Minggu, 16 Oktober 2011

Wisata Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat

Sebelum jauh, kita mesti membedakan dulu, apa yang disebut waduk dan apa yang disebut danau. Waduk dan danau sama sama memiliki fungsi sebagai penampung air. Yang membedakannya adalah; kalau waduk itu merupakan buatan manusia sedangkan danau terbentuk secara alami.
Waduk Jatiluhur terletak di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dibangun pada tahun 1957 memiliki luas 8300ha yang dapat mengairi irigasi persawahan di Purwakarta, Subang, Karawang, Indramayu, dan Bekasi seluar 242.000 ha, dan dapat meningkatkan prekuensi panen padi dari 2 kali setahun menjadi 3 kali setahun serta sebagai pembangkit tenaga listrik sebanyak 1000 juta kwh/tahun. Dan kini fungsi dari Waduk Jatiluhur menjadi bertambah, yaitu sebagai pensuplai air untuk keperluan industri dan air minum. Seiring dengan makin berkembangnya kawasan industri yang berada di wilayah kerja Waduk Jatiluhur. Malah banyak sawah-sawah yang mendapat pengairan dari Waduk ini, kini sudah berubah menjadi pemukiman dan daerah industri.
Selain itu yang tidak kalah potensinya adalah pariwisata dan perikanan. Cuma kalau untuk perikanan keramba jaring apung harus ada penataan ulang, jangan sampai jumlah petakan jaring apung yang ada melebihi kapasitas daya dukung lingkungan dari fisik bangunan waduknya dan kualitas airnya itu sendiri. Idealnya jumlah petakan yang ada tidak melebihi 12000 unit, namun saat ini jumlah petakan itu sudah jauh melampaui angka tersebut yaitu sekitar 50.000-an unit. Kekhawatiran akan muncul dengan jumlah petakan jaring apung yang tinggi, yaitu bisa mengakibatkan percepatan sedimentasi, mempengaruhi umur/masa pakai turbin pembangkit tenaga listrik karena korosi, dan memperburuk kualitas air itu sendiri yang mana tingkat cemarannya akan meningkat. Kalau untuk pariwisatanya memang ini yang harus dikembangkan lebih cepat lagi. Selain memiliki potensi alamnya yang cukup bagus juga tidak kalah adalah potensi budaya masyarakat sekitar.
Dari dulu sampai saat ini, wisata yang ada hanyalah wisata air, hanya saja ada penambahan wisata air di Waters World, lainnya hampir sama, yaitu wisata perahu.
Wisata lain yang dapat dikembangkan adalah wisata kuliner dengan dibangunnya restoran yang refresentatif dengan menu khas. Saat ini untuk wisata kuliner, hampir semuanya disajikan di warung-warung sederhana dimana kebersihan dan kenyamanannya kurang memenuhi standar pariwisata.  Wisata lain yang dapat dijual dan dikemas untuk setiap pagi hari pada hari libur adalah wisata lintas alam. Contoh yang cukup berhasil untuk wisata ini adalah di Gunung Mas Puncak dan di Taman Safari, Bogor.
Tantangan utama pengembangan wisata di Waduk Jatiluhur adalah faktor suhu udara. Suhu udara di sekitar waduk mencapai 36 derajat C (Minggu 16/10/2011), sehingga pengunjungpun tidak betah berlama-lama disana. Itupun pengunjungnya hanya ada beberapa orang saja, tidak sampai 100 orang, hal itu terlihat dari sedikitnya kendaraan yang diparkir di tempat wisata ini (16/10/11). Langkah yang paling rasional untuk mengakali masalah suhu panas ini adalah perbanyak pohon-pohon peneduh, terutama di ‘pantai’ sekitaran titik-titik pariwisata waduk. Saat ini sangat kurang jumlah pohon peneduh di sekitaran poin wisata perahu/ tempat wisata utama Jatiluhur, sangat kurang. Kalau banyak pohon peneduh para pengunjung bisa memandang permainya waduk sambil leyeh-leyeh dengan nyamannya.  
Akses Menuju Waduk Jatiluhur, -Bagus-
Sisingaan, Ngarak Penganten Sunat: Budaya Masyarakat Jatiluhur
Minimnya Pengunjung karena Faktor Udara Panas
Wisata Kuliner Waduk Jatiluhur: Ikan Jambal Goreng
Perikanan Keramba Jaring Apung yang Perlu Ditata Ulang Secara Ketat
Wisata Perahu di Waduk Jatiluhur tahun 1995
Wisata Perahu di Waduk Jatiluhur Oktober 2011
Pengunjung Kesulitan Mencari Tempat Teduh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar