Rabu, 19 Oktober 2011

Parasailing di Tanjung Benoa, Bali


Tanjung Benoa dikenal dengan pelabuhannya termasuk pelabuhan perikanan yang biasa digunakan mengekspor ikan tuna segar ke Jepang untuk dijadikan sashimi. Tanjung Benoa berada di selatan Nusa Dua dimana Tanjung Benoa dan Nusa Dua ini adalah bertengga dekat. Begitu sudah dekat dengan pantai tempat wisata bahari antara lain parasailing, banana boat, perahu catamaran dan lainnya, kita akan dipungut jasa kebersihan dan keamanan oleh penduduk setempat sebesar Rp 5000 per mobil.
Kesan pertama kami masuk komplek wisata bahari tersebut adalah kesederhanaan tempatnya. Pasir putihnya dibiarkan seadanya tanpa pembersihan tanpa perawatan dan warung-warung minuman ringan yang menyatu dengan tempat parkir tidk ditampilkan dengan penuh gaya. Kemudia, begitu duduk di warung yang tersedia, kita akan didatangi oleh beberapa perempuan paruh baya yang menawarkan aneka permainan air yang ada di Tanjung Benoa ini. Saya menarik kesimpulan, ternyata yang pemilik para sailing, banana boat, jet sky dan lainnya adalah terdiri dari beberapa orang tidak hanya dimiliki oleh satu dua orang saja. Baguslah kalau begitu, yang artinya lebih banyak orang menikmati berkah dari turisme Bali ini. Di pantainya terlihat banyak turis bule, jepang, china dan sebagainya yang sedang menikmati aneka permainan wisata bahari yang tersedia disana. Terutama turis-turis muda, mereka kelihatannya amat menikmati suasa tersebut.
Saya pilih untuk mencoba parasailing. Parasailing adalah parasut raksasa yang ditarik speedboat. Dua tali besar diikatkan ke tubuh kita.lalu simpul di atas kepala dihubungkan dengan tali ke speedboat untuk menariknya. Ketika speedboat bergerak yang berjarak 75 meter dari parasut, maka mengembanglah parasut kami dan melambung perlahan sampai kira-kira mencapai ketinggian parasut sekitar 2 kali tinggi pohon kelapa atau seitar 60 meter. Ketika parasut tempat saya bergantung bergerak naik, dan jantung ini seketika berdetak kencang sepertinya mau copot saja., badan gemetaran, kaki yang memang bergantung dan terasa dingin. Namun untungnya adalah saya dapat menikmati pemandangan spektakuler dari jarak 60 meter diatas permukaan laut. Waw, sangat menakjubkan!  Saya dengan parasut ditarik sebanyak 2 putaran atau sekitar 10 menit. Dan sepertinya sudah sangat pas cukupnya. Kalau lebih dari itu, mungkin yang timbul adalah ketakutan, dan akan menghapus kesenangan yang tadi timbul. Saya merasaka kepuasan yang tidak biasanya dengan menaiki parasailing ini. Tapi bagi yang berpenyakit jantung atau yang takut akan ketinggian, saya tidak merekomendasikannya. Hanya dengan membayar Rp 100.000 untuk satu kali ‘terbang’, saya kira kita tidak merasa rugi, karena kepuasan yang didapat lebih dari itu.
Persiapan untuk terbang Parasailing
Begitu boat bergerak, parasut langsung berkembang
terbang mengangkasa, kenikmatan mulai terasa
Luar biasa nikmatnya terbang dengan parasut
Dua kali putaran = Rp 100 ribu.


2 komentar: