Sabtu, 31 Maret 2012

Wisata Puncak di Bogor Sebenarnya Menarik, Namun Aksesnya Yang Perlu Ditata

Wilayah Puncak di Bogor sebenarnya menarik, makanya wisatawan lokal masih berbondong-bondong untuk mendatanginya walaupun mereka sudah tahu bahwa jalur ke Puncak itu pasti –macet-. Wilayah Puncak memiliki udara yang sejuk dan banyak tempat-tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Kalau seumpama wilayah dan pemandangan Puncak ada di negara lain, saya kira negara itu akan habis-habisan untuk mempromosikan sebagai salah satu tujuan wisata andalannya dan tentu akan membuat membuat para pengunjungnya merasa dimanjakan dengan memberikan perjalanan yang nyaman dan waktu tempuh yang normal dengan memenuhi hak-haknya akan kebutuhan visual pemandangan yang indah sepanjang perjalanannya.
Saat ini sepanjang jalan Pucak, mulai dari Simpang Gadog Ciawi sampai Ciloto Cianjur dipenuhi oleh berderet-deret warung-warung kumuh yang kemungkinan keberadaannya ilegal dan menyalahi ketentuan sempadan jalan yang sama sekali tidak sedap dipandang mata dan tentu saja menghalangi pemandangan yang bagus yang ada di balik warung itu.
Warung-warung kumuh yang tidak estetik tersebut selain menutup keindahan yang harusnya dapat dinikmati masyarakat juga berdampak terhadap kelancaran lalu lintas yang melewati wilayah Puncak ini karena pengunjung warung-warung tersebut akan menghambat arus lalu lintas di sekitarnya.
Kiranya Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemda Kab Cianjur untuk menata kembali jalur ini dengan cara memberikan tempat bagi warung-warung secara terkonsentrasi di suatu tempat sehingga ekonomi masyarakat tidak terganggu, estetika dapat terpenuhi, dan kelancaran lalu lintas dapat dijaga. Kalau itu terpenuhi maka wisatawan akan lebih banyak lagi yang akan datang ke tempat ini dan tentu akan membawa kesejahteraan kepada masyarakat sekitar Puncak ini.
(Gunung Mas - Puncak Bogor, 31 Maret 2012)



Berikut adalah foto-foto yang tidak mungkin terlihat dari jalan raya karena tertutup warung-warung:
Pemandangan dari balik restoran Rindu Alam
Pemandangan di balik warung di Ciloto
Kebun sayur di balik warung di sekitar Puncak Pass
Akibat tidak tertatanya Sempadan Jalan:
Akibat Sempadan jalan yang tidak tertata; kemacetan dan pemandangan terhalang

Jumat, 30 Maret 2012

Wisata ke The Peak di Hong Kong


The Peak di Hong Kong adalah tempat tertinggi di Perbukitan Hong Kong. Sampai-sampai puncak beberapa gedung bertingkat seolah berada sejajar dengan telapak kaki kami. Untuk mencapai The Peak ini, bisa melalui jalan sempit yang berkelok-kelok dan di salah satu sisinya terdapat jurang dalam yang menganga. Namun yang paling seru adalah naik Tram seharga HK$ 50 per orang.
Kami datang ke The Peak pada hari Minggu, sehingga dapat dimaklumi kalau pengunjungnya membludag banyak sekali. Namun, walaupun begitu, mereka tetap tertib antri, dan tertib masuk satu persatu ke dalam gerbong tram dan menjaga kebersihan. Satu tam terdiri dari 2 gerbong yang dapat mengangkut 170 penumpang sekali jalan dan 50 orang yang berdiri. Satu kali perjalanan mendaki dengan kemiringan diatas 45 derajat hanya sekitar 30 menit saja, berbeda ketika turunnya tentu.
Pemandangan dari dalam tram ke arah kanan, benar-benar luar biasa. Gedung-gedung tinggi seolah menyembul berdiri di cekungan lembah yang sangat dalam. Pemandangan yang baru saya jumpai.
Setelah sampai di puncak bukit ini, kami turun dari tram dan disitu ada bangunan seperti mall ukuran kecil, yang banyak restoran, toko-toko suvenir, toko yang menjual barang fashion, terus ada Hard Rock Cafe, dan yang utama adalah adanya salah satu cabang Patung Lilin Madame Tussauds. Tiket masuk orang dewasa sebesar HK$185,-.
Kami berkeliling menikmati karya seni patung lilin ini. Yang membedakan dari Museum Madame Tussauds yang kami kunjungi 3 bulan lalu di Hollywood adalah disini ada sejumlah patung dari tokoh-tokoh negara Asia, seperti Saddam Husein, Lee Kuan Yu, Deng Xiaoping, Mao Zedong, dan lainnya. Engga tahu kenapa disini tidak ada Soeharto atau Soekarno atau tokoh lainnya dari Indonesia? Mungkin itu nanti bisa ditemui di Museum Madame Tussauds yang akan dibangun di sekitar Ancol, Jakarta. Hal lain yang membedakan dengan museum yang sama dengan yang ada di Hollywood adalah tata cahaya, tata letak dan lingkungan dari patung-patung tersebut. Di Hollywood, kami dibuat terperangah karena kemiripannya dengan tokoh aslinya beserta lingkungannya hampir sempurna apalagi dengan pencahayaan yang pas sekali. Tapi disini, kami tidak merasakan tentang hal itu.
Setelah kami puas berkeliling menikmati isi museum Madame Tussauds ini, kami segera menuju salah satu restoran kecil yang ada di The Peak ini dan kami santap siang sambil ditemani udara dingin puncak nan segar.
Keterangan: HK$ 1 = Rp 1200,-
(Hong Kong, 25 Maret 2012)
City Tour
Tram ke Puncak Bukit
Satu Rangkaian Tram terdiri 2 Gerbong
Berdiri di Tram Harus Miring ke Depan karena Jalan Mendaki
Pemandangan Puncak Gedung Tinggi
Madame Tussauds Museum, minus Tokoh Indonesia
Lady Gaga yang Asli, yang Mana ya?
Deng Xiaoping, Tokoh Reformasi Ekonomi China

Kamis, 29 Maret 2012

Pantai Avenue of The Stars di Hong Kong


Berdiri di bibir pantai Avenue ini adalah berdiri di atas beton lebar sepanjang 2 km yang berada persis di pinggir dari teluk Hong Kong. Sekeliling kami adalah beton yang datar dan banyak yang menjulang ke langit seperi bangunan berlantai 30 hotel Sheraton. Tidak ada tetumbuhan pesisir yang ada adalah aneka bunga dengan warna yang berbeda-beda.
Di seberang kami yang dibatasi laut terlihat berjajar aneka gedung-gedung tinggi seperti ketika kami melihat Manhattan dari lokasi Patung Liberty di Amerika. Sungguh bagi kami ini adalah pemandangan yang sangat berbeda dengan yang ada di pesisir Jakarta.
Karena hari masih pagi, dalam udara sedikit berkabut, beberapa bule sedang menikmati pagi dengan berolah raga, berlari kecil di atas beton pantai ini. Udaranya-pun sangat mendukung, suhu 20 derajat dan hangat sinar matahari pagi. Tidak ada sedikitpun suara bising, tak dirasakan pula adanya polusi disini. Hanya sesekali terdengar peluait kapal pesisir yang akan merapat di pelabuhan. Selebihnya sunyi dalam keramaian.
Avenue of the stars, nama itu mengacu kepada pantai ini yang dijadikan tempat telapak tangan atau sekedar nama dari bintang film Hong Kong yang kondang-kondang seperti actor Bruce Lee, yang ditorehkan di lantai, meniru halnya di trotoar di Jalan Avenue di Hollywood.
Kami tidak melihat ada pedagang kaki lima, kami tidak melihat anak kecil yang menjadi peminta-minta, atau-pun orang yang duduk-duduk sebagai pengangguran. Pantai ini serba bersih, serba nyaman, walau air laut yang biru bersih itu tidak berombak. Namun beberapa ikan-ikan kecil sangat jelas terlihat bergerombol di pinggir laut.
Sebelum beranjak dari pantai Avenue ini, pikiranku melayang terbang ke Pantai Losari Makassar. Andai Losari seperti Avenue ini.......
(Hong Kong, 25 Maret 2012)
Sudut Hong Kong di Malam Hari
Penanda Pantai Avenue of The Stars, Hong Kong
Nama Bruce Lee di toreh di Lantai seperti di Hollywood
Pantai Sekaligus Suasana Perfilman
Tempat Berfoto yang Bagus, Masuknya Gratis lagi
Seperti Manhattan, Amerika
Lebar, Bersih, Nyaman
Tampak Pinggir dari Kontruksi Pantai Avenue ini
Ketika Kapal Pesiar Sea Land mau Merapat
Hotel Sheraton dengan View ke Teluk Hong Hong

Rabu, 28 Maret 2012

Wisata di Kota Shenzhen, China

Seperti halnya kota-kota dunia lainnya, Shenzhen-pun diarahkan sebagai daerah tujuan wisata, dimana infrastruktur yang mendukung kegiatan itu telah dipersiapkan dengan matang, terencana, dan terkoordinir dengan baik. Infrastruktur berupa jalan menuju objek wisata, moda transportasinya, dan tentu dipersiapkan dengan baik dari objek wisatanya itu sendiri. Pedestrian dan jalan raya di Shenzhen sungguh lebar-lebar, dan sangat memanjakan para pemakainya. Tidak ada kemacetan sama sekali karena sebagian besar masyarakat menggunakan transportasi umum untuk aktifitas sehari-harinya serta masyarakat hampir seluruhnya bekerja tidak terlihat para pengangguran di jalanan yang nongkrong-nongkrong apalagi menjadi penngemis atau pengamen. Selain itu di setiap sudut kota, dipinggir-pinggir jalan, semuanya ditumbuhi aneka pepohonan yang memberikan nuansa hijau dan alami.
Secara umum objek wisata yang umum dikunjungi adalah berkaitan dengan tujuan wisata itu sendiri. Ada wisata alam, wisata budaya, wisata spiritual, wisata belanja, wisata kuliner, dan wisata minat khusus. Di Shenzhen, semua jenis wisata yang disebutkan tadi dapat ditemui dimana-mana, namun untuk wisata kuliner, agak susah mendapatkannya. Di Shenzhen tidak ada kaki lima dan tidak ada warung-warung atau cafe yang berterbaran dimana-mana seperti di Jakarta atau Bangkok. Tempat makan di Shenzhen terbatas di mall atau di perhotelan. Tentu sudah dapat menduga baik terhadap rasa, penampilan, dan harga dari makanan itu. Berbeda kalau ada kaki lima, dimana di kaki lima biasanya rasanya oke banget dan dengan harga yang terjangkau. Wisata berkaitan dengan makanan dan obat-obatan yang juga banyak terdapat di Shenzhen adalah wisata teh, kebun leci, dan obat-obatan. Dan jangan lupa juga untuk mengunjungi toko-toko perhiasan terutama batu giok-nya.
Kota Shenzhen tidak memiliki gedung tua apalagi yang bersejarah, karena Shenzhen baru dibangun menjadi kota dimulai pada Maret 1980. Namun demikian, arsitektur kota-nya sangat bagus, dengan tampilan bentuk eksterior dan warna dari gedung-gedung pencakar langit sangat beragam. Kesan yang diberikan bisa indah, mengagumkan, bahkan kita berdecak kagum akan keunikannya. Gedung-gedung pencakar langit di Kota Shenzhen tidak melulu hanya untuk perkantoran, namun lebih banyak untuk apartemen atau pemukiman. Kota Shenzhen yang luasnya 2020 km2 atau 1/3 nya luas Pulau Bali, sebenarnya memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, namun karena bangunan-bangunan termasuk untuk pemukiman, diarahkan secara vertikal maka di jalanan itu tidak terlihat banyak orang lalu lalang. Kembali lagi soal keunikan gedung-gedung tinggi. Karena apartemen ini dihuni banyak ragam manusia, maka di selasar kamar-kamarnya itu sering terlihat hal-hal yang aneh-aneh menggantung disana. Selain jemuran, ada juga yang pelihara tanaman, bahkan kandang dengan burungnya. Untuk seorang fotografer, pemandangan seperti pasti sangat menarik minatnya.
Wisata pantai di Shenzhen yang paling terkenal adalah pantai Dameisha. Banyak wisatawan yang melepas lelah dan bemandi rian di pantai yang sangat bersih sekali.
Wisata budaya ada di dua tempat, yaitu di China Folk Culture Villages dan di Window of The World. Di China Folk Culture Villages selain menampilkan replika rumah-rumah adat yang ada di China, juga yang sangat ditunggu-tunggu pengunjung adalah show drama tari secara kolosal. Tarian ini dimainkan oleh 500-an pemain dengan tata panggung, tata cahaya, tata busana, dan dekorasi dibuat sangat apik dan sempurna. Tarian semi kontemporer yang kolosal ini berbasis budaya China yang sudah turun temurun, misalnya permainan kung fu dan akrobat. Saya sangat kagum dengan pertunjukkan ini, tentu itu sudah mahfum. Yang menambah kekaguman saya lagi adalah managemen pengelolaan objek wisata ini. Mulai dari akses masuk, parkir kendaraan, penataan ruang wisata, penataan tempat makan, kamar kecil, serta pertunjukkannya itu sendiri. Semuanya serba bersih dan serba tertib.
Kemudian ke tempat wisata Window of The World. Dimana di tempat ini ditampilkan replika bangunan-bangunan monumental dunia seperi; Taj Mahal, Borobudur, Menara Eiffel, Katedral di Jerman, dan lainnya. Sebenarnya tempat ini kurang menarik karena repilkanya hanya berukuran beberapa meter saja. Kita tidak bisa masuk ke bangunan-bangunan tersebut karena saking kecilnya. Berbeda dengan di taman mini dimana kita bisa masuk ke bangunan tersebut dan menikmati detil interior dan eksteriornya.
Bagaimanapun tempat-tempat wisata di Shenzhen punya keunggulan tersendiri yaitu soal ketertiban, kebersihan, dan pelayanan prima dari pengelolanya.
(Shenzhen, 23 Maret 2012)
Kota Shenzhen
Suasana Jalan Raya di Shenzhen
Kota yang Resik dan Hijau
Arsitektur Gedung Bertingkat yang Beragam
Selamat Datang di China Folk Culture Villages
Gerbang Kemakmuran di China Folk Culture Villages
Replika Rumah Tibet di China Folk Culture Villages
Tarian Komtemporer Kolosal di China Folk Culture Villages
Bergaya di Depan Miniatur Menara Pissa di Window of The World
Miniatur Air Terjun Niagara di Window of The World
Wisata Batu Permata
Tempat Parkir Kendaraan Pengunjung yang Nyaman
Tempat Makan hanya Di Mall atau Hotel

Pengalaman Masuk Toko Obat di Kota Shenzhen, China

Saya bersama istri ikut paket tour henzhen di China dari salah satu agen tour ternama di Jakarta. Bersama rombongan kami, ikut serta Prof Sarlito Wirawan, seorang psikolog dari Universitas Indonesia bersama cucunya. Sepanjang perjalanan tour, kami berdiskusi banyak tentang berbagai hal yang utamanya tentang psikologi massa terkait demo, anarkhi, amok massa, dan perpolitikan nasional dipandang dari sudut psikologi. Lumayan dapat kuliah gratis. Ada satu keluarga lain yang ikut serta di rombongan kami, yaitu keluarga Bapak Ateng Budiman, penampung cengkeh dan kopi di Rangkasbitung. Pak Ateng berangkat bersama keluarga besarnya bersepuluh termasuk dengan kokong popong-nya (kakek nenek-nya).
Salah satu objek tur kami adalah mengunjungi toko obat Bao Shu Tang di Jalan Tai Ran no 80, Luohu, Shenzhen. Sebenarnya bukan toko obat seperti umumnya yang ada di negara kita. Tetapi ini lebih kepada tempat praktek seorang penjual obat-obatan China.
Kita bersama masuk toko obat dimaksud yang disambut oleh para pegawai toko tersebut. Setelah kami berderet rapih di depan pintu besar, keluarlah yang dikenalkan oleh salah satu pegawainya sebagai Profesor Dokter dari balik piuntu besar tadi mirip seorang artis keluar dari tirai panggung dan sang pegawai mengajak untuk memberikan tepuk tangan kepada Profesor tersebut. Kami beri tepuk tangan seperti apa yang diminta tadi.
Profesor tersebut memperkenalkan diri dan mengaku bahwa dia adalah warga Tanjung Priok Jakarta yang pada tahun 1960-an dapat beasiswa untuk belajar kedokteran di Universitas Beijing (dahulu dikenal dengan nama Peking). Setelah selesai pada tahun 1970 dan ingin kembali ke Indonesia, ternyata tidak diijinkan oleh pemerintah Indonesia pada waktu itu. Karena ditakutkan terbawa oleh ideologi komunis. Dia bercerita sambil menunjukkan paspor Indonesia yang berwarna hijau dan sudah lecek. Dari cerita itu saja, sedikit banyak sudah mengundang simpati.  Kemudian, Profesor ini menerangkan tentang organ utama tubuh manusia, yaitu: ginjal, hati, jantung, paru, dan pangkreas. Apabila ada masalah di ginjal akan berakibat domino terhadap organ lainnya. Karena ginjal bermasalah bisa menyebabkan sakit jantung, diabetes, kolesterol, dan lainnya. Sang Profesor berulang-ulang menerangkan bahwa penyakit diabetes adalah bukan penyakit genetis dan itu dapat diobati. Profesor ini menerangkan tentang diabetes ini berkaitan dengan obat yang akan ditawarkannya. Kemudian Profesor ini menerangkan bahan-bahan yang dipakai sebagai ramuan obatnya, yaitu diantaranya adalah: ginseng, jamur, dan ‘tungtung’ (tung chun chau) . Saya baru denger juga tentang ‘tungtung’ ini. Tuntung adalah suatu tumbuhan berupa akar dimana pada musim semi dari akar akan berubah bentuk menjadi semacam ulat kecil. Secara visual bentuk dan ukurannya hampir mirip toge.  Tungtung ini hanya dapat hidup di salah satu pegunungan di Tibet dengan ketinggian tertentu. Harga satu pak seukuran dua bungkus rokok kretek setara Rp 24 juta (???).
Setelah selesai menerangkan beberapa hal tersebut yang lamanya sekitar 30 menit, kemudian Profesor menyerahkan estapet acara lanjutnya kepada asistennya. Dan sebelum Profesor ini beranjak, dia bilang: Silahkan konsultasi tentang apa saja yang menyangkut kesehatan dengan asistennya secara gratis. Penting dicatat nih –gratis-.  Setelah itu tiap keluarga, seperti aku dan istri, diajak ke ruang konsultasi. Kami berkonsultasi kepada asisten Profesor dimaksud yang ditemani seorang penerjemah. Kemudian telapak tangan kami minta dibuka. Sambil dipegangnya, dia bertanya: Apa yang menjadi keluhan kesehatan saudara? Dalam hati saya bertanya-tanya, apa artinya telapak tangan dibuka tetapi bertanya tentang keluhan sakitnya apa.
Lalu saya jawab dengan menyebut salah satu penyakit. Kemudian Pak Asisten ini menerangkan secara panjang lebar tentang penyakit tersebut, yang sebenarnya pengetahuan tentang penyakit itu sudah secara umum banyak yang mengetahuinya. Kemudian, dia bilang bahwa penyakit tersebut ada obatnya yang sangat manjur di toko ini. Terus berkali-kali bertanya: mau engga beli obatnya?
Saya jawab: Boleh lihat barangnya dulu?
Sang penerjemah bergegas mengambilkan obat dimaksud. Begitu datang, obat itu telah dikemas dalam box-box kecil yang terdiri dari 12 box. Satu box dipakai untuk satu bulan. Atau artinya satu paket ini untuk satu tahun. Sang asisten menerangkan lagi tentang khasiat obat tersebut. Dia bilang ini harus dibeli semua untuk pengobatannya karena penyakit ini tidak bisa disembuhkan secara cepat.
Karena terus menerus menawarkan obat tersebut, lalu saya bertanya: berapa harga satu paket ini?
Jawabnya: 30.000 RMB atau yuang (RMB = Yuan, 1 RMB = Rp 1500).
Saya berhitung sendiri, ternyata kalau dirupiahkan, nilai itu setara Rp 45 juta. Waw, ini mah bukan sembuh malah jadi sakit karena nilainya besar sekali. Kami tidak punya uang sebanyak itu. Mereka terus mendesak dengan berbagai cara, agar kami membelinya. Setelah mereka sadar bahwa kami tidak bergeming untuk membelinya. Lalu mereka menunjukkan pintu keluar. Artinya kami dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan konsultasi.
Saya dan istri langsung ke dalam bis dan ternyata Prof Sarlito sudah ada di dalam bis ini. Pak Sarlito bertanya kepada kami: beli tidak obatnya?
Jawab kami: tidak
Lalu Pak Sarlito bercerita kejadian sewaktu di dalam ruang konsultasi tadi yang intinya hampir sama dengan kejadian yang kami alami. Waktu konsultasi, Pak Sarlito bertanya kepada asisten profesor yang di tempat konsultasinya: Apakah saudara dapat menerangkan secara scientifik bahan dan manfaat dari obat ini?
Atas petanyaan simple Prof Sarlito, sang asisten gelagapan menjawabnya dan tidak dapat menjawabnya secara jujur. Setelah itu Pak Sarlito pamit untuk tidak meneruskan konsultasinya. Pak Sarlito lanjut menegaskan bahwa cara penjualan obat semacam itu bisa dikatagorikan ‘pemaksaan’. Sambil bercanda, Pak Sarlito menambahkan: Ngajak konsultasi kok kepada Profesor beneran. Yang diikuti tertawa berderai bersama.
Lain ceritanya dengan keluaga besar Bapak Ateng Budiman, karena beliau-beliau percaya akan pengobatan China. Pak Ateng membeli obat-obatan disini sampai senilai Rp 50 juta.
Obat bisa berkhasiat bagi yang mempercayainya.
(Shenzhen, 23 Maret 2012)
Tampak Muka Toko Obat di Shenzhen
Ruang Tunggu Toko Obat di Shenzhen
Harga satu botol obat ini =2500 RMB atau Rp 3,75 juta

Selasa, 27 Maret 2012

Nyaman dan Menyenangkan Jalan-Jalan di Kota Shenzhen, China

Begitu masuk Kota Shenzhen, benak kita yang sudah tertanam lama tentang kota dan kehidupan masyarakat China, sirna sudah semuanya. Image yang sudah terpatri adalah China yang identik dengan, sepeda, pakaian seragam warna hijau, dan topi bambu, tapi itu pemmandangan jaman dulu/ jadul, kini sudah sangat susah mendapatkan gambaran demikian. Kini kota kota besar di China seperti Shenzhen sudah penuh diisi oleh gedung-gedung pencakar langit dengan kehidupan serba modern yang dapat disejajarkan dengan kota-kota dunia lainnya seperti; Tokyo, London, New York, Merlbourbone, dan lainnya.
Kota Shenzhen merupakan salah satu kota di Propinsi Guandong yang memiliki luasan sewkitar 2020 km2 atau sebagai gambaran sekuran 5 kali Pulau Batam atau sepertiganya Pulau Bali. Sebelum tahun 1979, Shenzhen hanyalah kampung nelayan dengan penduduk 30 rb jiwa saja. Namun berkat keinginan kuat dan konsisten dari pemimpin China pada waktu itu Deng Xiaoping yang lebih mementingkan kemajuan ekonomi dibanding porsi politik ideologi-nya, maka pada tanggal 1 Mei 1980 dicanangkan Kota Shenzhen sebagai Zona Ekonomi Khusus. Pemerintah membangun dan menyediakan infrastruktur yang sangat memadai guna menarik investasi dari luar negeri.
Kota Shenzhen sebagai wilayah perbatasan antara China dengan Hong Kong dibangun dalam rangka menyaingi kemajuan ekonomi Hong Kong yang pada waktu itu masih bagian protektorat Inggris Raya dan telah terlebih dahulu maju. Shenzhen haruslah memiliki daya sain yang lebih baik dibanding Hong Kong dan hal itu dilaksanakan baik oleh pemerintahan lokal Kota Shenzhen maupun oleh pemerintah pusat di Beijing. Pemerintah selain menyediakan infrastruktur yang sangat mumpuni karena terencana secara integral dengan baik, juga memberikan kemudahan dalam bidang moneter, kepabeanan, dan perpajakan. Pemerintah China menerapkan ‘no limit currency’, pengurangan pajak, dan bahkan mengeluarkan kebijakan yang membolehkan investor untuk membawa 100% keuntungannya ke negara asalnya. Kebijakan itu tentu sangat menarik bagi para investor, khususnya para pengusaha dari Hong Kong. Pada tahun 1990-an, Salim Group dari Indonesia tercatat sebagai salah satu investor dalam industri pertelevisian. Saat ini kurang lebih ada sekitar 8000-an pabrik di Kota Shenzhen dengan basis industri IT, perhiasan, teh beserta derivatnya, dan lainnya.
Infrastruktur dalam bidang energi dan transportasi di Shenzhen sudah sangat maju. Shenzhen yang telah mencanangkan sebagai ‘Green City’, benar-benar dengan komitmen penuh seluruh ‘stekaholders’ ikut menjalankannya. Energi yang dikembangkan secara besar-besaran adalah energi ramah lingkungan, sehingga sumber energi yang berasal dari matahari (LTS, Listrik Tenaga Surya), angin, mikro hidro dan lainnya banyak dikembangkan. Ada satu ruas jalan dengan panjang 4 km-an yaitu Jalan Shen Nan di pusat Kota Shenzhen yang dipenuhi oleh gedung gedung bertingkat, dimana hampir seluruh kebutuhan energinya disuplay oleh tenaga matahari. Taksi dan bus-bus umum juga banyak yang menggunakan energi listrik. Taksi yang menggunakan daya listrik ini dengan ciri warna biru dan bertuliskan ‘e-taxi’. Listrik untuk memutar mesin kendaran tersebut apabila di charger selama satu jam, itu dapat digunakan untuk berjalan sejauh 300 km. Kendaran umum di kota Shenzhen hanya berumur 3 tahun sedangkan kendaraan pribadi dapat berusia maximal 8 tahun. Motor atau kendaraan roda 2, oleh pemerintah dengan tegas telah melarangnya untuk wara-wiri di jalan raya sejak 1996. Pelarangan itu dengan alasan kuat karena berkaitan dengan polusi yang dihasilkannya, mengakibatkan banyak kecelakaan, dan banyak digunakan untuk tindak kejahatan. Saat ini motor listrik yang masih boleh dijalankan, itupun di ruas jalan raya secara terbatas.
Walaupun jalan raya di Kota Shenzhen lebar-lebar atau setidaknya ada 4 lajur,  dan tidak ada yang mengalami kemacetan sama sekali, namun masyarakatnya lebih dari 80% menggunakan fasilitas transportasi umum, utamanya subway/metro, bus umum, dan taxi, untuk menunjang aktivitas hariannya. Transportasi umum terutama subway, banyak digunakan masyarakan, karena faktor; kenyamanan, keamanan, tepat waktu, efisien, dan murah. Untuk diketahui harga BBM di Shenzhen pada Maret 2012 ini adalah 10,5 RMB atau setara Rp 16 250,-. Pemerintah Kota Shenzhen dengan upaya diversifikasi energi dari energi fosil ke sumber energi alternatif lainnya, setidaknya dapat menghemat 30 juta RMB/tahun. RMB=Yuan, 1 RMB= Rp 1500).
Soal persampahan-pun dan sanitasi lainnya, benar-benar di manage secara sempurna. Kita akan sulit menemuai selembar sampah saja di pinggir jalan. Pemerintah menindak tegas dengan denda besar bagi siapa saja yang membuang sampah sembarangan. Yang menarik perhatian saya adalah tempat-tempat publik yang biasanya banyak sampah berserakan, seperti di pasar, stasiun kereta, atau stasiun bus, sungguh resik sekali, bersih sekali, sangat nyaman. Bagi yang berbelanja di toko atau supermarket, pelayan tidak secara otomatis memberikan kantong kresek untuk membawa belanjaannya. Kalau-pun mau tetap menggunakan kantor plastik kresek, pembeli harus membelinya secara tersendiri dengan harga 50 sen RMB untuk yang kecil, dan untuk ukuran besar seharga 1 RMB. Penggunaan bahan plastik sedapat mungkin dihindari di Kota shenzhen ini.
Jalan-jalan di Kota Shenzhen sangat nyaman selain tidak ada sampah seperti yang saya ceritakan tadi, juga pedestrian-nya lebar-lebar sekali, sangat memanjakan para pejalan kaki. Ada satu hal lagi yang menjadikan kunjungan ke Shenzhen begitu nyaman, adalah tidak ditemuinya pedagang kaki lima, pengamen, peminta-minta, dan penyandang masalah sosial lainnya. Jangankan pengamen dan lainnya, melihat orang yang nongkrong-nongkrong yang tidak jelas keperluannya, itu tidak ada sama sekali. Orang-orang tidak beredar di jalanan tetapi mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Masyarakat masing-masing mendapat jaminan asuransi kesehatan, pendidikan, dan perumahan. Bahkan kaum difabel dapat tunjangan 1500 RMB/bulan atau setara Rp 2.250.000,- per bulan. Usia pensiun untuk laki-laki 65 tahun dan untuk perempuan 60 tahun.
Kota Shenzhen adalah contoh perencanaan kota yang ideal. Dari penduduknya pada tahun 1979 hanya 30 rb jiwa dan sekarang tahun 2012 sudah mencapai 12 juta jiwa. Dengan income per capita 13.581 $US, pertumbuhan ekonominya yang sangat fantastis yaitu 25,8% pada tahun 2011, sementara China secara keseluruhan adalah 9,8%. Kota Shenzhen adalah salah satu dari 4 kota lainnya seperti Beijing, Guangzho, dan Shanghai. China sendiri kini adalah kampium ekonomi dunia dengan menjadi no 2 di dunia setelah Amerika Serikat dan mengalahkan Jepang serta negara-negara Eropa.
(Shenzhen, 23 Maret 2012) 

Shenzhen Kota Modern
Sebagai Kota Budaya
Bus Listrik yang Ramah Lingkungan
Pedestrian yang Nyaman
Shenzhen Sebagai Tujuan Wisata
Jalan yang Lebar tanpa Macet

Senin, 19 Maret 2012

Opini Alternatif Strategi dan Kebijakan Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil


STRATEGI
              
a.    Strategi Umum

Mengacu pada kebijakan yang telah ditetapkan, maka strategi umum yang dilakukan dalam  pengelolaan pulau-pulau kecil adalah :

(1)      Mewujudkan keterpaduan dari aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, hankam dan kelembagaan;

Pengelolaan sumberdaya pulau-pulau kecil dilakukan secara menyeluruh/komprehensif dari berbagai aspek pembangunan sehingga terwujud suatu mekanisme pengelolaan pulau-pulau kecil yang optimal dan berkelanjutan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan, misalnya, aspek perikanan (tangkap dan budidaya), pariwisata, perhubungan, pemukiman, pertanian dan lain-lain.


(2)      Melaksanakan penataan dan penguatan kelembagaan pemerintah, masyarakat dan swasta/dunia usaha;
Kelembagaan Pemerintah Daerah, masyarakat dan dunia usaha secara umum masih perlu ditingkatkan baik kualitas maupun peran sertanya dalam proses pembangunan. Peningkatan kemampuan pemangku kepentingan melalui penyuluhan, pelatihan dan pendidikan baik formal maupun non formal sangat diperlukan agar pengelolaan pulau-pulau kecil terlaksana dengan baik. Peningkatan kelembagaan pemerintah di daerah diarahkan dalam rangka kerjasama  yang harmonis antara Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan Pemerintah kabupaten/kota, serta peningkatan kemampuan daerah dalam rangka pengelolaan pulau-pulau kecil secara mandiri.

(3)      Melakukan penyusunan  basis data (database) dan penataan ruang (laut, pesisir dan pulau-pulau kecil);

Ketersediaan database pulau-pulau kecil masih tersebar di berbagai instansi baik di pusat maupun di daerah. Oleh karena itu diperlukan suatu kerjasama dalam menginventarisir dan mengumpulkan semua data dan informasi dalam bentuk database sehingga pemanfaatan pulau-pulau kecil dapat dilakukan efisien dan efektif karena didukung oleh data yang akurat. Dalam rangka penanganan dan pengelolaan pulau-pulau kecil, maka penataan ruang laut, pesisir dan pulau-pulau kecil meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan (pemanfaatan), dan pengendalian perlu dilakukan. Hal ini dapat membantu Pemerintah Pusat dalam menentukan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya, sehingga secara konseptual, pengelolaan pulau-pulau kecil dapat mengintegrasikan semua kepentingan di wilayah darat, pesisir dan laut sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling mempengaruhi.

(4)      Melakukan pengembangan dan penataan sarana dan prasarana  dengan memperhatikan daya dukung lingkungan;

Salah satu kendala dalam pengelolaan pulau-pulau kecil adalah masih minimnya ketersediaan prasarana transportasi seperti kapal reguler, ketersediaan tambatan/dermaga, mercu suar dalam rangka keselamatan pelayaran, listrik, air bersih dan lain lain. Oleh karena itu perlu di dukung peran Pemerintah Daerah dalam penyediaan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi dengan memperhatikan daya dukung lingkungan.

(5)      Menyusun Rencana Pengelolaan pulau-pulau kecil berbasis masyarakat dan sumberdaya lokal dengan menghargai hukum adat/ kearifan lokal;

Pengelolaan pulau-pulau kecil terutama bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat penghuninya. Oleh karena itu keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan sampai dengan tahap monitoring dan evaluasi sangat diperlukan sehingga kegiatan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi sumberdaya lokal yang selanjutnya akan terbangun rasa memiliki terhadap sumberdaya yang ada.


(6)      Melaksanakan pembinaan wilayah dan peningkatan kualitas SDM untuk kepentingan pertahanan negara secara terpadu dan terus menerus;

Pembinaan wilayah dan kualitas SDM secara optimal dilakukan terhadap berbagai aspek kehidupan yang dinamis.  Pembinaan tersebut dilaksanakan melalui pendidikan formal dan non formal, penyuluhan, pelatihan dan pendampingan masyarakat oleh aparat keamanan, guru sekolah, pemuka agama dan aparat pemerintahan daerah secara bersama-sama. Hal ini bertujuan untuk membangun kesamaan pola pikir, pola sikap dan pola tindak untuk mencegah gangguan-gangguan dan ancaman dalam membangun stabilitas keamanan kawasan pulau-pulau kecil, termasuk di dalamnya pulau-pulau kecil perbatasan, sekaligus upaya peningkatan kualitas SDM di pulau-pulau kecil.

(7)      Meningkatkan partisipasi dan akses masyarakat terhadap informasi, modal, pemasaran dan teknologi;

Dalam pengelolaan pulau-pulau kecil, keterlibatan / partisipasi masyarakat sejak proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan serta evaluasi sangat diperlukan. Hal ini dilakukan agar pengelolaan pulau-kecil lebih akuntabel dan sesuai dengan proses demokratisasi. Salah satu permasalahan yang dihadapi masyarakat pulau-pulau kecil adalah terisolasinya kawasan tersebut dari akses informasi dan teknologi yang disebabkan belum tersedianya fasilitas transportasi dan komunikasi.  Oleh karena itu perlu dibangun sarana dan prasarana yang memadai sehingga perkembangan informasi dan teknologi dapat dinikmati masyarakat. Dengan demikian akan merangsang minat para investor untuk berinvestasi di pulau-pulau kecil.

(8)      Mewujudkan peluang dan iklim usaha yang kondusif bagi investasi;

Pengembangan investasi di pulau-pulau kecil diharapkan mampu memberikan terobosan dalam meningkatkan kontribusi sektor kelautan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam perspektif ekonomi makro, peranan investasi ditentukan oleh kebijakan yang mengatur tingkat investasi dan pengembalian sosial serta penyerapan tenaga kerja. Dalam kerangka otonomi daerah, adanya pedoman dan peraturan investasi mutlak diperlukan untuk menjaga kesalahan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil.

Pembangunan pulau-pulau kecil sesungguhnya merupakan upaya membangun ekonomi lokal maka komoditas yang akan dikembangkan harus berbasis pada permintaan pasar lokal, nasional dan regional. Hal ini perlu didukung dengan pemberian kemudahan dalam berinvestasi, dari penyediaan sarana dan prasarana, kemudahan administrasi, adanya kejelasan peraturan dan kepastian hukum, sampai pada tersedianya jaminan kelayakan investasi.

(9)      Melaksanakan inventarisasi, kajian, pengelolaan dan pengembangan kawasan konservasi;

Ekosistem pulau-pulau kecil cenderung memiliki spesies endemik yang tinggi, memiliki resiko lingkungan yang tinggi, dan terbatasnya daya dukung pulau (ketersediaan air tawar dan tanaman pangan), sehingga sangat rentan terhadap segala bentuk perubahan baik disebabkan faktor alam maupun manusia. Adanya inventarisasi dan kajian terhadap penetapan kawasan konservasi baru sangat membantu dalam menjaga kelestarian ekosistem pulau-pulau kecil yang bersifat khas tersebut. Perencanaan pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi laut di wilayah pulau-pulau kecil perlu dilakukan secara terpadu antara pusat dan daerah. Kajian kebutuhan pengembangan kawasan konservasi perlu dilakukan secara nasional, dengan mempertimbangkan karakteristik alamiah biofisik dan keterkaitan fungsi dukungan biologis dari beberapa kawasan perairan yang dapat dipandang sebagai suatu kesatuan kawasan ekologis (eco-region). Sebagai contoh untuk mendukung kawasan eco-region laut Sulu – Sulawesi (antara Indonesia, Malaysia dan Filipina), di pihak Indonesia dibutuhkan pengembangan beberapa kawasan konservasi yang meliputi pesisir dan pulau-pulau kecil di Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur.

(10)   Menyediakan perangkat hukum yang memadai dan melakukan penegakan hukum dengan memperhatikan hukum adat dan hak ulayat;
Guna menghindari terjadinya ketimpangan dan konflik kepentingan serta optimalisasi pelaksanaan kebijakan dan strategi dalam pengelolaan pulau-pulau kecil, maka perlu adanya koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dan peraturan perundangan di pusat dan daerah serta memperhatikan hukum adat dan hak ulayat di daerah. Dalam mewujudkan pembangunan Indonesia yang berbasis kelautan, adanya perangkat hukum, dukungan dan komitmen institusi-institusi negara seperti TNI, POLRI, kejaksaan dan pengadilan sebagai lembaga penegak hukum dan peraturan di laut mutlak diperlukan. Penegakan hukum harus dilakukan secara holistik, menghindari tumpang tindih kebijakan dan kepentingan, serta seminimal mungkin menghindari konflik horisontal dan vertikal. Dengan adanya perangkat hukum yang memadai dan penegakan hukum yang tegas, maka akan membawa dampak yang positif secara ekonomi, politik, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Payung hukum dalam pengelolaan pulau pulau kecil, kini telah tersedia yaitu dengan telah diterbitkannya Undang Undang No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau kecil.

b.    Strategi Khusus

Sebagian besar pulau-pulau kecil merupakan kawasan tertinggal dilihat dari faktor-faktor geografis, ketersediaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia yang terbatas baik jumlah maupun kualitasnya.

Sebagai penjabaran dari kebijakan pengelolaan pulau-pulau kecil pada beberapa kawasan tertentu maka dilaksanakan strategi khusus yang bervariasi tergantung pada tipologi pulau-pulau kecil, berdasarkan pembentukannya dan pengelolaannya, yang dilakukan pada kawasan sebagai berikut:


(1)      Kawasan pengembangan ekonomi;

Pengembangan potensi ekonomi pulau-pulau kecil diarahkan pada pengembangan keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif dari sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang dimiliki oleh pulau tersebut.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan ini adalah di bidang perikanan, pertanian, peternakan, kehutanan, kepariwisataan, industri dan perdagangan, perhubungan dan telekomunikasi, serta energi dan sumberdaya mineral.

Strategi dalam pengelolaan kawasan ekonomi meliputi:

(a)      Pengembangan potensi pertanian, peternakan dan perikanan;

Pengembangan pertanian dan peternakan secara berkelanjutan di wilayah pulau-pulau kecil dilakukan dengan memperhatikan daya dukung dan berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Kegiatan tersebut dikembangkan melalui pengolahan tanah dan pemeliharaan ternak yang seminimal mungkin dapat mengganggu kualitas perairan di sekitarnya.

Potensi sumberdaya ikan laut yang cukup besar baik dari segi kuantitas maupun keragamannya perlu dikembangkan baik dari segi penangkapan maupun budidayanya. Dengan demikian, stok ikan yang secara alami merupakan salahsatu faktor pembatas dalam peningkatan produktivitas usaha dalam kegiatan penangkapan dapat dihindarkan.

(b)      Pengelolaan potensi kehutanan berwawasan lingkungan;

Pengelolaan dan pemanfaatan potensi kehutanan harus dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan. Sebagian dari pulau- pulau kecil memiliki potensi sumberdaya hutan yang bila dikelola dengan baik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Namun bila pengelolaannya tidak terkontrol, maka akan mengakibatkan degradasi lingkungan baik di kawasan darat maupun di perairannya. Degradasi lingkungan darat dapat menyebabkan rusaknya habitat fauna dan flora, khususnya yang bersifat endemik dan yang berada dalam ambang kepunahan.  Degradasi lingkungan laut sebagai akibat pencemaran, penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, dan sebagainya akhirnya bermuara pada bertambahnya desa-desa nelayan yang miskin.

(c)      Pengelolaan potensi pariwisata;

Kekayaan sumber daya alam laut pulau-pulau kecil dengan kualitas keindahan dan keasliannya berpotensi menjadi tujuan wisata seperti cruising, yachting, diving, surfing, dan fishing serta marine eco-tourism. Di samping itu, wilayah pulau-pulau kecil juga mempunyai potensi wisata terrestrial, yaitu wisata dengan pemanfaatan lahan daratannya.  Wisata terrestrial pulau-pulau kecil merupakan daya tarik tersendiri bagi penikmat pariwisata, mengingat kawasan pulau-pulau kecil adalah pulau-pulau yang sangat sepi (bahkan tidak terjamah oleh penduduk), sehingga alamnya masih sangat asri, disamping itu juga akan banyak ditemui flora – fauna endemik di kawasan tersebut.

Dengan mempertimbangkan peran ekonomis dan fungsi ekologis serta potensi sumberdaya pulau-pulau kecil tersebut maka kegiatan kepariwisataan dilakukan melalui pendekatan ekosistem, pemberdayaan masyarakat setempat, pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya secara berkelanjutan.

(d)      Pengembangan industri dan perdagangan;

Kegiatan pengembangan industri dan perdagangan di wilayah pulau-pulau kecil diarahkan pada kegiatan yang sesuai dengan jenis dan skala ekonomi, ketersediaan sumberdaya lokal, daya dukung kawasan, dampaknya terhadap lingkungan, jumlah dan kualitas sumberdaya manusia yang tersedia, pasar lokal dan regional yang akan dituju, sarana dan prasarana perhubungan yang menunjang dan lain lain.

Kegiatan ini  diharapkan dapat mengurangi kesenjangan antarwilayah dan antarpelaku serta untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan  memperluas basis ekonomi sehingga dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam peningkatan ekonomi daerah, ketahanan ekonomi nasional, dan  integritas wilayah NKRI.
           
(e)      Perhubungan dan Telekomunikasi

Sektor perhubungan dan telekomunikasi merupakan pendukung bagi sektor riil dalam pelayanan jasa transportasi dan telekomunikasi. Penyediaan sistem perhubungan perintis dalam mendukung stabilitas, pengembangan wilayah dan pertumbuhan ekonomi serta pemerataan pembangunan yang berkelanjutan di kawasan pulau-pulau kecil sangat penting.

Pengembangan perhubungan dan telekomunikasi di pulau-pulau kecil diharapkan akan meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap jasa pelayanan sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Selain itu juga akan mendorong penataan potensi kemampuan sarana transportasi darat, laut, udara, pos dan telekomunikasi.

(f)       Pengelolaan energi dan sumberdaya mineral (ESDM)

Kegiatan usaha sektor ESDM pada daerah yang remote termasuk  di wilayah pulau-pulau kecil merupakan penggerak utama (prime mover) pembangunan, yaitu dengan membangun infrastruktur, membuka lapangan kerja dan  kesempatan berusaha baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai multiplying effect kegiatan ESDM. Kegiatan sektor ESDM bersifat temporer karena dibatasi oleh umur tambang, maka paradigma pembangunan berkelanjutan merupakan transformasi sumberdaya tidak terbarukan menjadi sumberdaya terbarukan yang berkelanjutan, dengan menjaga keseimbangan keuntungan komunitas dan bisnis, serta harmonis dengan lingkungan alam. Keberlanjutan roda kegiatan ekonomi pada wilayah pasca tambang akan berdaya-guna dan berhasil-guna dengan perencanaan secara terpadu, sinergi dan optimal diantara pemangku kepentingan. Dengan demikian kemanfaatan sektor ESDM bukan saja dirasakan karena ada kegiatan pertambangan, tetapi juga karena pernah adanya pertambangan.

(2)      Kawasan perbatasan;

Pengelolaan pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan terutama pulau-pulau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dilakukan dalam rangka menjaga keutuhan NKRI, menjaga pertahanan dan keamanan negara, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mengembangkan peluang usaha melalui kerjasama bilateral dan mengurangi disparitas pengelolaan antar wilayah. Pulau-pulau kecil di kawasan ini rawan terhadap ancaman ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya. 

Strategi dalam pengelolaan kawasan perbatasan meliputi:

(a)       Meningkatkan pengawasan dan pengamanan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan;

Pulau-pulau kecil di perbatasan sangat rentan terhadap pengaruh negara tetangga baik secara politik, pertahanan, keamanan, maupun sosial, ekonomi dan budaya, sehingga perlu mendapat perhatian khusus terutama dari segi pengawasan dan pengamanan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan membangun pilar-pilar yang lebih monumental di pulau-pulau perbatasan, misalnya rambu suar, menara suar, mercusuar, pos-pos pengamanan, meningkatkan patroli pengawasan dan pengamanan pulau kecil, menempatkan penduduk pada pulau-pulau kecil potensial yang belum berpenghuni sekaligus sebagai pengawas dan pengaman pulau tersebut.

Hal ini perlu dilakukan untuk mengatasi setiap bentuk gangguan dan ancaman khususnya di wilayah perbatasan yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa dan keutuhan negara. Oleh karena itu, penetapan dan penegasan batas negara sangat mendesak untuk dilakukan.

(b)       Meningkatkan kerjasama bilateral di bidang pengelolaan sumberdaya alam;

Pengelolaan pulau-pulau kecil tidak dapat dilakukan pada satu pulau saja tetapi harus memperhatikan keterkaitan antara pulau yang satu dengan lainnya, dengan gugus pulau dan daratan induknya (mainland) bahkan dengan negara tetangga terutama dalam aspek teknologi dan pemasaran. Dengan demikian pemasaran komoditas antar pulau dapat berjalan lancar dan rantai pemasaran dapat berkembang sehingga multiplier effect baik secara sosial, ekonomi maupun budaya dapat meningkatkan nilai tambah bagi pulau yang bersangkutan.

(c)        Mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat lokal;

Beragamnya karakteristik yang dimiliki pulau-pulau kecil baik secara fisik, sosial, ekonomi, maupun budaya dan tingginya faktor penghambat yang ada, maka masyarakat lokal perlu didorong kemandiriannya melalui pendidikan dan pelatihan yang aplikatif sehingga dapat meningkatkan pendapatannya. Masyarakat lokal juga perlu dibina dalam upaya pencapaian akses terhadap informasi, modal dan teknologi pengembangan kegiatan dan usaha di wilayah pulau-pulau kecil.

(3)      Kawasan rawan bencana

Secara alami pulau-pulau kecil yang berada di tengah lautan atau samudera rentan terhadap bencana alam, seperti badai, tsunami, dan gunung meletus, sehingga diperlukan pembinaan, pengawasan dan penanggulangan.

Strategi di bidang penanganan kawasan rawan bencana alam meliputi :

(a)      Identifikasi potensi bencana pada pulau-pulau kecil

Bencana yang terjadi di pulau-pulau kecil dapat berupa bencana alam seperti tsunami, badai, abrasi, gunung meletus maupun gempa, atau bencana ulah manusia seperti tumpahan minyak, longsor, dan lain-lain. Semua potensi bencana ini hendaknya dapat diidentifikasi besaran dan kemungkinan terjadinya.

(b)      Peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana

Penanggulangan bencana yang efektif adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana yang ada. Oleh karena itu pada daerah  rawan bencana perlu dilakukan kegiatan penyuluhan serta pemasangan tanda-tanda peringatan.

(c)      Kesiapan kondisi tanggap darurat

Masyarakat serta Pemerintah Daerah pada pulau-pulau kecil rawan bencana hendaknya mempunyai perangkat tanggap darurat dan senantiasa melakukan pelatihan-pelatihan bagi kesiapan tanggap darurat.

 (d)      Pemanfaatan teknologi peringatan dini dan mitigasi bencana
Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memanfaatkan teknologi peringatan dini dan mitigasi bencana untuk mengurangi dampak atau daya rusak dari bencana yang kemungkinan akan menimpa pulau atau masyarakat.

(e)      Meningkatkan upaya rehabilitasi ekosistem

Kerusakan ekosistem pulau-pulau kecil akibat aktivitas yang tidak ramah lingkungan seperti penangkapan ikan dengan menggunakan racun dan bom  maupun pencemaran dapat menyebabkan menurunnya jumlah dan jenis ikan. Oleh karena itu upaya rehabilitasi yang komprehensif dan terpadu baik dari pemerintah maupun masyarakat diperlukan untuk mengurangi tekanan terhadap ekosistem dengan mendorong pengembangan mata pencaharian alternatif

(4)      Kawasan konservasi

Di dalam UU no 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, dijelaskan konservasi wilayah pulau pulau kecil diselenggerakan untuk;
a.     menjaga kelestarian ekosistem pulau pulau kecil
b.     melindungi alur migrasi ikan dan biota laut lainnya
c.     melindungi habitat biota laut; dan
d.     melindungi situs budaya tradisional

Konservasi Sumber daya Ikan, seperti halnya yang dijelaskan dalam peraturan Pemerintah no 60 tahun 2007 tentang Konservasi sumber Daya Ikan, adalah sebagai berikut; konservasi sumberdaya ikan dilakukan melalui konservasi ekosistem, konservasi jenis dan konservasi genetic.  Upaya konservasi sumber daya ikan pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungan secara keseluruhan.