Sabtu, 18 Juni 2011

Justifikasi Penulisan Sebuah Biografi

Terlalu banyak pahlawan di Indonesia, namun terlalu sedikit yang diteledani dan meneledaninya. Orang mudah memberi label pahlawan. Kepahlawanan dilanggengkan di luar batas kemanusiaan, sehingga tidak ada yang bisa dicontoh. Reflikasi adalah penggandaan nilai kemungkinan. Jarak yang terlalu lebar tidak memungkinkan upaya reflikasi atau peneledanan. Oleh sebab kepahlawanan lebih sebagai tutur lisan yang berada pada kondisi sementara. Bila ia dilanggengkan, yang muncul adalah mitos, gunjing, dan alih orientasi pusat keberartian pada tokoh, bukan karyanya. Sebaliknya, tidak mengakui ketokohan juga resiko tersendiri.
Bila kehidupan adalah karya dengan segenap bentuknya, maka tokoh (pengarang) dan karya adalah resemblance, suatu kemiripan atau keterlekatan. Ketika manusia belum terdeferensiasikan, kehidupan adalah karya itu sendiri. Mengaburkan ketokohan adalah melenyapkan kehidupan. Pandangan ini akan menjebak pada upaya pemitosan kembali. Tiada beda yang terjadi pada umumnya pahlawan-pahlawan Indonesia.
Ilmu modern menawarkan cara pandang berbeda. Kajian terhadap tokoh tidak lagi dipandang sebagai resemblans, namun tokoh manusia adalah objek kajian dalam ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Pada titik ini manusia berada dalam wujud terbaiknya, ia menjadi objek sekaligus subjek kajian.
Dalam khasanah historiografi di Indonesia, terdapat 3 bentuk penulisan biografi. Bentuk pertama adalah biografi interpretatif, kedua biografi sumber; dan ketiga biografi populer. Dua biografi pertama termasuk biografi ilmiah, dengan segenap technical disclipine keilmuan (sejarah). Biografi interpretatif menyertakan analisis ilmu-ilmu sosial misalnya sosiologi dan psikologi. Sedangkan, biografi populer tidak selalu mementingkan kebenaran ilmiah, retorika, bumbu-bumbu penyedap, dan dialog-dialog antara tokoh dibuat sedemikian rupa, sehingga seringkali menempatkan tokoh secara berlebihan dan pemitosan. Biografi sumber adalah biografi pertama yang ditulis mengenai sang tokoh, sehingga perbandingan dengan biografi lain tidak diperlukan. Demikian juga analisis yang memerlukan seperangkat alat penjelas, teori dan hipotesis, yang diperlukan hanyalah mencerna bahan bahan yang telah dikumpulkan menjadi sebuah outline.
Dalam biografi ilmiah sedapat mungkin penulis menghindari unsur sentimentalitasnya yang disebabkan oleh sedemikian dekatnya dengan objek kajian. Ia dapat melihat objek kajian dari luar dan hanya berperan sebagai explanator.
Pada biografi sesungguhnya didapati unsur sejarah yang paling akrab. Biografi tidak hanya pemahaman tentang seseorang lebih personal dan mendalam, melainkan sosok pribadi yang dikaji ditempatkan sebagai pelaku yang secara langsung mempersepsi, menjalani, merasakan kekecewaan atau bahagia terhadap kehidupan. Pada merekalah guratan kehidupan terefleksikan, sehingga pertanyaan apakah ia menjadi kekuatan penggerak, aktor utama, partisipan, atau pesorak sorai saja dalam sebuah karnaval sejarah menjadi tidak penting.
Disadur dari:
Ahmad Nashih Luthfi. 2007. Manusia Ulang Alik: Biografi Umar Kayam. Eja Publisher. Jogjakarta. Hal 1 - 4

1 komentar: