Selasa, 30 Agustus 2011

Apa Perlunya Mudik?

Terutama mudik lebaran Idul Fitri, mudik dalam dekade terahir sudah menjadi fenomena tahunan. Pasar tradisonal maupun pusat-pusat perbelanjaan modern diserbu pembeli, permintaan akan barang-barang konsumsi meningkat sangat tajam, infrastruktur mudik seperti jalan raya dan lainnya, dibenahi secara besar-besaran dengan anggaran yang tidak sedikit, keamanan dan ketertiban masyarakat diperkuat di segala lini dengan pengerahan kekuatan kepolisian dan unsur lainnya, dan tidak kalah bergairahnya adalah berbagai liputan di bermacam media massa terhadap mudik ini. Seolah hidup ini hanya untuk memenuhi beberapa hari moment lebaran. Lebaran tu penting tapi jangan hanya untuk kemeriahannya semata.

Penomena Mudik
Mudik secara sosio-antropologi berasal dari kata ‘menuju udik’. Udik disini menunjukkan tempat tinggal yang jauh berada di desa-desa pedalaman.  Di Indonesia, mudik diawali oleh masyarakat suku Jawa dan Minang, dimana dari dua suku tersebut memiliki sistem budaya kekerabatan dan kekeluargaan yang sangat kuat. Bahkan bagi suku Jawa, sistem kekerabatan itu menjadi luas (Kindred) tidak hanya terbatas berdasar garis keturunan dari pihak bapak atau ibu saja. Tapi bisa dari pihak keluarga mertua atau dari saudara jauh. Setiap ada kesempatan, siapapun dia atau tidak/menjadi apapun (somebody or not), apabila dia menjadi urban maka dia tidak akan lupa akan keluarga besar dan kampung halamannya.
Mudik juga sangat terkait erat dengan proses industrialisasi yang terjadi di perkotaan Indonesia pada tahun 1970-an. Dengan berdampak terhadap munculnya dikotomi ‘kota-desa’. Pusat-pusat industri memilih basisnya di perkotaan dengan pertimbangan dari aspek infrastruktur dan administrasi yang memadai. Perkembangan seperti ini bisa mengambil contoh di kawasan Jabodetabek. Hal itu menjadikan kota menjadi sangat ekonomi dan membutuhkan banyak tenaga kerja serta membuka lapangan kerja baru terutama di sektor informal. Tenaga kerja ini banyak didatangkan dari desa-desa sekitaran Jawa dan Sumatera. Sayangnya, kecepatan pembangunan di perdesaan sangat lambat, tidak dapat mengimbangi pertumbuhan angkatan tenaga kerjanya. Sedangkan sektor pertanian desa yang menjadi basis ekonomi desa, memperlihatkan trend nilai tukar hasil pertanian kian tahun kian mernurun. Angkatan kerja baru tidak memiliki minat lagi untuk berkecimpung di sektor pertanian. Berbondong-bondonglah masyarakat perdesaan mengadu nasib di perkotaan.

Urbanisasi ke Kota
Ketimpangan ekonomi desa-kota, menciptakan arus urbanisasi yang tinggi. Allan Gilbert dan Josef Gugler (2007) mengklasifikasikan urbanisasi menjadi urbanisasi semu (pseudo-urbanization) dan urbanisasi berlebih (hyper-urbanization). Urbanisasi semu terjadi apabila individu pindah ke kota namun secara administratif masih terkait dengan wilayah asalnya sedangkan urbanisasi berlebih adalah kepindahan penduduk ke kota secara besar-besaran dan meninggalkan asesoris yang melekat dengan daerah asalnya. Pendapat tersebut kurang dapat menjelaskan fenomena urbanisasi yang terjadi di Jawa utamanya. Perpindahan penduduk dari desa ke kota secara besar-besaran namun tidak dapat meninggalkan sama sekali riwayat kedaerahannya. Castells dan Harvey (1973) memberi arahan bahwa untuk memahami dinamika perkotaan sebagai tujuan urbanisasi, perkotaan harus dipahami melalui konteks konflik kelas yang merupakan akibat langsung dari beroperasinya cara produksi kapitalis. Bentuk perkotaan, persoalan perkotaan, pemerintahan dan ideologi kota hanya dapat dipahami dalam dinamika sistem kapitalis. Lagi-lagi pendapat itupun belum dapat menjelaskan secara sempurna arti urbanisasi atau kontek mudik di Indonesia. Ketika individu berurbanisasi ke kota, artinya ekonomi kapitalis sudah melekat di perilaku kesehariannya namun secara sosiologis, individu tersebut tidak dapat sepenuhnya lepas dari budaya tradisional desa yang lebih bersifat agraris dengan sifat pemahaman yang tinggi terhadap budaya kekerabatan dan kekeluargaannya. Bagaimanapun ini akan sedikit membantu terhadapa kajian fenomena mudik di Indonesia.

Manfaat Mudik
Secara individual, mudik berarti memelihara silaturahmi kekeluargaan dengan handai taulan yang berada di desa. Komunikasi timbal balik dapat tersalur dengan baik antara persoalan kehidupan di desa maupun di kota baik secara individual maupun komunitas. Semua dapat didiskusikan dengan ‘adem’ karena terkat waktu puasa. Hasil silaturahmi ini adalah energi baru bagi kehidupannya untuk ‘bertempur’ kembali untuk mencapai kemajuan ekonominya apabila kembali lagi ke kota.
Secara perwilayahan, mudik memberi dampak positif yang besar bagi perkembangan ekonomi desa. Ekonomi desa menjadi bergairah dimana permintaan akan produk dan jasa dari desa tersebut meningkat tajam. Walau perlu disadari bahwa hal itu hanya bersifat insidental.

Jadi Bagaimana Dengan Mudik
Data terahir memperlihatkan bahwa jumlah pemudik dari kota-kota besar di Indonesia tahun 2011 mencapai sekitar 20 juta jiwa, terbanyak dari wilayah Jabodetabek dan Bandung. Kendaraan yang mudik mencapai 2 juta unit dimana tahun 2011 ini jumah pemudik yang menggunakan sepeda motor meningkat 13%. Jumlah yang tewas akibat kecelakaan saat mudik, tercatat 345 jiwa. Sungguh data-data yang mencengangkan, jumlah pemudik itu setara dengan jumlah total penduduk negara Malaysia atau 5 kali lipat jumlah penduduk negara Singapura. Angka yang tak terkira dibanding dengan moment ‘mudik’ di negara manapun. Lebih-lebih jumlah itu akan berjejal mudik secara berbarengan pada seminggu sebelum lebaran (H-7) dan seminggu sesudah lebaran (H +7). Sepertinya trend ke depan, pemudik akan semakin meningkat saja. Tahun 2011 ini meningkat 12% dari tahun sebelumnya, begitu juga akan terjadi kenaikan pada mudik lebaran tahun 2012 dan seterusnya. Saya bukan pesimis, melihat angka-angka tersebut, sampai kapanpun, persoalan mudik tidak akan bisa terpecahkan. Tidak mungkin dapat mengatur jumlah 20 juta pemudik pada mnggu yang sama. Tidak mungkin dapat menyiapkan infrastruktur jalan, jembatan dan moda angkutan seperti kereta api, kapal laut, pesawat terbang, bus dll untuk melayani sejumlah besar pemudik tersebut.
Benar mudik itu penting dan banyak manfaatnya namun perlu tidak memaksakan ego dengan ‘mesti’ mudik. Lihat sikonnya dulu.
Mudik dengan sepeda motor menjadi pilihan favorit karena 'murah'
Menumpang pickup-pun tidak masalah, yang penting bisa mudik
Mudik bareng lebih efisien, aman, dan murah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar