Minggu, 30 Oktober 2011

Kota Manado, Padat Juga ya........?

Memandang rumah dan bangunan yang menghampar di Kota Manado dari kamar 914 Hotel Sintesa Peninsula, aku menyimpulkan 'memang Manado sudah padat'. Tidak ada nyiur melambai yang terlihat, tidak ada burung sawah yang berterbangan. Kini, ruang sudah terkooptasi untuk bangunan.
Rumah dan bangunan lainnya sudah mengkooptasi ruang Kota Manado
Ke arah timur Manado, sampai ke bukit-bukit sudah jadi bangunan semua
Apalagi ke arah barat Manado, ke arah laut, tambah padat
Pelabuhan laut Manado
Mercu suar di tengah pemukiman Kota Manado
Semoga tata ruang wilayah Kota Manado mengacu kepada keseimbangan lingkungan, ekonomi, sosial, dan budaya serta hankam, agar Kota Manado menjadi Kota yang nyaman untuk ditinggali

Akhirnya, Enam Negara Yang Tergabung Dalam Kerjasama Multilateral Kawasan Segitiga Karang Dunia (Coral Triangle Initiative,CTI) Menyepakati Pembentukan Sekretariat Regional.

Coral Triangle Initiative - Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) adalah kerjasama multilateral kawasan segitiga karang dunia yang terdiri dari negara Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Philipina, Papua New Guena, dan Kepulauan Solomon dalam rangka pengelolaan terumbu karang untuk perikanan dan ketahanan pangan.
Kawasan segitiga karang dunia tersebut memiliki luasan dan keragaman jenis karang tertinggi di dunia yang sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata, perikanan dan menyokong ketahanan pangan bagi negara-negara-nya. Luas segitiga karang 75.000 km2, terdiri dari 500 spesies terumbu karang, 3000 spesies ikan dan menjadi sumber penghidupan bagi 240 juta penduduk. memiliki potensi untuk pariwisata yang besar dan menjadi lokasi bagi perkembang-biakan tuna. Namun demikian, kawasan segitiga terumbu karang sangat rentan terhadap berbagai ancaman, baik berupa eksploitasi sumberdaya yang tidak ramah lingkungan, seperti: over fishing, destructive fishing, illegal fishing, pencemaran, dan fenomena perubahan iklim. Berangkat dari kondisi tersebut maka diperlukan adanya inisiatif untuk pelestarian terumbu karang di kawasan segitiga tersebut.
CTI-CFF ini mulai diinisiasi pada tahun 2009 melaui berbagai pertemuan bilateral. pertemuan dimulai dari level working group, Senior Official Meeting (SOM) sampai tingkat menteri (Ministerial Meeting/MM). Kalau dihitung selama dua tahun telah dilakukan 4 kali working group meetings, masing-masing 2-4 kali in country meeting, masing-masing 2 kali kunjungan regional sekretariat ke masing-masing negara, 7 kali senior official meeting dimana 2 kali yang dilaksanakan di Jakarta. SOM I berlangsung di Bali pada tanggal 7 Desember 2007, SOM2 di Manila 23 Oktober 2008, SOM3 di Port Moresby pada tanggal 9 Maret2009 yang ditindak lanjuti dengan 1st Ministerial Meeting pada tanggal 10-nya, SOM4 di Kinabalu tanggal 17 Oktober 2009, SOM5 di Honiara, Kep Solomon pada tanggal 17-18 Nopember 2009 yangdilanjutkankan dengan 2nd Ministerial Meeting pada tanggal 19-nya, SOM6 di Manado pada November 2010, SOM7 di Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2011. Pada SOM7 ini dibahas:
·       Menyepakati dokumen legal pendirian Regional Sekretariat CTI-CFF,
·       Menerima laporan pelaksanaan CTI-CFF dan menyetujui roadmap pelaksanaan 2012-2013,
·       Menanda-tangani Joints Ministerial Statement, dan 
 .   Serah terima jabatan Chairman CTI-CFF Council of Ministers dari Indonesia ke Malaysia.
dalam pembahasan materi materi tersebut berlangsung sangat dinamis. perdebatan tidak saja terhadap masalah besar seperti porsi dan mekanisme pendanaan, namun juga terhadap poin lainnya seperti warna logo dan logo itu sendiri. pendapat yang keras kerap muncul terutama dari delegasi Philipina.  Namun akhirnya semua delegasi menyetuji draft tujuan pertemuan SOM7 tersebut yang kemudian dibawa dan ditandatangi oleh para menteri sebagai kesepakatan bersama pada tanggal 28 Oktober 2011, dan inilah kesuksesan dari Ministerial Meeting 3  (MM3).
Pada MM3 tanggal 28 Oktober 2011 di Jakarta, telah disepakati antara lain:
·       Pertama, disetujuinya dokumen hukum pendirian sekretariat regional permanen CTI-CFF;
·       Kedua, sekretariat regional permanen tersebut diberikan kewenangan yang lebih luas, sehingga akan memperkuat statusnya sebagai entitas hukum internasional (International Legal Entity);
·       Ketiga, adanya dukungan yang kuat baik dari negara donor, yaitu Amerika Serikat dan Australia dan juga dari mitra kerja seperti Asian Evelopment Bank (ADB),Global Environment Fasility (GEF), WWF, TNC, dan CI.
Dengan telah ditandatanganinya Joint Ministerial Statement maka akselerasi pelaksanaan Regional Plan of Action (RPoA) dan National Plan of Action (NPoA) di masing-masing negara yang berupa program-program aksi yang antara lain adalah mendorong para pemangku kepentingan untuk pengelolaan terumbu karang dan ketahanan pangan, agar dapat segera terlaksana.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Syarif Cicip Sutarjo memimpin sidang MM3
Enam Negara CTI mengikuti Ministerial Meeting (MM3) 28 Okt 2011 di Jakarta
Penandatanganan Joints Ministerial Meeting pada MM3, 28 Oktober 2011
Enam negara CTI-CFF siap mengelola kawasan segitiga terumbu karang
Peta kawasan segitiga karang (CTI)

Selasa, 25 Oktober 2011

Coral Triangle Initiative on Coral reefs, Fisheries and Food Security

A multilateral partnership to help safeguard the marine and coastal resources for future generations
The Coral Triangle: A Global Treasure
Submerged below the warm tropical waters in Soutest Asia and the Western Pacific, lies an underwater world teeming with more corals and marine life than you’ll find anywhere else in the world. This triangular shaped region, stretching almost 6 million square kilometers, is recognized as the global epicenter of marine biodiversity.
The reach of the Coral Triangle extends far beyonds its boundaries. The sevices provided by a healthy Coral Triangle support food production, livelihoods, commercial exports, protection from strorms, and revenue generated from tourism.
A Resource in Jeopardy
Dispite efforts by governments and organization to improve management, the condition of the Coral Triangle resources is declining:
-        Coastal development alters the shoreline landscape and habitats, increases erosion, and washes land-based pollution into marine waters;
-        Destructive fishing practices using dynamit, bottom drag nets and cyanide destroys the reefs and habitats;
-        Overfishing of pelagic and coastal fisheries has reduced many fish stocks and fish size; and
-        Impacts from climate change such as increased sea surface temperatures and ocean acidification strees the corals leading to widespread bleaching and other changes that impact the function of ecosystems.
Countries Respond To A Call To Action
To safeguard the marine and coastal resources within the Coral Triangle, the leaders of the countries within the boundaries-Indonesia, Malaysia, Papua New Gunea, Philippines, Solomon Islands, and Timor Leste- formed a multilateral partnership in 2007 and launched the Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) in 2009. CTI-CFF is managed through a Regional Secretariat based in Jakarta, Indonesia.
Together, the six Coral Triangle Initiative countries developed a 10-year Regional Plan of Action to implement CTI-CFF. This plan outlines joint priorities and commitments from each of the governments and identifies five goals:
1.  Strengthening management of seascapes
2.  Application of ecosystem approach to fisheries management;
3. Developing and strengthening the management of marine protected areas;
4. Implementing climate change adaption measures; and
5. Protecting threatened marine species.
Moving Forward
The trheats to the Coral Triangle are real and growing. However, through the collective actions of the CTI government, development partners, the private sector, and local communities, we hope to reach our goal to safeguard the marine and coastal resources for feature generations.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Syarif Cicip Sutarjo membuka SOM-CTI ke 7
SOM negara negara CTI ke 7 berlangsung tanggal 25-26 Oktober 2011 di Jakarta
Timor Leste salah satu negara anggota CTI yang hadir pada SOM ke 7 di Jakarta


Minggu, 23 Oktober 2011

Pantai Kuta-Bali Yang Makin Cantik Saja. Contoh Kasus; Tujuan dan Manfaat Dari Reklamasi Pantai

Pantai Kuta sudah lama dikenal sebagai destinasi utama pariwisata Bali. Di wilayah ini juga indikasi pertumbuhan ekonominya yang paling tinggi dibanding wilayah lainnya di Bali. Kini kawasan Kuta sudah menjadi wilayah global dunia. Berbagai kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan wisata, telah tumbuh dan setara dengan kota-kota wisata dunia lainnya. Pertokoan internasional, restoran internasional, perhotelan jaringan internasional, dan lainnya, semuanya ada di kawasan ini.
Namun kondisi pantai Kutanya sendiri mengalami abrasi yang kuat apalagi setelah dibangunnya bangunan pemecah ombak di sekitar bandara Ngurah Rai. Dalam hukum keseimbangan tentu ada akresi, akan ada pula abrasi. Padahal Pantai Kuta ini adalah ikon-nya pariwisata Bali. Pariwisata Bali tidak akan secemerlang sekarang kalau tanpa Pantai Kuta. Sehingga dipandang perlu untuk dilakukan reklamasi/pengurugan terhadap pantai tersebut.
Pada akhir 2008 dengan dana bantuan dari Jepang, pantai Kuta telah dilakukan reklamasi dengan pasir putih yang disedot dari sekitaran laut Nusa Dua dan Nusa Penida. Kini Pantai Kuta terlihat jauh lebih cantik dibanding sebelum reklamasi. Kontur pantai pasir putihnya tidak lagi berkontur curam tetapi sudah melandai dari batas pasir putih di daratan ke arah lautnya. Kemudian juga sudah tidak ada air laut yang menjorok ke arah darat yang dulunya terkikis oleh abrasi. Kini pantai Kuta menjadi lebih nyaman lagi bagi para wisatawan untuk menikmatinya.
Reklamasi pantai itu sendiri adalah kegiatan di tepi pantai yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumberdaya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan, atau drainase (Permen PU 40/2007).
Reklamasi juga mengandung pengertian mengusahakan agar suatu lahan yang tidak atau kurang berguna menjadi berguna kembali atau lebih berguna. Reklamasi umumnya terjadi di wilayah rawa, pantai dan laut (Soe-hood, 2004).
Dalam UU.No 27 tahun 2007 khususnya pasal 34 menjelaskan bahwa reklamasi ini dapat dilakukan jika manfaat sosial dan ekonomi yang diperoleh lebih besar dari biaya sosial ekonominya.
Tujuan dan manfaat reklamasi pantai yaitu, tujuannya adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kawasan baru tersebut, biasanya dimanfaatkan untuk kawasan pariwisata, permukiman, pertanian, perindustrian, bisnis, perkotaan, dan lainnya. Dalam teori perencanaan kota, reklamasi pantai merupakan salah satu pemekaran kota. Sedangkan manfaat reklamasi adalah dapat membantu kota dalam menyediakan lahan untuk berbagai keperluan pemekaran kota, penataan daerah pantai, pembangunan ekonomi, pengembangan wisata bahari, dan lainnya (Ditjen Sumberdaya Air-Kemen PU, 2011).
Pelaksanaan reklamasi pantai wajib menjaga dan memperhatikan beberapa hal, seperti keberlanjutan kehidupan dan penghidupan masyarakat; keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan pelestarian lingkungan pesisir; serta persyaratan teknis pengambila, pengerukan dan penimbunan material (Ditjen Sumberdaya Air-Kemen PU, 2011).
Arah kebijakan pengamanan pantai dilaksanakan dengan urutan prioritas sebagai berikut:
1.   Penanganan abrasi pantai yang mengancam jiwa dan prasarana umum (bangunan bernilai sosial-budaya tinggi, pusat kegiatan masyarakat, jalan raya, dll),
  2.Pengamanan banjir di kawasan pantai (coastal flooding) akibat kondisi curah hujan tinggi dan drainase buruk yang dikomplikasi oleh aktivitas badai dan pasang surut laut serta kenaikan muka air laut dan akibat jangka panjang dari tekanan penduduk,
3.  Stabilitas muara sungai dan saluran drainase yang langsung ke laut untuk mendukung lalu lintas pelayaran dan pengendalian banjir,
4.  Menjaga kedaulatan NKRI.
5.  Mendukung revitalisasi pantai.
(Ditjen Sumberdaya Air-Kemen PU, 2011).     
Pantai Kuta tahun 1984
Pantai Kuta tahun 1985
Pantai Kuta tahun 1986
Pantai Kuta tahun 1987
Pantai Kuta tahun 2001
Pantai Kuta 2006. Sudah Mengalami Abrasi
Pantai Kuta 2009. Sesaat setelah direklamasi
Pantai Kuta 2010. ketika banyak mendapat kiriman sampah
Pantai Kuta Oktober 2011, sudah direklamsi dan sudah dibersihkan, makin cantik

Sabtu, 22 Oktober 2011

Pantai Jimbaran, Bali; Tempat Santap yang Romantis

Pantai Jimbaran yang membentang dari Desa Kedonganan sampai Desa Jimbaran sudah dikenal sebagai tempat santap utamanya menu serba hasil laut. Meja kursi berderet deret berada persis di atas pasir di bibir pantai yang disediakan oleh ratusan cafe dan restoran yang ada disana. Tamu-tamu mulai berdatangan menjelang sunset tiba sampai tengah malam. Apabila anda datang pada hari weekend, dipastikan akan menemui kesulitan untuk memarkir kendaraan anda dan akan kesulitan mendapatkan meja di tempat strategis yang paling ujung mendekat ke laut. Jadi sebaiknya datanglah secara berombongan, tidak satu orang satu mobil dan datanglah lebih awal untuk mendapatkan tempat duduk yang ‘strategis’ itu.
Kami, saya dan teman datang pada Rabu (19/10/2011) menjelang sunset tiba, kami pilih salah satu cafe yang ada disana, kemudian milih meja yang betul betul berada dekat laut agar dapat menikmati sunset dan kalau sudah gelap dapat mendengarkan ritme deburan ombak. Baru kemudian kami memilih milih ikan, udang dan lainnya dan memilih menu masaknya sesuai selera. Tentu ikan-ikan disini segar-segar karena yang mensuplainya adalah para nelayan setempat. Kami pilih menu masaknya, ikan baronang dan ikan kerapu dengan dibakar, kepiting dimasak saus padang, cumi goreng kecap mentega dan udang dimasak goreng tepung untuk yang ukuran kecil, sedangkan yang ukuran besar, kami pilih untuk dimasak secara dibakar. Dan kami minta masakan-masakan ini disajikan ketika hari sudah gelap. Kami semua kembali ke meja untuk menikmati sunset yang akan tiba sambil mencicipi minuman yang kami pesan.
Seusai sunset berlalu dan hari sudah gelap, baru ami menikmati sajian utama untuk makan malam di pantai Jimbaran ini. Wah, makan malam kali ini makin berselera saja, rasanya semua yang terhidang adalah –semua enak, semua mengundang selera-. Mungkin makanan apapun akan terasa nikmat kalau menyantapnya dipinggir pantai seperi ini. Karena suasana temaram yang penuh damai dan suara debur ombak lautan Hindia yang menghipnotis perasaan ini. Suasana yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Kami sudah berulang datang ke tempat makan ini dan tidak pernah bosan-bosannya untuk menikmati masakan ikan serta suasana romantis Pantai Jimbaran ini. Dan kami dapat menarik simpul, bahwa soal rasa, hampir semua cafe dan restoran yang ada di Pantai Jimbaran memiliki rasa yang tidak jauh berbeda, semuanya enak dan mengundang selera, yang membedakannya hanyalah soal harga. Perbedaan harga di satu resto dengan lainnya bisa terpaut banyak. Saran saya, sebelum berkunjung ke salah satu cafe dan restoran untuk survey harga atau tanya teman yang pernah datang ke Jimbaran ini. Kami berlima membayar Rp1,3 juta.
Selamat menikmati..
Pantai Jimbaran, menjelang sunset dan makan malam
Sambil menyaksikan sunset, santap makin romantis
Santap malam sambil ditemani suara debur ombak, menambah selera
inilah menu santapan kami di Jimbaran
Penjual jagung bakar yang berada di sebelah tempat kami bersantap
Tengah malam ketika beranjak dari resto di Jimbaran


Rabu, 19 Oktober 2011

Fungsi dan Manfaat dari Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

EMPIRIS

§  Berdasarkan UU No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 9:
Rencana Zonasi berfungsi sebagai arahan pemanfaatan sumber daya di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota.

§  Berdasarkan Pedum Rencana Zonasi Prov dan Kab/Kota
Fungsi RZWP-3-K adalah untuk:
Ø  Acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Ø  Acuan dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
Ø  Acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
Ø  Acuan lokasi investasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil provinsi yang dilakukan pemerintah, masyarakat dan swasta
Ø  Dasar pengendalian pemanfaatan ruang dalam penataan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
Ø  Acuan dalam administrasi pemanfaatan WP3K;

Manfaat RZWP-3-K adalah untuk : 
a.      Mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya WP3K;
b.      Menjamin  harmonisasi  antara  kepentingan  pembangunan  ekonomi  dengan
pelestarian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil;
c.      Mewujudkan  keterpaduan  pembangunan  di  wilayah  pesisir  dan  pulau-pulau
kecil dengan wilayah daratannya; 
d.      Mewujudkan   keserasian   pembangunan   wilayah   kab/kota   dengan   wilayah
sekitarnya;


IMPLEMENTATIF
Fungsi dan Manfaat Rencana Zonasi:
Ø  Sebagai komplementer dari RTRW di daerah, yang menguraikan alokasi ruang di perairannya.
Ø  Mewujudkan keharmonisan dan sinergi pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil antar pemerintah daerah dan antar sektor terkait.
Ø  Meningkatkan investasi dan memberikan jaminan hukum bagi investasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
Ø  Meningkatkan peran masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil baik masyarakat adat, masyarakat lokal, maupun masyarakat tradisional.
Ø  Mengidentifikasi dan menetapkan prioritas bagi pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, misalnya untuk konservasi, industri terpadu, pariwisata bahari, transportasi laut maupun pertahanan keamanan.
Ø  Sebagai dasar untuk menyusun dan melaksanakan program-program pembangunan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Ø  Upaya penyelesaian sengketa yang menyangkut hak masyarakaat adat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
Ø  Memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Ø  Mencegah atau meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Ø  Menyediakan payung hukum di daerah bagi aturan-aturan mengenai adaptasi dan mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Nelayan Jimbaran Bali

Pagi-pagi sekali saya mendekat ke pantai Jimbaran yang pasir putihnya menghampar luas. Saya ingin bertemu nelayan-nelayan Jimbaran seusai melaut.
Pak Ketut dan Pak Wayan adalah dua nelayan dari 500-an nelayan yang berada di sekitar Pantai Jimbaran yang tersebar di dua desa, yaitu Desa Jimbaran dan Desa Kedonganan. Menurut Pak Ketut dan Pak Wayan menuturkan bahwa; nelayan-nelayan ini umumnya menggunakan perahu fiber berukuran 1,25 m x 6 m dengan mesin tempel berkekuatan 15 pk. Jaring / alat penangkap ikan yang digunakan tergantung musim ikan dan ikan target tangkapan. Ketika saya berkunjung (20/10/2011), nelayan-nelayan menggunakan jaring nilon yang berkuran mata jaring sebesar 2,5 inc dan panjang jaring sekitar 20 pis atau sekitar 1000 meter. Nilai perahu fiber Rp 15 juta, nilai mesin tempel made in Jepang Rp 20 juta, untuk jaring nilon sebanyak 20 pis, dibeli dengan harga Rp 10 juta. Total nilai perahu dan bermacam alat tangkapnya sekitar Rp 70 juta.
Pak Ketut dan Pak Wayan berangkat melaut kemarin sore sekitar jam 4 dan kembali mendarat pada pukul 7 pagi hari ini, atau kira-kira 15 jam melaut untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan sekitaran Pulau Nusa Penida atau daerah lainnya yang jaraknya sekitar 6 – 8 mil dari pantai. Biaya untuk bensin saja sekitar Rp 200.000 untuk sekali melaut atau sekitar 40 liter bensin yang dibutuhkan. Total biaya beserta lauk pauk sekitar Rp 250.000. satu perahu hanya satu nelayan. Waw, sendirian untuk membuang dan menarik jaring sejauh 1 km, bagaimana kalau terjadi apa-apa di tengah laut dengan si nelayan yang melaut sendirian itu? Menurur Pak Wayan; ‘tidak usah khawatir, karena di tengah laut itu sangat ramai. Jumlah nelayan dan perahu yang mencari ikan di tempat penangkapan ikan  (fishing ground) yang sama, jumlahnya ratusan. Tidak hanya dari nelayan Bali tetapi banyak juga nelayan dari Banguwangi dan daerah lainnya. Jadi suasananya seperti pasar malam. Nah, seandainya terjadi apa-apa, pasti ada teman nelayan lain yang akan membantunya’.
Hari ini memang air lautnya ‘putih’ (istilah nelayan setempat) untuk menjelaskan bahwa arus laut yang kuat, sehingga membahayakan untuk nelayan yang sedang melaut itu sendiri, namun untuk nelayan Pak Wayan, hasil yang didapat cukup lumayan, ikan yang didapat ada sekitar 50 kg yang terdiri dari tenggiri, bawal, tongkol, pari dan lainnya, yang dijual dengan harga bervariasi antara Rp 10.000 sampai Rp 40.000/kg-nya. Sedangkan untuk Pak Ketut, hari ini kurang menguntungkan, hanya dapat satu ekor ikan tenggiri seberat 5 kg yang dijual Rp 150.000. untuk nelayan Pak Ketut, hari ini ‘nombok’, mungkin besok akan mendapat lebih banyak ikan. Memang, usaha menangkap ikan itu penuh ketidak pastian, tetapi selama berusaha keras, pasti akan ada hasilnya; Pak Ketut dan Pak Wayan serta nelayan-nelayan lainnya tetap optimis tanpa keluh kesah dalam mengeluti pekerjaan sebagai nelayan yang penuh resiko ini.
Nelayan Jimbaran sedang beraksi
Jam 7 pagi, nelayan Jimbaran mendarat setelah semalaman beroperasi
Perahu nelayan Pak Wayan dari Jimbaran
Hasil menangkap ikan semalaman cukup lumayan
Hasil tangkapan Pak Ketut, hanya satu ekor ikan tenggiri

Sunset di Jimbaran Bali

Sore hari segera saya ke pantai Jimbaran dan saya mengambil kursi duduk yang persis menghadap laut di salah satu restoran yang ada disana. Saya dan banyak wisatawan lainnya menunggu sunset tiba sambil menikmati hidangan ringan yang kami pesan terlebih dahulu.
Saya biasa datang ke pantai Jimbaran ini pada malam hari, biasanya hanya untuk menikmati hidangan seafood di pantai ini. Jadi yang saya ketahui tentang pantai ini hanyalah sebagai tempat ‘makan enak’. Baru kali ini saya datang pada sore hari, sehingga saya dapat mengetahi keadaan pantai yang sesungguhnya. Saya-pun dapat menikmati pemandangan pasir putih yang menghampar mulai dari Desa Kedonganan sampai Desa Jimbaran. Sungguh indah dan menarik dan saya pikir pantai Jimbaran ini lebih bagus dari pantai Kuta, hanya saja pantai ini bertopografi –curam-, sehingga cukup berbahaya untuk aktifitas mandi dan berenang dan faktor itulah pantai ini menjadi kurang populer.
Jam 6 kurang, kami-kami sudah siap dengan kamera dan beberapa pasangan siap-siap menciptakan suasana romantis untuk menyambut datangnya sunset. Jam 6 lewat sedikit matahari mulai membulat berwarna merah temaram yang berada di atas batas garis laut. Kami wisatawan menikmati betul suasana dramatikal romantis ini, para pasangan muda berpelukan hangat dan para pemburu foto sibuk dengan kamera-kameranya. Sungguh indah dunia ini, sungguh Maha Besar Tuhan pencipta sekalian alam ini, saya sungguh takjub dengan pemandangan dan suasana damai yang tercipta kali ini. Berbeda dengan suasana yang selalu ‘gaduh’ di negeri ini.
Sayangnya sunset di Jimbaran ini, matahari bulatnya tidak terlihat menyentuh garis batas laut jauh diseberang sana. Tapi bagi saya yang penting adalah saya makin percaya akan kekuasaan Tuhan dan dapat menikmati suasana damai yang tercipta oleh sunset ini. Sungguh! 
Menunggu sunset di pantai Jimbaran Bali
Senja makin temaram, sunset makin mendekat
suasana romantis tercipta dari sunset
Sunset di Jimbaran Bali

Parasailing di Tanjung Benoa, Bali


Tanjung Benoa dikenal dengan pelabuhannya termasuk pelabuhan perikanan yang biasa digunakan mengekspor ikan tuna segar ke Jepang untuk dijadikan sashimi. Tanjung Benoa berada di selatan Nusa Dua dimana Tanjung Benoa dan Nusa Dua ini adalah bertengga dekat. Begitu sudah dekat dengan pantai tempat wisata bahari antara lain parasailing, banana boat, perahu catamaran dan lainnya, kita akan dipungut jasa kebersihan dan keamanan oleh penduduk setempat sebesar Rp 5000 per mobil.
Kesan pertama kami masuk komplek wisata bahari tersebut adalah kesederhanaan tempatnya. Pasir putihnya dibiarkan seadanya tanpa pembersihan tanpa perawatan dan warung-warung minuman ringan yang menyatu dengan tempat parkir tidk ditampilkan dengan penuh gaya. Kemudia, begitu duduk di warung yang tersedia, kita akan didatangi oleh beberapa perempuan paruh baya yang menawarkan aneka permainan air yang ada di Tanjung Benoa ini. Saya menarik kesimpulan, ternyata yang pemilik para sailing, banana boat, jet sky dan lainnya adalah terdiri dari beberapa orang tidak hanya dimiliki oleh satu dua orang saja. Baguslah kalau begitu, yang artinya lebih banyak orang menikmati berkah dari turisme Bali ini. Di pantainya terlihat banyak turis bule, jepang, china dan sebagainya yang sedang menikmati aneka permainan wisata bahari yang tersedia disana. Terutama turis-turis muda, mereka kelihatannya amat menikmati suasa tersebut.
Saya pilih untuk mencoba parasailing. Parasailing adalah parasut raksasa yang ditarik speedboat. Dua tali besar diikatkan ke tubuh kita.lalu simpul di atas kepala dihubungkan dengan tali ke speedboat untuk menariknya. Ketika speedboat bergerak yang berjarak 75 meter dari parasut, maka mengembanglah parasut kami dan melambung perlahan sampai kira-kira mencapai ketinggian parasut sekitar 2 kali tinggi pohon kelapa atau seitar 60 meter. Ketika parasut tempat saya bergantung bergerak naik, dan jantung ini seketika berdetak kencang sepertinya mau copot saja., badan gemetaran, kaki yang memang bergantung dan terasa dingin. Namun untungnya adalah saya dapat menikmati pemandangan spektakuler dari jarak 60 meter diatas permukaan laut. Waw, sangat menakjubkan!  Saya dengan parasut ditarik sebanyak 2 putaran atau sekitar 10 menit. Dan sepertinya sudah sangat pas cukupnya. Kalau lebih dari itu, mungkin yang timbul adalah ketakutan, dan akan menghapus kesenangan yang tadi timbul. Saya merasaka kepuasan yang tidak biasanya dengan menaiki parasailing ini. Tapi bagi yang berpenyakit jantung atau yang takut akan ketinggian, saya tidak merekomendasikannya. Hanya dengan membayar Rp 100.000 untuk satu kali ‘terbang’, saya kira kita tidak merasa rugi, karena kepuasan yang didapat lebih dari itu.
Persiapan untuk terbang Parasailing
Begitu boat bergerak, parasut langsung berkembang
terbang mengangkasa, kenikmatan mulai terasa
Luar biasa nikmatnya terbang dengan parasut
Dua kali putaran = Rp 100 ribu.


Senin, 17 Oktober 2011

Pengelolaan Air di DAS Cidanau Banten

Keberadaan DAS Cidanau sangat strategis bagi masyarakan dan kegiatan industri di Serang dan Kota Cilegon. DAS Cidanau merupakan pensuplai utama akan kebutuhan air di wilayah tersebut. Wilayah DAS Cidanau seluas 22.620 Ha yang berada di Kab Serang dan Kab Pandeglang. Dimana DAS ini dibatasi oleh Gunung Tukung Gede, Saragean, Gunung Pule, Gunung Karang, Gunung Sangkur, Gunung Aseupan, G Condong dan laut Selat Sunda. Secara umumkeadaan topografi DAS Cidanau berbentuk seperti cawan terbuka, dimana pada bagian tengahnya terhampar dataran (flat) yang begitu luas dengan dikelilingi oleh bukit-bukit curam. Menurut beberapa petugas Kementrian Kehutanan: DAS Cidanau adalah kaldera dari Gunung Berapi Purba. Kami memandang hamparan itu dari puncak G Tukung Gede di desa Luwuk, Kec Gunung Sari, Kab Serang. Dimana disini pula terdapat sebuah pos jaga.
Hal yang menarik adalah bagaimana mempertahankan fungsi DAS secara bersama-sama dengan para user air (industri) dan masyarakat di sekitaran DAS berada. Dari 22.620 Ha luasan DAS Cidanau, hanya 2500 Ha saja yang merupakan Hutan Cagar Alam, sedangkan sisanya adalah lahan milik masyarakat. Berarti kondisi tersebut merupakan tantangan: bagaimana dapat mempertahankan fungsi DAS pada lahan milik masyarakat. Idealnya sih adalah secara keseluruhan lahan DAS merupakan hutan lindung yang berbentuk hutan suaka atau hutan konservasi.
Setelah melalui waktu yang tidak sedikit, melalui serangkaian pertemuan, sosialisasi dll, lahirlah kesepakatan bersama dalam upaya pelestarian, penanganan dan pengelolaan Cagar Alam Rawa Danau dan konsep kelembagaan pengelola DAS Cidanau yang didasarkan kepada keterpaduan dan keberlanjutan pengelolaan (integrated and sustainable development). Lembaga pengelola bersama DAS Cidanau itu adalah Forum Komunikasi DAS Cidanau (FKDC). Dimana anggota dari FKDC ini terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, LSM dan tentu masyarakat setempat itu sendiri. Bahkan unsur masyarakatnya inilah yang paling besar mendapat porsi suara.
Secara gamblangnya bagaimana pengelolaan DAS Cidanau ini dengan melibatkan peran masyarakatnya adalah melalui pemberian insentif kepada masyarakat yang memiliki lahan dengan minimal berisi 500 batang pohon keras diluar pohon albasia per hektarnya. Insentif ini sebesar Rp 1,7 juta/ha/th. Lahan yang sudah diberi insentif masih boleh dimanfaatkan untuk yang lain seperti tanaman tumppang sari dll, yang penting tidak mengganggu fungsi utama lahan di suatu DAS yaitu sebagai catchment area. Dana yang diberikan kepada masyarakat anggota FKDC adalah dari pihak user air DAS Cidanau yaitu PT Krakatau Tirta Industri (PT KTI) yang merupakan anak perusahaan PT Krakatau Steel. Air yang ditampung oleh pihak PT KTI akan disalurkan kepada pabrik pabrik yang berada di sekitar Cilegon dan sebagian Serang, juga dialirkan kepada perusahaan air minum setempat.
Saat ini sudah ada 10 kelompok sebagai anggota FKDC, dimana tiap kelompok terdiri dari 40 – 50 petani anggota. Struktur kepemilikan lahan oleh ppara petani tersebut adalah 0,3 – 05 Ha/KK.
Alasan kenapa tatacara pemungutan dan penyaluran dana dari user ke masyarakat dilakukan seperti itu? Karena belum ada aturan untuk pengelolaan restribusi atau apapun namanya bagi jasa lingkungan. Sudah ada payung hukumnya yaitu Undang-Undang no 7 tahun 2009 tentang Pengelolaan lingkungan Hidup, tetapi belum ada PP nya apalagi juknis dan juklaknya sebagai operasionalisasi dari undang-undang itu.
Nusantara ini banyak sekali jasa lingkungan yang dapat dipetik manfaat bagi masyarakat sekitarnya, contoh lainnya adalah penyelaman di taman terumbu karang laut (dive site) di berbagai daerah yang masih gratis. Bagaimana kalau dikelo seperti di DAS Cidanau, setuju?

 Hamparan Terbuka
di Tengah DAS Cidanau (22.600 ha)
Serang-Banten

Pak Harani
Salah Satu Anggota FKDC

Cagar Alam G Tukung Gede
seluas 2500ha dari 22.620 ha
luasan DAS Cidanau