Sabtu, 07 Januari 2012

Ojek Payung


Kita sudah ketahui bersama bahwa Bogor dijuluki sebagai ‘Kota Hujan’. Di wilayah Bogor boleh dikatakan hampir tidak mengenal musim hujan atau musim kemarau. Bisa jadi di tempat lain sedang berlangsung kemarau panjang tetapi di Bogor tiba-tiba hujan turun. Yang membedakan musim hujan dan musim kemarau di Bogor, hanyalah intensitas hujan-nya saja. Pada bulan Desember-Januari seperti sekarang dimana biasanya bertepatan sekitarhari raya Imlek, maka hujan bisa berlangsung seharian, namun pada musim kemarau minimal dua hari sekali tetap turun hujan dengan intensitas rendah setelah jam 12 siang dan hanya berlangsung sekitar satu jam-an saja. Karena Bogor sering hujan maka muncullah ‘ojek payung’ yang dilakukan oleh anak-anak belasan tahun. Seingat saya, mulai munculnya pengojek payung ini adalah sekitar tahun 1990-an. ‘Ojek payung’ adalah anak-anak yang menawarkan jasa untuk memayungi seseorang dari basah-nya air hujan. Payung ini disewa hanya untuk melangkah beberapa meter saja, misalnya dari bus mau ke gedung di dekatnya, dari angkot ke seberang jalan, dari pusat perbelanjaan ke mobil-nya yang diparkir dan lainnya.
Kebiasaan di kampung sekitar pusat keramaian, anak anak pengojek payung sudah bersiap-siap dengan payungnya ketika dilihat langit mulai mendung. Mereka lakukan itu sepulang dari sekolah. Begitu hujan turun mereka berlarian ke tempat keramaian, apakah itu ke mulut jalan raya, ke mall, ke stasiun kereta, ke terminal bus, dan lainnya. Dan mereka sebera berebut dengan teman-temannya – menawarkan jasa payungnya kepada orang yang membutuhkannya.
Anak-anak ini menjadi ‘pengojek payung’ paling kuat hanya 2 dua jam saja. Walaupun hujan berlangsung lebih dari dua jam. Setelah itu, mereka tidak kuat menahan dingin karena berbasah-basah kehujanan. Mereka kan mesti kehujanan karena payung-nya disewa orang.
Payung-payung mereka, ada yang milik sendiri namun ada pula yang punya ‘bos’. Yang ada ‘bos’-nya itu di sekitaran toko-toko tas di daerah Tajur, di Katulampa, kemudian di stasiun kereta dan di beberapa Factory Outlet (FO). Bagi yang meminjam lagi payungnya dari ‘bos’, aturan pembagian hasil-nya adalah 50:50, artinya kalau si anak itu dapat 2 ribu rupiah, maka seribu untuk dianya dan seribu lagi untuk bos-nya. Penghasilan ‘ngojek payung’ ini tidak seberapa, bahkan kerap tidak mendapat serupiah-pun, kalaupun mendapat lebih dari sepuluh ribu rupiah, itu biasanya terjadi karena ada orang yang ‘iba’ kemudian ngasih ongkos sewa payungnya lebih dari biasanya. Ongkos sewa payung ini hanya seribu rupiah saja.
Mereka (anak-anak pengojek payung) ini melakukan itu atas inisiatif sendiri dan hanya ingin menambah uang ‘jajan’ saja, tetapi resiko sakit akibat kehujanan sangat besar sekali. Kalau sudah sakit, ongkos yang dikeluarkannya akan jauh lebih besar. Tetapi anehnya mereka ini ‘kuat-kuat’. Bagi saya, karena banyak diantara anak-anak pengojek payung itu adalah tetangga belakang rumah, maka kadang-kadang terbersit rasa kasihan juga melihat anak-anak pengojek payung ini. Mereka kan butuh belajar dan butuh main dengan lingkungannya dan lainnya, sebagaimana anak-anak lainnya yang lebih beruntung. Mereka memang umumnya datang dari keluarga tidak mampu. Mudah-mudahan saja, ekonomi negara kita ke depan akan lebih baik lagi sehingga masyarakat-nya lebih makmur dan tidak ada lagi anak-anak yang mengojek payung, meminta-minta, terbawa trafficking anak dan lainnya, apalagi yang termasuk dengan sebutan penyandang masalah sosial. Sehingga apa yang diamanatkan dalam UU.No 23 Tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak dapat terlaksana. Anak-anak adalah kelak mampu memikul tanggung jawab sebagai generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, maka ia perlu mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu mendapatkan perlindungan untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi.
Ketika Hujan Mulai Turun, Anak Anak Pengojek Payung Berdatangan
Menunggu Penyewa Payung
Anak Laki ini Aktif Menawarkan Payung Sewaannya
Sabar Menunggu Penyewa Payungnya
Hujan Usai, Diantara Mereka Saling Bercerita 'Dapat' Uangnya Berapa
Agus Pulang Dengan Membawa Hasil Rp 3 ribu, 'Lumayan' Katanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar