Sabtu, 24 September 2011

Istana Air Taman Sari, Yogyakarta yang Terkepung dan Tertusuk Pemukiman

Sejatinya, Istana Air Taman Sari ini begitu indahnya, bagaimana tidak? Sebagai tempat beristirahat raja, memang harus banyak ditumbuhi bunga yang menebar semerbak harum dan lingkungan air yang menyejukkan, serta dinyanyiin kicauan burung yang loncat dan terbang kesana kemari. Itu kan dulu, sekarang keadaannya bagaimana?
Sulit menemukan sejarah otentik dari bangunan Istana Air Taman Sari ini, yang ada adalah cerita dari mulut ke mulut yang utamanya diceritakan oleh para pemandu wisata yang ada di sekitaran Taman Sari ini. Itupun masih perlu dipertanyakan kebenaranya dari cerita cerita itu. Dari berbagai versi sejarah Taman Sari ini, ada beberapa bagian yang menurut logika awam dapat diterima. Istana Air Taman Sari ini dibangun pada tahun 1798M jaman Sultan Hamengku Buwana I dan dirampungkan pada era Sultan Hamengku Buwono II. Istana Air Taman Sari dibangun setelah selesainya peperangan diantara elit kerajaan Mataram. Kekacauan politik Kerajaan Mataram dapat diselesaikan pada era Raja Mataram dipegang oleh Paku Buwono III yaitu melalui perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) yang mengakibatkan terpisahnya kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Ngayogyakarta yang menurunkan trah Raja bergelar Sultan Hamengku Buwono dan Kesultanan Surakarta yang tetap menurunkan trah Raja bergelar Paku Buwono. Istana Air Taman Sari ini dibangun sebagai tempat untuk beristirahat Raja setelah lelah melakukan peperangan. Selain itu juga dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Gusti Allah, yaitu dengan tersedianya ruangan yang cukup luas untuk salat berjamaah, baik untuk jamaah laki-laki maupun perempuan. Selain itu juga Istana Air Taman Sari ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan yaitu terlihat dari arsitektur bangunan yang menyerupai benteng-benteng bergaya Benteng Potugis lainnya yang banyak tersebar di Nusantara ini. Fungsi pertahanan sampai saat sisa-sisanya masih bisa disaksikan dengan adanya ruangan khusus untuk pemantauan ke arah Gunung Merapi dan ke arah laut.
Istana Air Taman Air menurut sohibul hikayat, luasnya mencapai 12,5 Ha, cukup luas, dimana letak Istana Air ini masih dalam satu komplek tembok keraton Kasultanan Ngayogyakarta. Jarak dari keraton utama sekitar 500 meter, dimana dahulunya apabila raja berkunjung ke Istana Air ini bisa mempergunakan kereta kuda atau kapal perahu yang memang disekeliling Taman Air ini adalah air (ada yang menyebutkannya sebagai ‘laut’). Saat ini komplek Istana Air Taman Sari sudah tinggal 2 hektar saja, itupun sudah terkooptasi oleh rumah-rumah para abdi dalem. Bahkan perumahan ini bukan saja mengepung lokasi Istana Air ini, namun juga banyak yang menusuk jantung bangunan Istana Air Taman Sari itu sendiri, yaitu dengan banyaknya rumah yang berdiri persis diatas tembok bangunan Taman Air yang apabila melihat ke bawahnya, sebenarnya di bawah rumah-rumah itu adalah terowongan yang menghubungkan bangunan satu dengan lainnya diantara bangunan bangunan Istana Air Taman Sari. Sayang kan bangunan seindah dan memiliki nuansa budaya tinggi ini –hancur- karena ditusuk perumahan.
Komplek bangunan Istana Air Taman Sari Yogyakarta ini sudah dimasukkan sebagai benda/bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh perundang-undangan. Apabila anda berkunjung sekarang, tentu akan jauh berbeda dengan keadaan lima tahu lalu. Bangunan Istana air ini sedilkit demi sedikit sedang dipugar melalui rehabilitasi dan renovasi yang sebagian dananya dibantu oleh UNESCO-PBB. Beberapa rumah yang dahulu pernah berdiri nangkring di atap salah satu bangunan Taman Sari, kini sudah tidak terlihat lagi.
Karena Istana Air Taman Sari ini sudah masuk dalam katagori benda/bangunan cagar budaya maka seyogyanyalah apabila pemugaran, rehabilitasi, dan renovasi bagian-bagian dari komplek bangunan ini harus mengikuti ketentuan yang berlaku dalam Undang-Undang No.11 Tahun 2010 tentang Cagar budaya.
Kita petik bab pendahuluan dari Undang-Undang tersebut; Cagar Budaya itu merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya perlindungan, penembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kehidupan rakyat. Pebagian ruang/zona dalam komplek Istana Air Taman Sari ini sesuai pasal 73 UU no 11 tahun 2010, dibagi menjadi: Zona Inti, Zona Penyangga, Zona Pengembangan, dan Zona Penunjang. Sudah seyogyanya apabila rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi dan restorasi (pasal 77, UU no 11 thn 2010) Istana Air ini disesuaikan dengan pembagianzonasi tadi, dimana zona inti itu artinya adalah tidak diperbolehkan sama sekali adanya perubahan fungsi dll dari fungsi semula bangunan tersebut, apalagi dalam bentuk munculnya perumahan dalam zona inti Komplek Istana Air Taman Sari ini. Tentunya ada ketentuan yang menguatkan aturan tersebut, seperti tercantum dalam pasal 81 Undang-Undang no 11 tahun 2011: setiap orang dilarang mengubah fungsi cagar budaya.
Saya percaya pelan tapi pasti dan tetap mengedepankan azas kemanusiaan, bangunan Komplek Istana Air Taman Sari ini akan terlihat kembali seindah dan sesuai bangunan asli diawal berdirinya. semoga
Pintu Masuk Istana Air Taman Sari Yogyakarta
Arsitektur Taman Sari yang Bergaya: Eropa, China, Jawa dan Islam
Tempat Mandi Para Selir Raja
Tempat Imam Memimpin Salat Berjamaah
Perumahan Abdi Dalem di Dalam Komplek Istana Air Taman Sari
Bangunan Rumah yang Berdiri Di Atas Bangunan Istana Air Taman Sari
Dulu Di Atas Selasar Taman Sari ini Adalah Perumahan
Taman Sari dan Perumahan Campur Jadi Satu
Banyak Plang Pengumuman Taman Sari Adalah Bangunan Cagar Budaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar