Selasa, 08 November 2011

Egaliter Muncul di Warung Nasi di Kolong Jembatan Slipi

Karena saya punya perut, adalah perut Jawa, maka ketika sarapan pagi-pun mesti dihadirkan nasi. Urusan makan ya harus nasi, tidak bisa digantikan oleh roti walau sebesar apapun. setelah nyari rumah makan di sekitaran perkantoran di Slipi tidak ditemukan, mungkin karena belum jam 07 pagi, yang ditemukan malah warung-warung yang berada di kolong jembatan Slipi. Alhamdulillah, justru disitu saya menemukan suasana baru yang berbeda.
Ada beberapa warung yang menyediakan nasi rames, kopi, soto dll dan ada belasan pegawai kantor yang didominasi pegawai security, teknisi hotel, gedung, mall dan beberapa orang kantoran yang sedang menikmati sarapan pagi ataupun hanya minum segelas kopi hangat. Tempatnya tidak ramai, agak sedikit sepi cuma suara knalpot motor yang melintas di jalan arteri di sebelahnya yang kadang memekakkan telinga. Yang menarik bagi saya dari tempat ini adalah wajah-wajah mereka yang sedang menikmati sarapan ataupun ngopi, semuanya terlihat sumringah, penuh senyum seolah tanpa masalah tidak terlihat ada yang berwajah murung. Padahal tidak sedikit dari mereka baru saja menyelesaikan tugas malam.
Para pekerja ini rata-rata tidak mendapat gaji yang besar. Michael yang asal Flores, sebagai tenaga security di salah satu gedung mall disitu, hanya digaji Rp 1,1 juta/ bulan, padahal dia harus nanggung istri dengan dua anak yang masih kecil-kecil.  Lain lagi Hasnah, seorang wanita berusia 20 tahun asal Ciamis yang masih bujangan yang bekerja sebagai operator kursi pijat listrik. Dia hanya digaji sesuai omzet bulanan. Andaikan dia mendapat omzet sebesar Rp 3 juta, maka gaji pada bulan tersebut hanya sebesar Rp 500 ribu saja, tapi kalau omzetnya Rp 5 juta maka gajinya akan sebesar Rp 800rb, begitu seterusnya. Hasnah cukup beruntung, karena dia bertempat tinggal dengan menumpang di rumah keluarga kakaknya secara gratis. Lain lagi Frans yang orang Bangka, dia sedikit beruntung karena dia sebagai teller di salah satu bank swasta. Gaji dia lumayan besar dibanding teman lainnya yang lagi ngumpul sarapan disitu. Dan banyak contoh lainnya dalam menjalani kehidupannya kesehariannya yang penuh berbagai dinamika.
Ketertarikan saya terhadap tempat dan para pengunjung warung kolong jembatan ini adalah selain wajah-wajah sumringah yang muncul, juga adalah rasa kebersamaan yang membaur dengan tidak terpilah oleh agama, suku dan identitas kehidupan lainnya. Kenapa bisa begitu? Kenapa sifat egaliter muncul di tempat seperti itu? Ternyata saat sarapan pagi di kolong jembatan ini, mereka saling bercengkerama penuh keakraban, mereka bisa saling berempati rasa, bahkan tidak sedikit dari teman lainnya dapat memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi teman yang lainnya lagi. Sifat egaliter yang tidak lain adalah kesetaraan dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara. Justru dapat tumbuh di kolong jembatan ini.
Sungguh, sangat luar biasa, dari tempat amat sederhana ini dengan panganan sarapan ala kadarnya, dengan sepiring nasi rames seharga Rp 3500, bisa muncul keegaliteran, kebersamaan, dan kedamaian. Mungkinkah Jakarta yang tingkat kriminalitas dan tingkat intoleransi-nya sudah mengkhawatirkan bisa bercermin ke tempat sederhana ini? Mudah-mudahan bisa, karena kita semua tentunya mendambakan Jakarta yang nyaman dan damai toch?  
Di kolong jembatan Slipi inilah sifat egaliter muncul
Egaliter sangat dibutuhkan di negeri ini

Warung nasi di kolong jembatan jadi media tumbuhnya sifat egaliter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar