Sabtu, 06 Agustus 2011

Apakah Aspek Kemiskinan Masyarakat Sekitar Dijadikan Pertimbangan Dalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) ?

Kemiskinan di wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Tentang kemiskinan di wilayah pesisir, kita sudah mahfum semua memang di pesisirlah tempatnya kemiskinan itu berada. Data dari BPS menunjukkan  bahwa tingkat kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikan adalah sebesar 16,9% artinya ada sebanyak 16,9% nelayan dan pembudidaya ikan yang masih hidup dalam katagori miskin. Atau dalam angka sekitar 906.421 orang dari jumlah keseluruhan nelayan dan pembudidaya ikan yaitu sebanyak 5.353.936 orang. Kemiskinan itu sendiri diartikan sebagai keadaan dimana terjadi ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Garis kemiskinan yang dipakai di Indonesia adalah sebesar Rp 233.740/kapita/bulan, artinya orang yang pendapatannya kurang dari itu, dikatagorikan orang itu miskin.
Dampak dari kemiskinan terhadap lingkungan dan sumberdaya sudah kita ketahui bersama. Dengan kemiskinan akan meningkatkan tekanan terhadap sumberdaya yang ada. Ketika seseorang tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya maka dia akan cenderung berperilaku bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan. Bagaimanapun urusan perut akan dinomor satukan. Maka tidak heran apabila melihat kondisi sumberdaya alam seperti kehutanan, perikanan yang mengalami degradasi relatif lebih cepat di wilayah yang masyarakatnya memiliki tingkat kemiskinan tinggi
Tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan pulau Pulau Kecil (RZWP3K)
RZWP3K adalah arahan penggunaan sumberdaya di tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang dibolehkan setelah mendapat ijin.
Penyusunan RZWP3K itu sendiri memerlukan dataset yang bersifat spasial dan peta-peta tematik. Salah satu peta tematik yang diperlukan adalah peta tematik mengenaik kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar.  Data tematik sosial ekonomi yang diperlukan adalah potensi ekonomi masyarakat, mata pencaharian utama penduduk, struktur pendapatan masyarakat, ketersediaan fasilitas dasar dan umum yang tersedia, adat istiadat yang berlaku, sistim kekerabatan, potensi konflik dll. Dari peta tematik sosial ekonomi dan diolah dengan kaidah-kaidah baku, kemudian kita dapat menarik kesimpulan; bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar yang sesungguhnya.
Data kondisi sosial ekonomi masyarakat itu sudah diketahui persis termasuk di dalamnya tentang kemiskinan. Baru kemudian diplot bersama-sama dengan data dan peta tematik lain untuk menentukan batas dan porsi pembagian ruang perairan pesisir sesuai rumusan tentang penyusunan Rencana Zonasi WP3K. Apabila tingkat kemiskinan masyarakat sekitar relatif tinggi maka porsi ruang untuk kawasan pemanfaatan umum akan lebih luas jika dibandingkan dengan porsi ruang kawasan lainnya, yaitu untuk kawasan konservasi, sedangkan untuk kawasan strategis nasional tertentu (KSNT) dan alur laut-itu sudah fixed-. bisa juga untuk ukuran luasan perairan yang relatif sama namun berbeda wilayah, apabila di satu wilayah tersebut tingkat kemiskinan masyarakat sekitarnya lebih tinggi dari wilayah satunya lagi, maka porsi ruang untuk kawasan pemanfaatan umumnya harus relatif lebih luas.
Jadi penyusunan Rencana Zonasi WP3K berkaitan erat dengan tingkat kemiskinan masyarakat sekitarnya
Faktor yang berpengaruh dalam penyusunan RZWP3K
Baseline data dan Tematik termasuk kemiskinan perlu untuk nyusun RZWP3K
Ilustrasi RZWP3K kab/kota perlu memperhatikan kemiskinan masyarakatnya
RZWP3K Kab Berau Kaltim yang telah mempertimbangkan berbagai aspek

Tidak ada komentar:

Posting Komentar