Rabu, 21 Desember 2011

Factory Outlet (FO) di Tengah Gurun Nevada, Amerika Serikat

Kesempatan berkunjung ke kota Los Angeles yang kemudian dilanjutkan terus ke Las Vegas adalah hal yang sangat menyenangkan sekali. Perjalanan ke Las Vegas ditempuh pada malam hari, sehingga kami sama sekali tidak melihat pemandangan sesuatu apapun. Nah, ketika saat kembali dari Las Vegas dengan start dari Hotel Luxor, kami pilih waktunya tepat pukul 12 siang, agar kami dapat menikmati pemandangan di kanan kiri jalan yang kami lalui. Kami susuri  higway Amerika yang panjangnya beratus kilometer yang di kanan  kirinya hanya terdiri bukit dan hamparan gurun  Nevada. Tidak ada pepohonan yang berdiri di atasnya, yang ada hanya tanaman perdu khas gurun pasir. Jangan ditanya ada tidaknya pemukiman dan lainnya di gurun itu.   Karena panjangnya ruas highway dengan tanpa pemandangan lain kecuali gurun membuat suasana menjadi monoton, sehingga saya sampai ketiduran berkali-kali, apalagi semalaman tidak tidur sama sekali karena waktunya habis untuk menikmati gemerlapnya kota Las Vegas.
Jam tangan menunjukkan pukul 16 lebih, dan kami telah menempuh perjalanan hampir 400 km, dan kami baru ingat bahwa kami-kami belum makan siang. akibatnya kami terasa lapar. Lalu, kami minta ke sopir mobil carteran kami yang orang Korea itu, untuk mencari tempat makan. Tidak berapa lama sopir kami mengarahkan mobilnya ke luar highway, yang ternyata ke sebuah factory outlet. Outletnya berada di tengah gurun Nevada. Kami dibawa masuk  ke ‘ Tanger Outlets’. Tanger Outlets luasnya sekitar 50 ha dan bangunan ini adalah satu satunya bangunan yang berdiri disitu, tidak ada yang lain seperti pemukiman atau gedung lainnya.  FO ini berbentuk melingkar dimana di bagian sisinya terdiri dari beratus counter fashion, permata, farmasi, alat rumah tangga, dari merk-merk terkenal.  Yang lebih mengejutkan kami lagi, adalah harga-harganya yang sedang dilakukan diskon besar-besaran. Diskonnya sampai 50%. Saya beli sepatu merk terkenal hanya senilai Rp 250 rb saja, kalau dirupiahkan.
Kami kesulitan untuk mencari barang yang asli ‘Made in USA’. Berbagai barang  yang dijual, kebanyakan diproduksi oleh negara-negara berkembang, seperti dari negara Honduras, Mexico, Nicaragua, India, dan yang paling banyak tertulis tentu adalah ‘Made in China’.  Sekalipun barang tersebut adalah brand Amerika yang terkenal, misalnya seperti merk Nike. Ternyata, saat ini perdagangan China sudah begitu mengguritanya. Sampai ada seloroh ‘hanya bumi, langit, dan mahluknya yang ciptaan Tuhan, sedangkan lainnya adalah ciptaan China’. Para pebisnis berkilah dan ini untuk menjaga image merk, mereka menyebut bahwa mobil Chevrolet yang diproduksi di Korea selalu dibilang ini ‘Made in Chevrolet’, begitu juga sepatu Nike yang diproduksi di China, selalu dibilang ini ‘Made in Nike’, dan lainnya.
Sayangnya, saat ini mencari produk pakaian, sepatu, elektronik Made in Indonesia, cukup sulit, berbeda sekitar lima tahun ke belakang. Dahulu di toko elektronik ‘Radioshark’ di California, hampir separuh barang yang dijual disitu adalah Made in Indonesia. Tetapi kini sudah berbeda. Tidak ada lagi Made in Indonesia. Hal tersebut terjadi karena banyak investor yang mengalihkan pabriknya ke China, Malaysia, Thailand, Vietnam, India dan lainnya.  Betul juga apa yang disampaikan oleh Chaerul Tanjung dari Komite Ekonomi Nasional (KEN) di koran Kompas pada tanggal 21 Desember 2011, dimana ada 3 penyakit yang harus disembuhkan agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih tinggi lagi, yang saat ini pertumbuhan ekonominya sekitar 6,4%, dan dapat bersaing dengan negara lainnya, yaitu: inefisiensi birokrasi pemerintahan, pembangunan infrastruktur yang masih terbelakang, dan korupsi. Kini, bagaimana agar barang-barang Indonesia bisa terlihat lagi di Amerika ini. Itu merupakan tantangan bagi kita sekalian. Dan ada pelajaran lain yang dapat dipetik dari kunjungan ke outlet ini, yaitu bagaimana pemerintah setempat menyediakan infrastruktur yang diperlukan, kemudian pengusaha menyulap gurun tandus di Nevada yang terisolir menjadi sebuah tempat yang menarik dan setiap orang yang datang ingin membelanjakan uang yang dimilikinya. ‘Memang dalam setiap keterbatasan selalu memunculkan ide kreatif’. Dan pemerintah Nevada hanya mengijinkan ada tiga outlet sepanjang 500 km dari Las Vegas ke Los Angeles. Ini dilakukan demi menjamin kelangsungan usaha mereka.  Berbeda dengan di kita, dimana di ruas tol Jakarta-Bandung, sudah tak terhitung ada berapa outlet disana, mungkin tiap 20 km terdapat satu outlet. Wajar kalau usahanya menjadi ‘kembang kempis’.
Tak terasa kami habiskan waktu 2 jam di factory outlet ‘Tanger’ ini dan perjalanan untuk sampai di Los Angeles masih 2 jam lagi. Kami segera tinggalkan outlet ‘Tanger’ ini, kalaupun tidak, uang kami bisa ludes dan kami tidak bisa pulang ke Indonesia.
Highway Las Vegas - Los Angeles
Di kanan kiri Highway hanya gurun tandus seperti ini
Di tengah gurun Nevada ada Factory Outlet
Inilah outlet Tanger di gurun Nevada
Counter diantaranya
Alamat lengkap outlet Tanger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar