Jumat, 02 Maret 2012

Alternatif Rencana Pengembangan dan Indikasi Program Pulau Pelampong di Provinsi Kepulauan Riau Sebagai Pulau-Pulau Kecil Terluar

Arahan pengembangan
Program Dasar
Kegiatan
Pola Ruang
Tinjauan Mengenai Program Kegiatan
Indikasi Program

Pulau Pelampong merupakan pulau kecil terluar yang terletak di Kota Batam, Kepulauan Riau. Pada skala nasional Pulau Pelampong termasuk dalam wilayah pengembaga KPBPB BBK (Kawasan Perdaganagan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam-Bintan-Karimun). Kota Batam merupakan wilayah kepulauan yang secara geografis tersusun dalam 4 (empat) kelompok (klaster) pulau-pulau kecil, yaitu Klaster WP3K Belakang Padang, WP3K Bulang, WP3K Batam dan Klaster WP3K Galang. Penamaan klaster tersebut disesuaikan dengan nama administrasi kecamatan yang juga menjadi dasar dalam penyusunan klaster tersebut. 

Pulau Pelampong termasuk pada klaster pulau terluar yang bernama Klaster WP3K Belakang Padang yang ditampilkan dengan garis batas warna biru pada Peta Klaster Pulau-Pulau Kecil di Kota Batam. Pola pengelompokkan tersebut cenderung berbentuk memanjang segaris dari barat laut ke tenggara dengan jarak antar klaster yang berjauhan. Jarak pusat Klaster Belakang Padang yang didalamnya terdapat Pulau Pelampong ke pusat klaster di Batam mencapai 28,8 km. Pusat klaster merupakan pusat administrasi Kota Batam terletak di bagian tengah  dari klaster-klaster lain yang ada di wilayah ini.

Klaster Pulau-Pulau Kecil Kecamatan Belakang Padang
Pulau Pelampong terletak di Kecamatan Belakang Padang yang secara geografis membentuk sebuah klaster yang disebut Klaster WP3K Belakang Padang.  Klaster ini merupakan klaster pulau terluar dimana Pulau Pelampong merupakan pulau di beranda terdepan dan berhadapan langsung dengan perairan negara tetangga.

Klaster WP3K Belakang Padang dapat dibagi dalam 6 (enam) klaster pulau-pulau kecil yang berada dalam lingkup wilayah adminstrasi Kecamatan Belakang padang. Klaster pulau-pulau kecil yang termasuk dalam wilayah ini adalah klaster Belakang Padang 1 s/d Klaster Belakang Padang 5 dan Pusat Administrasi Belakang Padang. Pulau Pelampong termasuk dalam Klaster Belakang Padang 1 yang berjarak sekitar 14,2 km dari Klaster Belakang Padang 4 yang merupakan klaster terdekat. Pusat klaster berada di Pusat Administrasi Belakang Padang yang merupakan pusat administrasi kecamatan, pusat perekonomian dan infrastrutur di wilayah ini.  Klaster Pulau-Pulau Kecil di Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam ini dilengkapi juga dengan Peta Klaster Pulau-Pulau Kecil yang ditampilkan pada bagian di bawah ini.


Arahan Pengembangan
Berdasarkan Perpres Nomor 78 Tahun 2005, tujuan dari pengelolaan pulau-pulau kecil terluar  (PPKT) adalah menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, keamanan nasional, pertahanan negara, dan bangsa serta menciptakan stabilitas kawasan;  Memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan; serta Memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan. Dengan berpijak pada 3 kerangka ini, maka arahan pengembangan Pulau pelampong adalah sebagai berikut:
-          Zonasi rinci Pulau Pelampong dan laut sekitarnya
-          Pemeliharaan eksistensi pulau
-          Ekowisata
-          Konservasi
-          Revitalisasi tanda-tanda perbatasan
Zonasi Rinci Pulau Pelampong dan Laut Sekitarnya dan Studi Pendahuluan Terhadap Seluruh Kegiatan yang Akan Digulirkan
Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumber daya tiap-tiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Studi pendahuluan terhadap seluruh kegiatan yang akan digulirkan dalam pengelolaan PPKT, disamping guna menilai kelayakan program dengan menapisnya melalui kegiatan survey di lapangan, juga untuk memenuhi aspek pengelolaan program secara bottom up.  Sebuah konsep program pembangunan yang memberdayakan masyarakat pulau, suatu langkah yang sedang popular saat ini.
Melalui penyusunan rencana zonasi rinci dan studi pendahuluan terhadap program-program yang akan digulirkan ini, diharapkan dapat terwujud sebuah model pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang komprehensif dan terintegrasi dengan RTRW yang ada, sehingga mendukung visi dan misi pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam Pulau-pulau kecil terluar secara terpadu dan berkelanjutan.

Pemeliharaan Eksistensi Pulau
Pulau Pelampong adalah pulau sangat kecil (micro island) yang sangat rentan terhadap degradasi pulau secara alami atau melalui campur tangan manusia. Sebagai contoh pengerukan pasir di sekitar pulau dapat mengancam eksistensi pulau sangat kecil, hingga dapat hilang tenggelam atau tergerus arus dan gelombang laut. Kasus pada Pulau Nipah adalah suatu contoh yang mewakili kondisi tersebut.  Untuk itu pemeliharaan eksistensi pulau melalui tataran regulasi dan kegiatan fisik di lapangan haruslah segera dilakukan.  Pada aspek regulasi misalnya dikeluarkan peraturan daerah berupa pelarangan pengerukan pasir di pulau dan perairan sekitarnya untuk kepentingan apapun. Pada aspek fisik misalnya dengan penerapan soft construction dan hard construction guna melindungi pulau dari arus dan gelombang, sehingga pulau tdak mengalami erosi, tergerus dan akhirnya tenggelam. Contohnya adalah dengan pembangunan turab pelindung pantai, penanaman pohon pelindung dan menghindari pembangunan yang dapat merubah pola arus.

Ekowisata
Dengan kondisi intrinsiknya  sebagai pulau sangat kecil (micro island), wisata yang paling mungkin dikembangkan adalah wisata individual (tidak masal), berwawasan ekologis (ekowisata), sehingga potensi yang paling tepat adalah pengembangan Eco-Village berbasis pulau sangat kecil.

Konservasi
Beberapa pulau sangat kecil dengan kondisi khasnya, sebaiknya diarahkan sesuai Permen KP No.17/2008 dan Permen KP No.20/2008 sebagai daerah atau kawasan suaka pulau kecil.  Pulau Pelampong sebagai pulau sangat kecil, dengan segala keterbatasannya maka arahan konservasi adalah yang paling tepat guna melindungi eksistensi pulau. Akan tetapi secara factual ada kehidupan dan ada penghuni di pulau ini.  Sehingga arahan pengembangan apapun yang akan dilaksanakan di Pulau Pelampong haruslah berwawasan konservasi.

Revitalisasi Tanda-Tanda Perbatasan
Tanda-tanda perbatasan meliputi titik referensi, titik dasar, monument perbatasan, titik lintas batas atau check point serta penanda alam seperti pohon, parit, sungai dan sebagainya. Titik-titik penanda perbatasan tersebut harus dipelihara sebaik mungkin dan senantiasa dipantau keberadaannya agar tidak bergeser oleh penyebab apapun. Adakalanya guna lebih mengamankan keabsahan kedaulatan suatu Negara atas suatu kawasan, perlu dibangun atribut perbatasan lainnya misalnya monument perbatasan.  Dengan adanya monument atau atribut tersebut, diharapkan pada masa yang akan datang tidak ada lagi permasalahan sengketa lahan perbatasan. Adakalanya pada beberapa kasus atribut tersebut, dapat berfungsi lain misalnya sebagai tempat wisata, contohnya Check Point Charlie di bekas Tembok Berlin Jerman, sebagai penanda kawasan (land mark) contohnya Tembok Besar China, dan lain-lain.

Program Dasar
Program dasar yang direncanakan digulirkan dalam rangka pengelolaan Pulau Pelampong sebagai bagian dari kerangka kerja pengelolaan pulau-pulau kecil terluar, diuraikan sebagai berikut:
-       Pada aspek kajian dan perencanaan adalah penyusunan rencana zonasi rinci Pulau Pelampong dan perairan laut sekitarnya dan studi pendahuluan terhadap seluruh kegiatan yang memungkinkan digulirkan di pulau ini;
-       Pada aspek Pemeliharaan eksistensi pulau adalah dengan pembuatan regulasi mengenai pelarangan penambangan pasir pantai, pembuatan kontruksi fisik guna memelihara dan menjaga keberadaan pulau dan rehabilitasi ekosistem
-       Pada aspek pariwisata adalah pengembangan wisata tematik;
-       Pada aspek eksistensi kedaulatan terhadap pulau adalah pemeliharaan, pengembangan dan pengadaan  monument serta tanda-tanda perbatasan.

Kegiatan
Rencana kegiatan yang akan digulirkan dalam penjadwalan 5 tahun pengelolaan adalah sebagai berikut:
1.       Penyusunan zonasi rinci Pulau Pelampong dan perairan laut sekitarnya;
2.       Penyusunan rencana program pengelolaan selama 5 tahun;
3.       Pembuatan regulasi mengenai pelarangan penambangan pasir pantai
4.       Pembangunan sea wall;
5.       Reklamasi pantai;
6.       Pembangunan resort wisata dan fasilitasnya dalam konteks eco-village berbasis micro island;
7.       Promosi wisata tematik;
8.       Pemeliharaan titik dasar dan titik referensi; serta
9.       Pembuatan tanda-tanda, monumen dan atribut perbatasan.

Pola Ruang
Konsep rencana pengembangan Pulau Pelampong, dibangun berdasarkan pertimbangan potensi sumber daya pulau serta permasalahan yang dihadapi beserta perkembangan yang berlangsung di sekitar wilayah perbatasan Batam-Singapura. Beberapa pertimbangan yang diperhatikan dalam pengembangan wilayah Pulau Pelampong,  adalah :
-       Optimalisasi keterkaitan sistem ruang daratan, kelautan dan udara guna mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki Pulau Pelampong;
-       Keterkaitan fungsional antar pulau-pulau khususnya antar sentra-sentra produksi yang prospektif dalam mendorong pertumbuhan wilayah  Pulau Pelampong;
-       Keterkaitan Spatial dan Fungsional antar pulau, secara internal maupun eksternal;
-       Pengembangan tata ruang didasarkan atas prinsip peningkatan kesejahteraan, pertahanan dan keamanan, mitigasi bencana serta pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan kawasan berfungsi lindung baik di daratan maupun di lautan;
-       Pembangunan wilayah berpijak kepada ketarkaitan sektor-sektor ekonomi dalam usaha memacu pembangunan wilayah dengan memperhatikan implikasi keruangan yang didasarkan atas dasar saling mendukung dan saling menguntungkan;
-       Pengembangan wilayah dikembangkan berdasarkan potensi dan daya dukung pulau dan potensi kelautan di sekitarnya; serta
-       Pengembangan wilayah pulau dikembangkan dengan memperhatikan budaya lokal.
Konsep pengembangan struktur tata ruang intra wilayah Pulau Pelampong adalah memperkuat struktur tata ruang internal yang mampu mendorong perlindungan terhadap eksistensi sebagai pulau sangat kecil (micro island) dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam maupun manusia yang dimilikinya dengan memanfaatkan peluang berinteraksi langsung dengan wilayah luar.

Tabel. Arahan kegiatan sesuai pola keruangan Pulau Pelampong
No.
Kegiatan
Lokasi
1
Penyusunan zonasi rinci P Pelampong dan perairan laut sekitarnya
Seluruh pulau dan perairan laut sekitarnya
2
Penyusunan rencana program pengelolaan selama 5 tahun
Seluruh pulau dan perairan laut sekitarnya
3
Pembuatan aturan mengenai pelarangan penambangan pasir di Pulau Pelampong dan perairan sekitarnya
Seluruh pulau dan perairan laut sekitarnya
4
Pembangunan Sea wall
Sebelah barat-barat daya pulau
5
Reklamasi pantai
Sebelah barat-barat daya pulau
6
Pembangunan resort wisata dan fasilitas pendukungnya
Di tengah pulau sebagai lokasi best view
7
Penanaman tanaman penguat daratan
Pada tepian pantai dan seluruh pulau
8
Pemeliharaan titik referensi 
Lokasi titik referensi
9
Pembuatan monument dan atribut perbatasan
Pada titik paling utara pulau

Tinjauan Mengenai Program Kegiatan
Berikut dipaparkan tinjauan mengenai beberapa program kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam matriks indikasi program. Kapasitas pemaparan ini tidak dalam tinjauan secara rinci dan memuat detail teknis dari program kegiatan yang ada, pemaparan ini hanya untuk menjawab secara garis besar apa?, mengapa? dan bagaimana? program tersebut dapat digulirkan pada Pulau Pelampong.

Penyusunan Zonasi Rinci Pulau Pelampong dan Perairan Laut Sekitarnya
Penyusunan zonasi rinci Pulau Pelampong dan laut sekitarnya, sebagaimana amanat UU No. 27/2007, Perpres No. 78/2005, Permen KP No.16/2008 dan Permen KP No.20/2008, dimaksudkan sebagai upaya:
-          Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
-          Menjamin harmonisasi antara kepentingan pembangunan ekonomi dengan prinsip pelestarian yang memperhatikan daya dukung sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil;
-          Mewujudkan keterpaduan pembangunan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan wilayah daratannya;
-          Mewujudkan keserasian pembangunan wilayah kabupaten/kotamadya dengan wilayah sekitarnya;
-          Menjaga keamanan nasional, pertahanan Negara, keutuhan wilayah Negara serta  menciptakan stabilitas kawasan; 
-          Memanfaatkan sumberdaya alam dalam rangka pembangunan yang berkelanjutan; serta
-          Memberdayakan masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan.
Penyusunan rencana zonasi rinci Pulau Pelampong dan perairan sekitarnya, adalah dengan mengidentifikasi secara komprehensif terhadap:
-          Potensi sumberdaya,
-          Kondisi eksisting pemanfaatan ruang,
-          Karakteristik pesisir,
-          Ancaman/kerentanan dan daya dukung ekosistem pulau,
-          Sentra-sentra produksi perikanan dan kelautan dan kegiatan lainnya,
-          Sarana dan prasarana,
-          Aspek sosial budaya ekonomi masyarakat.
Adapun manfaat yang akan diraih dari penyusunan rencana zonasi rinci Pulau Pelampong dan perairan sekitarnya, adalah terwujudnya sebuah model pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang komprehensif dan terintegrasi dengan RTRW yang ada, sehingga mendukung visi dan misi pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam pulau-pulau kecil terluar secara terpadu dan berkelanjutan

Penyusunan Rencana Program Pengelolaan
Studi pendahuluan terhadap seluruh kegiatan yang akan digulirkan dalam pengelolaan PPKT, disamping guna menilai kelayakan program dengan menapisnya melalui kegiatan survey di lapangan, juga untuk memenuhi aspek pengelolaan program secara bottom up.  Sebuah konsep program pembangunan yang memberdayakan masyarakat pulau, suatu langkah yang sedang popular saat ini.
Bila berdasarkan hasil survey lapangan, misalnya dengan metode RRA ataupun PRA, suatu program memang dibutuhkan oleh masyarakat maka program tersebut dapat ditindak lanjuti. Sebaliknya bila suatu program ditolak oleh masyarakat pulau ataupun berdasarkan penilaian obyektif di lapangan, diketahui program tersebut tidak dapat aplikatif karena terkendala suatu factor atau masalah, maka program tersebut dapat diubah ataupun digantikan oleh program lain yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.

Pembuatan Regulasi Mengenai Pelarangan Penambangan Pasir Pantai di Pulau Pelampong
Kondisi sebagai pulau sangat kecil, hal ini menyebabkan Pulau Pelampong memiliki berbagai keterbatasan seperti ketersediaan air tawar dari air tanah sangat terbatas, bahkan mungkin tidak memiliki aquiver air tawar mengingat sangat kecilnya ukuran pulau. Site daratan yang tidak luas membuat keterbatasan dalam hal kekuatan kontruksi pulau untuk tetap berdiri (exist) di tengah gerusan air laut, gempuran ombak dan gelombang.
Dengan adanya penambangan pasir di pesisir sebelah barat daya Pulau Pelampong yang membuat sebagian daratan tenggelam dan hal ini mengancam eksistensi pulau. Perlu dibuatkan regulasi berupa peraturan daerah mengenai pelarangan penambangan pasir di pulau dan perairan sekitarnya untuk keperluan apapun.

Pembangunan Sea Wall
Pembangunan sea wall dimaksudkan untuk melindungi daratan pulau agar tidak terkena abrasi dan erosi oleh energy lautan. Dengan ketinggian titik tertinggi hanya 4 meter dari permukaan laut, maka potensi untuk hilang, tergerus dan tenggelamnya pulau sangatlah besar. Potensi tersebut diperparah dengan adanya fenomena meningkatnya ketinggian muka air laut.

Reklamasi Pantai
Reklamasi pantai yang akan dilakukan di Pulau pelampong adalah untuk mengembalikan daratan yang hilang akibat pengambilan pasir pada pesisir sebelah barat daya pulau.  Disamping itu, reklamasi pantai juga diarahkan untuk memperkuat struktur pulau, menambah luasan daratan sehingga hal ini dapat memperbaiki dan mempertahankan eksistensi pulau.

Pembangunan Resort Wisata dan Fasilitasnya
Pariwisata merupakan salah satu bidang yang bisa menjadi sumber pendapatan daerah. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk wisata bahari antara lain adalah wisata keindahan panorama, keheningan suasana, kegiatan snorkeling, scuba diving, memancing dan lain-lain.  Sebagai pulau sangat kecil, pariwisata yang dapat dikembangkan di Pulau pelampong adalah pariwisata tematik yang bersifat wisata individual, tidak masal dan eksklusif. 
Keterpencilan pulau dan keheningan suasana, adalah tema yang sangat mungkin untuk dijual pada pasar wisata di Singapura, Malaysia dan di negeri kita sendiri. Untuk jenis wisata tematik seperti ini, maka fasilitas yang memungkinkan untuk dikembangkan adalah pengadaan resort wisata dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Dibutuhkan kajian dan survey terutama terhadap obyek wisata sejenis di sekitar lokasi Pulau Pelampong, survey terhadap pasar dan survey terhadap paket wisata dan rute wisata.
Tabel. Model Pembobotan untuk Kawasan Wisata Bahari
No
Parameter
S1 (Sangat Sesuai)
S2 (Cukup Sesuai)
S3 (Sesuai Marginal)
N (Tidak Sesuai)
1.
Kecerahan perairan
> 75
> 10 - 25
>25 - 50
<25
2
Tutupan karang hidup (%)
> 75
>50 - 75
>25 - 50
<25
3
Jenis karang
> 100
> 75 - 100
>20 - 50
< 20
4
Jenis ikan karang
> 70
> 50 - 70
>20 - 50
< 20
5
Kecepatan arus (m/dt)
0 - 0,17
> 0,17 - 0,34
> 0,34 - 0,51
>0,51
6
Kedalaman dasar perairan (m)
> 10 - 25
> 5 - 10
> 2 - 5
< 2

Guna mendukung pengembangan wisata tematik di Pulau Pelampong, maka sarana dan prasarana pendukung harus segera diadakan. Sarana dan prasarana tersebut meliputi pelayanan angkutan laut carteran dari pusat atau kota terdekat atau langsung dari Kota Singapura atau Kota Kuala lumpur sebagai target pasarnya.
Pemeliharaan Titik Referensi
Pemeliharaan disini meliputi pembersihan titik referensi atau titik dasar tersebut dari semak belukar, pepohonan atau apapun yang menghalangi atau menutupinya. Jika tanda-tanda tersebut berada pada lokasi pemukiman, maka diberikan kawasan sempadan bagi tanda tersebut untuk bebas dari bangunan apapun yang berpotensi menghalangi atau menutupinya. Pembuatan beton dan pemagaran sekeliling tanda tersebut, sering menjadi pilihan untuk dilakukan.

Pembuatan Monumen dan Atribut Perbatasan
Adakalanya tanda-tanda perbatasan yang formal, kurang mendapat perhatian baik oleh instansi berwenang apalagi oleh masyarakat umum.  Untuk itu sebuah penanda yang lebih atraktif, seperti monument dapat saja dibangun. Dengan adanya monument atau atribut tersebut dimasa yang akan datang tidak ada lagi permasalahan sengketa lahan perbatasan. Adakalanya pada beberapa kasus atribut tersebut, dapat berfungsi lain misalnya sebagai tempat wisata, contohnya Check Point Charlie di bekas Tembok Berlin Jerman, Tembok Besar di China.  Monumen yang akan dibuat harus mencirikan budaya lokal setempat serta memuat pesan akan kehadiran pemerintahan Negara RI.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar