Kamis, 11 Agustus 2011

Tingkat Kemiskinan Nelayan dan Pembudidaya Ikan di Provinsi Kalimantan Barat Relatif Rendah.

Tentang Kemiskinan
Yang dimaksud dengan tingkat kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikan adalah persentasi dari jumlah nelayan dan pembudidaya miskin dari jumlah nelayan dan pembudidaya ikan secara keseluruhan di provinsi bersangkutan.  Sedangkan yang dimaksud –relatif- dalam judul tersebut di atas adalah perbandingan tingkat kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikan suatu provinsi dibandingkan dengan provinsi lainnya.
Garis kemiskinan diukur berdasarkan ketentuan BPS 2011, yaitu sebesar Rp 233.740/kap/bln. Dimana seseorang yang berpendapatan kurang dari nilai garis kemiskinan tersebut, dikatagorikan sebagai penduduk miskin.
Tingkat kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikan di Provinsi Kalimantan Barat  adalah rendah, yaitu sebesar 4,60 %, artinya hanya ada 3194 nelayan dan pembudidaya ikan yang miskin dari jumlah total nelayan dan pembudidaya ikan di Provinsi Kalimantan Barat yaitu sebanyak  69.445 orang. Tingkat kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikan di Provinsi Kalimantan Barat termasuk ke dalam 5 provinsi dengan tingkat kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikannya yang rendah. Lihat tabel berikut ini:

No
Provinsi
% miskin
1
Bali
3,59
2
Banten
4,37
3
Kalimantan Barat
4,60
4
Lampung
7,99
5
Kalimantan tengah
9,44








Bertolak belakang dengan provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, Bengkulu dan Yogyakarta, dimana  tingkat kemiskinan nelayan dan pembudidaya ikannya –tinggi-. Lihat tabel berikut:


No
Provinsi
% miskin
1
Bengkulu
42,80
2
Papua
40,79
3
Papua Barat
40,17
4
Maluku
37,17
5
DI Yogyakarta
33,60

Potensi dan Produksi Ikan di Provinsi Kalimantan Barat
Produksi perikanan Prov Kalbar tahun 2010 tercatat 104.481 ton. Dimana dari produksi tangkap sebesar 77.442 atau 74 %, dan sisanya adalah dari jumlah produksi perikanan budidaya atau sebesar 27.039 ton. 
Perairan laut Prov Kalbar merupakan salah satu bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan dengan kode WPP-RI 711 yang terdiri dari wilayah Selat Malaka, laut Natuna, dan laut China Selatan mencakup perairan provinsi: Kepri, Jambi, Sumsel, Babel, Jakarta, Jabar, Jateng, Kalbar, dan Kalteng.  Produksi ikan hasil tangkapan dari WPP 711 ini terhitung 581.037 tonton/tahun. Cukup luas dan berpotensi perikanan yang tinggi.  Kalau kita bicara infrastruktur,
jumlah pelabuhan perikanan di Kalimantan Barat ada 65 unit, bandingkan dengan Provinsi Bengkulu yang hanya memiliki 41 unit,
itupun semuanya dengan klasifikasi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) bukan Pelabuhan Perikanan Pantai dan sebagainya:
No
Provinsi
Pelabuhan
Samudera
Pelabuhan
Nusantara
Pelabuhan
Pantai
Pangkalan
Pendaratan
Ikan
1
Kalbar
-
1
1
63
2
Bengkulu
-
-
-
41

Pelabuhan perikanan adalah prasarana penting yang dapat mendorong tumbuhkembangnya kegiatan usaha penangkapan ikan. Sebagaimana dari definisinya itu sendiri bahwa pelabuhan perikanan adalahsuatu kawasan perikanan yang berfungsi sebagai tempat labuh kapal perikanan, tempat pendaratan ikan, tempat pemasaran, tempat pebinaan mutu hasil perikanan, tempat pengumpulan data perikanan, tempat pengolahan hasil perikanan, dan tempat penyedia sarana operasional kapal perikanan.
Jumlah unit pengolahan ikan di Kalimantan Barat ada 1.304 unit. Kalau kita bandingkan dengan jumlah unit engolahan ikan di bengkulu yang hanya ada 465 unit saja, tentu berbeda. Hal tersebut mengindikasikan bahwa proses nilai tambah bagi komoditi perikanan di Kalbar.
No
provinsi
Micro
Kecil
Sedang
Besar
Total
1
Kalbar
1.126
67
90
21
1.304
2
bengkulu
387
74
4
-
465

Kesimpulan
Dari data-data di atas dapat disimpulkan secara umum sebagai berikut: (1) Struktur pendapatan nelayan dan pembudidaya ikan di Kalimantan Barat relatif lebih merata. Tidak begitu banyak perbedaan pendapatan antara satu nelayan dengan yang lainnya. (2) Nilai jual hasil perikanan Kalimantan Barat lebih bagus dibandingkan nilai jual ikan hasil tangkapan nelayan Bengkulu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Kalimantan Barat memiliki infrastruktur termasuk penunjang pengolahan pemasaran hasil tangkapan dan budidaya ikan yang relatif lebih baik, dan (3) potensi perikanan Kalimantan Barat masih belum tergali semua, berarti peluang pengembangannya masih terbuka lebar.
Pustaka
Statistik Perikanan Tangkap Indonesia, 2009. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Kementrian Kelautan da Perikanan. Jakarta. 2010
Statistik Perikanan Tangkap di Laut. Menurut Wilayah Pengelolaan Perikanan. 2004-2008. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 2010
Kelautan dan Perikanan Dalam Angka. 2010. Kementrian Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 2010
Indonesian Fisheries Book 2011. Ministry of Marine Affairs and Fisheries and Japan International Cooperation Agency JICA. Jakarta. 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar