Sabtu, 17 September 2011

Tol Cipularang, Jalur Tengkorak?

Akhir-akhir ini expose berita tentang terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalur Tol Cipularang sangat gencar, apalagi setelah kejadian yang menimpa artis Saipul Jamil. Pertanyaannya apakah memang jalur itu angker (mistis), salah konstruksi atau karena human error?
Saya melewati jalur Tol Cipularang setidaknya dua minggu sekali, dari Bogor-Jakarta-Bandung lewat Cipularang. Jadi setidaknya saya menemui beberpa pengalaman dalam berkendara di jalan tol tersebut. Jalan tol tersebut cukup signifikan memotong waktu perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, dimana yang dahulu sebelum ada tol, ke Bandung melewati jalur Puncak yang terkenal macetnya dan atau jalur jonggol yang prasarana jalannya kurang memadai. Dahulu ke Bandung dari Jakarta ditempuh setidaknya 4 jam, tetapi kini bisa ditempuh 2 jam. Jalan tol relatif mulus dan memiliki pemandangan serta fasilitas lainnya yang memadai. Lalu kenapa kerap terjadi kecelakaan?
Hari Sabtu kemarin (17/9/2011), pagi-pagi kami melewati Tol Cipularang menuju Bandung. Apa yang kami alami? Betul, jalur tol Cipularang hanya dua. Artinya di jalur paling kiri diperuntukkan kendaraan yang berjalan agak pelan dan jalur kanan hanya diperuntukkan untuk jalur mendahului. Jadi dari dua jalur tersebut kondisi bertentangan ekstrim dalam hal kecepatan. Yang satu jalur kecepatan pelan, yang satunya lagi jalur cepat, tidak tersedia jalur untuk kecepatan sedang. Tapi itu bukan masalah. Masalah yang sering ditemui adalah beberapa kendaraan dikemudikan oleh yang tidak sadar keselematan. Misalnya saja; sudah tahu bahwa di jalur kanan sedang antri melewati kendaraan truk yang berjalan pelan tetapi kendaraan di belakang memberikan nyala lampu dim berkali-kali artinya dia minta kendaraannya yang di depannya minggir (mau kemana minggirnya?) atau mempercepat lajunya. Umumnya kendaraan di depan yang diberi lampu dim tidak terima, sehingga terjadilah kebut-kebutan karena panas emosi. Kemarin pagi saya diperlakukan seperti itu oleh xenia/avanza silver DxxxxNA dan xenia/avanza hitam BxxxxJK. Ada lagi kejadian lain yaitu tidak sabar ingin mendahului padahal kecepatan kami sudah 80 km/jam, kemudian kendaraan kendaran minibus bahkan double cabin yang mewahpun menyalip dari bahu jalan (bahu jalan di tol Cipularang sempit sekali).
Sore hari ketika kami pulang, di km 100-90, dimana rambu-rambu sudah banyak mengingatkan untuk hati-hati dan kecepatan max 80km/jam dan km ini dikenal rawan kecelakaan, tetapi tetap saja banyak kendaraan yang dikemudikan secara tidak beraturan. Bus MGI yang besar dengan Jurusan Bandung-Cileungsi, ngebut di bahu jalan dan mendahului kendaraan-kendaraan yang lainnya, kemudian travel Cipaganti juga demikian. Dan masih banyak kendaraan lain yang berperilaku demikian. Kalau saja saya ada di dalam kendaraan itu, saya tegur tuh sang sopirnya. Bawa penumpang bawa nyawa, kok menjalankan kendaraannya ugal-ugalan seperti itu? Kenapa para pengemudi ini ugal-ugalan di km 100-90? Mungkin jalan sebelumnya berkelok-kelok tidak mungkin mengembangkan kecepatan, nah di km inilah ketika menemui jalan yang agak datar dan tidak terlalu tajam keloknya, maka timbul nafsu ingin memacu kendaraannya semampunya dengan mengabaikan keselamatan dirinya serta orang lain.
Lantas? Menurut hemat saya walaupun rambu jalan sudah banya dan banyak banner yang menyatakan bahwa ‘di Tol ini dipasang alat pemantau kecepatan’ tapi untuk apa kalau tidak ada tindakan sama sekali dari pengelola atau PJR jalan Tol Cipularang ini terhadap para pelanggar lalu lintas? Walaupun sudah seribu alat pemantau kecepatan dipasang, namun tidak ada tindakan apa-apa misalnya terhadap Bus MGI atau travel Cipaganti yang menjalankan kendaraanya di atas 80 km/jam di bahu jalan lagi. Kendaraan seperti itu harusnya kalau tidak dikejar, ya distop di ujung jalan tol untuk ditindak. Kalau kita saksikan di televisi, bagaimana Polisi Jalan Raya di California sana, mengejar kendaraan yang berjalan tidak sesuai aturan. Maunya seperti itu, buat tindakan dan bikin jera bagi para pelanggar lalu lintas. Kasihan kepada orang-orang yang salah namun jadi korban.
Saya menyimpulkan sendiri sebenarnya banyaknya kejadian laka lantas di Tol Cipularang adalah karena disiplin para pengemudi yang masih rendah, bukan karena fasilitas atau konstruksi jalannya yang kurang. Saya jadi ingat akan ciri-ciri orang Indonesia menurut Koentjaraningrat (2004), yaitu: (1) sifat mentalitas meremehkan mutu, (2) sifat mentalitas yang suka menerabas, (3) tidak percaya diri, (4) tidak disiplin, dan (5) mengabaikan tanggung jawab. Klop kan? 
Tol Cipularang Mempersingkat Waktu Tempuh Jakarta-Bandung
Tol Cipularang km 90 - 100, Agak Melandai, Sering Terjadi Laka Lantas
Adu Cepat dan Saling Serobot adalah Perilaku Berkendaraan yang Buruk
Rest Area di Tol Cipularang Sangat Bagus


1 komentar:

  1. Sudah saatnya mendengarkan lagu Jalur Tengkorak disini: www.reverbnation.com/Bankeray

    BalasHapus