adanya kekhawatiran pada level nasional, baik kekhawatiran dari para pejabat kompeten maupun sampai level IMF, bahwa komsumsi bensin/BBM bersubsidi di Indonesia sudah pada titik mengkhawatirkan. Saya simak dari Vivanews bahwa per 22 Mei 2011, konsumsi BBM bersubsidi telah menjapai 15,46 juta KL dari kuota tahun 2011 sebesar 38,59 juta KL, atau khusus untuk premium bersubsidi/bensin, sudah mencapai 9,37 juta KL dari kuota sebesar 23,19 juta KL. Jadi apakah penggunaan BBM bersubsidi sudah tepat sasaran?
Surat Keterangan Usaha Bensin Eceran dari Kelurahan

Kartu Biru dari salah satu SPBU sebagai Tanda Pelanggan
Bensin Eceran seharga Rp 5000/liter

Minggu, 26 Juni 2011

Kata 'Nusantara' Berasal dari Buku Negarakartagama Mahakarya Empu Prapanca pada Masa Raja Majapahit - Hayam Wuruk

Kata ‘Nusantara’ berawal dari ucapan sang Empu Prapanca di dalam mahakarya tulisannya yang berjudul Negarakertagama pada masa raja Majapahit  -Hayam Wuruk  atau tepatnya pada tahun 1364. Di dalam buku itu dikisahkan tentang keberhasilan Mahapatih Gajah Mada yang mempersatukan berbagai daerah menjadi satu kesatuan wilayah teritorial yang disebut sebagai wilayah Nusantara yang terdiri dari Hasta Mandala Dwipa (delapan kawasan pulau/kepulauan). Mpu Prapanca menggambarkan wilayah Nusantara dalam sebuah syair yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna, petikannya adalah sebagai berikut:
Syair 13
Lwir ning nusa pranusa sakahawat ksoni ri Melayu ning Jambi mwang Palembang karitang I Teba len Dharmacraya tumut
Kandis Kahwas Manangkabwa ri Siyak I Rekan Kampar mwang I Pane
Kampe Harw athawe Mandahiling I Tumihang Parilak mwang I Barat(1)
(h) Ilwas lawan Samudra mwang I Lamuri Batan Lampung mwang I Barus
Yekadhinyang watek bhumi Malaya satanah kapwamateh anut, len tekang nusa Tanjungnagara ri Kapuhas lawan ri Katingan Sampit mwang Kuta lingga mwang I Kuta Waringin Sambas, mwang I Lawai (2)
Syair 14
Kadangdangan I Landa len ri Samedang Tirem tan kasha, ri Sedu Burunang ri Kalka Saludung ri Solot Pasir, Bartiwi Sawaku muwah ri  Saimwang I kalanten I Tabalung ri Tunjung Kute, Lawan ri Malano makapramuka ta(ng) ri Tanjungpuri (1)
Ikang Sakawahang Pahang pramuka tang hujungmedini, ri Lengkasuka len ri Saimwang I Kalanten I Tranggano Nacor Pakumawar Dungun ri tumasik ri sanghyang Hujung, Kelang keda Jare ri Kanjapiniran sanusapipil (2)
Sawetan ikanang tanah Jawa muwah ya-warnnanen, ri bali makamukya tang Badahulu mwang I Lwagajah, gurun makamuke Sukun ri Taliwang ri Dompo sapi, ri Shanghyang Api Bhima Ceran I Hutan Kadalyapupul (3)
Muwah tang I gurun sanusa mangaran ri Lombok Mirah, lawang tikang I Saksakadi nikalun kahajyan kabeh, Muwah Tanah I Bantayan pramuka Bantayan len Luwuk tekeng udamakatrayadhi nikanang sanusapupul (4)
Ikang sakusanusanusa Makasar butun Banggawi, Kunir Ggaliyao mwang i(ng) Salaya Sumba solot Muar, Muwah tikang I Wandan Ambwan athawa Maloko Wwanin, ri seran I Timur makadi ning angeka nusatutur (5)
Syair 15
Nahan lwir ning decantara kacaya de Cri-narapati, tuhun tang Syangkayodhyapura kimutang Dhamanagari
Marutma mwang ring Rajapura nginuweh Singhanagari , ri Campa Kambojanyat I Yawana mitreka satata (1)
Kunang tekeng nusa Madhura tanani lwir parapuri, ri denyan tunggal mwang Yawadharani rakwekanan dangu Samudrananggung bhumi keta cakakalanya karengo Teweknya’n dady apantara sasiki tatwanya dan adoh (2)
Lebih lanjut dikatakan bahwa wilayah Nusantara versi Hasta Mandala Dwipa digambarkan sbb:
Mandala l : seluruh Jawa yang meliputi: Jawa, Madura dan Galiyao (Kangean)
Mandal ll : seluruh wilayah Sumatra yang meliputi; Lampung, Palembang, Jambi, Karitang (Indragiri), Muara Tebo, Dhamacraya (Sijunjung), Kandis, Kahwas, minangkabau, siak, Rekan, Kampar, Pane, Kampe, Haru, Mandahiling, Tamiang, Perlak, Barat (Aceh), Lamuri, Batan, dan Barus
Mandala lll: seluruh pulau Kalimantan (Tanjungnegara) yang meliputi; Kapuas, Katingan, Sampit, Kuta Lingga (Serawak), Sedu (Sedang di serawak), Kota Waringin, Sambas, Lawai (Muara Labai), Kadangdangan (Kendangwangan), Landak, Samedang (Simpang), Tirem (Peniraman), Buruneng (Brunai), Kalka Saludung, Solot (Sulu), Pasir, barite, sebuku, Tabalong (amuntai), Tanjung Kutai, Malanau dan Tanjungpuri
Mandala IV: Seluruh Semenanjung Melayu, antara lain; Pahang, Hujungmedini (Johor), Lengkaksuka (Kedah), Saimwang (Semang), Dungun (di Trengganu), Tumasik (Singapura), Sanghyang Hujung, Kelang (Negeri Sembilan), Kelantan, trangganu, Nacor (Ligor), Pakamuar (Pekan Muar), Keda, Jere, Kanjap (Singkep), Niran (Karimun)
Mandala V: Di sebelah timur pulau Jawa atau seluruh Nusa Tenggara, meliputi: Bali, Bedulu, Lwagajah, Gurun (Nusa Penida), Taliwang (Sumbawa), Dompo, Sapi, Sanghyang Api (Sangeang), Bhima, Geram, Hutan Kadali (Baru), Gurun (Gorong), Lombok Mirah (Lombok Barat), Saksak (Lombok Timur), Sumba dan Timur (Timor).
Mandala VI:  Seluruh Sulawesi yang meliputi; Banthayang (Bonthain), Luwuk (Luwu), Udamakatraya (Talaud), Makassar, Butun (Buton), Banggawi (Banggai), Kunir, Galiyao Selaya, Solot (Solor).
Mandala VII: Seluruh Maluku yang meliputi; Muar (Kei), Wandan (Banda), Ambwan (Ambon), Maloko (Ternate)
Mandala VIII: seluruh Papua yang meliputi; Onin (Papua Barat) dan seran (Papua Selatan)
Kawasan (Mandala) mengandung arti tidak hanya terbatas pada wilayah daratan tetapi termasuk juga lautnya. Dengan demikian istilah ‘Nusantara’ mengandung makna sebagai gugusan pulau-pulau atau kepulauan
Pustaka:
Wibisono, M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Grasindo. Jakarta. 226 hal
  

Sabtu, 25 Juni 2011

Analisis Teori tentang Puisi

Putu Wirya Jatha (1984):
"-Biarpun puisi pada umumnya beruratakar pada kata, namun kata tersebut merupakan simbol sehingga mempunyai kemungkinan banyak tafsir. Pemampatan kata dalam puisi sebenarnya menuntut kita menelusuri arti sibol untuk untuk mengerti sesuatu yang disimbolkan.
-Karena pada hakekatnya puisi cenderung bersifat personal serta merupakan sebuah subjek yang mengharuskan penikmatnya menyatukan diri ke dalamnya.
-Puisi ibarat kamar tertutup. Orang yang ingin mengetahui puisi harus mau membuka pintu rahasianya dengan penguasaan seluk beluk keseluruhannya: kunci, pintu, ruang, dan kamar bangunan itu secaraa menyeluruh.
-Tatkala penyair menulis puisi, dia mengambil momen yang melintas seketika yang disatukannya dengan ketrampilan menguasai bahasa.
-Pada dasarnya puisi terdiri dari dua macam, yakni puisi transparan dan puisi prismatis. Puisi transparan adalah puisi yang menguraikan tentang diri penyairnya atau isi hati dan pikiran yang terkandung didalamnya dan dinyatakan secara langsung. Sedangkan puisi prismatis adalah puisi yang tak ditujukan langsung pada orang lain tetapi berbicara pada dirinya sendiri.
-Seseorang yang menyenangi filsafat, maka puisi-puisi yang digubah oleh Subagio Sastrowardoyo akan mudah dinikmatinya. Karya Rendra akan diselami dengan sempurna bagi penikmat puisi yang mempunyai latar belakang disiplin ilmu sosial.
Misteri yang dikandung puisi transparan maupun prismatis hanya dapat dirasakan dan dinikmati dengan kerelaan menyelam ke dalam dirinya dengan kesan keseluruhan sebagai sebuah subjek.
Setiap apresiator puisi memerlukan kematangan pengalaman supaya puisi dapat mewakili kesan dan kenangan masa lalu dan kini beserta cita cita dan harapan pada masa yang akan datang ".

Hartojo Andangdjaja (1991):
“Tetapi puisi tidak hanya menjadi ‘pencatat’ segala sesuatu yang berharga pada masyarakat dan zamannya dan kemudian meneruskannya kepada angkatan-angkatan yang datang kemudian. Sering puisi juga menjadi ‘pengamat’ yang tajam terhadap berbagai kecendrungan dalam kehidupan bersama pada zamannya. Puisi dapat mengawasi dengan tajam kemana kecendrungan itu mencapai tujuannya nanti: suatu tingkat yang lebih baik atau suatu bencana?
Jika kecendrungan ini bakal menuju tingkat perkembangan yang lebih baik bagi kehidupan bersama, maka puisi itu mengandung keakraban dan harapan buat kemungkinan yang lebih baik di masa depan. Lahirlah karena itu puisi-puisi bernafaskan hymne-dalam arti yang murni, jujur bagi zamannya. Demikianlah, misalnya sajak-sajak Walt Whitman (1819-1892): dari satu segi dapat kita pandang sebagai sebuah hymne buat Amerika dalam suasana demokratis, yakni Amerika yang menyanyi, dan masing-masing warganya menyanyikan apa yang menjadi hak mereka.
Sajak Muhammad Yamin ditulis tatkala bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu. Namun kecendrungan ke arah satu bahasa telah diamati oleh Muhammad Yamin. Dan kecendrungan tersebut mencapai tujuannya ketika dalam Kongres Pemuda 1928 diikrarkan sumpah tentang satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
Sebaliknya, apabila berbagai kecendrungan yang timbul dalam kehidupan bersama bakal memberi ancaman suatu bencana, maka puisi dapat dinyatakan protesnya dalam beragam cara pengucapan. Lahirlah karena iti sejumlah satir sosial, ironi dan, bila kebebasan kreatif ditekan, lahirlah ekspresi simbolis atau bentuk pengucapan lain yang disamarkan. Demikianlah, misalnya, ‘Now Jerusalem’ William Blake (1757-1827) merupakan protes sosial terhadap ekses-ekses yang timbul dalam Revolusi Industri di Inggris pada abad ke delapan belas.
Maka, apabila kita kembali kepada pertanyaan awal, apakah puisi mengabarkan masa depan-maka kita dapat memberi jawaban: ya, dalam arti, bahwa puisi tidak meramalkan peristiwa, melainkan semangat zaman yang akan datang ".
Pustaka:
Andangdjaja, Hartojo. 1991. Dari Sunyi ke Bunyi: kumpulan esai tentang puisi. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta. 162 hal
Jatha, Putu Wirya. 1984. Pendakian Narasi. Penerbit Nusa Indah. Ende Flores. 123 hal

Jumat, 24 Juni 2011

Dusun Sade: Rumah Tradisional Suku Sasak di Lombok

Dusun Sade berada sekitar 65 km dari Kota Mataram atau dapat ditempuh sekitar satu jam lebih sedikit dengan kendaraan pribadi. Sekeluar dari kota Mataram, sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan persawahan dan kebun-kebun yang terus terusik oleh desakan pemukiman dan bangunan bangunan lainnya.
Dusun Sade adalah salah satu dari sedikit pemukiman tradisonal dari suku Sasak yang masih ada yang dicirikan oleh bentuk dan material bangunan rumah yang terbuat dari bilik bambu dan atap ilalang. Dusun Sade sendiri masuk wilayah administrasi Kabupaten Lombok Tengah menempati lahan seluas 6 ha dengan jumlah rumah sebanyak 150 buah dan dihuni oleh 700 penduduk. Mata pencaharian penduduknya dalah bertani di sawah tadah hujan yang panennya sekali setahun. Hasil padi dari panen sekali setahun itu digunakan hanya untuk makan sehari hari tidak dijual. Sehingga perlu bangunan tersendiri untuk menyimpan padi sepanjang setahun itu yaitu dibangunan yang disebut alang. Umumnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi lainnya ditutupi oleh penjualan kain tenun yang diproduksi oleh kaum perempuannya.
Sekarang mari kita liat sedikit tentang rumah tradisonal suku sasak itu. Rumah atau bali tani atau rumah petani untuk sebutan lokal mereka, arsitekturnya mirip rumah joglo di Jawa. Material dindingnya dari bilik bambu dan bentuk atap seperti rumah joglo namun dibuat dari ilalang dengan ketebalan tertentu. Atap ilalang ini diganti setiap 10 tahun atau sesuai kondisinya.
Rata-rata luasan satu rumah adalah 40 m2 yang terdiri dari ruang tamu sekaligus ruang tidur untuk orang tua dan dibelakangnya hanya terdiri dua ruangan kecil. Satu ruangan untuk tempat tidur anak gadisnya sekaligus sebagai dapur dan di sebelah ruang tidur ini adalah kamar untuk melahirkan. Anak gadisnya diberi kamar khusus karena terkait dengan adat perkawinan suku Sasak yang menerapkan adat ‘culik’, sehingga anak gadis itu perlu perlindungan tersendiri. Anak laki-laki tidak diberi kamar dan tidurnya di bale-bale yang berada di luar rumah bersama sama teman teman laki laki lainnya. Kalau di Jawa, hal tersebut diistilahkan dengan ‘ngenger’. Yang masih menjadi pertanyaan saya, kenapa untuk melahirkan perlu diberi kamar khusus? Apakah perempuan suku Sasak sering melahirkan?
Pintu rumah dibuat pendek, hal ini dimaksudkan sebagai cara penghormatan dari tamu kepada pemilik rumah. Karena setiap tamu yang masuk rumah pasti akan menundukan kepala akibat pintunya yang pendek. Rumah-rumah Suku Sasak tidak berjendela. Sirkulasi udara hanya mengharapkan dari celah celah kecil dinding diantara anyaman bilik bambu. Tentu saja tidak akan optimal. Kesan yang timbulpun adalah gelap dan kurang segar.
Hal lain yang menarik adalah lantai rumah yang terbuat dari tanah liat dicampur dengan kotoran kerbau. Memang sih lantainya keliatan seperti lantai semen, baik dari segi kekerasan maupun warnanya.
Kita bicara dari segi pariwisatanya. Dusun Tradisonal Suku Sasak, cukup menarik dan unik namun kurang atraktif. Padahal unsur atraktif dalam pariwisata memegang peranan utama. Pengunjung sudah dibuat senang dengan suguhan arsitektur rumah yang menarik ditambah kaum ibunya yang sedang bekerja menenun dan bagi beberapa nenek sepuh sedang duduk-duduk sambil makan buah pinang kemudian ada bapak-bapak yang sedang ngurusi ayam peliharaannya yang berada disamping rumah tinggalnya, dll. Sayangnya adalah hampir semua rumah-rumah yang dilewati menjajakan dagangan kain tenun, songket, dan batik serta berbagai asesoris seperti gelang dan kalung, yang tidak semuanya itu adalah produk mereka sendiri. Kenapa tidak diatur disuatu tempat? Kemudian yang lebih penting lagi adalah kita mengunjungi komunitas ini tanpa ada informasi tertulis sehelaipun. Kita hanya mengandalkan kepada pengetahuan sang pemandu, kalau kita menggunakan jasanya. Kalau kita jalan sendiri, ya informasinya hanya dari persepsi kita sendiri saja, yang tentu banyak salahnya.
Lalu bagaimana ke depan? Mau dikomersilkan kah atau mau dibangun? Kita lihat beberapa pendapat dari ahlinya.
Nyoman S Pendit (1999) menyatakan: Manusia selalu memiliki rasa keingintahuan (curiosity). Perasaan ingin tahu inilah yang mendorong manusia untuk pergi mengadakan perjalanan (keluar rumah atau keluar kota). Inilah asal muasal adanya pariwisata. Kemudian berkembang berkembang dan terus berkembang tentang keparisataan ini maka jadilah sebuah industri.
Umar Kayam (1980): Industri pariwisata seperti kita ketahui tidak hanya mendatangkan dan membawa pergi wisatawan. Ia juga mendatangkan dan membawa pergi hal-hal lain. Sebagai industri modern, industri pariwisata tidak bisa lepas dari kaidah dan aturan industri modern lainnya. Ia harus efisisien, kompetitif bahkan ekspansionis. Dan itu akan berdampak kepada masyarakat dan daerah yang menjadi objek wisata dimana umumnya masyarakatnya masih berorientasi kepada nilai-nilai agraris-tradisional. Konteks efisiensi, kompetitif dan ekspansionisme yang dipahami olehnya adalah berpusat kepada kepentingan harmoni kolektif dari masyarakat itu.
Astrid Susanto (1986): perlu dipertimbangkan unsur-unsur mana yang dapat dimasukan kedalam paket wisata. Apabila social cost-nya lebih tinggi dibandingkan economic benefid-nya, maka model pariwisata seperti itu perlu dihindari.
Kesimpulannya, saya menyimak Frans seda (1980): kadang kita begitu asik mendandani alam, kebudayaan dan adat istiadat sekedar ‘to please the tourist’, sehingga justru merusak keaslian alam, budaya, dan adat istiadat itu sendiri. Padahal turis-turis itu hanya mempunyai keinginan untuk melihat alam, budaya, dan adat istiadat sebagaimana aslinya. Kalau itu dirubah, belum tentu turis akan datang lagi.
Selamat Datang
di Dusun Sade, Dusun Tradisional
Suku Sasak di Lombok
Arsitektur Rumah Tradisional
Suku Sasak

Pintunya Pendek
agar Tamu Menghormati Tuan Rumah
Lantainya dibuat dari 
Campuran Tanah Liat dan tahi Kerbau
Terdiri Dua Kamar
untuk Anak Gadisnya dan untuk 
Melahirkan
Kamar Anak Gadisnya
Merangkap Dapur
Arsitektur Rumah
Lumbung Padi atau Alang

Pekerjaan Perempuan Sasak

Rabu, 22 Juni 2011

Pantai Kuta di Lombok; alami, indah, dan menyenangkan

Walaupun namanya sama seperti nama pantai yang ada di Bali dan sudah terlebih dahulu tenar ke seantero benua, pantai Kuta yang satu ini berada di Lombok. Tentu banyak perbedaan antara diantara kedua pantai tersebut. Nah, saya ingin menceritakan perasaan saya ketika berkunjung ke pantai Kuta lombok ini.
Beberapa tahun lalu, saya pernah berkunjung ke pantai Kuta lombok ini, malah sudah dua kali. Kini ketika kami ada kesempatan datang ke Lombok, saya tidak menyia-nyiakan untuk berkunjung kembali ke pantai Kuta di Lombok.
Pantai Kuta berada lombok Selatan atau sekitar 70 km dari Kota Mataram. Perjalanan dapat ditempuh sekitar 1,5 jam. Perjalanan dari Kota Mataram, akan melewati Kota Praya di Lombok tengah kemudian masih di kecamatan Praya kita akan bertemu dengan Bendungan/Dam Batu Jai yang diresmikan waktu Presidennya masih Pak Harto. Bendungan ini dapat menampung air sekitar 23 juta meter kubik yang akan dialirkan untuk irigasi persawahan dan suplai air minum bagi penduduk Lombok Tengah. Namun yang kini terlihat adalah hamparan eceng gondok di atas bendungan tersebut. Jadi telah terjadi sedimentasi yang tinggi. Selain daya tampung airnya berkurang banyak, lahan lahan sawah sekitar bendungan ini sudah banyak berubah fungsi menjadi perumahan atau bangunan lain. Lebih lebih disebelah bendungan ini kini telah berdiri Bandara Internasional yang baru yang belum difungsikan. Bandara ini akan menggantikan bandara Selaparang di Mataram. Namun, entah kenapa sampai saat ini bandara baru ini belum diresmikan. Saya tidak melihat ada aktifitas pembangunan disana, yang ada hanya sekumpulan kerbau sedang merumput di depan bangunan utama bandara. Setelah melewati beberapa km dari calon Bandara Baru di Lombok, kita akan bertemu dengan dusun tradisional Sasak “Sade’. Ada beberapa bus besar dan beberapa minibus sedang diparkir  disana, itu artinya pengunjung ke Dusun Sasak Sade cukup banyak. Lewat Dusun Sade, hanya sekitar 20 menit kita akan bertemu dengan lokasi tujuan yaitu Pantai Kuta yang berada di Lombok Selatan.
Suasana Pantai Kuta masih seperti beberapa tahun yang lalu, masih asri, masih dengan penginapan-penginapan atau restoran-restorannya yang sederhana tentunya juga masyarakatnya yang masih sederhana. Masyarakat sekitar yang bermata pencaharian utama sebagai petani, masih melakukan aktifitasnya seolah tanpa perubahan seperti beberapa tahun lalu. Berpakaian sederhana dan bertingkah sesuai karakter pedesaan juga. Malah saya lihat sendiri penggembala dengan belasan kerbaunya melintas diantara cafe-cafe di pinggir jalan di sebelah Pantai Kuta, tentu cukup menarik perhatian beberapa turis asing yang sedang santap siang.
Pasir putih pantai Kuta berciri khusus yaitu butirannya agak besar seperti merica namun berkilat-kilat putih bersih. Dan itu menghampar luas sejauh mata memandang, ditambah suasana sunyi, gelora ombak laut selatan, dan langit biru serta tanpa ada usikan dari keriuhan aktifitas ekonomi yang berlebihan
Suasana seperti itu tidak mungkin akan tertangkap lagi di kawasan Pantai Kuta Bali. Pantai Kuta Bali sudah jauh meninggalkan karakter pedesaan dan ciri ke’Bali’annya. Pantai Kuta Bali sudah berada di pusaran masyarakat kota-kota dunia.
Dengan adanya Bandara baru diperkirakan kunjungan turis dan aktifitas ekonomi akan meningkat tajam. Sekarang saja harga tanah sudah melonjak jauh. Satu arenya (100m2) tanah kebun sudah sekitar Rp 250 juta padahal tahun tahun sebelum ada bandara baru, hanya berharga puluhan ribu saja per meter perseginya. Ke depan mumpung kawasan itu masih terjaga dan belum terbangun secara serampangan maka perlu ada masterplan pembangunan kawasan wisata Pantai Kuta. Jangan sampai tidak menyisakan sempadan pantai sekalipun. Atau juga pembangunan itu jadi meninggalkan karakter akar budaya masyarakat setempat.
Pembangunan boleh berjalan terus dan memang itu harus namun keasrian, keindahan, sumberdaya, budaya jangan dirusak.
Aku suka Pantai Kuta mudah-mudahan seterusnya.   
 Bendungan Batu Jai di Lombok Tengah
yang hampir tertutup eceng gondok
Calon Bandara Baru
di Lombok Tengah
Gerbang Dusun Tradisional 
Suku Sasak 'Sade'
dari kejauhan
Keindahan Pantai Kuta di Lombok
 Sunyi yang Menggoda
di Pantai Kuta Lombok
Pasir Putih, Laut biru, dan Langit Biru
itulah Pantai Kuta Lombok
Suasana Pedesaan di Pantai Kuta di Lombok
Kerbaupun masih melintas bebas
di Pantai Kuta Lombok






Sabtu, 18 Juni 2011

Justifikasi Penulisan Sebuah Biografi

Terlalu banyak pahlawan di Indonesia, namun terlalu sedikit yang diteledani dan meneledaninya. Orang mudah memberi label pahlawan. Kepahlawanan dilanggengkan di luar batas kemanusiaan, sehingga tidak ada yang bisa dicontoh. Reflikasi adalah penggandaan nilai kemungkinan. Jarak yang terlalu lebar tidak memungkinkan upaya reflikasi atau peneledanan. Oleh sebab kepahlawanan lebih sebagai tutur lisan yang berada pada kondisi sementara. Bila ia dilanggengkan, yang muncul adalah mitos, gunjing, dan alih orientasi pusat keberartian pada tokoh, bukan karyanya. Sebaliknya, tidak mengakui ketokohan juga resiko tersendiri.
Bila kehidupan adalah karya dengan segenap bentuknya, maka tokoh (pengarang) dan karya adalah resemblance, suatu kemiripan atau keterlekatan. Ketika manusia belum terdeferensiasikan, kehidupan adalah karya itu sendiri. Mengaburkan ketokohan adalah melenyapkan kehidupan. Pandangan ini akan menjebak pada upaya pemitosan kembali. Tiada beda yang terjadi pada umumnya pahlawan-pahlawan Indonesia.
Ilmu modern menawarkan cara pandang berbeda. Kajian terhadap tokoh tidak lagi dipandang sebagai resemblans, namun tokoh manusia adalah objek kajian dalam ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Pada titik ini manusia berada dalam wujud terbaiknya, ia menjadi objek sekaligus subjek kajian.
Dalam khasanah historiografi di Indonesia, terdapat 3 bentuk penulisan biografi. Bentuk pertama adalah biografi interpretatif, kedua biografi sumber; dan ketiga biografi populer. Dua biografi pertama termasuk biografi ilmiah, dengan segenap technical disclipine keilmuan (sejarah). Biografi interpretatif menyertakan analisis ilmu-ilmu sosial misalnya sosiologi dan psikologi. Sedangkan, biografi populer tidak selalu mementingkan kebenaran ilmiah, retorika, bumbu-bumbu penyedap, dan dialog-dialog antara tokoh dibuat sedemikian rupa, sehingga seringkali menempatkan tokoh secara berlebihan dan pemitosan. Biografi sumber adalah biografi pertama yang ditulis mengenai sang tokoh, sehingga perbandingan dengan biografi lain tidak diperlukan. Demikian juga analisis yang memerlukan seperangkat alat penjelas, teori dan hipotesis, yang diperlukan hanyalah mencerna bahan bahan yang telah dikumpulkan menjadi sebuah outline.
Dalam biografi ilmiah sedapat mungkin penulis menghindari unsur sentimentalitasnya yang disebabkan oleh sedemikian dekatnya dengan objek kajian. Ia dapat melihat objek kajian dari luar dan hanya berperan sebagai explanator.
Pada biografi sesungguhnya didapati unsur sejarah yang paling akrab. Biografi tidak hanya pemahaman tentang seseorang lebih personal dan mendalam, melainkan sosok pribadi yang dikaji ditempatkan sebagai pelaku yang secara langsung mempersepsi, menjalani, merasakan kekecewaan atau bahagia terhadap kehidupan. Pada merekalah guratan kehidupan terefleksikan, sehingga pertanyaan apakah ia menjadi kekuatan penggerak, aktor utama, partisipan, atau pesorak sorai saja dalam sebuah karnaval sejarah menjadi tidak penting.
Disadur dari:
Ahmad Nashih Luthfi. 2007. Manusia Ulang Alik: Biografi Umar Kayam. Eja Publisher. Jogjakarta. Hal 1 - 4

Ringkasan, Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Uji Materi Undang-Undang no 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil

AMAR PUTUSAN MK
Nomor 3/PUU-VIII/2010


Dalam perkara permohonan “Pengujian Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”

Mengadili

Menyatakan:

-                 Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk sebagian;

-                 Menyatakan Pasal 1 angka 18, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19,
Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 ayat (4) dan ayat (5), Pasal 50,
Pasal 51, Pasal 60 ayat (1), Pasal 71 serta Pasal 75 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

-                 Menyatakan Pasal 1 angka 18, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 ayat (4) dan ayat (5), Pasal 50, Pasal 51, Pasal 60 ayat (1), Pasal 71 serta Pasal 75 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739) tidak mempunyai kekuatan mengikat;

-                 Memerintahkan agar Putusan ini dimuat dalam Berita Negara selambat-lambatnya 30 hari kerja sejak Putusan ini diucapkan;

-                 Menyatakan menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan selebihnya;

Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim yang dihadiri oleh sembilan Hakim Konstitusi pada hari Kamis tanggal sembilan bulan Juni tahun dua ribu sebelas, yaitu Moh. Mahfud MD., selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Ahmad Fadlil Sumadi, Hamdan Zoelva, Anwar Usman, Harjono, Maria Farida Indrati, M. Akil Mochtar, dan Muhammad Alim, masing-masing sebagai Anggota, dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Kamis tanggal enam belas bulan Juni tahun dua ribu sebelas, oleh tujuh Hakim Konstitusi, yaitu Moh. Mahfud MD., selaku Ketua merangkap Anggota, Achmad Sodiki, Ahmad Fadlil Sumadi, Hamdan Zoelva, Anwar Usman, Maria Farida Indrati, dan Muhammad Alim, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi oleh Fadzlun Budi SN. sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh para Pemohon/Kuasanya, Pemerintah atau yang mewakili, dan Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili.
--------- oOo --------

Kamis, 16 Juni 2011

Kuliner Khas Cirebon: Antara Nasi Jamblang Mang Dul dengan Nasi Jamblang Bu Nur

Seingat saya nasi jamblang Mang Dul di Cirebon bukanya itu hanya pagi sampai menjelang siang saja. Maka ketika sedang berada di kota Cirebon dan timbul keinginan nyantap nasi jamblang yang sangat populer itu, tentu akan jadi masalah.
Tadinya mau nyantap kuliner lain khas Cirebon yaitu empal gentong, namun setelah ditimbang timbang dan mengingat panganan satu ini memiliki kandungan kolesterol yang aduhai tinggi maka kami urung untuk menyantapnya. Bayangkan saja empal gentong ini selain kuahnya yang kental dengan santan juga cacahan dari daleman sapi seperti babat, usus, paru dan limpa serta tentu dagingnya itu sendiri. Wah kalau soal kesehatan tentu harus kita jaga dengan kesungguhan. tentu ini tidak menjadi prioritas. Oh iya, empal disini bukan berarti potongan daging sapi yang digoreng mateng seperti yang biasa kita lihat di warung nasi sunda, tapi yang disebut empal di Cirebon adalah gulai atau gule. Tidak memilih empal gentong, kami ‘hunting’ terus kuliner khas Cirebon lainnya yang berada di sepanjang Jalan Tentara Pelajar yang dikiri kanannya berderet deret warung tenda yang menawarkan berbagai macam panganan. Ehh, kami lihat kerumunan banyak orang di suatu warung sederhana. Langsung kami parkir mobil di dkat warung tersebut dan ternyata warung tersebut adalah warung nasi jamblang Bu Nur. Ahh, tanpa pikir panjang kami langsung pesan dua nasi dan sambel goreng serta untuk lauh laiinya kami ambil sendiri di baskom baskom yang sudah ditata rapi di meja warung.
Nasi jamblang sebenarnya adalah nasi biasa, hanya saja nasinya dibungkus atau dialasi daun pohon jati. Katanya akibat dari daun jati ini akan memberikan wangi harum tersendiri kepada sang nasinya. Berbeda dengan kalau dibungkus dengan daun pisang, yang tidak ‘mengefek’. Kekhasan lainnya adalah dari porsi super kecil dari lauh/teman nasinya itu sendiri, seperti sambal goreng (tumis cabai merah tok), dadar telor, sate kerang, sate burung puyuh, goreng tempe kering, goreng tahu kering, sayur kuah tahu, ‘blakutak’ (sebutan oleh orang Cirebon) atau masyarakat umum menyebutnya cumi yang bertinta hitam serta lauh lauh lainnya.
Kami santap dengan lahapnya karena sedapnya yang luar biasa itu. Teman saya yang sama sama nyantap di warung Bu Nur ini berasal dari Padang. Setelah menyantap nasi jamblang dengan berbagai lauhnya langsung mereka berpendapat: ‘wah, mantap tuh blakutaknya’ atau ‘baru tahu saya bahwa nasi jamblang itu sedap sekali terutama sambel gorengnya’. Saya nyantap: dua nasi (tiap kepal nasi kira kira sama engan 3 sendok makan) ditambah lauhnya blakutak, tempe goreng, sate telur puyuh, sepotong telur dadar dan tentu sesendok teh sambel goreng. Rasanya benar benar ‘nyundul’, terutama untuk lidah saya. Dan berapa saya bayar, coba tebak? Dengan segelas besar air teh tawar hangat, saya bayar hanya Rp 10.000 saja. Weleh weleh murahnya. Saya berkomentar; nasi jamblang Bu Nur adalah potensi lawan tanding nasi jamblang Mang Dul. Sekedar info saja bahwa warung nasi jamblang yang top markotop di Kota Cirebon, ada tiga yaitu: warung nasi jamblang Mang Dul, Pelabuhan dan Bu Nur ini. Ketika dalam perjalanan kembali ke hotel, ehh kami lihat warung nasi jamblang Mang Dul juga buka. Lha, engga mau kalah ya?
Esok paginya, saya dan teman teman sengaja sarapan nasi jamblang lagi tapi kali ini di tempat Mang Dul yang udah lebih dahulu dikenal luas masyarakat Cirebon. Saya melihat bahwa pengunjungnya warung Mang Dul agak berkurang dari yang sudah-sudah. Tapi kelebihan dari warung MangDul adalah punya pelanggan fanatik. Tentang berkurangnya pengunjung warung Mang Dul, apakah ini sebagai akibat persaingan usaha yang semakin ketat? ‘ah saya tidak tahu persis itu’.  Menu kali ini: dua kepal nasi, sambal goreng, cumi hitam/blakutak, perkedel, tempe. Sama seperti tadi malam makan di warung Bu Nur juga. Berapa saya bayar untuk porsi sarapan tadi? Rp 8.500. Ya, tidak jauh berbeda dengan harga di Bu Nur.
Saya berpendapat kalau soal rasa nasi dan lauk lauknya, antara di warung Mang Dul dan warung Bu Nur juga soal harga –tidak ada perbedaan-, sama saja. Tapi kenapa kini banyak yang mengunjungi warung Bu Nur? Saya kira itu karena aspek fisikologis konsumen. Dimana konsumen melihat hal yang baru (warung baru) dan terbawa oleh pengunjung yang telah terlebih dahulu mendatangi warung tersebut. Konsumen akan tergoda untuk ikut membeli di warung yang sama. Jadi bagi yang mau menikmati nasi jamblang, silakan pilih yang mana saja. Semua sama rasa sama harga.
Saya ada saran: (1) Tentang nasinya. Nasinya ini sebaiknya nasi hangat yang disimpan dalam termos nasi. Tidak dingin seperti sekarang ini. Kalau nasinya panas, pasti akan menambah selera toch? Dan (2)  Daun jati sebagai alasnya nasi. Seingat saya sewaktu kecil dahulu, nasinya itu memang sudah dipincuk dalam daun jati. Jadi kalau benar ada efek wangi daun kepada nasinya, tentu bisa dipercaya, karena ada waktu sekian jam untuk saling mempengaruhi antara daun jati dengan nasinya. Tetapi kalau sekarang hanya sebagai alas saja. Tentu ini kan hanya sebagai media saja, tidak akan berpengaruh terhadap rasa. Sekarang, bagaimana kalau jaun jati ini juga sebagai alas nasi sewaktu di termos atau bakul. Tentu ada efek wangi dari ke nasi toch?
Nasi panas ngebul diatas daun jati dengan lauh sambel goreng, blakutak, tempe, kerang remis, hemm pasti menggugah selera. Jadi laper lagi nih........
Warung Nasi Jamblang Bu Nur
di Malam Hari
Warung Nasi Jamblang Bu Nur
Walaupun relatif baru
tapi sudah diminati pengunjung
Warung Nasi Jamblang Mang Dul
yang telah lebih dahulu populer
Kerang Kecil-Kecil atau Remis
menggugah selera
Sambel Goreng
Lauk wajib untuk nasi jamblang
Sepiring Nasi Jamblang
lengkap dengan lauknya
sedaaaap
menikmati sedapnya nasi jamblang..