Sabtu, 25 Juni 2011

Analisis Teori tentang Puisi

Putu Wirya Jatha (1984):
"-Biarpun puisi pada umumnya beruratakar pada kata, namun kata tersebut merupakan simbol sehingga mempunyai kemungkinan banyak tafsir. Pemampatan kata dalam puisi sebenarnya menuntut kita menelusuri arti sibol untuk untuk mengerti sesuatu yang disimbolkan.
-Karena pada hakekatnya puisi cenderung bersifat personal serta merupakan sebuah subjek yang mengharuskan penikmatnya menyatukan diri ke dalamnya.
-Puisi ibarat kamar tertutup. Orang yang ingin mengetahui puisi harus mau membuka pintu rahasianya dengan penguasaan seluk beluk keseluruhannya: kunci, pintu, ruang, dan kamar bangunan itu secaraa menyeluruh.
-Tatkala penyair menulis puisi, dia mengambil momen yang melintas seketika yang disatukannya dengan ketrampilan menguasai bahasa.
-Pada dasarnya puisi terdiri dari dua macam, yakni puisi transparan dan puisi prismatis. Puisi transparan adalah puisi yang menguraikan tentang diri penyairnya atau isi hati dan pikiran yang terkandung didalamnya dan dinyatakan secara langsung. Sedangkan puisi prismatis adalah puisi yang tak ditujukan langsung pada orang lain tetapi berbicara pada dirinya sendiri.
-Seseorang yang menyenangi filsafat, maka puisi-puisi yang digubah oleh Subagio Sastrowardoyo akan mudah dinikmatinya. Karya Rendra akan diselami dengan sempurna bagi penikmat puisi yang mempunyai latar belakang disiplin ilmu sosial.
Misteri yang dikandung puisi transparan maupun prismatis hanya dapat dirasakan dan dinikmati dengan kerelaan menyelam ke dalam dirinya dengan kesan keseluruhan sebagai sebuah subjek.
Setiap apresiator puisi memerlukan kematangan pengalaman supaya puisi dapat mewakili kesan dan kenangan masa lalu dan kini beserta cita cita dan harapan pada masa yang akan datang ".

Hartojo Andangdjaja (1991):
“Tetapi puisi tidak hanya menjadi ‘pencatat’ segala sesuatu yang berharga pada masyarakat dan zamannya dan kemudian meneruskannya kepada angkatan-angkatan yang datang kemudian. Sering puisi juga menjadi ‘pengamat’ yang tajam terhadap berbagai kecendrungan dalam kehidupan bersama pada zamannya. Puisi dapat mengawasi dengan tajam kemana kecendrungan itu mencapai tujuannya nanti: suatu tingkat yang lebih baik atau suatu bencana?
Jika kecendrungan ini bakal menuju tingkat perkembangan yang lebih baik bagi kehidupan bersama, maka puisi itu mengandung keakraban dan harapan buat kemungkinan yang lebih baik di masa depan. Lahirlah karena itu puisi-puisi bernafaskan hymne-dalam arti yang murni, jujur bagi zamannya. Demikianlah, misalnya sajak-sajak Walt Whitman (1819-1892): dari satu segi dapat kita pandang sebagai sebuah hymne buat Amerika dalam suasana demokratis, yakni Amerika yang menyanyi, dan masing-masing warganya menyanyikan apa yang menjadi hak mereka.
Sajak Muhammad Yamin ditulis tatkala bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu. Namun kecendrungan ke arah satu bahasa telah diamati oleh Muhammad Yamin. Dan kecendrungan tersebut mencapai tujuannya ketika dalam Kongres Pemuda 1928 diikrarkan sumpah tentang satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
Sebaliknya, apabila berbagai kecendrungan yang timbul dalam kehidupan bersama bakal memberi ancaman suatu bencana, maka puisi dapat dinyatakan protesnya dalam beragam cara pengucapan. Lahirlah karena iti sejumlah satir sosial, ironi dan, bila kebebasan kreatif ditekan, lahirlah ekspresi simbolis atau bentuk pengucapan lain yang disamarkan. Demikianlah, misalnya, ‘Now Jerusalem’ William Blake (1757-1827) merupakan protes sosial terhadap ekses-ekses yang timbul dalam Revolusi Industri di Inggris pada abad ke delapan belas.
Maka, apabila kita kembali kepada pertanyaan awal, apakah puisi mengabarkan masa depan-maka kita dapat memberi jawaban: ya, dalam arti, bahwa puisi tidak meramalkan peristiwa, melainkan semangat zaman yang akan datang ".
Pustaka:
Andangdjaja, Hartojo. 1991. Dari Sunyi ke Bunyi: kumpulan esai tentang puisi. Pustaka Utama Grafiti. Jakarta. 162 hal
Jatha, Putu Wirya. 1984. Pendakian Narasi. Penerbit Nusa Indah. Ende Flores. 123 hal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar