Jumat, 16 September 2011

Kota Surabaya, yang Kini Bersih, Rapih dan Lebih Nyaman

Apabila berkunjung ke Kota Surabaya sekarang, langsung saja akan berdecak kagum dengan melihat lingkungannya. Dan  tentu akan berbeda jauh apabila datang 5 tahun lalu. Kini wajah Kota Surabaya makin cantik, bersih, rapih dan lebih nyaman. Trotoar yang berfungsi pedestrian memang digunakan untuk untuk para pejalan kaki sesuai peruntukannya. Bagi yang punya balita kemudian mengajak jalan-jalan dengan menggunakan kereta dorong, dijamin menyenangkan. Di atas trotoar sudah bebas pedagang kaki lima atau para pengemis. seandainya anda butuh rokok misalnya, anda akan mengalami kesulitan untuk mendapatkannya, apabila anda mencarinya di warung rokok di pinggir jalan di atas trotoar seperti yang mudah didapatkan di kota-kota lainnya. Halte juga kini sudah baik. Halte sebagai tempat kendaraan umum menaikkan dan menurunkan penumpang, terlihat bersih, tidak ada pedagang kaki lima dan terasa lebih ‘aman’ karena penerangannya cukup bagus serta tidak ada orang yang nongkrong-nongkrong tidak puguh disitu. Taman-taman sekecil apapun yang ada diberbagai sudut kota, terlihat lebih terawat dan  lebih hijau. Lalu lintasnya-pun tertib, lancar mengalir tidak saling adu cepat dengan melanggar aturan lalu lintas. Yang lebih mengagetkan lagi adalah sungai Kalimas yang dulu penuh sampah, kini sudah bebas dari sampah padat. Bersih. Malah sempadan sungainya dapat dijadikan salah satu tempat bercengkrama warga kota. Kota Surabaya kini lebih manusiawi.
Pertanyaan yang muncul dibenak ini adalah ‘lha kok bisa ya, Kota Surabaya jadi sebersih ini?’ Padahal kalau kita lihat-lihat dari dokumentasi yang ada, Kota Surabaya itu dulunya dikenal ‘jorok’ dan tidak tertib. Apalagi kalau kita pelajari sosio-kultural masyarakat Surabaya, yang  dikenal memiliki watak ‘keras’ dan tidak mudah menurut terhadap ‘perintah’ kecuali tahu ‘perintah’ itu datang dari siapa. Tidak mudah untuk merubah budaya atau kultur atau bahasa sederhanya merubah kebiasan masyarakat Surabaya, dari hidup ‘seenak dewek’ menjadi masyarakat yang patuh terhadap aturan.
Mari kita bandingkan dengan kondisi lingkungan kota tempat tinggal saya. Saya tinggal di Kota Bogor dan tiap minggu datang di Kota bandung karena ada keluarga disana. Waduh terus terang saja, sangat terasa bedanya. Walaupun katanya orang sunda (al; Bogor dan Bandung) itu dikenal memiliki budaya ‘berseka’ (bersih) dan berwatak ‘penurut’, namun kenyataan tidak seperti itu. Kota bogor dan Kota Bandung, sangat semrawut, sampah dimana-mana, tiap sudut perempatan atau pertigaan, pasti dipenuhi oleh PKL, ojek, pengemis dan macam-macam usaha orang yang sembarangan berperilaku. Begitu juga tata  lalu lintasnya. Pemandangan saling serobot, berhenti sembarangan adalah pemandangan setiap saat yang dapat ditemui dengan mudah dimana saja. Coba lihat dari mulai depan Banding Indah Plaza (BIP) sampai Dago Atas di Kota Bandung, masa di jalan protokol/ jalan utama banyak sekali warung-warung tenda yang menjajagan kaset, bubur ayam, koran, bahkan binatang yang aneh-aneh. Di Kota Bogor, ‘sami mawon’, coba lihat disekitaran Kebun Raya Bogor, bahkan sebelahnya kantor Kotamadya yang berada di Jln Juanda, duh kotornya, tukang beca, PKL, tukang makanan dan lainnya, dengan seenaknya aja berkegiatan dimana dia suka. Coba lihat para pengemis yang berjubel di pertigaan Jalan Pangrango, yang berperilaku seenaknya dengan menjadikan pohon-pohon penghijauan menjadi tempat mainan gantung-gantungan dan menyampah di sembarang tempat. Seolah tidak takut dengan Satpol PP atau yang berwenang lainnya, atau mungkin perangkat Pemkotnya tidak memfungsikan kewenangan yang dimlikinya?
Kota Bandung dan Kota Bogor kalah cepat untuk memanusiawikan warganya dibandingkan dengan Kota Surabaya. Atau juga kalah pamor dengan kota lainnya yang sudah lebih dahulu berbenah diri seperti; Kota Semarang, Kota Manado, dan Kota Palembang.
Melihat kepada perubahan perilaku masyarakat Kota Surabaya yang kini lebih ‘berseka’ dari Kota Bandung dan Kota Bogor yang sejatinya kosa-kata itu milik dua kota ini. Kenapa bisa begitu? Mungkin ‘social-enginering’ yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya sudah benar. Beneet, 1976; Merleau-ponty, 1945; Moran, 1979; Muba Simandjuntak, 2003; Vayda, 1980, menjelaskan bagaimana proses perubahan kultur, proses adatif, sampai diterimanya suatu konsesus bersama oleh masyarakat dapat terjadi. Perubahan perilaku budaya baru adalah sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap persepsi yang dibangun. Keadaan mempersepsi sehingga menjadi keadaan yang diinginkan, dapat terbentuk karena proses pengaruh informasi dari lingkungannya secara terus menerus yang menyangkut proses penginderaan yang perifeer terhadap sekitarnya. Yang selanjutnya melahirkan suatu bentuk yang holistik dan dalam konstansi tinggi, yang berlaku juga pada tempat dan obyek lain. Persepsi adalah latar belakang dari mana terpancar semua aktifitas dan selalu diandaikan oleh aktifitas-aktifitas tersebut. Menurutnya persepsi tidak hanya-berupa pengandaian saja, melainkan juga jalan menuju kebenaran, yang lahir dari empirisme dan rasionalisme (realitas). Dalam proses berikutnya, mempersepsi juga merupakan kendali dalam proses
tindakan dan perilaku, salah satunya adalah proses penyesuaian diri. Di mana proses tersebut diawali dari sekelompok organisme melakukan adaptasi perilaku. Yaitu proses penyesuaian perilaku sekelompok organisme terhadap kondisi tertentu, yang
kemudian diikuti oleh kelompok organisme lain setelah mereka mengerti dan memahami manfaatnya (proses belajar). Selanjutnya mereka memilih atau melakukan seperangkat perilaku tertentu untuk mengadaptasi terhadap lingkungan barunya, yang di dalamnya terkandung tata nilai, tingkatan organisasi sosial dan tehnologi tertentu yang digunakan dalam mengadaptasi perubahan yang terjadi,
atau disebut juga sebagai strategi adaptif.  Konsep adaptasi dapat dipandang sebagai suatu proses yang menempatkan manusia sebagai pelaku yang berupaya mencapai tujuan-tujuannya atau kebutuhan kebutuhannya, untuk menghadapi lingkungan dan kondisi sosial yang berubah-ubah agar tetap bertahan (survive). Sedang dalam proses adaptasi atau untuk mencapai tujuan dan kebutuhan secara individuil atau kelompok, ia dapat memobilisasi dan memanfaatkan sumber-sumber sosial, material, tehnologi serta pengetahuan kebudayaan yang dimiliki. Cara-cara yang dipilih biasanya mengadakan hubungan hubungan sosial baik dengan pihak-pihak yang berada di dalam maupun di luar komunitas. Sedang bila perilaku manusia dalam komunitasnya (masyarakat) dipandang sebagai suatu sistem, maka masyarakat akan eksis dan survive apabila berada dalam suatu keseimbangan. Di mana diterminasi nilai budaya akan lahir melalui hasil konsensus semua anggota masyarakat, selalu mempunyai tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Di mana sistem nilai tersebut bersumber pada pola budaya yang terdiri atas sistem kepercayaan, sistem simbolik dan standar orientasi yang sama, yang memungkinkan hubungan sosial, interaksi sosial dan proses sosial berjalan lancar.
Proses sosial yang telah diformat sedemikian rupa oleh sistem budaya dan sistem kepercayaan yang ada, menjadikan setiap orang mengerti bagaimana hubungan dengan orang lain. Setiap anggota masyarakat berusaha mengintregasikan diri dengan sistem nilai yang ada melalui proses sosialisasi dan institusionalisasi tersebut. Kesamaan sikap dan ide dalam merespon orang lain dalam proses sosial itulah yang disebut sebagai "mammon definition of the situation".Pemolaan perilaku oleh kaedah sosial hasil konsensus bersama tersebut mempunyai kekuatan memaksa dan memang disadari oleh semua anggota masyarakat. Dalam keadaan seperti itu, sistem nilai tersebut bersifat fungsional dan mempunyai kekuatan integratif. Integrasi masyarakat bukan (saja) disebabkan adanya kekuatan sistem nilai hasil konsensus bersama, tetapi juga oleh adanya dominasi kelompok lain. Sebab hubungan sosial selalu ditentukan dua proses yang ambivalen, assosiati dan dissosiatif. Assosiatif menunjuk pada kecenderungan integratif, dan dissosiatif menunjuk pada disintegratif.
Namun kecenderungan akan dominan menonjol selama apa yang menjadi konsesus bersama dirasakan lebih menguntungkan dalam rangka kehidupannya.
Jadi asal ada keinginan yang kuat dan memberi contoh perilaku yang seharusnya, maka sebenarnya tidak sulit-sulit amat untuk merubah perilaku masyarakat dari yang ‘tidak berseka’ menjadi ‘berseka’. Kota Bandung dan kota Bogor, kudu melihat masyarakat Kota Surabaya  yang dapat merubah kebiasaan hidup ‘seenak dewek’ menjadi masyarakat yang hidup bersih, tertib dan berderajat. Salut buat masyarakat Kota Surabaya!
Kota Surabaya yang Sedang Tumbuh Berkembang Sejajar Kota Dunia
Salah Satu Hotel yang Menjadi Landmark Kota Surabaya
Trotoar atau Pedestrian yang Sangat Manusiawi
Halte yang Bersih dan Aman
Jembatan Penyebrangan yang Bersih dan Aman
Mulut Gang yang Bersih dari PKL dll
Begitu Juga Dengan Pertigaan yang Bersih, Rindang dan Nyaman
Kalau di Kota Bandung atau Kota Bogor, Persimpangan Seperti ini Pasti Semrawut
Sekecil Apapun Taman itu, Pasti Dirawat Dengan Baik
Ini Arah Sidoarjo yang Luar Kota lo, Tapi Tamannya Masih Terpelihara
Pinggir Rel Kereta Api di Daerah Waru, Bersih Toch?
Fly Over-nya juga Nyaman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar