Selasa, 13 Maret 2012

KLASTERISASI DESA PESISIR DI KABUPATEN TANGERANG

Kabupaten Tangerang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten. Ibukotanya adalah Tigaraksa. Kabupaten ini terletak tepat di sebelah barat Jakarta; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Provinsi DKI Jakarta di timur, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Lebak di selatan, serta Kabupaten Serang di barat. Kabupaten Tangerang terdiri atas 29 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 251 desa dan 28 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Tigaraksa. Dari 29 Kecamatan tersebut, hanya 7 Kecamatan yang berada diwilayah pesisir, yaitu:
1)      Kecamatan Kronjo,
2)      Kecamatan Kemiri,
3)      Kecamatan Mauk,
4)      Kecamatan Pakuhaji,
5)      Kecamatan Sukadiri,
6)      Kecamatan Teluk Naga,
7)      Kecamatan Kosambi.
Dari ketujuh kecamatan pesisir ini, hanya satu yang akan diambil sebagai lokus studi program PDPT KKP Kabupaten Tangerang Tahun 2011 ini. Oleh karena itu dalam rangka penentuan Kecamatan terpilih ini digunakan metode HANLON, sebagai analissi skoring untuk memilih Kecamatan pesisir yang akan menjadi lokus studi program PDPT Kabupaten Tangerang. Sebaran lokasi Kecamatan pesisir di Kabupaten Tangerang dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1. Sebaran Lokasi Kecamatan Pesisir di Kabupaten Tangerang

Metode Hanlon merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah dengan menggunakan 4 kelompok kriteria, yakni:
·         Besarnya masalah (magnitude)
·         Kegawatan masalah (emergency).
·         Kemudahan penanggulangan masalah (causability).
·         Faktor yang menentukan dapat tidaknya program dilaksanakan (PEARL factor).
PEARL factor sendiri terdiri atas variabel-variabel berikut ini, yaitu:
·         Kesesuaian (Approproatness = P),
·         Murah secara ekonomi (Economic Feasibility = E),
·         Dapat diterima (Acceptability = A),
·         legalitas (Legality = L).
Uji setiap masalah dengan factor PEARL hanya 2 jawaban “Ya=1” “tidak =0”
Dari setiap kelompok kriteria diperoleh nilai dengan cara melakukan skoring dengan skala tertentu, kemudian hasilnya dimasukkan kedalan rumus atau formula untuk memperoleh hasil akhir. Makin tinggi nilainya, semakin penting masalah yang bersangkutan.
Skoring HANLON akan menggunakan data PODES 2008 dari BPS Pusat Jakarta. Data PODES digunakan karena memiliki kedetailan terhadap masalah-masalah yang akan ditelaah, seperti sumberdaya manusia, mata pencaharian, kerawanan terhadap bencana, hingga ketersediaan sarana dan prasarana. Selengkapnya mengenai proses skoring HANLON akan disampaikan dalam Lampiran. Sedangkan hasil uji HANLON adalah sebagai berikut.
Tabel 1  Hasil Skoring HANLON terhadap 7 Kecamatan Pesisir di Kabupaten Tangerang

Kecamatan
Magnitude
Emergency
Causability
PEARL factor
Total
Approproatness
Economic Feasibility
Acceptability
Legality
Kronjo
0
1
0
0
0
1
1
3
Mauk
0
1
0
0
0
0
1
2
Kemiri
0
0
0
0
1
1
1
3
Sukadiri
0
0
1
0
0
0
1
2
Pakuhaji
1
0
0
1
1
1
1
5
Teluk Naga
1
1
1
1
0
1
1
6
Kosambi
1
0
1
1
1
1
1
6
Sumber: Podes, 2008
Sebagaimana terlihat pada Tabel 1 diatas, bahwa Kecamatan Teluk Naga dan Kecamatan Kosambi merupakan dua Kecamatan Pesisir yang memiliki poin sama, yaitu 6. Perlu diingat bahwa penilaian tidak hanya bergantung kepada tingkat kegentingan masalah, namun juga bagaimana Kecamatan-kecamatan tersebut sesuai, layak ekonomi, dapat diterima dan legal (sudah memiliki kekuatan hukum) untuk menerapkan program PDPT ini. Dengan demikian kedua kecamatan pesisir terpilih, yaitu Kecamatan Teluk Naga dan Kecamatan Kosambi, harus menjalani skoring ulang dengan tingkat pendataan yang lebih bervariasi dan detail. Hasilnya disajikan sebagai berikut.
Tabel 2  Hasil Skoring HANLON terhadap Kecamatan Teluk Naga dan Kecamatan Kosambi

Kecamatan
Magnitude
Emergency
Causability
PEARL factor
Total
Approproatness
Economic Feasibility
Acceptability
Legality
Teluk Naga
1
1
1
1
1
1
1
7
Kosambi
1
0
1
1
0
1
1
5
Sumber: Podes, 2008
Pada Tabel 2. jelas terlihat bahwa hasil Skoring HANLON untuk kedua Kecamatan menghasilkan Kecamatan Teluk Naga sebagai kecamatan terpilih mengungguli Kecamatan Kosambi. Dengan demikian Kecamatan Teluk Naga akan menjalani analisis penentuan lokasi kajian lanjutan untuk menentukan kluster desa-desa yang akan direncanakan sebagai desa-desa PDPT di Kecamatan Teluk Naga.
PENENTUAN KLUSTER DESA PEMBANGUNAN DESA PESISIR
Pembangunan Desa Pesisir merupakan alternatif program pembangunan yang bertujuan untuk membuat desa-desa pesisir di Indonesia yang  memiliki banyak ketertinggalan dapat dibantu menjadi desa-desa yang tangguh. Berdasarkan hasil metode HANLON sebelumnya telah terpilih Kecamatan Teluk Naga sebagai kecamatan lokus studi, namun masih perlu ditentukan, desa-desa yang menjadi fokus studi program Pembangunan Desa Pesisir  Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.
Dalam upaya penentuan desa-desa terpilih tersebut, akan digunakan metode klustering. Cluster analisis atau clustering adalah metode untuk menempatkan satu objek atau lebih kedalam satu kelompok (disebut cluster) sehingga objek-objek dalam cluster yang sama memiliki keterkaitan yang tinggi dibandingkan jika ditempatkan pada cluster yang lain. Clustering merupakan metode kuantitatif eksploratif berdasarkan data statistik.
Metode Klustering digunakan untuk menentukan desa-desa program Pembangunan Desa Pesisir ini dikarenakan untuk tercapainya suat kondisi desa-desa pesisir yang tangguh, suatu Desa pesisir akan sangat tergantung satu dengan yang lain, oleh karena itu desa-desa tersebut tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Dengan demikian dalam mempertimbangan klustering desa-desa Pembangunan Desa Pesisir akan mengacu kepada tiga variabel sebagai berikut:
1.       Klustering Algoritma
Klustering algoritma merupakan upaya mengklusterkan desa-desa dengan berdasarkan pada model kluster mereka. Dalam Pembangunan Desa Pesisir ini digunakan tiga pertimbangan klustering algoritma yaitu konektivitas (Connectivity), Distribusi (Distribution) dan Kerapatan (Density). Dengan kata lain, dalam mengelompokkan desa-desa pesisir kedalam satu kelompok kluster harus melihat kepada konektivitas antar desa, sebaran distribusi desa-desa tersebut dan juga tingkat kerapatan desa-desa tersebut. Dengan pertimbangan tersebut terpilihlah 3 (tiga) alternatif kluster sebagai berikut.

Gambar 2. Alternatif Kluster Desa-desa Pesisir Kecamatan Teluk Naga



Ketiga alternatif tersebut adalah:
1)    Kluster 1, terdiri dari Desa Tanjungburung, Desa Tanjungpasir, dan Desa Muara.
2)    Kluster 2, terdiri dari Desa Kampung Besar, Desa Kampung Melayu Barat, dan Desa Kampung Melayu Timur.
3)    Kluster 3, Desa Bojong Renged, Desa Kebon Cau, dan Desa Babakan Asem.
2.       Kesesuaian Pembangunan (Developments)
Variabel berikut yang menjadi pertimbangan adalah variabel kesesuaian pembangunan.  Dalam hal ini akan dilihat dari data perimbangan pembangunan, kesiapan masyarakat, dan program-program yang sudah, sedang dan akan berjalan. Untuk perbandingan data perimbangan pembangunan, dapat disimak tabel berikut ini.
Tabel 3.  Perimbangan Pendanaan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten

Desa
Pendanaan Pemerintah
Kota
Provinsi
Pusat
Bojong Renged
Ada
Ada
Tidak Ada
Kebon Cau
Ada
Ada
Tidak Ada
Teluk Naga
Ada
Ada
Tidak Ada
Babakan Asem
Ada
Ada
Tidak Ada
Kampung Melayu Timur
Ada
Ada
Tidak Ada
Kampung Melayu Barat
Ada
Ada
Tidak Ada
Kampung Besar
Ada
Ada
Tidak Ada
L E M O
Ada
Ada
Tidak Ada
Tegal Angus
Ada
Ada
Tidak Ada
Pangkalan
Ada
Ada
Tidak Ada
Tanjungburung
Ada
Ada
Tidak Ada
Tanjungpasir
Ada
Ada
Tidak Ada
Muara
Ada
Ada
Tidak Ada
Sumber: Podes, 2008
Berdasarkan hasil PODES 2008, diketahui bahwa selama ini dana bantuan dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten telah secara berimbang membantu pembiayaan operasional dan program-program Desa.


Tabel 4.  Program Inisiatif Desa Terdahulu

Desa
Program Inisiatif Desa
Kerja Padat Karya
Bantuan Modal Usaha
Bantuan Bibit Tanaman Pertanian/ Saprodi
Lainnya
Bojong Renged
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Kebon Cau
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
Teluk Naga
Tidak
Tidak
Tidak
Ada
Babakan Asem
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Kampung Melayu Timur
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Kampung Melayu Barat
Tidak
Ada
Tidak
Tidak
Kampung Besar
Ada
Tidak
Tidak
Tidak
L E M O
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tegal Angus
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Pangkalan
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tanjungburung
Tidak
Ada
Tidak
Ada
Tanjungpasir
Tidak
Tidak
Ada
Ada
Muara
Ada
Tidak
Tidak
Ada
Sumber: Podes, 2008
Berdasarkan hasil PODES 2008, diketahui bahwa selama ini terdapat desa-desa di Kecamatan Teluk Naga yang telah mengupayakan berbagai program-program yang mereka inisiasi sendiri secara swadaya untuk berbagai kepentingan yaitu pembukaan lapangan kerja padat karya, bantuan modal usaha, bantuan saprodi, dan lain sebagainya. Program-program inisiatif ini menunjukkan bahwa masyrakat Desa menyadari akan perlunya program-program dalam tingkat desa untuk meningkatkan kualitas hidup mereka sendiri.
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa Desa yang paling sedikit menerima program pembangunan adalah Desa Bojong Renged. Sedangkan Desa Tanjungpasir, Desa Kampung Melayu Barat, dan Desa Babakan Asem hanya menerima satu program. Dengan demikian diketahui bahwa dari segi program pembangunan, jumlah program pembangunan yang diterima oleh Desa-desa di Kecamatan Teluk Naga tidaklah berimbang.
                  3Isu-isu Pokok (Issues)
Isu-isu pokok merupakan variabel terakhir dalam pertimbangan penentuan lokus kluster Desa pesisir. Isu-isu pokok yang diangkat adalah jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, mata pencaharian, persentase buruh tani, jumlah kepala keluarga yang masih tinggal di rumah kumuh, dan jumlah bencana alam yang dialami dalam tahu terakhir. Hasilnya adalah sebagai berikut.
Tabel 5.  Isu-isu pokok Desa Pesisir di Kecamatan Teluk Naga
Desa
Penduduk
KK
Mata Pencaharian
Pertanian
KK Kumuh
Bencana
Bojong Renged
9650
2678
Pertanian
15
400
2
Kebon Cau
10965
2555
Pertanian
15
130
2
Teluk Naga
10965
2275
Pertanian
18
1100
1
Babakan Asem
7879
2026
Pertanian
55
60
1
Kampung Melayu Timur
19146
4896
Perdagangan
2
0
1
Kampung Melayu Barat
12254
2015
Jasa
8
0
1
Kampung Besar
10461
2704
Pertanian
50
140
2
L E M O
6200
1750
Pertanian
60
0
3
Tegal Angus
8600
1979
Pertanian
60
0
2
Pangkalan
15268
3889
Industri
20
260
2
Tanjungburung
6759
1845
Pertanian
60
50
3
Tanjungpasir
5600
2018
Pertanian
40
0
2
Muara
3780
801
Pertanian
60
20
4
Sumber: Podes, 2008

KESIMPULAN
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari berbagai variabel yang diangkat dan hasil skoring yang dilakukan, diperoleh bahwa terdapat tiga alternatif kluster, yaitu:
1)    Kluster 1, terdiri dari Desa Tanjungburung, Desa Tanjungpasir, dan Desa Muara. Kluster ini merupakan kluster yang masyarakatnya tanggap terhadap program-program peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan. Selain itu kluster ini juga sangat rawan terhadap bencana.
2)    Kluster 2, terdiri dari Desa Kampung Besar, Desa Kampung Melayu Barat, dan Desa Kampung Melayu Timur. Kluster ini merupakan kluster yang cukup berimbang, dalam artian masyarakatnya berkembang, namun sudah menerima banyak program dari Pemerintah.
3)    Kluster 3, Desa Bojong Renged, Desa Kebon Cau, dan Desa Babakan Asem. Kluster ini merupakan kluster yang paling berkembang. Masyarakatnya terbilang jauh dari kumuh, berpendidikan dan tidak rawan bencana.
Dengan demikian diputuskan bahwa kluster PDP Kabupaten Tangerang adalah Kluster Desa Tanjungburung, Desa Tanjungpasir, dan Desa Muara

6 komentar:

  1. banyak banget bukunya pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sich? he he he. Terima kasih Maraddia atas kunjungannya

      Hapus
  2. waah ternyata desa kmpg besar walaupun termasuk dalam kluster masyarakatnya berkembang , menurut saya pribadi, masih berada jauh di bawah garis kemiskinan. desa ini butuh pembangunan, program khusus , pembenahan insfrastruktur, dan perhatian khusus dr pemerintah . khususnya dalam pembangunan pertumbuhan ekonomi dan pendidikan wajib belajar 9th. Kebetulan , secara tidak diduga desa kampung besar adalah lokasi KKN (Kuliah Kerja Nyata) saya bersama teman-teman kampus. yang rencananya akan dilaksanakan pada agustus-september 2013. Harapan saya dr kegiatan KKN , semoga dg adanya program kerja dr " kami " (saya & teman-teman) dapat membantu pembangunan dan pembenahan infrastruktur serta pertumbuhan ekonomi desa tsb di masa mendatang. Amiinnn :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan Izatun Purnami, bahwa kampung besar termasuk daerah miskin. Dan itulah karakter desa pesisir dimana kompleksitas pengelolaan sumberdaya, pembangunan antar sektor, dan demografi relatif lebih tinggi dari tipikal desa lainnya. Mudah2an apa yang akan dilakukan Izatun di desa besar sebagai wilayah KKN nya setidaknya dapat memberikan motivasi terhadap masyarakat desa tersebut untuk hidup lebih maju lagi, baik dari aspek sosial ekonomi maupun budaya. Selamat berkarya Izatun Purnami.

      Hapus
  3. Pa, maaf kalau mayoritas mata pencaharian di kec. kosambi apa?
    Kemudian potensi yg ada di kosambi ada apa saja?
    trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagaimana desa/kecamatan lainnya yang berdekatan dengan wilayah DKI Jakarta, secara kasat mata mata pencaharian penduduknya didominasi oleh pekerjaan sbg buruh atau pekerjaan jasa informal lainnya. Yang tercatat di statistik kecamatan, tertulis didominasi oleh pekerjaan sebagai petani. Ini menjadi menarik, kalau masyarakat yang terlibat dalam pekerjaan sebagai petani itu sedikit, lalu bagaimana distribusi kepemilikan lahan pertaniannya, bagaimana pola pembagian pendapatan antara pemilik lahan dan buruhnya, bagaimana pandangan sosiologis terhadap sektor pertanian, dll? Yg akhirnya didapatkan data tentang distribusi pendapatan antara yg bekerja di pertanian dan non pertanian dan ujung ujungnya kita akan tahu tingkat kesejahteraan/kemiskinan di kecamatan Kosambi. Terima kasih Muhamad Nurdin Rohidin atas kunjungannya.

      Hapus