Senin, 17 Oktober 2011

Mengunjungi Gedung ‘Lawang Sewu’ di Semarang

Ada keinginan kuat untuk mengunjungi gedung ini setelah berkali-kali kami melewatinya dari arah depan. Kami tertarik karena tampilan gedung monumental Lawang Sewu ini kini terlihat berbinar cantik, berbeda dengan tampilan sebelum-sebelumnya yang lebih mengesankan keangkeran dan kekusaman.
Kami berkesempatan mengunjunginya pada jumat 05 Agustus 2011. Kami masuk melalui pintu masuk yang telah disediakan yaitu dari samping kiri gedung Lawang Sewu sejajar dengan kali yang ada disitu. Kami membeli karcis masuk terlebih dahulu seharga Rp 10.000. kemudian kami telusuri sudut-sudut dari gedung ini. Begitu memasuki area di alam Lawang sewu ini, decak kagumpun segera meluncur tak terbendung: ‘indah sekali’.
Saat ini Lawang Sewu sedang dalam tahap renovasi yang dilakukan oleh pemiliknya PT Kereta Api Indonesia. Dan mungkin perlu waktu untuk menyelesaikannya, karena luasnya (1,8 Ha) area Lawang Sewu serta banyak detail-detail yang perlu diperbaiki. Lawang Sewu dibangun oleh Prof  Klinkkaner dan Quendaag pada tahun 1907 sebagai Kantor Pusat Nederlands Indische Spooweg Maatschappij (NIS) atau perusahaan kereta apinya pada jaman Belanda dahulu.
Komplek Lawang Sewu terdiri dari 4 gedung, yaitu: (1) gedung utama, yaitu gedung paling depan dimana berbagai tampilan foto-foto tentang Lawang Sewu, dipastikan adalah foto gedung utama ini yang diambil dari arah jalan di depan gedung ini. Gedung utama ini dahulunya digunakan untuk berkantornya para petinggi NIS. Bagian gedung ini adalah gedung paling mewah dibandingkan dengan gedung-gedung lainnya. (2). Gedung arsip. Kalau kita masuk komplek Lawang Sewu dari pintu masuk yang disediakan, pasti begitu masuk yang ada di hadapan kita adalah gedung ini. Gedung ini dahulunya dipergunakan sebagai tempat penyimpanan arsip, maka tidak heran kalau ada yang mengatakan bahwa ini adalah gedung arsip. Dan konon katanya, gedung ini adalah yang pertama kali dibangun sebelum komplek Lawang Sewu dibangun secara keseluruhan. (3). Gedung para pegawai NIS. Gedung in paling besar dari keseluruhan yang terdiri dari dua lantai. Pada lantai ke 2 disitu banyak pintu masuk ruangan yang berderet-deret. Jadi Lawang Sewu atau seribu pintu yang aslinya adalah mengambil sinonim dari gedung ke tiga ini. Secara keseluran gedungnya masih kokoh, hanya beberapa bagian dari pintu, jendela dan kaca-kacanya sudah hilang. Apalagi soal kunci atau grendel pintu, sudah tidak tersisa lagi. Kaca jendela yang aslinya kacanya tidak begitu transparan atau clear tetapi agak bergelombang guram. Walaupun begitu, justru hal seperti itu menyiratkan keunikan tersendiri. Wastafel yang tersisa tinggal dua buah dengan kondisi sudah rusak parah dan ada unit urinoir yang ukurannya besar-besar dan itu juga sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Di dalam gedung ke tiga ini terdapat ruangan bawah tanah (dimana banyak orang yang mengira bahwa ini adalah terowongan menuju luar komplek Lawang Sewu) yang berfungsi sebagai pengaturan air dan udara. Dahulu komplek Lawang Sewu berada di daerah banjir sehingga diperlukan adanya sistem pengaira yang baik kemudian juga Semarang dikenal dengan daerah panas dan lembab, maka untuk pengaturan sirkulasi udara agar terasa lebih adem dibuatlah sistem pengatura udara yang menyedot dari ruang bawah tanah melalui pipa-pipa besi ke ruangan-ruangan tertentu. Di gedung ini pula, kita bisa melihat para-para atau ruangan yang berada di atas plapon dan dibawah atap gedung. Saya melihat kayu-kayu jati yang besar-besar dan masih sangat kuatnya saling berpadu untuk menyangga beratnya atap gedung ini. Dan (4) gedung percetakan karcis. Gedung ini dahulunya digunakan sebagai tempat karcis kereta api dicetak.
Kekaguman saya semakin menjadi setelah menyaksikan blueprint pembangunan Lawang Sewu. Ada gambar struktur pondasi, ada gambar struktur wuwungan, ada gambar sistem pengairan dll, yang begitu detil. Bukan main arsitek yang membangun gedung Lawang Sewu ini. Dan lebih kagum lagi bahwa blueprint-blueprint ini masih lengkap diarsipkan dan disimpan di Belanda. Dan jangan lupa gedung semegah dan seluas ini adalah untuk menampung 300-an karyawan NIS. Betapa nyamannya kerja di gedung ini.
Saya kagum dengan gedung ini, bagaimana tidak? Dahulu Belanda membangun gedung megah ini hanya untuk sebuah perusahaan kereta api, hanya untuk infrastruktur penunjang. Itu kan artinya bahwa negara ini kaya raya. Untuk mengangkut hasil bumi saja, perlu dibuatkan gedung semegah ini, jadi tentunya nilai kekayaan hasil buminya itu sendiri –besar- sekali. 
Lawang Sewu yang Tambah Cantik
Lawang sewu tampak depan
Lawang Sewu dari dalam
Bagian Dalam dari Lawang Sewu
Pintu Utama dari Lawang Sewu
Handle Pintu yang Tersisa di Lawang Sewu

1 komentar:

  1. Wisata di Lawang Sewu Semarang bener2 menyeramkan gan., bikin buku kuduk tegang mullu.

    BalasHapus