Minggu, 08 Januari 2012

Festival Patung Pasir atau Sand Sculpture Festival


Seni dengan media pasir dapat berupa:patung pasir, melukis pasir, mewarnai pasir, dan lainnya. Seni patung pasir membutuhkan bahan dasar berupa pasir dan air, dimana pasir yang dimaksud haruslah memiliki komponen tanah endapan (silt) dan sedikit tanah liat sebagai perekat (clay), karena pasir yang demikian-lah yang dapat merekat antara satu butiran dengan butiran lainnya. Pasir laut kurang bagus untuk seni patung pasir karena memiliki butiran yang agak besar sehingga menciptakan rongga dan tidak memiliki tanah perekat (clay).
Kali ini saya berkesempatan menyaksikan festival seni patung pasir atau ‘sand sculpture festival’ di Sentul City, Bogor. Pestival yang dikemas dalam dua bangunan tenda besar yang masing-masing  berukuran 1000 meter2 dengan tiket masuk =Rp 50 ribu per orang, sebenarnya cukup menarik. Bagaimana tidak? Pameran semacam ini adalah yang pertama dilakukan di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara.
Kami masuk tenda pertama dengan tema ‘Wonders of Indonesia’  dimana di dalam tenda ini ada 11 seniman patung pasir dunia yang memamerkan kreasinya. Begitu masuk pelataran pameran ini, kita disambut dengan patung pasir tentang Gedung Lawang Sewu yang aslinya berada di Semarang yang menyatu dengan replika patung Monas dan Museum Bank Mandiri. Patung pasir ini karya dari Johannes Hogenbrink dari Belanda. Patung ini kurang 'greget' malah dengan mencampurkan tema beberapa gedung beserta Monas menjadikannya seolah semrawut tidak halus dan kurang detil. Di seberang patung ini ada patung pasir berupa miniatur stupa dan patung Budha yang ada di Candi borobudur. Sama seperti sebelumnya, patung pasir ini-pun tidak memberikan daya imajinasi apa-apa, apalagi menciptakan rasa kekaguman. Patung pasir karya bareng Bruce Philips dari Amerika dengan Jeroen Advocat dari Belanda seolah biasa banget. Patung-patung replika Candi Borobudur yang terbuat dari batu yang banyak dijajakan di pinggir jalan di Magelang, malah menurut saya jauh lebih bagus. Tetapi ada juga sih yang perlu diberikan acungan jempol, misalnya kepada Joris Kitivas dari Spanyol dengan karyanya tentang Wayang Golek. Dia mengerjakannya cukup halus. Kemudian hal yang sama diberikan juga kepada Michaela Ciappiani dengan karyanya tentang komodo, bunga raflesia, orang utan, dan badak Jawa. Dia mengangkat isyu yang sedang hangat dibicarakan di Indonesia. Kemudian kepada Benjamin Probanza dari Mexico dengan Marjon Katerberg dari belanda dengan karyanya berupa replika Candi Lorojongrang, buta cakil, dan rama shinta. Patungnya sangat halus dan detil. Saya suka dengan yang ini.
Memasuki tenda ke dua, kita memasuki tema ‘Wonders of The World’ dan kita disambut dengan karya Viacheslav Lemelianenko dari Ukraina. Namun, lagi-lagi patung penyambutan kami-kami ini –tidak jelas- juga. Apa pesan yang ingin disampaikan  kepada pengunjung? Itu tidak jelas. Ini terjadi seperti hal-nya di tenda pertama tadi. Sebaiknya patung penyambutan itu harus membuat pandangan pertama pengunjung berdecak kagum. Apakah itu berdecak kagum terhadap ‘keajaiban’ Indonesia atau dunia sekalipun. Yang disajikan oleh seniman patung pasir negara Ukraina ini adalah tentang Patung David dan tentang Gladiator. Tentang patung David yang aslinya karya Michelangelo ini kurang populer di mata orang Indonesia. Kurang pas menempatkannya. Kemudian di belakang patung ini, ada karya Nicola Wood dari Inggris tentang Patung Kristus. Patung aslinya berada di Rio de Janeiro, Brazil dengan gaya  arsitektur art deco setinggi 38 meter, disini dibuat setinggi 2,5 meter. Patung ini bagus, cukup halus dan detil. Apresiasi perlu diberikan kepada 2 warga Asia yang ikut pameran disini, yaitu Tan Jooheng dari Singapur dengan tema patungnya –London- serta Katsu Chaen dari Jepang dengan karyanya Patung Liberty.
Patung-patung pasir yang dipamerkan di Sentul ini dibuat dalam jangka waktu tiga minggu. Pasir yang digunakan adalah pasir sungai di Cilegon , Banten, dengan alasan pasir dari daerah ini mengandung perekat sehingga baik untuk dijadikan media pembuatan patung. Tampilan pasirnya sendiri berwarna ke-kuningan dengan butiran yang halus. Memang pasir sungai semacam ini kurang baik untuk bangunan. Pasir didatangkan dari Cilegon ke Sentul hampir sebanyak 250 ton atau setara 50 truk. Sebelum dijadikan media pembuatan patung, pasir ini dipadatkan dulu dengan berbentuk kotak yang dibuat seukuran patung yang diproyeksikan. Apabila dirasa masih ada butiran semacam batu kecil dimana nantinya akan menjadikan media pasir itu berongga maka perlu ditambahkan juga sedikit perekat. Setelah pasir berbentuk kotak, maka para seniman dengan dibantu tenaga-tenaga ahlinya sedikit demi sedikit membuat patung-patung yang menjadi tema pilihannya. Yang menarik, para seniman ini tidak pernah tahu tempat atau bentuk asli dari tema yang akan dijadikan patung. Hanya bermodalkan lihat foto dan sedikit membuka internet, maka dibuatlah patung yang dimaksud.
Setelah puas berkeliling di dua tenda untuk menikmati karya-karya para seniman patung pasir dunia ini, saya sedikit sharing pendapat:
1.   Tata letak dan dekorasi penunjang dari patung pasir karya seniman dunia ini tidak dibuat seindah mungkin. Menurut saya ini seolah hanya menaruh patung-patung itu dalam gudang saja. Tanpa penerangan yang bagus, tanpa dekorasi sekitarnya yang baik. Hanya patung itu lalu disorot satu lampu kecil, sudah hanya itu. Tidak ada pepohonan atau suara yang seolah sesungguhnya ketika kita berada dekat patung komodo, orang utan, dan lainnya.
2. Kenapa tidak ada seniman Indonesia yang diikutsertakan? Walaupun katanya ini sebagian gawean dari World Sand Sculpting Academy (WSSA) yang membawahi 600 seniman pematung pasir dunia dimana tidak ada seorangpun orang Indonesia yang menjadi anggotanya, tetapi kan bisa misalnya sebagai ‘tamu’ eksibisi. Kalau ada orang Indonesia-nya kan kita juga menjadi lebih bangga, lebih senang untuk melihat-lihat pameran ini.
3.Sebenarnya banyak seniman Indonesia yang mampu membuat patung seperti ini bahkan mungkin lebih bagus lagi. Saya sering melihat anak-anak pantai di Kuta Bali, iseng-iseng membuat patung pasir laut yang berbentuk wanita sedang tidur seukuran aslinya dan bagus. Mungkin para seniman kita butuh sponsor agar bisa masuk WSSA ini.
Bagaimana-pun kita wajib mengapresiasi kegiatan pestival semacam ini, karena setidaknya dapat memacu para seniman kita untuk lebih semangat berkreasi lagi dan dapat mendunia -kalau bisa-. Karya-karya seniman ini kan cerminan dari tingkat budaya di negara-nya toch?
Pasir Untuk Media Patung Diambil dari Sungai di Cilegon Banten
250 ton Pasir Sungai Cilegon Didatangkan untuk Festival ini
Pasir Dipadatkan dan Dibuat Seukuran Proyeksi Patung yang Direncanakan
Media Psir Siap untuk Dipahat Menjadi Patung
Nicola Wood dari Inggris sedang Menyelesaikan Patung dengan tema Kristus
Rama dan Shinta karya Benjamin Probanza/Mexico dan Marjon Katerberg /Belanda
'Kristus' karya Nicola Wood dari Inggris
Di depan 'buta cakil' karya Benjamin/Mexico dan Marjon/Belanda
'London' karya Tan Jooheng dari Singapur
Di depan 'Kanguru' karya Arianne van Rosmalen dari Belanda
Organisasi yang membawahi Seniman Pemahat Patung Pasir

1 komentar: