Sabtu, 06 Agustus 2011

Nonton Wayang Potehi di Klenteng Tay Kak Sie Semarang


-        Wayang Potehi adalah salah satu budaya China yang masuk dan berakulturasi di Indonesia. Diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad V pada jaman kerajaan Tarumanegara. Untuk wilayah Semarang keberadaan wayang Potehi juga tidak dapat lepas dari pengaruh kedatangan rombongan Laksamana Cheng Ho yang membawa 200-an kapal layar itu.
Wayang Potehi
-         Potehi berasal dari bahasa China: Poo Tay Hie, dimana Poo artinya kain, Tay artinya kantung dan Hei artinya boneka. Potehi artinya boneka tebuat dari kain yang berbentuk kain. Ukuran wayang potehi sebesar sarung tangan tapi lebih besar sedikit. Cara memainkannya seperti memainkan boneka si unyil dengan cara tangan dimasukan ke dalam boneka kain yang berbentuk kantung itu. Kemudian tinggal digerak-gerakan oleh jari tangan.
-         Wayang potehi kurang berkembang karena terkait erat dengan kebijakan politik di masa lalu yang ‘alergi’ terhadap segala bentuk budaya Tionghoa. Mangkanya wayang Potehi tidak masuk ke dalam khazanah perwayangan Indonesia. Namun untungnya setelah tahun 2000 dengan Presidennya Abdurahman Wahid, budaya Tionghoa boleh hidup kembali termasuk wayang Potehi.
-         Kemudian juga kenapa wayang Potehi ini kurang berkembang? Salah satunya karena wayang Potehi selalu ditampilkan di sekitar Klenteng walaupun sebenarnya wayang Potehi bukan merupakan bagian dari ritual agama. Dengan ditampilkannya hanya di sekitar klenteng, menjadikannya kurang kuat penetrasinya terhadap kehidupan masyarakat secara luas.
lakon yang digelar
-         Kami berkesempatan nonton wayang Potehi ini pada Kamis malam 04 Agustus 2011 di Klenteng Tay Kak Sie sebuah Klenteng tertua di Semarang yang dibangun pada tahun 1772. Klenteng yang berada di wilayah pecinan Pekojan tepatnya di jalan Lombok di Kota Semarang.
-         Wayang Potehi yang kami tonton dimainkan oleh 4 orang (biasanya paling banyak dimainkan oleh 7 orang) yang terdiri 1 orang dalang, 1 orang asisten dalang yang bertugas menyiapkan tokoh wayang yang akan dimainkan, dan 2 orang lagi sebagai pemain musik. Musiknyapun sederhana dengan irama yang dikeluarkan khas musik negeri China. Musik yang dipergunakan terdiri dari gember (Toa La), rebab (Hian Na), suling (Bien Siauw), gendang (Tong Ho), dan terompet (thua hua). Satu orang pemusik dapat memainkan beberapa alat sekaligus.
panggung tempat pagelaran wayang potehi. simple
-         Sesuai dengan jumlah pemain dan peralatan wayang potehi, panggung pertunjukkannyapun cukup sederha, tidak ribet dan seluas untuk pertunjukkan wayang kulit atau wayang golek. Ukuran wayang potehi hanya memerlukan panggung berbentuk box sebesar 2,5 m x 2 m dengan tinggi 1,5 meter saja. Sangat simple.
asisten dalang wayang potehi memperlihatkan salah satu wayangnya
pertunjukan wayang potehi di depan klenteng
-         Ketika kami nonton wayang potehi ini, lakon yang sedang dipentaskan adalah Hong Kiauw-Lie Tan, Dinasti Tong. Yang bertutur tentang tokoh-tokoh legenda pada saat Dinasti Tong berkuasa. Isi dari lakon ini adalah sama dengan lakon-lakon di wayang kulit yang banyak menceritakan tentang sifat satria yang akan memenangkan peperangan atau konflik. Bahasa pengantar yang dipergunakan adalah bahasa Indonesia yang sebenarnya sangat mudah dipahami. Penyampaian dialog dialognya terasa bertutur lembut dengan jarang sekali mengeluarkan intonasi tinggi, walaupun musiknya terkadang bersuara menghentak seperti musik barongsay. Durasi pertunjukan untuk satu episode sekitar 2 jam, namun pagelaran wayang potehi ini bisa sampai 20 hari seperti halnya pertunjukan di Klenteng Tay Kak Sie ini.
-         Kurang diminatinya pertunjukan wayang potehi oleh para anak muda, mungkin itu sih terkait erat dengan budaya instan yang ingin memahami secara cepat dengan kesenangan yang bisa didapatkan lebih besar. Pada saat kami nonton pertunjukan ini, yang nonton hanya berenam saja termasuk saya. Bagi dalang wayang potehi, ada tidaknya penonton itu tidak menjadi masalah karena bagi dalang, menggelar wayang potehi tidak sekedar sebuah pertunjukan tetapi lebih mengartikannya sebagai salah satu bentuk ‘komunikasi’ antara dalang dengan para leluhurnya. Sebagaimana kita ketahui bersama, bagi para keturunan Tionghoa terlepas dari agama dan kepercayaannya apa, mengingat dan menghormati para leluhur itu adalah sebuah kewajiban.
-         Selebihnya, pertunjukan seperti wayang potehi ini perlu diapresiasi karena bagaimanapun budaya itu akan membentuk karakter sebuah bangsa.

1 komentar:

  1. Dalang wayang POO THE HIE yang dikenal masyarakat, salah satunya adalah Sugiyo Waluyo atau Pak Subur. D/A Jl Dukuh no. 34A, Surabaya, atau Jl Hang Tuah no.56, Sidoarjo
    No HP: 081553585975 dan 087877850047

    BalasHapus