Rabu, 19 Oktober 2011

Nelayan Jimbaran Bali

Pagi-pagi sekali saya mendekat ke pantai Jimbaran yang pasir putihnya menghampar luas. Saya ingin bertemu nelayan-nelayan Jimbaran seusai melaut.
Pak Ketut dan Pak Wayan adalah dua nelayan dari 500-an nelayan yang berada di sekitar Pantai Jimbaran yang tersebar di dua desa, yaitu Desa Jimbaran dan Desa Kedonganan. Menurut Pak Ketut dan Pak Wayan menuturkan bahwa; nelayan-nelayan ini umumnya menggunakan perahu fiber berukuran 1,25 m x 6 m dengan mesin tempel berkekuatan 15 pk. Jaring / alat penangkap ikan yang digunakan tergantung musim ikan dan ikan target tangkapan. Ketika saya berkunjung (20/10/2011), nelayan-nelayan menggunakan jaring nilon yang berkuran mata jaring sebesar 2,5 inc dan panjang jaring sekitar 20 pis atau sekitar 1000 meter. Nilai perahu fiber Rp 15 juta, nilai mesin tempel made in Jepang Rp 20 juta, untuk jaring nilon sebanyak 20 pis, dibeli dengan harga Rp 10 juta. Total nilai perahu dan bermacam alat tangkapnya sekitar Rp 70 juta.
Pak Ketut dan Pak Wayan berangkat melaut kemarin sore sekitar jam 4 dan kembali mendarat pada pukul 7 pagi hari ini, atau kira-kira 15 jam melaut untuk menangkap ikan. Daerah penangkapan ikan sekitaran Pulau Nusa Penida atau daerah lainnya yang jaraknya sekitar 6 – 8 mil dari pantai. Biaya untuk bensin saja sekitar Rp 200.000 untuk sekali melaut atau sekitar 40 liter bensin yang dibutuhkan. Total biaya beserta lauk pauk sekitar Rp 250.000. satu perahu hanya satu nelayan. Waw, sendirian untuk membuang dan menarik jaring sejauh 1 km, bagaimana kalau terjadi apa-apa di tengah laut dengan si nelayan yang melaut sendirian itu? Menurur Pak Wayan; ‘tidak usah khawatir, karena di tengah laut itu sangat ramai. Jumlah nelayan dan perahu yang mencari ikan di tempat penangkapan ikan  (fishing ground) yang sama, jumlahnya ratusan. Tidak hanya dari nelayan Bali tetapi banyak juga nelayan dari Banguwangi dan daerah lainnya. Jadi suasananya seperti pasar malam. Nah, seandainya terjadi apa-apa, pasti ada teman nelayan lain yang akan membantunya’.
Hari ini memang air lautnya ‘putih’ (istilah nelayan setempat) untuk menjelaskan bahwa arus laut yang kuat, sehingga membahayakan untuk nelayan yang sedang melaut itu sendiri, namun untuk nelayan Pak Wayan, hasil yang didapat cukup lumayan, ikan yang didapat ada sekitar 50 kg yang terdiri dari tenggiri, bawal, tongkol, pari dan lainnya, yang dijual dengan harga bervariasi antara Rp 10.000 sampai Rp 40.000/kg-nya. Sedangkan untuk Pak Ketut, hari ini kurang menguntungkan, hanya dapat satu ekor ikan tenggiri seberat 5 kg yang dijual Rp 150.000. untuk nelayan Pak Ketut, hari ini ‘nombok’, mungkin besok akan mendapat lebih banyak ikan. Memang, usaha menangkap ikan itu penuh ketidak pastian, tetapi selama berusaha keras, pasti akan ada hasilnya; Pak Ketut dan Pak Wayan serta nelayan-nelayan lainnya tetap optimis tanpa keluh kesah dalam mengeluti pekerjaan sebagai nelayan yang penuh resiko ini.
Nelayan Jimbaran sedang beraksi
Jam 7 pagi, nelayan Jimbaran mendarat setelah semalaman beroperasi
Perahu nelayan Pak Wayan dari Jimbaran
Hasil menangkap ikan semalaman cukup lumayan
Hasil tangkapan Pak Ketut, hanya satu ekor ikan tenggiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar