Kamis, 09 Februari 2012

Perencanaan Wilayah Pulau Marore dan Laut Sekitarnya

Rencana Zonasi
Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Studi pendahuluan terhadap seluruh kegiatan yang akan digulirkan dalam pengelolaan PPKT, disamping guna menilai kelayakan program dengan menapisnya melalui kegiatan survey di lapangan, juga untuk memenuhi aspek pengelolaan program secara bottom up.  Sebuah konsep program pembangunan yang memberdayakan masyarakat pulau, suatu langkah yang sedang popular saat ini.
Melalui penyusunan rencana zonasi rinci dan studi pendahuluan terhadap program-program yang akan digulirkan ini, diharapkan dapat terwujud sebuah model pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang komprehensif dan terintegrasi dengan RTRW yang ada, sehingga mendukung visi dan misi pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam pulau-pulau kecil terluar secara terpadu dan berkelanjutan.
Pengembangan Perdagangan Regional dengan Philipina
Saat ini perdagangan lokal antara penduduk di Pulau Marore dengan tetangganya di kota-kota terdekat di Pulau Mindanao, Philipina secara factual sudah berlangsung.  Dalam catatan sejarah perdagangan antara Kesultanan di Nusantara (yang juga meliputi wilayah Negara Philipina sekarang) telah berlangsung jauh sebelum kedatangan bangsa Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris dalam rangka penaklukan dan penjajahan.  Saat ini, pada faktanya perputaran barang , jasa dan uang antara penduduk di Pulau Marore dengan penduduk di kota-kota terdekat di Pulau Mindanao sudah berlangsung.
Adapun arahan pengembangan perdagangan regional yang akan ditempuh, meliputi pengembangan sarana dan prasarana perdagangan regional seperti pengadaan barang dan jasa, penciptaan pasar, peningkatan transportasi barang dan orang. Kemudian pada aspek regulasi adalah diadakannya formalisasi aturan perdagangan antar 2 negara bertetangga, penyeimbangan neraca eksport-import antar 2 negara bertetangga, serta bila memungkinkan pengenaan bea masuk barang yang rendah bahkan bila memungkinkan bebas bea masuk diantara kedua negara.
Pengembangan Agribisnis Perkebunan Kelapa
Pengembangan agribisnis perkebunan kelapa mensyaratkan suatu kegiatan agro yang bersanding dengan kegiatan bisnis, sehingga seluruh aspek pengelolaan perkebunan mulai dari pembenihan sampai pada pengolahan hasil produksi hingg ke pemasaran dapat dilakukan secara terintegrasi. Potensi untuk dilakukannya hal tersebut sangat memungkinkan, sebagai modal awal adalah kondisi eksisting  berupa luasnya perkebunan kelapa di Pulau Marore yang mencapai 14,3 ha (9,3%).
Kemudian adanya fakta bahwa para pekebun menjual hasil panen kelapa dalam bentuk mentah berupa kopra kering atau setengah kering, yang kadang tidak terangkut karena terkendala transportasi dan cuaca sehingga mengganggu suplai ke pabrik pengolahan. Sementara itu kebutuhan pabrik pengolahan minyak kelapa akan suplai kopra sangat besar bahkan tak terbatas, tetapi justru yang terbatas adalah suplai dari petani kopra. Guna memecahkan kondisi tersebut, maka di tingkat petani perlu diupayakan suatu kegiatan pengolahan kopra atau kelapa. Hal ini dimaksudkan agar aspek nilai tambah dari pengolahan kopra (kelapa) menjadi minyak kelapa (crude coconut oil/CCO) ada di pihak petani, dan petanipun terhindar dari kopra mentah yang sifatnya bulky, cepat busuk dan murah harganya serta peluang tidak terangkut ke pabrik pengolahan.
Kemudian aspek agribisnis perkebunan yang dikembangkan juga dapat diarahkan guna mendorong masyarakat penghuni pulau kecil untuk sedapat mungkin memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa mengandalkan dengan membeli.  Sebagai contoh kebutuhan akan minyak goreng dapat diupayakan dari hasil membuat minyak kelapa dengan buah kelapa hasil dari kebun sendiri, penggunaan batok kelapa sebagai arang pembakaran menggantikan kayu bakar, serta pemanfaatan kayu kelapa yang sudah tidak produktif sebagai kayu kontruksi untuk pembuatan rumah dan sebagainya.
Pulau-pulau yang potensial untuk digulirkannya program ini adalah pulau-pulau yang memiliki areal perkebunan kelapa yang cukup luas, memiliki kendala dalam pengangkutan hasil terutama terkait dengan akses dan transportasi.  Potensi ini dimiliki oleh Pulau Marore, Pulau Marampit, Pulau Miangas, Pulau Subi Kecil dan Pulau Brass.
Penangkapan Ikan Pelagis Besar pada Jalur Penangkapan 2
Potensi perikanan di perairan Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik masih sangat besar, dimana kiprah nelayan lokal yang mendiami pulau-pulau di kawasan sekitar perairan tersebut hampir dikatakan tidak ada. Kiprah penduduk lokal pada industry penangkapan ikan di laut lepas, hanya sebatas menjadi anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal penangkap ikan dari Kota-kota yang maju perikanannya seperti Jakarta, Pekalongan, Bitung atau Kendari bahkan kapal ikan dari  luar negeri.
Kendala penguasaan tekhnologi, modal serta budaya menjadikan nelayan lokal tidak dapat menikmati sumberdaya perikanan yang berada di halamannya. Untuk itu arahan pengembangan pada perikanan tangkap adalah bagaimana teknologi penangkapan ikan dikembangkan dengan tetap berbasis pada komunitas nelayan setempat. Lokasi pengembangan perikanan tangkap yang masih potensial adalah perairan pada jalur penangkapan ikan 2 (4 - 12 mil laut), yang berada di perairan sebelah barat Pulau Marore (Laut Sulawesi) dan perairan sebelah utara dan timur Pulau Marore (Samudera Pasifik).
Pariwisata Khusus (Perbatasan)
Pariwisata khusus perbatasan dikembangkan dengan melihat potensi obyek wisata yang ada dan potensi pasar wisatanya. Sebagian besar pesisir Pulau Marore memiliki pantai berpasir putih. Arahan pengembangan wisata adalah di pantai yang berada di sebelah utara dan timur pulau, serta pada daerah ruaya ikan hiu yang potensial dikembangkan untuk wisata tematik.
Kesamaan budaya dan bersatunya kawasan pulau-pulau yang berada di gugusan pulau Sangihe-Talaud dengan pulau-pulau di Kepulauan Philipina Selatan sebelum masa penjajahan oleh Spanyol, Belanda dan Amerika banyak meninggalkan jejak sejarah berupa bangunan, monument, kuliner dan tata cara adat.  Hal ini dapat dikelola dan dikemas menjadi suatu paket atau atraksi wisata budaya dan sejarah yang dapat djual pada pasar wisata di kedua Negara.
Guna mendukung pengembangan pariwisata, maka sarana dan prasarana serta infrastruktur pendukung harus segera diadakan. Sarana dan prasarana tersebut meliputi pelayanan angkutan laut regular, pelabuhan atau dermaga sandar, jaringan jalan, akomodasi wisata berupa penginapan atau cottage wisata serta restoran.  Setelah itu semua terpenuhi maka promosi wisata mulai dapat dijalankan. Diadakannya semacam acara festival tahunan dengan mengambil tema tertentu, kemudian diliput oleh jaringan penyiaran radio dan televisi sehingga informasinya tersebar luas adalah sarana promosi yang efektif.
Konservasi
Beberapa pulau sangat kecil dengan kondisi khasnya, sebaiknya diarahkan sesuai Permen KP No.17/2008 sebagai daerah atau kawasan suaka pulau kecil. Pulau Marore merupakan daerah ruaya bagi beberapa jenis penyu, ikan hiu dan lokasi migrasi lumba-lumba, sehingga dalam arahan pengembangannya diupayakan adanya kawasan konservasi berupa suaka pesisir karena merupakan wilayah pesisir yang menjadi tempat hidup dan berkembang biaknya (habitat) suatu jenis atau sumberdaya alam hayati yang khas, unik, langka dan dikhawatirkan akan punah, dan/atau merupakan tempat kehidupan bagi jenis-jenis biota migrasi tertentu yang keberadaannya memerlukan upaya perlindungan, dan/atau  pelestarian. 
Revitalisasi Tanda-Tanda Perbatasan
Tanda-tanda perbatasan meliputi titik referensi, titik dasar, monument perbatasan, titik lintas batas atau check point serta penanda alam seperti pohon, parit, sungai dan sebagainya. Titik-titik penanda perbatasan tersebut harus dipelihara sebaik mungkin dan senantiasa dipantau keberadaannya agar tidak bergeser oleh penyebab apapun. Adakalanya guna lebih mengamankan keabsahan kedaulatan suatu Negara atas suatu kawasan, perlu dibangun atribut perbatasan lainnya.  Dengan adanya monument atau atribut tersebut dimasa yang akan datang tidak ada lagi permasalahan sengketa lahan perbatasan. Adakalanya pada beberapa kasus atribut tersebut, dapat berfungsi lain misalnya sebagai tempat wisata, contohnya Check Point Charlie di bekas Tembok Berlin Jerman. 
Program Dasar
Program dasar yang direncanakan digulirkan dalam rangka pengelolaan Pulau Marore sebagai bagian dari kerangka kerja pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, diuraikan sebagai berikut:
-    Pada aspek kajian dan perencanaan adalah penyusunan rencana zonasi rinci P Marore dan perairan laut sekitarnya serta penyusunan rencana program pengelolaan selama 5 tahun;
-    Pada aspek pelayaran dan perhubungan adalah mengadakan/meningkatkan pelayanan angkutan laut regular Tahuna-Marore-Santa Agustien dan General Santos di Mindanao Selatan, meningkatkan pelayanan angkutan laut reguler yang ada (Kota Manado- Kota Bitung-Kota Tahuna-Kota Enemawira) serta  pembuatan jaringan jalan penghubung antar pusat kegiatan di P Marore;
-    Pada aspek pertanian adalah pengembangan perkebunan kelapa dengan program berupa peremajaan tananam, pengembangan sarana  dan prasarana serta pelatihan pengolahan hasil perkebunan kelapa;
-    Pada aspek Perikanan adalah pengenalan/peningkatan teknologi penangkapan dengan tetap berbasis pada komunitas nelayan setempat;
-    Pada aspek pariwisata adalah pangadaan sarana dan prasarana wisata, atraksi wisata hiu, Wisata budaya dan sejarah, Promosi wisata;
-    Pada aspek konservasi adalah penetapan kawasan konservasi dan konservasi jenis terhadap jenis-jenis penyu yang ada; dan
-    Pada aspek eksistensi kedaulatan terhadap pulau adalah pemeliharaan, pengembangan dan pengadaan  monument serta tanda-tanda atau atribut perbatasan
Kegiatan
Rencana kegiatan yang akan digulirkan dalam penjadwalan 5 tahun pengelolaan adalah sebagai berikut:
1.    Penyusunan zonasi rinci P Marore dan perairan laut sekitarnya;
2.    Penyusunan rencana program pengelolaan selama 5 tahun;
3.    Pembangunan pelabuhan penumpang dan barang yang mengakomodir pengembangan perdagangan regional dengan Negara Philipina dan KSKN;
4.    Pengadaan Kapal Muat penumpang dan Kapal Muat Barang dalam pengembangan transportasi regional dengan Negara Philipina;
5.    Peningkatan Kapal Muat penumpang dan Kapal Muat Barang regular yang telah ada;
6.    Pembangunan jalan melingkar pulau dengan lebar memadai dengan perlindungan berupa breakwater;
7.    Peremajaan tanaman kelapa;
8.    Pengadaan alat/mesin pengolah kopra;
9.    Pelatihan pembuatan VCO;
10.    Pelatihan pembuatan briket arang kelapa;
11.    Pelatihan pemanfaatan kayu kelapa sebagai kayu kontruksi untuk pembuatan rumah adat;
12.    Pembinaan dan pelatihan keterampilan teknis nelayan tangkap lokal;
13.    Pengadaan kapal dan alat tangkap;
14.    Pembangunan dermaga wisata, cottage wisata, spot-spot pemancingan;
15.    Pembuatan sarana atraksi wisata hiu;
16.    Promosi wisata meliputi pengadaan acara festival rakyat, brosur wisata, paket siaran televisi/radio;
17.    Pengembangan Paket wisata budaya dan sejarah yang dapat menampilkan keterkaitan budaya dan sejarah dengan Philipina;
18.    Penetapan kawasan perlindungan habitat dan jenis penyu; dan
19.    Pemeliharaan titik dasar dan titik referensi; serta
20.    Pembuatan tanda-tanda, monumen dan atribut perbatasan.
Pola Ruang
Konsep rencana pengembangan Pulau Marore, dibangun berdasarkan pertimbangan potensi sumber daya pulau serta permasalahan yang dihadapi beserta perkembangan yang berlangsung di sekitar wilayah perbatasan Sulawesi Utara. Beberapa pertimbangan yang diperhatikan dalam pengembangan wilayah Pulau Marore,  adalah :
-    Optimalisasi keterkaitan sistem ruang daratan, kelautan dan udara guna mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki Pulau Marore;
-    Keterkaitan fungsional antar pulau-pulau khususnya antar sentra-sentra produksi yang prospektif dalam mendorong pertumbuhan wilayah  Pulau Marore;
-    Keterkaitan Spatial dan Fungsional antar pulau, secara internal maupun eksternal;
-    Pengembangan tata ruang didasarkan atas prinsip peningkatan kesejahteraan, pertahanan dan keamanan, mitigasi bencana serta pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan kawasan berfungsi lindung baik di daratan maupun di lautan;
-    Pembangunan wilayah berpijak kepada ketarkaitan sektor-sektor ekonomi dalam usaha memacu pembangunan wilayah dengan memperhatikan implikasi keruangan yang didasarkan atas dasar saling mendukung dan saling menguntungkan;
-    Pengembangan wilayah dikembangkan berdasarkan potensi dan daya dukung pulau dan potensi kelautan di sekitarnya; serta
-    Pengembangan wilayah pulau dikembangkan dengan memperhatikan budaya lokal.
Konsep pengembangan struktur tata ruang intra wilayah Pulau Marore adalah memperkuat struktur tata ruang internal yang mampu mendorong pertumbuhan wilayah dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam maupun manusia yang dimilikinya dengan memanfaatkan peluang berinteraksi langsung dengan wilayah luar.
Arahan pengembangan kegiatan pada pola ruang Pulau Marore mengadopsi berbagai pertimbangan di atas, kemudian dipadukan dengan desain Rencana Tata Ruang Terpadu Pulau Marore yang telah disusun pada tahun 2007.  Lokasi kegiatan yang akan direncanakan seperti ditampilkan dalam tabel berikut.
Tabel. Arahan kegiatan sesuai pola keruangan Pulau Marore
No.    Kegiatan    Lokasi
1    Penyusunan zonasi rinci P Marore dan perairan laut sekitarnya    Seluruh pulau dan perairan laut sekitarnya
2    Penyusunan rencana program pengelolaan selama 5 tahun    Seluruh pulau dan perairan laut sekitarnya
3    1. Pembangunan pelabuhan penumpang dan barang yang mengakomodir pengembangan perdagangan regional dan KSKN    Zona perdagangan dan perkantoran sebelah Barat daya P Marore
4    2. Pengadaan Kapal Muat penumpang dan Kapal Muat Barang    Pulau Sangihe, P Marore
5    Peningkatan Kapal Muat penumpang dan Kapal Muat Barang    Pulau Sangihe, P Marore, Kota Manado, Kota Bitung
6    Pembangunan jalan melingkar pulau dengan lebar memadai dengan perlindungan berupa breakwater    Sekeliling P Marore
7    Penebangan pohon yang sudah tidak produktif dan menyulamnya dengan pohon yang baru    Zona Pertanian dan perkebunan
8    Pengadaan alat/mesin pengolah kopra    Zona agroindustri di Selatan P Marore
9    1. Pelatihan pembuatan VCO    Zona agroindustri di Selatan P Marore
10    2. Pelatihan pembuatan briket arang kelapa     Zona agroindustri di Selatan P Marore
11    3. Pelatihan pemanfaatan kayu kelapa sebagai kayu kontruksi untuk pembuatan rumah adat    Zona agroindustri di Selatan P Marore
12    1. Pembinaan dan pelatihan keterampilan teknis nelayan tangkap lokal    Pulau Marore
13    2. Pengadaan kapal dan alat tangkap     Pulau Marore
14    Pembangunan dermaga wisata, cottage wisata, spot-spot pemancingan      3 lokasi zona pariwisata yaitu sebelah Utara-Timur dan Tenggara P Marore
15    Pembuatan sarana atraksi wisata hiu     Perairan tempat ruaya hiu
16    Acara festival rakyat, brosur wisata, siaran televisi/radio
    P Marore, Kota-kota target pemasaran wisata
17    Pengembangan Paket wisata budaya dan sejarah yang dapat menampilkan keterkaitan budaya dan sejarah dengan Philipina    P Marore, Kota-kota target pemasaran wisata
18    Penetapan kawasan perlindungan habitat dan jenis    Sebelah barat dan timur P Marore
19    1. Pemeliharaan titik referensi    Lokasi dimana titik-titik referensi berada
20    2. Pembuatan monumen & atribut perbatasan     Pada titik paling utara dari P Marore
Tinjauan Mengenai Beberapa Program Kegiatan
Berikut dipaparkan tinjauan mengenai beberapa program kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam matriks indikasi program. Kapasitas pemaparan ini tidak dalam tinjauan secara rinci dan memuat detail teknis dari program kegiatan yang ada, pemaparan ini hanya untuk menjawab secara garis besar apa?, mengapa? dan bagaimana? program tersebut dapat digulirkan pada Pulau Marore.
Penyusunan Zonasi Rinci Pulau Marore dan Perairan Laut Sekitarnya
Penyusunan zonasi rinci Pulau Marore dan laut sekitarnya, sebagaimana amanat UU No. 27/2007, Perpres No. 78/2005, Permen KP No.16/2008 dan Permen KP No.20/2008, dimaksudkan sebagai upaya:
-    Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
-    Menjamin harmonisasi antara kepentingan pembangunan ekonomi dengan prinsip pelestarian yang memperhatikan daya dukung sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil;
-    Mewujudkan keterpaduan pembangunan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan wilayah daratannya;
-    Mewujudkan keserasian pembangunan wilayah kabupaten/kotamadya dengan wilayah sekitarnya;
-    Menjaga keamanan nasional, pertahanan Negara, keutuhan wilayah Negara serta  menciptakan stabilitas kawasan; 
-    Memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan; serta
-    Memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan.
Penyusunan rencana zonasi rinci Pulau Marore dan perairan sekitarnya, adalah dengan mengidentifikasi secara komprehensif terhadap:
-    Potensi sumberdaya,
-    Kondisi eksisting pemanfaatan ruang,
-    Karakteristik pesisir,
-    Ancaman/kerentanan dan daya dukung ekosistem pulau,
-    Sentra-sentra produksi perikanan dan kelautan dan kegiatan lainnya,
-    Sarana dan prasarana,
-    Aspek sosial budaya ekonomi masyarakat.
Adapun manfaat yang akan diraih dari penyusunan rencana zonasi rinci Pulau Marore dan perairan sekitarnya, adalah terwujudnya sebuah model pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang komprehensif dan terintegrasi dengan RTRW yang ada, sehingga mendukung visi dan misi pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam pulau-pulau kecil terluar secara terpadu dan berkelanjutan
Penyusunan Rencana Program Pengelolaan
Studi pendahuluan terhadap seluruh kegiatan yang akan digulirkan dalam pengelolaan PPKT, disamping guna menilai kelayakan program dengan menapisnya melalui kegiatan survey di lapangan, juga untuk memenuhi aspek pengelolaan program secara bottom up.  Sebuah konsep program pembangunan yang memberdayakan masyarakat pulau, suatu langkah yang sedang popular saat ini.
Bila berdasarkan hasil survey lapangan, misalnya dengan metode RRA ataupun PRA, suatu program memang dibutuhkan oleh masyarakat maka program tersebut dapat ditindak lanjuti. Sebaliknya bila suatu program ditolak oleh masyarakat pulau ataupun berdasarkan penilaian obyektif di lapangan, diketahui program tersebut tidak dapat aplikatif karena terkendala suatu factor atau masalah, maka program tersebut dapat diubah ataupun digantikan oleh program lain yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.
Pembangunan Pelabuhan Penumpang dan Barang
Pelabuhan penumpang dan barang merupakan salah satu sarana penunjang untuk daerah terluar yang tidak dapat dijangkau dengan transportasi darat maupun udara. Pembangunan pelabuhan penumpang dan barang dimaksudkan untuk mempermudah akses dan menghidupkan roda perekonomian dan pemerintahan. Pelabuhan yang memadai dan mudah diakses merupakan salah satu faktor penting dalam aksesbilitas ke pulau-pulau terluar. Pembangunan pelabuhan harus mempertimbangkan beberapa faktor dari lokasi yang akan dibangun. Faktor fisik lingkungan merupakan salah satu aspek yang harus dipertimbangkan, seperti penentuan lokasi pelabuhan, kapasitas pelabuhan, fungsi pelabuhan, umur pelabuhan, aspek maintenance dan lain-lain.
Program pembangunan pelabuhan penumpang dan barang di pulau-pulau kecil utamanya ditujukan bagi aksesibilitas. Pada pulau kecil terluar ditambahkan untuk aspek kedaulatan, pertahanan, dan keamanan.  Dibutuhkan suatu kajian mendalam pada program ini, utamanya dalam hal pemilihan  lokasi baru atau mengembangkan pada lokasi yang ada, kapasitas pelabuhan dengan peramalan di masa yang akan datang dikaitkan dengan program lain semisal program pengembangan perekonomian regional, program KSKN dan lain-lain.
Kondisi pelabuhan penumpang di Pulau Marore saat ini yang berada di pesisir barat daya pulau, mengalami gangguan oleh arus dan gelombang Laut Sulawesi. Saat musim utara dimana arus yang sangat kuat mengalir dari Utara ke Selatan, terhadang secara frontal oleh kontruksi pelabuhan yang dapat menyebabkan akresi dan sedimentasi yang dapat mempengaruhi usia pelabuhan.  Kemudian ancaman gelombang pasang dengan ketinggian ombak dapat mencapai 4 meter juga dapat mengancam keberadaan pelabuhan.
Dengan kondisi demikian, maka program pembangunan pelabuhan penumpang dan barang diarahkan guna mengoreksi terhadap kondisi pelabuhan yang ada sekarang. Pemilihan lokasi pelabuhan, adalah pada pesisir yang terlindung dari arus kuat dan gelombang pasang, meskipun harus menjauh dari pusat ekonomi dan pemukiman. Berdasarkan RDTR Pulau Marore (Dept.PU, 2007), arahan pembangunan pelabuhan baru adalah di pesisir pantai sebelah selatan yang relative lebih terlindung.
Pengadaan Kapal Muat Penumpang dan Kapal Muat Barang
Kapal muat penumpang dan barang digunakan untuk  pengangkutan dari pusat-pusat kegiatan ke daerah-daerah satelit begitu juga sebaliknya. Pengadaan kapal muat barang dan penumpang disamping untuk lebih memperlancarn transportasi yang sudah terbangun, juga dimaksudkan untuk mendobrak rintangan-rintangan aksesibilitas yang ada saat ini seperti rintangan cuaca dengan ombak yang tinggi, alur pelayaran dangkal, dan ketersediaan BBM.
Program pengadan kapal harus dapat menjawab tantangan dan kebutuhan yang ada.  Sehingga pengiriman muatan penumpang atau barang diharapkan bisa datang tepat waktu dan tidak ada kendala apapun.  Dibutuhkan suatu kajian mendalam pada program ini, terutama dalam hal spesifikasi teknis kapal, kebutuhan sesungguhnya pengguna kapal (konsumen /penumpang antar pulau), alur pelayaran regional yang ada serta alternatifnya guna mengembangkan trayek atau rute-rute baru pelayaran.
Pembangunan Jalan Melingkar Pulau dengan Lebar Memadai Dilengkapi Perlindungan Berupa Breakwater
Pembangunan jalan utama lingkar pulau diharapkan dapat mempermudah penduduk yang tinggal di pulau terluar mengakses setiap sudut pulau. Pembangunan jalan tersebut harus memperhatikan aspek daya dukung lingkungan pulau kecil.  Beberapa spesifikasi teknis jalan yang akan dibangun harus mengakomodir pembatas-pembatas yang melekat pada pulau kecil, seperti :
-    Ketersediaan air tanah yang terbatas terkait dengan daerah tangkapan air (catchment area) yang akan tereduksi dengan adanya jaringan jalan yang diaspal atau dibeton;
-    Abrasi dan erosi oleh angin dan air laut yang intensif;
-    Konservasi tanah dan air;
-    Koefisien lahan terbangun dengan lahan alamiahnya yang sangat terbatas;
-    Bahan bangunan pembuatan jalan seperti pasir dan batu, yang biasanya diambil di lokasi setempat, sehingga dapat merusak lingkungan; serta
-    Jumlah atau volume kendaraan yang akan melalui jalan tersebut juga amat terbatas.
Aspek lain yang harus diperhatikan adalah aspek perawatan,  ancaman kerusakan jalan biasanya terjadi karena tidak adanya saluran air yang baik untuk kelancaran buangan air dari jalan. Perlindungan jalan berupa breakwater diharapkan dapat melindungi jalan lingkar pulau dari ancaman abrasi laut yang dapat merusak dan menghancurkan jalan tersebut. Pembangunan jalan harus memperhatikan setiap detail faktor fisik yang ada di pulau, sehingga jalan tersebut dapat digunakan lebih lama.
Peremajaan Tanaman Kelapa
Factor utama dalam peremajaan tanaman kelapa adalah tanaman yang perlu diremajakan adalah tanaman yang dikategorikan tanaman tidak menghasilkan (TTM). Tanaman dalam kategori TTM ini secara agronomis termasuk; tanaman yang sudah berumur 50 tahun atau lebih walaupun masih berbuah; umur tanaman kurang dari 50 tahun tetapi produksinya kurang dari 30 butir/pohon/tahun; tanaman yang rusak akibat hama dan penyakit sehingga tidak berproduksi.
Kendala yang dihadapi dalam peremajaan tanaman adalah keterbatasan sumberdaya yang dimiliki petani, peremajaan kelapa sangat lama dengan hasil yang didapatkan belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini menyebabkan tingkat partisipasi petani dalam meremajakan dan pemeliharaan sangat kurang sehingga hasil yang didapatkan kurang maksimal.
Program ini diharapkan pada aspek penyediaan bibit tanaman kelapa unggul, yang akan dibagikan pada masyarakat yang mengikuti program agribisnis perkebunan kelapa.  Dimana secara terintegrasi kelompok masyarakat penerima bibit unggul ini, menginventarisir kepemilikan pohon kelapanya yang sudah masuk kategori TTM, untuk ditebang dan diremajakan dengan bibit yang diterimanya. Kemudian kelompok masyarakat ini dilatih berbagai paket keterampilan berbasis kelapa, seperti pelatihan pembuatan arang batok kelapa, pelatihan pembuatan minyak VCO (virgin coconut oil), CCO (crude coconut oil) dan pelatihan pembuatan kayu kontruksi dari kayu kelapa.
Pengadaan Mesin Pengolah Kopra dan Kelapa
Kebutuhan pabrik pengolahan minyak kelapa akan suplai kopra sangat besar bahkan tak terbatas, tetapi justru yang terbatas adalah suplai dari petani kopra. Sementara kopra di petani kadang tidak terangkut, karena terkendala transportasi dan cuaca. Guna memecahkan kebuntuan 2 kondisi tersebut, maka di tingkat petani perlu diupayakan suatu kegiatan pengolahan kopra atau kelapa.  Hal ini dimaksudkan agar aspek nilai tambah dari pengolahan kopra (kelapa) menjadi minyak kelapa (CCO) ada di pihak petani, dan petanipun terhindar dari kopra mentah yang sifatnya bulky, cepat busuk dan murah harganya serta peluang tidak terangkut ke pabrik pengolahan.
Tabel. Komparasi antara kopra dan minyak CCO
No.    Kopra    Minyak CCO
1.    Proses produksi 3-4 hari dengan cara pengasapan    Proses produksi cukup 1 hari dari kelapa tua segar
2.    Hasil produksi tidak bisa bertahan lama, harus segera dikirim ke pabrik untuk menjaga kualitas kopra    Minyak lebih stabil dan dapat disimpan dalam waktu cukup lama
3.    Refraksi/pemotongan kopra oleh pabrik cukup besar sekitar 4-7% dari berat massa kopra, dimana kandungan atau persentase rata-rata minyak kopra adalah 45-55%    Tidak ada refraksi/pemotongan jumlah berat massa minyak di pabrik
4.    1 kg minyak kopra diperoleh rata-rata dari 2 kg kopra, dimana 2 kg kopra diperoleh dari 8 butir kelapa besar    1 Liter CCO diperoleh dari 8 butir kelapa tua segar
5.    Proses pengiriman produk membutuhkan treatmen/perawatan khusus agar kopra stabil kualitas minyaknya    Proses pengiriman lebih praktis, cukup dikirim memakai tangki dan juga lebih praktis dalam pengiriman
6.    Massa Volume kopra lebih besar, sehingga biaya pengiriman lebih besar    Karena massa volume lebih ringkas, biaya pengiriman dapat lebih ditekan
7.    Harga kopra sekarang rata-rata sekarang di hargai Rp 9.000/kg di pabrik    Harga minyak CCO rata-rata diharga 14.000/liter
8.    Kualitas minyak kopra berwarna kuning kecoklatan, banyak mengandung getah (gum), sangat kental dan memiliki kandugan asam lemak rata-rata 3%    Kualitas minyak lebih bagus, lebih jernih, dan kandungan FFA (free fatty acid) lebih kecil, dibawah 1%
9.    Alat-alat yang dibutuhkan untuk kopra adalah yaitu mesin cungkil dan oven kopra serta filter press untuk menghasilkan minyak kopra,    Alat yang dibutuhkan untuk membuat CCO adalah seperti mesin cungkil, mesin parut dan dan mesin press santan,
Sumber: http://rumahmesin.com
Pulau-pulau yang potensial untuk digulirkannya program pengadaan mesin pengolah kelapa/kopra ini adalah pulau-pulau yang memiliki areal perkebunan kelapa yang cukup luas, memiliki kendala dalam pengangkutan hasil terutama terkait dengan akses dan transportasi, tetapi memiliki celah untuk potensi pasar.  Potensi ini dimiliki oleh Pulau Marore, Pulau Subi Kecil dan Pulau Brass.
Pelatihan Pembuatan VCO
Pembuatan minyak kelapa (virgin coconut oil/VCO) secara tradisional sudah sejak lama dipraktikkan oleh ibu-ibu di pedesaan. Umumnya, VCO yang dihasilkan digunakan untuk minyak goreng. Di beberapa daerah, minyak ini lebih dikenal dengan nama minyak kelentik atau minyak krengseng. Pelatihan pembuatan minyak kelapa ini merupakan upaya pemanfaatan buah kelapa yang dipanen dari kebun sendiri, untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng sendiri.
Mahalnya harga minyak goreng baik yang berbahan baku kelapa, kelapa sawit, jagung, atau kedelai di pasaran juga menjadi alasan lain dari diadakannya pelatihan ini. Hal lainnya adalah pemanfaatan buah kelapa yang melimpah dan cenderung dibuang begitu saja, dimana kelapa yang sudah dipanen hanya mampu bertahan selama 1-2 bulan, setelah itu, buah kelapa akan busuk, atau tumbuh menjadi anakan baru.
Pelatihan Pembuatan Briket dari Batok Kelapa
Briket atau arang kelapa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energy alternatif yang murah. Rata-rata pulau di daerah tropis seperti di Indonesia ditumbuhi oleh pohon kelapa, dari luasan yang kecil saja dengan hanya beberapa batang pohon sampai luasan seluruh pulau.  Sumberdaya batok kelapa sebagai bahan dasar pembuatan arang yang melimpah, selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Pada beberapa daerah sudah memanfaatkannya untuk dibuat barang kerajinan ataupun barang fungsionil semisal alat rumah tangga.
Briket batok kelapa bernilai tinggi jika diolah dengan baik dan benar.  Penggunaan briket batok kelapa saat ini masih terbatas pada industry kecil pembuatan makanan, penjaja sate dan rumah tangga di beberapa daerah tertentu. Pembuatan briket arang kelapa di pulau kecil diarahkan guna mengurangi pemakaian kayu sebagai kayu bakar di dapur, sehingga tekanan terhadap sumberdaya kayu (hutan) pun akan berkurang.
Pelatihan Pemanfaatan Kayu Kelapa sebagai Kayu Kontruksi untuk Pembuatan Rumah Adat
Program ini bersinergi dengan program peremajaan tanaman kelapa. Pada program peremajaan, maka pohon-pohon kelapa tua yang sudah dalam kategori tanaman tidak menghasilkan akan ditebang dan diganti dengan tanaman baru. Batang-batang pohon tua yang ditebang, akan dimanfaatkan oleh penduduk pulau biasanya sebagai kayu kontruksi untuk berbagai keperluan seperti untuk rumah, tanggul, jalan, kandang ternak dan sebagainya.
Pelatihan pemanfaatan kayu kelapa sebagai kayu kontruksi untuk pembuatan rumah adat, diarahkan pada aspek pengolahan kayu mentah menjadi kayu olahan berbentuk balok, kaso ataupun reng. Pelatihan cara-cara pengawetan kayu, serta pelatihan cara pembuatan kayu olahan menjadi barang setengah jadi seperti papan lantai (parquet), kayu ornament indah (fancy wood), daun pintu, jendela dan kusen dengan finishing. Pelatihan ini akan bersinergi dengan sedang maraknya pasar rumah adat minahasa dengan system bongkar-pasang, yang penjualannya sampai ke luar negeri, tetapi pada beberapa pengrajin mengalami kesulitan bahan baku kayu.
Pembinaan dan Pelatihan Keterampilan Teknis Nelayan Tangkap Lokal
Kendala penguasaan tekhnologi, modal serta budaya menjadikan nelayan lokal tidak dapat berkiprah menikmati sumberdaya perikanan yang berada di halamannya. Untuk itu arahan pengembangan pada sector perikanan tangkap melalui pembentukan kelompok nelayan tangkap lokal dapat mempermudah pembinaan dan pemberian pelatihan yang mereka butuhkan. Dengan adanya pembinaan maka kendala-kendala yang ada dapat dicarikan solusi secara bersama-sama. Pelatihan keterampilan teknis untuk nelayan tangkap dapat meningkatkan keterampilan nelayan dalam meningkatkan hasil produksi tangkapannya.
Keterampilan tersebut dapat berupa penggunaan alat tangkap dengan tekhnologi yang lebih canggih, pengoperasian kapal tangkap bertonase lebih besar dan yang terpenting adalah organisasi tim dalam kegiatan penangkapan. Tentunya lebih sulit merubah budaya nelayan lokal dengan etos kerja one day fishing menjadi nelayan dengan etos kerja industry, melalui kerja tim yang solid yang melaut dalam jangka waktu berhari-hari.
Pengadaan Kapal dan Alat Tangkap
Kebutuhan kapal dan alat tangkap untuk para nelayan di pulau sangat tinggi, dengan adanya kapal tangkap dan alat tangkap yang baru dan memadai diharapkan dapat mendukung sektor perokonomian di daerah tesebut.  Setiap daerah mempunyai karakteristik lingkungan yang berbeda-beda, pengadaan kapal dan alat tangkap harus disesuai dengan kondisi dan kebutuhan setiap daerah. Kapal yang tangguh dan alat tangkap yang canggih merupakan salah satu modal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pulau-pulau terluar, tetapi akan menjadi kontra produktif bila hal ini tidak dibarengi dengan pemberdayaan soft skill nelayan lokal.
Untuk itu arahan pengembangan pada perikanan tangkap adalah bagaimana teknologi penangkapan ikan dikembangkan dengan tetap berbasis pada komunitas nelayan setempat. Lokasi pengembangan perikanan tangkap yang masih potensial adalah perairan pada jalur penangkapan ikan 2 (4 - 12 mil laut), yang berada di perairan sebelah barat Pulau Marore (Laut Sulawesi) dan perairan sebelah utara dan timur Pulau Marore (Samudera Pasifik).
Pembangunan Dermaga Wisata, Cottage Wisata, Spot-Spot Pemancingan, Snorkeling dan Diving
Pariwisata merupakan salah satu bidang yang bisa menjadi sumber pendapatan daerah. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk wisata bahari antara lain keindahan panorama, snorkeling, scuba diving, penanaman mangrove, memancing, pelepasan tukik dan lain-lain.  Dibutuhkan kajian dan survey potensi guna menginventarisir lokasi-lokasi mana saja yang layak untuk dikembangkan sebagai tempat wisata.  Arahan dari RDTR Pulau Marore yang disusun oleh Depertemen Pekerjaan Umum (2007), untuk lokasi pariwisata bahari adalah pada pesisir pantai sebelah timur pulau, yang merupakan perairan setengah teluk sehingga relatif terlindung.
Guna mendukung pengembangan pariwisata, maka sarana dan prasarana serta infrastruktur pendukung harus segera diadakan. Sarana dan prasarana tersebut meliputi pelayanan angkutan laut regular, pelabuhan atau dermaga sandar, jaringan jalan, akomodasi wisata berupa penginapan atau cottage wisata serta restoran.  Setelah itu semua terpenuhi maka promosi wisata mulai dapat dijalankan. Diadakannya semacam acara festival tahunan dengan mengambil tema tertentu, kemudian diliput oleh jaringan penyiaran radio dan televisi sehingga informasinya tersebar luas adalah sarana promosi yang efektif.
Pembuatan Sarana Atraksi Wisata Hiu
Salah satu kegiatan wisata bahari yang dapat dijadikan program unggulan adalah atraksi wisata hiu. Atraksi tersebut berupa aksi pemberian makan hiu oleh seorang pawang hiu dan dilihat oleh pengunjung wisata. Pemberian makan bisa dilakukan diatas perahu atau secara menyelam bersama sekumpulan hiu.  Perlu dilakukan kajian mendalam terhadap banyak aspek pada jenis wisata tematik ini.
Acara Festival Rakyat, Brosur Wisata, Siaran Televisi dan Radio
Daya tarik wisata bahari yang lain seperti festival rakyat bahari, kebudayaan penduduk asli dalam festival tersebut menjadikan daya tarik tersendiri.  Biasanya festival tersebut diadakan dalam rangka upacara adat atau waktu-waktu tertentu. Brosur, iklan di televisi dan radio merupakan langkah promosi yang dapat dilakukan pemerintah daerah, pemerintah pusat maupun lembaga swasta dalam memberitahukan kepada masyarakat umum bahwa ada event wisata bahari didaerah tersebut.
Pengembangan Paket Wisata Budaya dan Sejarah, yang Dapat Menampilkan Keterkaitan Budaya dan Sejarah dengan Philipina
Kesamaan budaya dan bersatunya kawasan pulau-pulau yang berada di gugusan pulau Sangihe-Talaud dengan pulau-pulau di Kepulauan Philipina Selatan sebelum masa penjajahan oleh Spanyol, Belanda dan Amerika banyak meninggalkan jejak sejarah berupa bangunan, monument, kuliner dan tata cara adat.  Hal ini dapat dikelola dan dikemas menjadi suatu paket atau atraksi wisata budaya dan sejarah yang dapat djual pada pasar wisata di kedua Negara.
Pengembangan wisata dapat dilakukan dengan cara memberikan paket wisata yang menarik bagi pengunjung,misalnya wisata bahari dipadukan dengan wisata budaya atau sejarah. Dua unsur tersebut merupakan daya tarik tersendiri yang tidak dapat dijumpai di daerah lain. Daerah pulau terluar biasanya ada perkawinan silang kebudayaan antara penduduk asli dengan penduduk yang datang ke pulau tersebut. Adanya perkawinan silang tersebut dapat menambah khasanah budaya dalam negeri  dan dapat dijadikan ajang promosi unggulan.
Penetapan Kawasan Perlindungan Jenis dan Habitat Penyu
Pulau Marore merupakan daerah ruaya bagi beberapa jenis penyu, ikan hiu dan lokasi migrasi lumba-lumba. Pada arahan pengembangannya diupayakan adanya kawasan konservasi berupa suaka pesisir, karena merupakan wilayah pesisir yang menjadi tempat hidup dan berkembang biaknya (habitat) suatu jenis fauna yang khas, unik, langka dan dikhawatirkan akan punah, serta merupakan tempat migrasi lumba-lumba yang keberadaannya memerlukan upaya perlindungan.
Guna mencapai hal tersebut diperlukan kajian lebih lanjut mengenai tepatnya dimana lokasi ruaya penyu, ikan hiu dan jalur migrasi lumba-lumba. Dibutuhkan juga kajian mengenai kedudukan Pulau Marore dan perairan sekitarnya dalam siklus hidup fauna dilindungi ini, apakah Pulau Marore dan perairan sekitarnya sebagai lokasi spawning ground,  nursery ground, feeding groud atau hanya sebagai lokasi pelintasan saja saat bermigrasi atau beruaya.
Pemeliharaan Titik Referensi
Pemeliharaan disini meliputi pembersihan titik referensi atau titik dasar tersebut dari semak belukar, pepohonan atau apapun yang menghalangi atau menutupinya. Jika tanda-tanda tersebut berada pada lokasi pemukiman, maka diberikan kawasan sempadan bagi tanda tersebut untuk bebas dari bangunan apapun yang berpotensi menghalangi atau menutupinya. Pembuatan beton dan pemagaran sekeliling tanda tersebut, sering menjadi pilihan untuk dilakukan.
Pembuatan Monumen dan Atribut Perbatasan
Adakalanya tanda-tanda perbatasan yang formal, kurang mendapat perhatian baik oleh instansi berwenang apalagi oleh masyarakat umum.  Untuk itu sebuah penanda yang lebih atraktif, seperti monument dapat saja dibangun. Dengan adanya monument atau atribut tersebut dimasa yang akan datang tidak ada lagi permasalahan sengketa lahan perbatasan. Adakalanya pada beberapa kasus atribut tersebut, dapat berfungsi lain misalnya sebagai tempat wisata, contohnya Check Point Charlie di bekas Tembok Berlin Jerman.  Monumen yang akan dibuat harus mencirikan budaya lokal setempat serta memuat pesan akan kehadiran pemerintahan Negara RI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar