Rabu, 11 April 2012

Menikmati Ekowisata Curug (Air Terjun) Sepanjang Ciapus – Gunung Bunder, Bogor

Dengan Vespa Menuju Gunung Salak
Saya tulis ‘sepanjang Ciapus sampai Gunung Bunder’ karena merupakan satu jalur wisata alam di kaki Gunung Salak di sebelah barat Bogor. Kemudian istilah curug adalah kata lain (bahasa lokal) untuk menyebut air terjun. Dan saya ingin berbagi kenangan manis kami ketika berkesempatan menikmati alam permai Gunung Salak pada hari Sabtu 08 April 2012 kemarin.
Pagi-pagi saya dan istri dengan sepeda motor Vespa kesayangan sudah keluar Kota Bogor melewati daerah Empang – Ciomas – Cikaret – Ciapus sejauh 25 km. Perjalanan dari kota Bogor sampai Ciapus, kita seperti disodori oleh kesibukan warga dari sebuah dinamika perkotaan yang yang serba sibuk dan tergopoh-gopoh mengejar waktu sebagai penjaja jasa. Sedangkan selewat Ciapus, aroma pedesaan dengan keagrarisannya lebih kental terasa. Suasana alami, sunyi, aroma sawah, kebun, ilalang bahkan bau kandang kambing bergiliran terhisap hidung kami, tapi kami menikmatinya. Pas di hotel Highland Park Resort, kami ambil arah ke kiri, kita mau ke Wana Wisata Curug Nangka yang berada di Desa Warung Loa Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor, sedangkan arah ke kanan adalah arah ke Curug Luhur dan Wana Wisata Gunung Salak Endah (GSE). Kami rencanakan mengunjungi Curug Luhur dan Wana Wisata GSE setelah selesai menikmati alam Curug Nangka.

Curug Nangka
Jarak dari Highlan Park Resort ke Curug Nangka, hanya 3 km saja dengan pemandangan di kanan kiri kami adalah kebun-kebun sayur yang sedang dipupuk oleh para petaninya sedangkan tegak lurus di hadapan kami adalah Gunung Salak, jadi seolah kami ini mau mendaki puncak Gunung Salak.
 Di pintu gerbang Wana Wisata Curug Nangka (WWCN) yang dijaga 5 orang petugas jaga dari kehutanan, kami ditarik karcis sebesarRp 16 rb atau Rp 5 rb/ orang dan sepeda motor Rp 6 rb.  Di balik pintu gerbang, kami langsung memandang di kiri kanan jalannya berderet-deret tegak berdiri pohon-pohon pinus. Pemandangan alam ini merubah suasana hati yang terbiasa dengan kegersangan menjadi kedamaian dengan hijaunya dan segarnya udara yang kami hirup. Kemudian berjalan sedikit, kami memasuki areal curug berada tetapi mesti melawati kepungan warung-warung nasi sederhana. Sajian pemandangan curug yang pertama adalah Curug Nangka dimana ketinggiannya sekitar 15 meter namun kami tidak dapat menikmatinya secara utuh karena tidak ada akses jalan menuju dasar air terjun tersebut, kami hanya melihatnya dari jalan setapak yang kami lalui di bagian atas curug tersebut. Pemandangan curug ke 2 adalah Curug Daun dimana jarak dari Curug Nangka hanya beberapa puluh meter saja. Curug Daun tingginya hanya 3 meteran saja tetapi pengunjung bebas menikmatinya dengan bermain-main dan mandi di air bening yang mengalir di bebatuan.
Curug-curug ini berada dalam sebuah lembah kecil dimana di kanan kiri kami dipenuhi tetumbuhan hutan hujan tropis seperti pakis dan lainnya. Banyak juga kera-kera yang jinak yang bercanda dengan kita dengan mengejar-ngejar kami. Mereka tahu kami sedang makan jagung bakar sambil berjalan-jalan.
Pengunjung yang umumnya dari Jakarta tentunya sangat menikmatinya dan merasa betah karena sejuk, hijau, hening, dan damai, namun sayang WWCN seluas 17 ha ini seolah tidak dikelola dengan baik. Hal tersebut terlihat dari jalan setapak yang licin dan berundak terlalu tinggi (30 – 75 cm), sampah plastik berserakan, dan warung-warung tenda dibiarkan berjualan dimana-pun mereka suka. Bahkan ada warung tenda yang didirikan persis di sisi kiri Curug Daun yang tentunya sangat mengganggu yang akan menikmati alam indah karunia Ilahi ini. Hal perlu dipikirkan lagi adalah kapasitas kunjungan wisatawan, jangan sampai jumlah pengunjung melebihi kapasitas WWCN ini.

Curug Luhur
Setelah puas menikmati alam WWCN, kami beranjak ke Wisata Air Curung Luhur jang jaraknya sekitar 10 km. Wisata air Curug Luhur berbeda dengan WWCN. Curug Luhur sudah dikelola dengan modern oleh perusahaan berbadan hukum yang setahu kami pemiliknya adalah orang Tunisia. Dikatakan modern karena di Curug Luhur para pengunjungnya dimanjakan oleh berbagai permainan atau wanaha air seperti halnya di Ancol, Jakarta seperti; seluncur, air tumpah dan lainnya. Malah pemandangan curugnya itu sendiri kurang memikat para pengunjung. Pengunjung lebih asyik dengan permainan airnya.
 Masuk Wisata Air Curug Luhur ini Rp 30 rb per orang dan parkir sepeda motor Rp 8 rb. Mahal juga ya?

Kawasan Wisata Gunung Salak Endah (GSE)
Kawasan wisata GSE di Gunung Bunder memang luar biasa dan masih natural sekali, hutan hujan tropisnya terlihat rimbun menghijau, pohon pinusnya berjajar-jajar berdiri tegak, sawah berterasering yang subur, puncak gunung Salak yang menjulang biru, dan lembah yang samar-samar terlihat hamparan kota Bogor. Tidak salah kalau ada yang menyebutnya sebagai sorga terahir.
Di kawasan wisata GSE ini terdapat belasan curug (air terjun) yang berketinggian mulai 3 meter sampai yang tingginya 40 meter. Sebut saja curug-curug yang mudah ditemui di sepanjang jalan yang berkelok-kelok, seperti; curug cihurang, curug seribu, curug pangeran, curug ngumpet, dan curug cigamea. Curug-curug tersebut sebenarnya dapat ditempuh dengan jalan kaki karena letaknya tidak jauh dari jalan raya, namun karena kontur jalannya naik turun tajam maka cukup nguras tenaga untuk bisa sampai ke lokasi curugnya.
Khusus Curug Cigamea yang tiket masuknya Rp 5500 per orang, curug ini lebih nikmat untuk dilihat dari kejauhan dimana antara puncak Gunung Salak dengan dasar dari Curug Cigamea dapat ditangkap dalam satu frame. Kalau dari dekat, curug cigamea ini kurang menarik karena tidak dapat mengambil foto dalam satu bingkai secara penuh, apalagi kesumpekan makin menjadi karena keberadaan warung-warung tenda yang berdiri sembarangan. Pengunjung-pun banyak yang tidak berlaku tertib, malah seolah dibiarkan mau berbuat apa saja sesukanya tanpa ada yang mengingatkannya.
Selepas puas menikmati Curug Cigamea dan waktu sudah menujukan pk 01 siang hari, maka sudah waktunya untuk santap siang. Nah, saya rekomendasikan untuk mampir ke warung Puncak Raya yang berada di seberang parkiran Curug Cigamea yang tempatnya benar-benar berada di puncak bukit sehingga kita dapat melihat hamparan sawah di bawah sana. Namun bukan hanya pemandangannya yang  indah ternyata gulai tutut (keong sawah) yang menjadi menu andalan di warung ini juga sangat sedap untuk dicoba. Gulai tutut yang disajikan sebagai pembuka makanan utama memiliki rasa yang gurih, pedas, dan hangat, sesuai dengan udara dingin yang melingkupi sekitar kami berada. Satu mangkok tutut dihargai Rp 10 rb.

Sekilas Kawasan Wisata Gunung Halimun Salak dan Alternatif Pengembangannya
Wana wisata Curug Nangka, Wisata air Curug Luhur, dan kawasan wisata Gunung Salak Endah (Gunung Bunder) termasuk dalam kawasan konservasi yang menjadi kewenangan Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak-Kementrian Kehutanan yang luas totalnya 113.357 ha yang mencakup wilayah Kab Bogor, Kab Sukabumi, dan Kab Lebak-Banten (Balai adalah nomenklatur untuk eselon III di kementrian), sangat kaya akan keaneka ragaman hayati dan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai wisata berbasiskan alam dan budaya masyarakat setempat (ekowisata). Nomenklatur setelah balai (ess III) kemudian seksi (eselon IV) dan terahir adalah Resort (non struktural) yang menjadi garda depan dalam pengelolaan kawasan konservasi hutan. Kawasan Curug Nangka, Curug Luhur dan Gunung Salak Endah sendiri masuk dalam kewenangan Resort Gunung Salak II yang luasnya 9000 ha.
Dinamika kawasan wisata di Resort II geliatnya semakin terasa  meningkat yaitu dengan melihat kepada indikator trend kenaikan wisatawan yang berkunjung dan tumbuhnya hotel, vila, penginapan, rumah makan, pemukiman, dan lainnya. Geliat ini perlu dikendalikan secara ketat jangan sampai dibiarkan bergerak tanpa arah. Kalau tidak, kelak beberapa tahun lagi tempat wisata ini sudah berubah dipenuhi hutan beton.
Hemat saya, kawasan wana wisata Curug Nangka, Curug Luhur, dan Gunung Salak Endah dikembangkan sebagai kawasan ekowisata yang menjalankan 6 prinsip;
1.  Terencana secara holistik, terintegrasi sehingga terbentuk harmonisasi antara manusia dengan alam lingkungannya,
2.    Ramah lingkungan dengan indikator less waste, menggunakan bahan yang dapat didaur ulang, dan tidak merusak apalagi merubah lingkungannya,
3.    Ramah adat, sosial, dan budaya setempat,
4. Tidak banyak membutuhkan infrastruktur sehingga tidak berdampak negatif terhadap alam, lingkungan, adat, sosial, dan budaya setempat,
5.    Jumlah kunjungan wisatawan dibatasi sesuai carrying capacity, dan
6. Berdampak positif terhadap sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.
Dengan demikian, mudah-mudahan anak cucu kita masih dapat menikmati alam indah kawasan wisata air terjun dari Ciapus sampai Gunung Bunder ini. Amin  

Jalan Menuju Curug Nangka
Suasana Hutan Pinus di Curug Nangka
Curug Nangka
Wisata Air Curug Luhur
Curug Luhur
Sungai Berbatu dan Gunung Salak
Sawah Berterasering
Indahnya Gunung Salak
Hutan Gunung Salak
Curug Cigamea
Di Warung Puncak Raya, Cigamea

Tidak ada komentar:

Posting Komentar