Selasa, 07 Juni 2011

Produksi dan Permintaan Perikanan Nasional dan Dunia

Perikanan Dunia
Dikutip sesuai aslinya dari buku: Ekonomi Perikanan; Teori, Kebijakan dan Pengelolaan. Penulisnya Akhmad Fauzi, terbitan Pustaka Utama, Jakarta (2010). Hal 5 – 7. Sbb:
Pada abad modern ini, kegiatan perikanan semakin merambah dari sekedar urusan ekonomi lokal menjadi kegiatan ekonomi global yang menghasilkan miliaran dollar dari perdagangan dunia. Sebagai contoh, pada tahun 1950an nilai perdagangan global dari produk perikanan sudah mencapai US$ 15 miliar. Nilai ini kemudian meningkat lebih dari lima kali lipat menjadi US$ 86 miliar pada tahun 2006 (FAO, 2009). Secara riil (setelah disesuaikan dengan inflasi) nilai perdagangan ini meningkat sebesar 32,1 % pada periode tahun 2000-2006. Perikanan Indonesia sendiri pada kurun periode yang sama meraup devisa sebesar US$ 2,10 miliar dari ekspor hasil perikanan (DKP, 2007). Pada tahun 2006 ini pula nilai perikanan (landing value) mencapai US$ 170 miliar yang terdiri dari US$ 91 miliar dari perikanan tangkap dan US$ 79 miliar dari budidaya (FAO, 2008). Selain itu, kegiatan perikanan kini juga telah menjadi sumber “energi” bagi pertumbuhan ekonomi di beberapa negara. Hal ini ditandai dengan tajamnya peningkatan produksi perikanan dunia. Sejak berakhirnya perang dunia kedua, produksi total perikanan meningkat tajam hingga mencapai 144 juta ton  pada tahun 2006. Sebagian besar (lebih dari 80%) dari produksi perikanan dunia ini berasal dari perikanan laut (tangkap) yang juga meningkat tajam dari 16,3 juta metrik ton pada tahun 1950 menjadi 96 juta metrik ton pada akhir tahun 2000, meski kemudian mengalami penurunan setelahnya.

Tren ini terjadi pula pada perikanan Indonesia, khususnya perikanan laut di mana produksi dari perikanan laut ini meningkat tajam dari sekitar 800.000 ton pada tahun 1968 menjadi lebih dari 4 juta ton pada tahun 2003. Produksi perikanan tangkap Indonesia ini sedikit banyak mewarnai produksi perikanan global karena Indonesia termasuk dalam lima besar negara penghasil ikan terbesar di dunia.

 
Peningkatan yang tajam selama kurun waktu ini menurut Morgan dan Staples (2006) didorong oleh modernisasi penangkapan ikan khususnya Trawl, Purse seine dan Gill net yang secara regional berkembang pesat di kawasan Asia Tenggara pada periode tersebut. Peningkatan produksi perikanan laut ini begitu spektakuler sehingga dua negara di wilayah Asia Tenggara yakni Thailand dan Indonesia kini menjadi top 10 dunia negara penghasil produk perikanan di mana hasil perikanan mereka mengkontribusi lebih dari 2 % terhadap GDP. Di sisi lain, perikanan di zaman modern juga tidak meninggalkan peranan utamanya sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, khususnya protein hewani sebagaimana dilakukan sejak zaman prasejarah. Sektor perikanan menyediakan rata-rata paling tidak 15 % protein hewani per kapita kepada lebih dari 2,9 miliar penduduk dunia (FAO, 2009)

Estimasi Kebutuhan Ikan Nasional
Produksi ikan tahun 2010 adalah sebesar 7,76 juta ton berasal dari 5,38 juta ton perikanan tangkap dan 2,38 juta ton perikanan budidaya (tanpa rumput laut). Perkiraan produksi tahun 2011 adalah sebesar 8,75 juta ton berasal dari 5,42 juta ton perikanan tangkap dan 3,33 juta ton perikanan budidaya (tanpa rumput laut).

Konsumsi ikan dalam negeri secara nasional tahun 2010 adalah sebesar 7,13 juta ton (dihitung berdasarkan jumlah penduduk 234 juta jiwa dengan tingkat konsumsi per kapita 30,47 kg/tahun). Perkiraan total konsumsi ikan tahun 2011 akan menjadi 7,478 juta ton (dihitung berdasarkan target konsumsi per kapita sebesar 31,57 kg/tahun dengan jumlah penduduk 237 juta jiwa). Konsumsi ikan tersebut adalah setara dengan ikan utuh segar dan sudah mencakup konsumsi produk olahan ikan.

Pengolahan ikan tahun 2010 membutuhkan bahan baku sebesar 4,10 juta ton yang terdiri dari 1,93 juta ton untuk 505 Unit Pengolah Ikan (UPI) skala besar dan 2,13 juta ton untuk 47.137 UPI skala kecil menengah. Produksi olahan ikan dari UPI skala besar dipasarkan untuk ekspor dan kebutuhan bahan baku diperoleh berdasarkan atas realisasi volume ekspor yang dikonversi menjadi setara ikan utuh segar. Produksi olahan ikan dari UPI skala kecil menengah dipasarkan di dalam negeri. Tingkat utilitas UPI skala besar adalah sebesar 68% dan UPI skala kecil menengah sebesar 100%.

Dengan asumsi jumlah UPI sama dengan tahun 2010 dan untuk mencapai target ekspor tahun 2011 sebesar US$ 3,2 miliar (1,3 juta ton produk) maka dibutuhkan bahan baku untuk UPI skala besar sejumlah 2 juta ton setara ikan utuh segar. Sedangkan kebutuhan ikan segar untuk UPI sekala kecil diperkirakan sebesar 2,22 juta ton setara ikan utuh segar. Apabila utilitas meningkat menjadi 80% maka kebutuhan bahan baku untuk UPI skala besar akan meningkat menjadi 2,30 juta ton dan kebutuhan UPI skala kecil menjadi 2,23 juta ton.

Berdasarkan data produksi, konsumsi dalam negeri dan kebutuhan bahan baku pengolahan pada tahun 2010, telah terjadi kekurangan ketersediaan ikan sebesar 1,43 juta ton. Dengan realisasi impor tahun 2010 sebesar 0,37 juta ton, maka masih terdapat selisih sebesar 1,06 juta ton. Angka ini kemungkinan berasal dari produksi yang tidak tercatat dan/atau impor illegal.

Untuk tahun 2011, berdasarkan data produksi target konsumsi dalam negeri dan kebutuhan bahan baku industri pengolahan untuk tujuan ekspor maka masih terjadi kekurangan ketersediaan ikan sebesar 0,73 juta ton hingga 1,13 juta ton.

Kesimpulan
Kita perlu kerja keras untuk dapat menjadi negara penghasil produk perikanan terbesar di dunia pada tahun 2015. Dengan cara meningkatkan produksi perikanan budidaya dan tangkap melaui rekayasa teknologi dan sosial kelembagaan serta peningkatan pengawasan IUU Fishing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar