Kamis, 03 November 2011

ANALISIS ASSESSMENT KAWASAN MINAPOLITAN

Dalam melakukan assessment kawasan minapolitan beberapa metode antara lain adalah analisis scalogram, analisis keunggulan komparatif wilayah, analisis keunggulan kompetitif wilayah dan analisis keterkaitan antar wilayah.
1.        Analisis Scalogram
Alat analisis scalogram membahas mengenai fasilitas perkotaan yang dimiliki suatu daerah sebagai indikator difungsikannya daerah tersebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan. Tujuan digunakannya analisis ini adalah untuk mengidentifikasi kota-kota yang dapat dikelompokkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan berdasarkan pada fasilitas kota yang tersedia (Blakely, 1994: 94-99).
Analisis scalogram mengelompokkan klasifikasi kota berdasarkan tiga komponen fasilitas dasar yang dimilikinya yaitu :
a.      Differentiation
Adalah fasilitas yang berkaitan dengan aktifitas ekonomi. Fasilitas ini menunjukkan bahwa adanya struktur kegiatan ekonomi lingkungan yang kompleks, jumlah dan tipe fasilitas komersial akan menunjukkan derajat ekonomi kawasan/kota dan kemungkinan akan menarik sebagai tempat tinggal dan bekerja.
b.      Solidarity
Adalah fasilitas yang berkaitan dengan aktifitas social. Fasilitas ini menunjukkan tingkat kegiatan social dari kawasan/kota. Fasilitas tersebut dimungkinkan tidak seratus persen merupakan kegiatan social namun pengelompokkan tersebut masih dimungkinkan jika fungsi sosialnya relative lebih besar dibandingkan sebagai kegiatan usaha yang berorientasi pada keuntungan (benefit oriented).
c.       Centrality
Adalah fasilitas yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi-politik/pemerintahan. Fasilitas ini menunjukkan bagaimana hubungan dari masyarakat dalam sistem kota/komunitas. Sentralitas ini diukur melalui perkembangan hierarki dari insitusi sipil, misalnya kantor pos, sekolahan, kantor pemerintahan dan sejenisnya.
Menurut Blakely (1994: 96-98) pemberian skor untuk setiap fasilitas dari masing-masing fasilitas perkotaan (fasilitas ekonomi, social dan fasilitas ekonomi-politik/pemerintahan) diberi nilai 1 (satu) tanpa ada pembagian, perbedaannya dengan analisis ini adalah pada pemberian skor dan pembagian kelas yang disesuaikan dengan skala pelayanan, tingkat kepentingan, jumlah tenaga kerja, spesifikasi dan lain-lain dari fasilitas perkotaan yang dimiliki.

2.        Analisis keunggulan komparatif wilayah (Local Quotient/LQ)
Analisis LQ merupakan metode untuk mengukur keunggulan komparatif wilayah. LQ merupakan suatu indeks untuk membandingkan pangsa sub wilayah dalam aktifitas tertentu dengan pangsa total aktifitas wilayah. Secara lebih operasional, LQ didefinisikan sebagai rasio persentase dari total aktifitas pada sub wilayah ke-i terhadap persentase aktifitas total terhadap wilayah yang diamati. Persamaan dari LQ ini adalah :

LQij = Xij / Xi.
                                                                 X.j / X..

Dimana :
Xij    = derajat aktifitas ke-j di wilayah ke-i
Xi.      = total aktifitas di wilayah ke-i
X.j    = total aktifitas ke-j di semua wilayah
X..     = derajat aktifitas total wilayah

Untuk dapat menginterpretasikan hasil analisis LQ adalah sebagai berikut :
·          Jika nilai LQij > 1, maka hal ini menunjukkan terjadinya konsentrasi suatu aktifitas di sub wilayah ke-i secara relatif dibandingkan dengan total wilayah atau terjadi pemusatan aktifitas di sub wilayah ke-i.
·         Jika nilai LQij = 1, maka sub wilayah ke-i tersebut mempunyai pangsa aktifitas setara dengan pangsa total atau konsentrasi aktifitas di wilayah ke-i sama dengan rata-rata total wilayah
·         Jika nilai LQij < 1, maka sub wilayah ke-i tersebut mempunyai pangsa relatif lebih kecil dibandingkan dengan aktifitas secara umum ditemukan di seluruh wilayah.
Data yang biasa digunakan analisis ini antara lain : data tenaga kerja, data luas atau total suatu komoditas, data PDRB atau data lain. Data tersebut harus mempunyai beberapa unit sampel dan dapat diketahui jumlah total populasinya yang lengkap.

3.        Analisis keunggulan kompetitif wilayah (Shift-Share Analysis)
Mengukur keunggulan komparatif saja tidak cukup. Harus ada pengukuran keunggulan kompetitifnya melalui Shift-Share Analysis. Shift-Share Analysis sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak teknik analisis untuk memahami pergeseran struktur aktifitas di suatu lokasi tertentu dibandingkan dengan suatu referensi dalam dua titik waktu. Hasil analisis shift-share menjelaskan kinerja (performance) suatu aktifitas di suatu wilayah dan membandingkannya dengan kinerjanya di wilayah total. Analisis shift-share mampu memberikan gambaran sebab-sebab terjadinya pertumbuhan aktifitas di suatu wilayah. Gambaran kinerja ini dapat dijelaskan dari 3 komponen hasil analisis, yaitu :
a.      Komponen laju pertumbuhan total (komponen share). Komponen ini menyatakan pertumbuhan total wilayah pada dua titik waktu yang menunjukkan dinamika total wilayah.
b.      Komponen pergeseran proporsional (komponen proportional shift). Komponen ini menyatakan pertumbuhan total aktifitas tertentu secara relatif, dibandingkan dengan pertumbuhan secara umum dalam total wilayah yang menunjukkan dinamika sektor/aktifitas total dalam wilayah.
c.      Komponen pergeseran diferensial (komponen diferential shift). Ukuran ini menjelaskan bagaimana tingkat kompetisi (competitiveness) suatu aktifitas tertentu dibandingkan dengan pertumbuhan total sektor/aktifitas tersebut dalam wilayah.


Dimana :
a                = komponen share
b                = komponen proportional shift
c                 = komponen differential shift
X..              = nilai total aktifitas dalam total wilayah
Xi                    = nilai total aktifitas tertentu dalam total wilayah
Xij                  = nilai aktifitas tertentu dalam unit wilayah tertentu
t1               = titik tahun akhir
t0               = titik tahun awal

Jenis data yang bisa digunakan dalam analisis ini sangat beragam, tergantung dari tujuan yang ingin diperjelas. Syaratnya : (1) data terdiri dari kelompok-kelompok aktifitas yang dibagi dalam unit wilayah (sub wilayah) tertentu, dan (2) data terdiri dari dua titik waktu. Data yang sering digunakan untuk analisis ini antara lain : data tenaga kerja, pendapatan, PDRB, nilai tambah, penduduk dan penggunaan lahan yang masing-masing dapat dibagi dalam aktifitas-aktifitas (sektor/jenis) tertentu dan dibagi dalam unit-unit wilayah.

4.        Analisis keterkaitan antar wilayah
Untuk melihat keterkaitan antar wilayah digunakan metode analisis metode gravitasi. Konsep dasar dari analisis gravitasi adalah membahas mengenai ukuran dan jarak antara pusat pertumbuhan dengan daerah sekitarnya. Menurut Blakely (1994: 105) bahwa penggunaan teknik ini dapat menghitung kekuatan relatif dari hubungan komersial antara pusat pertumbuhan yang satu dengan pusat pertumbuhan yang lainnya (Warpani, 1984 :111).
Analisis model gravitasi ini masih berkaitan dengan analisis scalogram, setelah diketahui kota kecamatan yang dapat dikategorikan sebagai pusat pertumbuhan maka langkah selanjutnya adalah menghitung indeks gravitasi pada masing-masing hinterland. Metode analisis model gravitasi ini digunakan untuk : (1) mengukur kekuatan keterkaitan antara sentra komoditi dengan pusat pengembangan wilayah; (2) menentukan kekuatan tempat kedudukan dari setiap pusat kegiatan ekonomi, produksi dan distribusi (sentra-sentra komoditi) dalam sistem jaringan jasa, distribusi dan transportasi.
Indeks ini berlaku relatif artinya jika indeks gravitasi suatu daerah hinterland (daerah A) dengan pusat pertumbuhan X lebih besar dibandingkan dengan indeks gravitasi daerah A dengan pusat pertumbuhan Y, maka daerah A tersebut akan dikategorikan sebagai daerah hinterlandnya pusat pertumbuhan X. posisis sebagai hinterland dari suatu daerah akan ditentukan berdasarkan besar indeks yang dihitung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar