Jumat, 02 September 2011

Bahagianya Kami yang Sudah Mudik

Mudik lebaran Idul Fitri 2011 sudah dijalani, kini kami sudah di rumah kami kembali di Bogor. Total 6 hari kami gunakan untuk menemuai orang tua dan saudara-saudara kami di Desa Cilimus, Kuningan dan desa Plaosan di Kabupaten Purworejo. Perjanan kami ke Cilimus terkena macet berjam-jam di Simpang Jomin Cikampek dan di sekitaran Sukamandi, seterusnya sampai Cilimus lancar-lancar saja. Waktu di Cilimus, kami bersama ponakan-ponakan sengaja buka puasa sambil menikmati kuliner Cirebon, kami mendatangi warung nasi lengko di Jalan Pagongan Cirebon. Enaknya nasi lengko ini terasa sampai tenggorokan, dengan rasa yang didominasi oleh goreng tahu setengah matang yang diiris-iris kecil, toge, ketimun, dan bumbu kacang serta kecap manis. Cocok bagi yang sedang mengurangi lemak. Setelah itu, kami juga tidak lupa mengunjungi pusat batik tradisonal Cirebon di Desa Trusmi. Toko-toko batik di Trusmi sekarang sudah dikemas seperti butik-butik modern layaknya yang ada di kota-kota besar. Kami sempatkan membeli beberapa helai kemeja seharga Rp 75 ribuan.
Di rumah Cilimus kami berkumpul dan berbagi cerita serta saling berbagi kasih lewat bingkisan ala kadarnya. Yang lebih penting lagi adalah wejangan dari orang tua yang menekankan bahwa hidup harus berperilaku baik dan ingat kepada sesama jangan egois.
Dari Cilimus, kami melanjutkan ke Purworejo. Baru beberapa kilo meter saja dari rumah, kami berada di ujung tol Pejagan dan langsung dihadang macet yang luar biasa. Hanya untuk mencapai Kecamatan Prupuk, Brebes dari ujung tol Pejagan membutuhkan waktu 6 jam, padahal hanya beberapa kilometer saja panjangnya. Namun, kami berdua istri tetap bersuka cita, toch, kalau engga macet, itu namanya bukan lagi mudik. Seninya mudik adalah di macetnya.  Setelah Prupuk, jalan menuju Purworejo, Alhamdulillah lancar.
Sampai di rumah di Desa Plaosan, Kabupaten Purworejo sudah Senin sore. kami tahunya dari tanggalan bahwa lebaran itu esok hari namun belum ada pengumuman dri pemerintah. Kami bersama-sama keluarga menyimak televisi, menunggu berita kapan lebaran Idul Fitri itu akan dilaksanakan. Baru pada jam 20 lebih, pemerintah mengumumkan bahwa lebaran jatuh pada hari Rabu, tanggal 31 Agustus 2011. Padalah banyak warga yang sudah ‘memplot’ lebaran itu tanggal 30 Agustus 2011 atau pada hari Selasa. Perasaan kami campur aduk tidak puguh, malah diantara keluarga kami saling mengeluarkan dalil-dalil bahwa lebaran harus ditentukan secara sepihak oleh dewan isbat.
Pada hari Selasa-nya, sebagian keluarga kami ada yang merayakan lebaran, namun sebagian lagi termasuk Bapak dan Ibu merayakannya pada esok hari sesuai isi pengumuman Pemerintah. Kami ikut lebaran hari Selasa bukan karena mengikuti salah satu ormas Islam, tapi karena lebih kepada keputusan pribadi. Bagi kami-kami, memang dilematis, karena keputusan ormas Islam tertentu  ataukah keputusan pemerintah yang benar? Kalau lebarannya hari Selasa sedangkan kami masih berpuasa, tentu berdosa, demikian juga kalau lebarannya jatuh pada hari Rabu sedangkan menurut penampakan hilal pada malam Selasa sudah terlihat, dan kami pada hari Selasanya masih berpuasa, tentu berdosa juga. Baiklah, dosa-pahala itu urusannya Gusti Allah. Secara umum, sebaiknya dalam satu negara tidak ada dua keputusan yang berbeda seperti ini, pemerintah melalui dewan isbat-nya memiliki otoritas menentukan kapan hari lebaran itu berlangsung. Kalau berbeda hari dengan hari lebaran di negara lain itu tidak masalah, namun kalu berbeda hari di dalam satu negara tentu banyak mudharatnya.
Di rumah, acara sungkeman tetap dilaksanaknnya pada hari Rabu, menunggu agar semua sudah tidak berpuasa lagi. Kami merayakannya dengan suka cita bersama saudara handai taulan yang hanya pada hari raya lebaran seperti inilah dapat berkumpul semua. Setelah sungkeman, seperti halnya di Cilimus kemarin, kami diberikan wejangan oleh orang tua kami, yang intinya tidak berbeda dengan wejangan orang tua di Cilimus, yaitu: bahwa kita mesti ‘eling lan waspada’, jangan ikut-ikutan jaman edan, jangan ikut-ikutan korupsi, harus tepak selira dan saling tolong menolong diantara sesama. Inilah substansi moment lebaran yang kami tungu-tunggu. Lewat wejangan yang disampaikan kepada seluruh keluarga besar inilah yang menjadi pengisi bathin kami-kami dalam mengarungi kehidupan esok hari dan selanjutnya. Kami merasa kehidupan kami ada yang membimbingnya dan menjadi kekuatan baru untuk bergulat dengan keseharian yang menuntut ke ‘eling lan waspodo’ an itu.
Setelah itu, kami berkeliling kampung mengunjungi tempat tinggal saudara saudara yang lebih tua. Setelah selesai semua, kami menyempatkan mencicipi kembali kuliner klangenan di Purworejo ini. Kami mengunjungi lapak durian Purworejo dimana duriannya legit, manis tidak kalah dengan durian Medan sekalipun, harganya Rp 75 rb untuk ukuran besar. Ini harga lebaran tapi tidak akan kecewa dengan rasanya. Kemudian kami mengunjungi warung-warung tenda yang berjajar di sekitaran alun-alun Purworejo. Kami menikmati burung dara goreng Bu Pur yang sudah dikenal itu beserta wedang ronde yang dibeli di tenda sebelahnya. Nikmat juga
Tadinya kami mau kembali ke Bogor pada hari Rabu atau hari lebaran ke dua, namun karena lebarannya jatuh pada hari Rabu, maka kami pulang kembali ke Bogor pada hari Kamis pagi. Kami kembali lewat semarang, dimana kemacetan agak parah hanya terjadi di Ungaran Banyumanik serta mulut jalan tol Semarang. Setelah itu lancar saja.
Jumat dini hari kami sudah sampai rumah Bogor, dan mudik kali ini lebih aman, nyaman dan lancar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Terima kasih kepada pemerintah dan aparat kepolisian yang telah meningkatkan infrastruktur dan sistem keamanan yang lebih baik.  Tentunya bagi kami,  walaupun kami lelah namun itu menjadi tidak berarti lagi karena kami merasa bahagia yang teramat sangat, karena kami telah dapat berkumpul dengan keluarga besar dan yang lebih utama lagi adalah bathin kami telah terisi penuh kembali.
Kemeriahan menjelang lebaran dengan menyalakan kembang api
mudik naik apapun tidak masalah yang penting bertemu keluarga
Pengumuman hari raya lebaran yang telat
Salat hari raya Idul Fitri 2011 pada hari Selasa di alun-alun Purworejo
Debu kemarau berterbangan seusai salai ied di alun-alun Purworejo
Acara Utama Lebaran adalah Sungkeman sama orang tua
Menikmati Durian Purwokerto di Somongari yang legit dan manis
Kuliner di tenda-tenda sekitaran alun-alun Purworejo, amat menyenangkan
banyak tempat oleh-oleh yang layak dikunjungi sepanjang perjalanan mudik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar