Minggu, 02 Oktober 2011

Damai-Damailah Ambon

Kota Ambon yang beberapa minggu lalu (11/09/2011) sempat terguncang kerusuhan yang sebenarnya kecil saja dan tidak perlu, kini sudah normal kembali. Walaupun saya lihat (01/10/2011) di beberapa tempat masih dijaga oleh anggota Kepolisian atau TNI. Kerusuhan tanggal itu hanya dipicu oleh isyu yang sama sekali tidak benar. Tetapi karena kondisi sosial ekonomi masyarakat yang lemah, mungkin karena tekanan ekonomi dan secara sosial kurang mendapat perhatian, sehingga mendengar isyu kecil saja, akan ditanggapi dengan emosional yang tidak saja secara pribadi tetapi juga melibatkan massa secara komunal. Kita tahu secara teori faktor penyebab terjadinya konflik, yaitu:
-        Ada isyu kritikal yang menjadi perhatian bersama (commonly problematized) dari pihak berbeda kepentingan,
-        Ada inkompatabilitas harapan atau menjadi yang bersangkut paut dengan objek perhatian bersama,
-        Ada isyu, rumor, hasutan, fitnah sebagai inisiasi konflik,
-        Ada kompetisi dan ketegangan psikososial yang terus melekat di kedua pihak.
Kerusuhan Ambon terpicu oleh kejadian antar individu, namun individu-individu tersebut terikat oleh agama, status, bahasa, dan ekonomi. Karena hal-hal yang mengikat tersebutlah menumbuhkan solidaritas kelompoknya. Menjadilah kerusuhan kelompok/komunal. Apalagi memang konflik di Ambon sudah menjadi konflik laten akibat kerusuhan tahun 1999. Konflik laten adalah pertentangan yang tertutup yang belum mencuat. Namun saya yakin bahwa konflik Ambon bukanlah konflik agama (religious conflict), karena masing-masing kelompok hanya didasarkan identitas yang sama, bukan karena masing-masing pihak mempertahankan prinsip ajaran masing-masing agamanya. Sah-sah saja kalau ada yang berpendapat bahwa dengan kerusuhan itu, kekuatan agama, adat, moral pada masing-masing pihak sudah  terabaikan.
Bibit konflik memang sudah ada ditambah dengan kondisi sosial ekonomi yang kurang baik, baik itu perihal keberpihakan maupun kesenjangan. Seandainya masyarakat sudah memiliki kekuatan ekonomi, mana mungkin mereka akan mempertaruhkan kehidupannya yang telah nyaman untuk hal-hal sepele dan akan berakibat kepada hilangnya nyawa mereka sendiri.
Untungnya kejadian kerusuhan kemarin dapat cepat diantisipasi oleh tokoh masyarakat, pemerintahan, dan aparat keamanan, sehingga tidak merembet menjadi skala yang lebih luas.  
Kini secara umum masyarakat Ambon telah menyadari bahwa tidak ada untungnya dengan adanya kejadian kerusuhan atau konflik massa sekecil apapun. Toch, yang akan susah adalah warga masyarakat biasa yang tidak tahu menahu tentang kejadian kerusuhan atau konflik tersebut. Itu seperti apa yang dituturkan oleh Sdri Nefi, salah seorang PNS biasa dari kampung Pohon Mangga di Air Salobar,  yang Muslim dimana kini apabila mau ke kantornya di kota dan harus melewati beberapa pemukiman warga Kristen, karena masih ada kecurigaan kecil, maka dia pilih naik speed lewat laut dimana sekali jalan harus bayar Rp 10 rb, sedang sebelum kerusuhan, dia biasa naik angkutan dengan ongkos Rp 1500,- saja. Itu pun dilakukan dengan membawa teman atau keluarga untuk mendampinginya. Contoh lain Pasar Amans yang pedagangnya kebanyakan orang Muslim kini sepi karena ibu-ibu Kristen belum mau belanja disitu. Begitu juga terjadi sebalikanya di pasar Batumeja yang pasarnya orang Kristen, kini orang muslim belum mau datang kesitu. Beni supir taxi bandara yang beragama Kristen, kini harus termenung lesu karena tidak setiap hari dapat tarikan. Sekarang kedatangan penumpang jumlahnya menurun, sudah begitu, penumpang warga Ambon, sebelum naik mobilnya, dia lihat-lihat dulu apakah sopir mobil yang akan dinaikinya beragama sama dengannya. Jelas, akibat konflik itu, orang-orang kecil dan orang yang tidak tahu apa-apa serta masyarakat luas-lah  yang terbawa jadi susah. Warga Ambon kini menjadi terbelenggu oleh stress sosial, kepedihan, disintegrasi sosial dan kerugian material. Selain itu juga terjadi dekapitalisasi modal sosial, yaitu;
-        Hilangnya trust diantara pihak yang bertikai,
-        Rusaknya silaturahmi, dan
-        Hilangnya compliance norma dan tatanan sosial seperti pela gandong.
Sejatinya, sudah sejak lama masyarakat Ambon atau Maluku hidup dalam harmoni dan damai. Kenapa itu dikorbankan untuk hal yang tidak perlu. Pengertian dan kekuatan hidup egaliter serta damai perlu ditumbuh kembangkan di masyarakat Maluku, sehingga tidak mudah lagi tersulut oleh isyu sepele yang tidak jelas kebenarannya.  Tidak ada untungnya dengan berkonflik malah semua menjadi susah. Hidup sudah susah jangan ditambah susah lagi. Kita tinggalkan ego kelompok, kita bangun bersama Maluku yang permai ini. Kita kerja keras baku bae untuk meningkatkan martabat dan ekonomi masyarakat Maluku. Maluku adalah tanah pusaka, damai-damailah 
Atas Kebersamaan Semua Pihak, Ambon Cepat Normal Kembali
Suasana Pasar Amans
Jalan Pertiwi di Kota Ambon yang Masih Sepi
Pemuda, Jusuf Kalla, Masyarakat, dll Mendorong Kedamaian 'Abadi' di Ambon

Tidak ada komentar:

Posting Komentar