Minggu, 18 September 2011

Kota Bandung yang Selalu ‘Hajatan’

Kota Bandung sebagai bagian dari Tatar Sunda seyogyanya berpenampilan bersih, rapih dan nyaman. Karena hal itu sudah menjadi bagian dari kebiasaan hidup mereka. Naskah Sunda kuno seperti tertuang dalam Siksakandang Karesian (1518) atau yang ditulis pada jaman Kerajaan Pajajaran berkuasa dimana menyebutkan bahwa orang Sunda begitu dekat dengan alamnya: (1) orang Sunda itu berseka atau mengutamakan kebersihan, (2) orang Sunda itu Malire yang artinya peduli dan menghargai alam sekitarnya (Chyeretty, 2011). Atau kearifan lokal yang ditampilkan masyarakat Kampung Naga yang mengacu kepada prinsip Tri Tangtu di Bumi yaitu Tata Wilayah, Tata Wayah, dan Tata Lampah. Tata Wilayah adalah membagi ruang lahan itu ke dalam tiga bagian, yaitu bagian suci, bersih, dan kotor. Tempat beribadah atau tempat ang disakralkan akan menjadi bagian ruang suci. Rumah, pekarangan dan fasilitas publik lainnya adalah bagian ruang bersih, sedangkan yang bagian ruang kotor adalah tempat untuk MCK, sampah dll (Suryani, 2011). Namun, realitas sekarang ang terlihat nyata adalah Kota Bandung yang semrawut, kotor, dan jauh dari nyaman. Berbeda dengan Kota Surabaya, di Kota Bandung apabila jalan-jalan membawa balita dengan dorongan, anda akan mengalami kesulitan besar. Seandainyapun trotoarnya telah ada, namun trotoar itu tidak terawat dan dipenuhi pedagang segala makanan atau barang dan tentu polusi dari kepadatan kendaraan yang macet tidak bergerak disamping anda. Jangan harap dapat jalan-jalan dengan kereta dorong itu.
Data 2010 menyebutkan jumlah penduduk Kota Bandung sudah mencapai 2.393.633 jiwa yang menempati lahan seluas 166,70 km2, atau dengan kepadatan penduduk mencapai 142 jiwa/ha. Padahal idealnya kepadatan penduduk itu sebesar 75 jiwa/ha. Mari bandingkan dengan data kependudukan Kota Surabaya. Jumlah penduduk Kota Surabaya sebanyak 2.968.946 dengan menempati luas wilayah 326,40 km2 atau kepadatan penduduknya sebesar 87 jiwa/ha. Pertumbuhan penduduk Kota Bandung mencapai 100.000 jiwa/tahun, sedangkan Kota Surabaya sebesar 75.000 jiwa/tahun. Kota Bandung adalah kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia.  Bahkan kecamatan Kiaracondong, Bandung Kulon, dan Cicadas memiliki kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Sampai 13.000 jiwa/km2. Padahal E.H Karsten pada tahun 1930 membuat perencanaan Kota Bandung hanya untuk menapung 750.000 jiwa saja. Maka tak heran kalau ada istilah dalam bahasa Sunda yang begitu populer, yaitu ‘Bandung heurin ku tangtung’ yang artinya Bandung sudah sesak oleh manusia. Karena kepadatan penduduk sedemikian tinggi maka tidak heran kalau penduduk tersebut memuncah ke jalanan atau ke ruang publik lainnya, sehingga kota menjadi terlihat sesak oleh manusia yang berlalu lalang.
Mengelola Kota Bandung menjadi tidak mudah, apalagi letak Kota Bandung persis berada dalam cekungan dimana letaknya dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan. Istilah Bahasa Sunda yang sering untuk menyatakan tentang hal tersebut adalah ‘Bandung di riung ku gunung’ atau Bandung yang dikelilingi gunung. Letak seperti itu memiliki keuntungan dengan hadirnya udara pegunungan yang sejuk namun disisi lain juga membawa akibat kurang baik dimana polusi dan limbah menjadi terperangkap, tidak dapat keluar sebebas kota-kota yang memiliki topografi berbentuk hamparan atau mengarah ke laut seperti Kota Surabaya, Kota Semarang, dan Palembang.
Apakah bisa Kota Bandung bersih dan rapihnya menyamai seperti Kota Surabaya, Kota Semarang, atau Kota Palembang? Sebenarnya bisa. Pertama warga Kota Bandung sudah punya kearifan untuk hidup berseka (bersih) dan penurut, dan kedua adalah tegakan disiplin warga. Baik dalam hal penempatan lahan usaha yang tidak sembarangan, tertib lalu lintas, buang sampah dll.
Nah, walaupun ibaratnya Kota Bandung ini adalah rumah yang setiap hari ‘hajatan’ dimana sebenarnya kapasitas rumah itu hanya diperuntukan untuk 7 jiwa saja, tapi kini harus menampung puluhan bahkan ratusan orang dan sampah yang dihasilkannyapun sebanyak itu pula, tentu tetap dapat diatur kalau ada keinginan dari semua pihak termasuk dalam hal law enforcement-nya.
Wajah Jalan Karapitan
Trotoar di Jalan Karapitan
Wajah Trotoar di Jalan Supratman yang Terkooptasi
Tidak Ada Trotoar di Jalan Cimanuk
Banyak Tikungan, Pertigaan, dan Perempatan yang Menjadi Lahan Usaha
Wajah Sebuah Halte di Buah Batu, Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar