Rabu, 31 Agustus 2011

Pak Suwarsono, Profil Nelayan Desa Jatimalang, Purworejo yang Tidak Mau Miskin

Panas membara dari pasir hitam yang diinjak adalah ciri khas lingkungan pantai Selatan Jawa utamanya di sekitaran Jogjakarta dan Purworejo, tidak menyurutkan nelayan desa Jatimalang, Purworejo untuk giat beraktifitas, mungkin hanya ketika datang musim gelombang tinggi yang menyurutkan nelayan untuk pergi melaut. Di Desa Jatimalang terdapat sekitar 30-an perahu kecil yang berukuran panjang x lebar = 5m x 1,10m. Perahu ‘kecil’ adalah sebutan masyarakat setempat untuk perahu yang terbuat dari bahan fiber, sedangkan perahu yang terbuat dari kayu dengan ukuran yang sama, disebut perahu compreng. Namun saat ini untuk mendapatkan kayu menjadi sulit maka perahu-perahu dibuat dari bahan fiber. Toch tidak kalah kekuatannya dibanding kayu. Perahu-perahu kecil ini tidak bisa melaut terlalu jauh, hanya di sekitaran pantai saja atau paling jauh 1 mil laut karena mesinnya hanya 5 pk saja. Ikan target tangkapan tergantung dari alat tangkap yang digunakan. Kalau jaring serang atau gill net, itu untuk menangkap ikan bawal, jenis rawe atau pancing biasanya untuk nangkap ikan pari. Ada lagi jaring untuk menangkap lobster, dll.
Pak Suwarsono memiliki satu unit perahu kecil yang dibeli dari baru dua tahun lalu. Harganya total sekitar 33 juta, yang terdiri dari harga perahuna sendiri Rp 12 juta, harga mesin tempelnya Rp 16 juta dan alat tangkapnya berupa jaring ‘serang’ atau gill net ukuran 40 pis komplit senilai Rp 5 juta. Pak Suwarsono giat melaut tiap hari berangkat jam 6 pagi dan pulang sekitar jam 01 siang. Satu perahu terdiri 3 nelayan atau dalam perahu Pak Suwarsono , selain Pak Suwarsononya sendiri juga dibantu 2 orang nelayan lainnya sebagai anak buahnya.  Setiap melaut membutuhkan biaya untuk bensin dan lauk pauk sekitar Rp 150 rb. Bagaimana dengan hasilnya? P Suwasono menjelaskan: ‘sulit memperhitungkannya’. Tapi yang jelas hasil ikan melaut itu dikurangi biaya melaut kemudian sisanya 50% untuk pemilik perahu (P Suwarsono) dan sisanya 50% dibagi dua untuk anak buahnya. Hasil melaut satu minggu lalu, perahu P Suwarsono mendapat menangkap 200 kg ikan pari dan dijual Rp 10 rb/kg atau mendapatkan Rp 2 juta, dan biasanya setiap melaut mendapatkan hasil Rp 500 rb s/d Rp 750 rb, namun pernah juga tidak dapat ikan sama sekali, yang artinya harus nombok untuk beli bensin dan lauk pauk. Tapi itu jarang terjadi. Jelas P Suwarsono yang sudah melaut sebagai nelayan sejak tahun 1999: ‘kalau mau berusaha, rejeki itu pasti ada’. Ekonomi keluarga Pak Suwarsono dibantu istrinya yang menjadi bakul ikan di dekat TPI mempunyai 2 anak. Mereka semuanya sekolah dengan baik. Rumah sudah layak huni, kendaraan roda dua juga mereka miliki dan walaupun tidak luas, keluarga Pak Suwarsono memiliki lahan sawah di desanya.  Pak Suwarsono sangat bersyukur karena laut dapat menghidupi keluarganya dengan layak
Perahu Kecil Milik Nelayan Jatimalang, Purworejo
Ikan Hasil Tangkapan Perahu P Suwarsono, Jatimalang, Purworejo
P Suwarsono beserta istrinya yang bersyukur karena laut masih menghidupinya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar