Sabtu, 26 Mei 2012

Di Kota Pekanbaru-Riau; Telur Penyu Dijual Bebas

Di perairan Indonesia ada 6 jenis penyu dari 7 jens penyu yang ada di dunia, yaitu: penyu hijau (Chelonia midas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu lekang (Lipedochelis olivacea), penyu pipih (Natator depressus), dan penyu tempayan (Caretta caretta). Yang tidak ditemukan di perairan Indonesia hanya penyu jenis Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi). Dari jenis penyu tersebut, penyu belimbing adalah yang terbesar dengan bobot dapat mencapai 800 kg sedangkan yang terkecil adalah penyu lekang yang berbobot hanya 50 kg saja, namun yang paling banyak ditemukan di perairan Indonesia adalah penyu hijau, sehingga telur penyu yang banyak dijual di pasaran adalah telur penyu hijau. Penyu-penyu tersebut beserta bagian-bagiannya termasuk telurnya masuk dalam katagori dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Saat ini di beberapa pasar di kota dan kabupaten tertentu dapat dengan mudah dijumpai orang yang menjual telur penyu secara bebas, seperti di; Sukabumi, Bogor, Cilacap, Banyuwangi, Lampung, Padang, Bengkulu, Pekanbaru, Medan, Batam, Balikpapan, Tanjung Redep, Nunukan, Palangkaraya, Banjarmasin, Kupang, Flores, Makassar, dan banyak lagi di kota-kota besar maupun kecil. Bahkan pernah di suatu kota dan kota kecamatan di Sumatera, penulis disuguhi telur penyu rebus pada jamuan makan malam yang diadakan oleh Pak Bupati dan juga oleh Pak Camatnya. Wah, apa beliau-beliau tidak paham ya, bahwa telur penyu termasuk katagori menurut hukum Indonesia –dilindungi- ?
Khusus di Kota Pekanbaru, ketika Jumat 25 Mei 2012, penulis jalan-jalan di sekitaran Pasar Bawah, di pasar sayur yang sebenarnya cukup bersih dan menyenangkan namun ada 7 lapak penjual telur penyu  yang bebas bertransaksi. Tiap lapak setidaknya menjual 300 biji telur penyu atau sekitar 2000 biji telur penyu yang diperdagangkan di pasar tersebut. Semua telur adalah telur penyu hijau. Harga jualnya hanya Rp 3000 per biji. Telur-telur tersebut didatangkan dari Pulau Jemur di kabupaten Rohil, Bengkalis, dan yang paling banyak didatangkan dari Padang. Para pedagang tersebut menjajakan telur penyu dengan bebas tanpa rasa takut dapat dipidanakan, mungkin mereka tidak paham tentang telur penyu itu adalah dilindungi. Dan pembelinya-pun sama juga, tidak merasa ‘bersalah’ dengan membeli barang ‘haram’ tersebut. Pembelinya umumnya dari etnis tertentu, karena mereka memiliki kepercayaan bahwa menyantap telur penyu akan menambah vitalitas. Etnis mereka kan selalu mempersepsikan terhadap makanan tertentu selalu berujung kepada vitalitas dan kemakmuran. Padahal sebenarnya, telur penyu memiliki kandungan kolesterol yang sangat tinggi yang dapat menyumbat pembuluh darah termasuk yang berada di sekitar alat vital dan juga kandungan protein telur penyu adalah 13,04% tidak jauh beda dengan kandungan protein telur ayam yang 11,80%.
Beberapa kabupaten pernah punya dan pernah punya ide untuk mem-perda-kan tata niaga telur penyu dengan alasan bahwa kalau diperdakan akan lebih terkontrol dan yang paling penting ada pemasukkan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) setempat. Contohnya Kabupaten Sukabumi dengan Perda No. 2 Tahun 2001 tentang Pajak Sarang Burung Walet, Telur Penyu, dan Rumput Laut. Namun untungnya Perda tersebut dibatalkan oleh Kemen Dagri. Demikian juga dengan Kabupaten Berau, yang berkeinanan untuk menerbitkan Perda tata niaga telur penyu dengan alasan bahwa tata niaga telur penyu yang bebas tanpa ada pengaturannya hanya akan menguntungkan kabupaten atau kota lainnya yang menjual telur penyu dari kabupaten Berau, namun karena banyak yang menentangnya, rancangan Perda ini tidak dilanjutkan.
Secara internasional-pun penyu beserta bagian-bagiannya telah menjadi perhatian yang tinggi. IUCN-World Conservation Union Red List memasukkan penyu sebagai katagori terancam punah. Dalam Appendix 1 Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (CITES) yang artinya perdagangan penyu beserta bagian-bagiannya adalah dilarang. Indonesia sudah meratifikasi konvensi tersebut dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya.

Kasihan juga penyu-penyu tersebut ya? Ketika berada di laut diburu untuk dagingnya untuk santapan bahkan untuk syarat ritual upacara keyakinan di masyarakat tertentu dan bagian-bagian tertentu dari penyu-penyu tersebut dicari yang akan dibuat souvenir atau produk fashion. Tidak sedikit juga penyu-penyu yang berenang-renang di laut jadi mati karena terjerat jaring nelayan atau karena sampah serta terjaring nelayan sebagai tangkapan yang tidak diinginkan (bycatch). Ketika betina penyu mau mendarat untuk bertelur, tempat biasa bertelur kini sudah berubah fungsi menjadi perhotelan, pemukiman dan lainnya dan terahir ketika bisa bertelur, telurnya langsung ‘dimangsa’ manusia untuk kepentingan ekonominya.
Penyu Hijau Saat Akan Bertelur di Pulau Jemur-Riau
Setelah Bertelur
Ketika Menetas Menjadi Tukik

Ketika Kembali ke Laut, Penyu ini Penuh Tanda Tanya; Akan Keselamatan Dirinya dan Telurnya

Telur Penyu yang Dijual Bebas di Pasar Bawah-Pekanbaru

Penjual dan Pembeli Bertransaksi Tanpa Khawatir
 Telur Penyu Bebas Diperdagangkan

Nasi Ketan Durian, Hemm Nikmatnya...

Sumatera jelas salah satu sumber buah durian, sebut saja durian Medan yang begitu dikenal dengan rasa manis dan aroma wanginya. Maka dari itu banyak variasi makanan bahkan sampai jenis sambal sekalipun, yang dikenal dengan nama sambal tempoyak. Nah, sekarang bagaimana rasanya kalau makan nasi ketan dengan teman lauknya adalah durian?
Di kota Padang, Medan, dan Pekanbaru, masyarakatnya sudah biasa menyantap nasi ketan bersama durian. Kalau di Jawa, umumnya nasi ketan disantap bareng dengan sambal kacang atau goreng tempe, sebagaimana teman nasi ketannya, yaitu biasa dengan yang berasa gurih dan sedikit asin, bukan dengan yang manis. Bahkan boleh dikata tidak ada yang menyantap nasi ketan dengan buah-buahan apalagi spesifik dengan durian.
Di kota Pekanbaru, beberapa warung yang sudah kondang menyediakan menu nasi ketan durian adalah di Jalan Sudirman, salah satunya yang kami kunjungi adalah pondok durian ‘Pangeran’. Setelah sepakat harga per biji duriannya, kami minta dipilihkan durian yang matang, manis dan beraroma oleh penjualnya dengan perjanjian kalau rasa dan aroma duriannya tidak baik maka minta diganti dengan yang lain. Harga kesepakatan adalah Rp 40 ribu per bijinya untuk ukuran sedang. Agak mahal memang, karena saat ini (bulan Mei) bukan masa musim buah durian. Mangkanya buah durian yang ada saat ini sangat terbatas jumlahnya dan itupun harus didatangkan dari Padang dan Medan. Kalau lagi musimnya, harga durian untuk ukuran yang sama hanya Rp 15 ribu/buah saja. Kami bertiga dan kami pesan nasi ketannya-pun sebanyak tiga piring (yang harganya Rp 5 ribu/piring) dan duriannya kami pesan 2 biji saja.
Ritual makan nasi ketan dan durian dimulai. Hepp, masuk mulut dan bertubrukan dengan goyang lidah, waw, suatu perpaduan rasa yang ‘lain’ yang tidak biasa, sangat sensasional, perpaduan wangi dan gurih nasi ketan dengan wangi dan manis-nya aroma durian. Jelas nikmatnya dan jelas juga berbeda dengan rasa dodol atau lempok (dodol durian) sekalipun. Rasanya lebih ‘soft’ dibanding rasa dodol atau lempok yang kadang rasa manisnya berlebih.
Nyantap nasi ketan durian enaknya pada sore hari ketika udara sudah tidak panas lagi. Orang-orang Pekanbaru, Medan, dan Padang-pun kalau nyantap nasi ketan durian selalu pada waktu sore sampai pada malam hari. Namun anehnya, walaupun sudah menyantap nasi ketan durian saatu piring, tetapi itu tidak dianggap sudah makan malam, makan malam ternyata lain lagi. Makan nasi ketan durian dianggap sebagai camilan saja. Padahal kalau dihitung, satu piring nasi ketan dengan sebuah durian ukuran sedang, sudah berapa banyak tuch kandungan kalorinya? Tapi kalau sudah ketemu yang enak seperti ini, jadi lupa akan asam urat dan lainnya, yang penting nikmati saja nasi ketan durian ini yang mantap rasanya ini.
Pondok Durian Pangeran di Pekanbaru Salah Satu Tempat Santap Nasi Ketan Durian
Apabila Sudah Ada Kesepakatan Harga Durian, Penjual Akan Menghidangkan Nasi Ketan Durian

Seporsi Nasi Ketan Durian
Sepiring Nasi Ketan Durian
Hemm Nikmatnya Nasi Ketan Durian

Senin, 21 Mei 2012

Pemanfaatan Gili Sunut di Lombok Timur antara Pariwisata dan Konservasi


Gambaran Umum
Dari sudut pandang pariwisata, Gili Sunut memiliki potensi unggulan yang layak menjadikannya sebagai tujuan wisata. Faktor-faktor penentu daerah tujuan wisata, seperti aksesbilitas, keamanan, kenyamanan, keindahan, keunikan, penerimaan sosial, keramahtamahan, dan atraksi, semua ada di Gili Sunut. Hanya saja perlu dukungan permodalan, kelembagaan dan fasilitas transportasi dan infrastruktur.
Namun demikian, karena pariwisata ini berada di sebuah pulau kecil, maka seyogyanya pelaksanaannya harus mengikuti kaidah-kaidah pengelolaan pulau-pulau kecil sebagaimana diatur dalam Permen Kelautan dan Perikanan No. Per. 20/MEN/2008 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan Perairan di Sekitarnya. Salah satu pembatas dalam pemanfaatan pulau kecil adalah aspek daya dukung. WTO (2007), menjelaskan tentang daya dukung, yaitu jumlah maksimum manusia yang dapat mmengunjungi suatu daerah tujuan wisata pada waktu bersamaan, tanpa mengakibatkan kerusakan fisik, ekonomi dan sosio-budaya dan/atau terjadinya penurunan sesuatu yang tidak diharapkan dalam kualitas kepuasan pengunjung. Daya dukung bukanlah merupakan angka yang tetap/pasti tetapi dapat berubah-ubah yang dipengaruhi oleh tehnik manajemen dan pengendalian.
Secara umum yang dimaksud dengan daya dukung wisata di pulau-pulau kecil dapat meliputi:
1.    Daya dukung ekologis atau tingkat maksimal penggunaan suatu pulau,
2. Daya dukung fisik, yang merupakan jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodir tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas yang didapat oleh pengunjung,
3.   Daya dukung sosial, yang merupakan batas tingkat maksimum dalam jumlah dan tingkat perubahan sosial yang akan menimbulkan dampak bagi masyarakat setempat maupun terhadap kenyamanan pengunjung.
Dari sudut pandang konservasi, konservasi perairan Gili Sunut dianggap sangat strategis karena Gili Sunut berada diantara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa serta sekaligus berada tidak jauh dari Kawasan konservasi Perairan (KKP) Gili Sulat. Karena letaknya tersebut, ekosistem terumbu karang Gili Sunut memiliki koneksitas bio-ekologis dengan ekosistem terumbu karang di wilayah sekitarnya. Saat ini perairan Gili Sunut menjadi daerah ruaya penyu dan transport planula karang diantara ekosistem terumbu karang di perairan sekitarnya.
Pemanfaatan Gili Sunut
Gili Sunut yang luasnya hanya 7,8 ha tentu tidak layak untuk dikembangkan ekonominya secara masif. Lebih lagi bahwa perairan sekitar Gili Sunut memiliki tutupan terumbu karang yang masih baik dan berada di sekitar kawasan konservasi perairan Gili Sulat. Pengembangan pariwisata yang paling tepat dikembangkan di Gili Sunut adalah kombinasi bersama dengan konservasi serta melibatkan masyarakat setempat dalam bentuk ekowisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Ekowisata ini mengintegrasikan empat aspek secara holistik yaitu:
1.    Pariwisata itu sendiri,
2.    Pemberdayaan masyarakat,
3.    Konservasi alam, dan
4.    Pengembangan wilayah.
The World Tourism Organization (WTO) menekankan pariwisata berkelanjutan atau ekowisata adalah pariwisata yang memanfaatkan sumberdaya lingkungan secara optimal dengan membantu pelestarian alam beserta keanekaragaman hayati, menghormati sosial-budaya masyarakat setempat dan menyediakan keuntungan ekonomi bagi seluruh pemangku kepentingan. 

Minggu, 20 Mei 2012

Gili Sunut di Kabupaten Lombok Timur (Sebuah Gambaran Umum)


Umum
Gili Sunut adalah salah satu pulau kecil seluas 6,8 Ha di wilayah Kabupaten Lombok Timur, Prov. NTT. Gili Sunut ini tepatnya berada di desa Pemongkong Kecamatan Jero Waru. Menuju Gili Sunut dapat ditempuh selama 2,5 jam dari Kota Mataram dengan moda angkutan darat dan laut. Moda angkutan darat digunakan dari Kota Mataram sampai di pelabuhan Telong Elong di Jero Waru, dari pelabuhan Telong Elong menuju Gili Sunut menggunakan moda angkutan laut.
Kondisi Fisik
Secara geologis, pulau-pulau kecil yang berada di kabupaten Lombok Timur tersusun dari tujuh formasi batuan, yaitu:
1.    Formasi Ekas (batu gamping),
2.    Formasi kalipalung (perselingan breksi gampingan dan lava bersusunan andesit sampai basal),
3.    Anggota selayar formasi kalipalung (batu pasir tufaan dan batu lempung tufaan bbersisipan karbon),
4.    Formasi kalibalak (breksi dan lava),
5.    Formasi Lekopiko (tuf berbatu apung, breksi lahar dan lava andesit basal),
6.    Batuan gunung api tak terpisahkan (lava bersusunan andesit piroksen dan breksi bersusunan andesit dengan masa dasar tuf), dan
7.    Aluvium.
Gili Sunut sendiri merupakan pulau dengan batuan batu gamping dan endapan pantai dengan keinggian maksimum 16 m dpl. Di pulau kecil ini tidak mengalir sungai atau creek, sehingga penduduknya lebih bergantung terhadap air hujan untuk kebutuhan akan air tawar.
Bathimetri perairan sekitar Gili Sunut adalah sbb; di sebelah timur Gili Sunut sampai (-)5 meter termasuk perairan dengan dasar laut –datar- hingga –hampir datar- yaitu dengan kelerengan dasar laut rata-rata 1,32% (katagori datar hingga hampir datar 0 – 2%), perairan di sebelah utara memiliki dasar laut dengan lereng sekitar 4,69% yang termasuk katagori –miring- (katagori miring 4 – 8%) dan sebelah barat gili memiliki dasar laut dengan rata-rata 3,22% yang termasuk katagori –agak miring- (katagori agak miring 2 – 4%).  Perairan di sebelah utara Gili Sunut pada kedalaman (-)5 meter sampai (-)20 meter merupakan perairan –datar- hingga –hampir datar-. Sedangkan di sebelah timurnya pada kedalaman (-)5 meter sampai (-)20 meter memiliki dasar laut –miring- sampai –agak curam- (katagori agak curam 8 – 16 meter). Secara batimetri perairan sekitar Gili Sunut termasuk dalam katagori miring sampai curam.
Kondisi pasang surut perairan sekitar Gili Sunut dipengaruhi oleh pasang surut perairan Selat Alas dan Samedera Hindia. Hasil analisis konstanta harmonis pasang surut perairan diperoleh bilangan Formzal (F) sebesar 0,52 atau berada pada kisaran 0,25<F<1,50. Hal itu menunjukkan bahwa tipe pasang surut di Gili Sunut adalah Mixed Tide Predominantly Semi Diurnal, atau pasang campuran yang condong ke harian ganda, artinya dalam satu hari terjadi dua kali pasang dan dua kali surut.
Tinggi gelombang yang mencapai Gili Sunut relatif rendah yang berkisar 0,2 – 0,5 meter. Gelombang umumnya menjalar dari pembangkitan gelombang jarak dekat dan pecah setelah mencapai pantai atau tubir karang. Arah gelombang dominan dari arah tenggara dengan frekuensi 11 sampai 13 gel per menit. Karena Gili Sunut agak terbuka, maka pada musim barat dan musim timur dapat terjadi gelombang tinggi.
Ekosistem terumbu karang di pperairan sekitar Gili Sunut merupakan tipe terumbu karang tepi (fringing reef) dan takat (patch reef) dengan bentuk kehidupan di dasar perairan terdiri dari karang batu (hard coral), karang mati (dead scleractina), algae, populasi hewan lain, dan kelompok abiotik ( pasir, lumpur, dan pecahan karang). Tutupan karang di perairan Gili Sunut sekitar 86,40% dan artinya termasuk katagori –sangat baik-.
Pemanfaatan perairan sekitar Gili sunut terdiri dari untuk kegiatan perikanan tangkap dan budidaya laut yang meliputi budidaya ikan dalam karamba jaring apung dan budidaya kerang mutiara. Kegiatan perikanan tangkap dengan fishing ground utamanya terdapat di sebelah utara dan timur Gili Sunut baik dengan menggunakan alat tangkap aktif maupun statis. Sedangkan budiaya ikan dalam KJA berada di sebelah barat Gili Sunut dan budidaya kerang mutiara berada di sebelah timur Gili Sunut.
Kondisi Sosial Ekonomi
Gili Sunut dihuni oleh 111 KK yang semuanya berprofesi sebagai nelayan dengan menggunakan alat tangkap tradisional seperti pancing tonda/troll, jaring insang/drift gill net dan perahu motor tempel. Sebagian dari nelayan tersebut bekerja sama dengan pemodal dari luar daerah untuk budidaya fin fish dalam keramba jaring apung.
Potensi Wisata Bahari
Nilai sebuah pariwisata akan dilihat dari aspek aksesbilitas (accessibility), keamanan (savety), kenyamanan (comfortible), keindahan (aesthetics), dan keunikan (uniqeeness). Sedangkan aspek sosial budaya meliputi penerimaan sosial (social acceptance) dan keramahtamahan (hospitality). Dan aspek lain yang harus dipertimbangkan juga adalah adanya penawaran pariwisata dalam bentuk atraksi (attraction), fasilitas (facility), infrastruktur (infrastructures), transportasi (transportation), permodalan (capital), dan kelembagaan (ancillary). Melihat aspek aspek tersebut diatas, kiranya Gili sunut telah memiliki sebagian besar dari aspek-aspek perhitungan tersebut dan menjadi sangat potensial untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata.
Pemukiman Penduduk (111 KK) di Gili Sunut
Sebagian Ber-Pantai Pasir Putih
Budiadaya Kerang Mutiara di Sebelah Timur Gili Sunut
Budidaya Ikan Kakap di Karamba Jaring Apung
Nelayan Tradisional Gili Sunut



Kamis, 17 Mei 2012

Investasi di Pulau Berhala Kabupaten Serdang Bedagai Prov. Sumatera Utara

Gambaran Umum P. Berhala di Kab. Serdang Bedagai
1. Letak dan Luas
    Pulau Berhala secara geografis berada di Selat Malaka pada posisi 3°46’38” LU dan 99°30’03” BT. Di sebelah barat, pulau ini berbatasan dengan daratan Sumatera Utara, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Semenanjung Malaysia.
    Pulau Berhala memiliki luas 4 km² dan dikelilingi hamparan terumbu karang.  Pulau ini merupakan lokasi titik dasar/base point (TD) no. 184 dan titik referensi (TR) no. 184 serta terdapat sarana bantu navigasi berupa suar (C 19s192m30M). Pulau ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara. Pulau ini diapit oleh 2 pulau kecil lainnya yaitu Pulau Sokong Seimbang di sebelah Barat dan Pulau Sokong Nenek di sebelah Timur.

Gambar : .  Cakupan Citra SPOT Pulau Berhala
Sumber : BRKP - KKP

2. Topografi, Geologi, dan Morfologi
    Pulau Berhala memiliki topografi berombak  dengan ketinggian relatif rendah, sebagian landai dengan kemiringan 2-8% dan sebagian kecil bertopografi datar. Pulau seluas 4 km² ini memiliki toporafi bergunung dengan hutan lebat dan pantainya putih bersih.  Pada awal dan akhir tahun, pantai Pulau Berhala menjadi tempat persinggahan penyu untuk bertelur.
    Pulau Berhala tersusun oleh batuan aluvial yang membentuk dataran aluvial pantai, gisik, perbukitan denudasional terkikis sedang, berbatu dan pasir kuarsa.  Pada beberapa bagian pantai, batuan ini membentuk tombolo yaitu sejenis dataran menjorok ke arah laut, dan terumbu paparan pelataran di daerah perairannya.

3.  Aksesibilitas
Aksesibilitas menuju Pulau Berhala tergolong sangat mudah dan murah, karena berada di jalur pelayaran yang ramai.  Untuk menuju ke pulau ini dapat dicapai dari Jakarta menggunakan pesawat udara rute Jakarta - Medan (Bandara Polonia). Frekuensi penerbangan 4-5 x dalam 1 hari dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 10 menit, biaya sekitar Rp. 400.000 – Rp. 800.000 pada hari biasa dan pada hari libur maksimum Rp. 1.500.000.
    Jarak Pulau Berhala dengan ibukota provinsi (Medan) kurang lebih 100 km. Dari Medan ada dua alternatif jalan ke Pulau Berhala, alternatif pertama melalui Belawan, alternatif kedua melalui Tanjung Beringin atau Pantai Cermin. Transportasi laut menuju Pulau Berhala dari Belawan - Medan menggunakan kapal motor menempuh waktu sekitar 3 – 4 jam.  Transportasi laut dari Tanjung Beringin ke Pulau Berhala ± 2 jam dan dari Theme Park ke Pulau Berhala 1 – 1,5 jam  Biaya penyeberangan ini paling mahal Rp.250.000. sampai saat ini, untuk mencapai pulau ini perlu ijin khusus, karena TNI-AL masih menggunakannya sebagai daerah pembuangan amunisi, mungkin karena tidak berpenduduk dan merupakan pulau terluar Indonesia di Selat Malaka (sekitar 48 mil dari pelabuhan Belawan).

4. Iklim
    Pulau Berhala memiliki iklim tropis, suhu udara rata-rata 320C, kelembaban udara rata-rata per bulan sekitar 80,75%, curah hujan berkisar antara 30-343 mm per bulan dengan periodik tertinggi pada bulan November-Desember, hari hujan per bulan berkisar 8-26 hari.  Rata-rata kecepatan udara berkisar 0,45 m/dtk dengan tingkat penguapan sekitar 3,99 mm/hari.  Temperatur udara per bulan minimum 24,04°C dan maksimum 32,14°C.

5. Hidrografi
    Pulau Berhala berada di Selat Malaka dan memiliki kondisi perairan yang relatif tenang dan cukup jernih, dengan dasar laut pasir. Arus di perairan pulau ini berasal dari Selat Malaka yang bergerak  dari barat menuju timur laut dan tenggara dengan kecepatan arus sekitar 0,35 m/detik atau sekitar 1-3 knot. Tinggi gelombang rata-rata di daerah ini adalah 42,3 cm dengan periode 4,38 detik, sedangkan dalam kondisi cuaca buruk tinggi gelombang maksimum mencapai 435 cm, sedangkan pada saat pasang naik bisa mencapai ketinggian sekitar 3 m dan saat pasang surut bisa terendah 30 cm. Temperatur perairan berkisar antara 26-28,3°C, pH 6,5, BOD 16,26 mg/l, turbiditas 0,16-0,22 NTU, dan TSS 1-6 mg/l.  Kedalaman pantainya berada pada kisaran 14-25 m. Hal ini sesuai dengan tekanan udaranya yang bila saat musim kemarau mencapai 20-25 bar, dan pada saat musim penghujan 10-15 bar. Letak pulau ini cukup rawan karena berada di jalur pelayaran internasional yang padat.  Selain itu daerah ini merupakan tempat pembuangan amunisi, sehingga menjadi daerah terlarang untuk didatangi.

Tindak Lanjut Investasi di P. Berhala
Berdasarkan arahan tata ruang dan pertimbangan kelayakan investasi maka sektor-sektor potensial yang layak ditindak lanjuti melalui investasi di pulau kecil Berhala digambarkan pada pembahasan berikut ini :

1. Potensi Investasi di Pulau Berhala
Berdasarkan peta arahan tata ruang maka diperoleh potensi  investasi dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan ekonomi pulau Berhala. Sektor yang potensial dikembangkan di pulau Berhala yaitu :
a.    Potensi Perikanan : Jenis ikan potensial adalah ikan kembung, cakalang, kerapu, kakap, teri.
b.    Kawasan konservasi dan jasa lingkungan : hutan tropika basah dan hutan lahan kering, terdapat hewan    napu (sejenis kancil), biawak, penyu, ular, dan berbagai jenis burung yang khas.
c.    Wisata bahari : snorkling dan diving, memancing dan wisata gua.
d.    Sarana dan prasarana transportasi dari dan ke Pulau Berhala.

2. Sektor Terpilih Pengembangan Investasi di Pulau Berhala
Sektor dan jenis komoditi yang dipilih untuk dikembangkan di pulau Berhala tidak menggunakan model analisa ekonomi regional, karena pulau ini bersifat khusus (sebagai titik pangkal batas wilayah NKRI). Oleh sebab itu pemilihan komoditi untuk pengembangan investasi mengacu pada arahan tata ruang laut pulau Berhala yang telah diteliti sebelmnya oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Adapun peruntukan dan luas lahan yang digunakan serta daya dukung lingkungan disajikan pada tabel berikut ini :

Tabel  : Perhitungan Daya Dukung Berdasarkan Peruntukannya



3.  Sektor Prioritas Pengembangan Investasi di Pulau Berhala
Sektor prioritas terdiri dari 3 jenis kegiatan yang mendesak dikembangkan sebagai berikut :
a.    Konservasi dan jasa lingkungan
b.    Wisata bahari dan infrastruktur penunjangnya
c.    Transportasi laut
   
 
Kesimpulan
1.    Pulau Berhala adalah merupakan pulau yang memiliki potensi kelautan yang potensial secara ekonomi sebagaimana ditunjukan melalui kelayakan investasi yaitu pendekatan ICOR dan B/C Ratio. Adapun nama sektor terpilih yang layak dikembangkan untuk tindak lanjut investasi dan lokasi-lokasi potensialnya di Pulau Karimun adalah :
a.      Sektor-sektor terpilih yang perlu ditindak lanjuti dalam pengembangan investasi di pulau Berhala adalah meluputi sektor konservasi dan jasa lingkungan, wisata bahari dan infrastruktur penunjangnya, serta transportasi laut.
b.    Pendekatan dalam menentukan lokasi dan komoditi potensialnya dalam rangka pengembangan investasi di Pulau Berhala adalah melalui pendekatan special (non ekonomi) atau melalui arahan berdasarkan tata ruang laut P. Berhala.
Rekomendasi
Perlu pengembangan kawasan konservasi lingkungan di Pulau Berhala. Kawasan konservasi ini dapat menunjang kegiatan pariwisata di P. Berhala yang saat ini mulai berkembang. Dengan demikian, disamping para wisatawan mengunjungi P. Berhala, juga dapat mengunjungi wisata penunjang disekitar P. Berhala. Bila para wisatawan banyak mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Pulau Berhala maka akan dapat memberikan dampak ekonomi yang positif yaitu dapat menghidupkan sektor jasa (hotel dan restoran), transportasi, perdagangan di kabupaten Serdang Bedagai.

Selasa, 15 Mei 2012

Data dan Informasi, dan Peta Dalam Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir

Penataan ruang laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil yang benar mensyaratkan adanya Peraturan Daerah tentang rencana zonasi, dimana dengan rencana zonasi dapat menggambarkan secara baik mengenai pola dan struktur ruang wilayah pesisir sehinga dapat memanfaatkannya secara optimal sesuai karakteristik dan kebutuhan ruang yang ada.
Data dan informasi yang dibutuhkan untuk penyusunan Rencana Zonasi Prov dan Kab/Kota adalah data spasial maupun non spasial. Data spasial merupakan data dan informasi yang bereferensi geografis dan/atau informasi informasi lokasi dalam kedudukannya di ruang muka bumi yang meliputi data statistik dan informasi deskriptif.
Data dan informasi yang dibutuhkan penyusunan peta-peta Rencana Zonasi Provinsi dan kabupaten/kota, yaitu:
a.       Data dasar
Data dasar yang dibutuhkan terbagi menjadi peta dasar dan citra satelit penginderaan jauh. Peta dasar merupakan peta yang berisi unsur-unsur dasar rupa bumi meliputi batas administrasi, jalan, sungai, kontur darat dan laut, dan toponimi. Citra satelit penginderaan jauh merupakan gambaran permukaan bumi hasil perekaman dengan menggunakan wahana satelit penginderaan jauh.
b.      Data tematik
Data tematik merupakan data yang memiliki tema tertentu yang dibutuhkan sebagai bahan penyusunan peta tematik dan peta rencana zonasi, baik peta struktur ruang maupun pola ruang. Secara garis besar data tematik terbagi menjadi data biogeofisik lahan dan perairan, oseonografi, ekosistem, kerawanan bencana, konservasi, kawasan strategis nasional tertentu, kawasan alur, sarana dan prasarana wilayah, demografi kependudukan, sosial budaya dan perekonomian.
c.       Data tematik tata ruang
Data tematik tata ruang berisi data/peta yang berhubungan dengan variabel-variabel penetapan pemanfaatan ruang wilayah laut, pesisir, dan pulau-pulau kecil (WPP), diantaranya rencana pengembangan wilayah, rencana pusat-pusat pemukiman, pusat-pusat pertumbuhan wilayah provinsi/kabupaten/kota, sistem pelayanan antar pusat pertumbuhan dan sistem jaringan infrastruktur wilayah.

Perlu diperhatikan tingkat akurasi data, sumber penyedia data, kewenangan sumber atau instansi penyedia data, tingkat kesalahan, variabel ketidak pastian, serta variabel-variabel lainnya yang mungkin ada. Data dalam bentuk data statistik dan peta beserta informasi penunjangnya dikumpulkan dari data tahunan minimal lima tahun terahir (time sries data). Dari data dalam kurun waktu tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran dinamika/perubahan yang terjadi di provinsi/kabupaten/kota bersangkutan.

Metode pengumpulan data dibagi berdasarkan tipe data yang dikumpulkan, yaitu primer dan skunder. Metode untuk memperoleh data primer meliputi interpretasi citra, observasi lapangan, pengukuran langsung di lapangan (pengambilan sample, perhitungan, pengukuran), kuesioner, wawancara/FGD. Metode untuk mendapatkan data skunder  yaitu berupa kajian pustaka, kajian hasil penelitian terdahulu, pengolahan data statistik, pengolahan data deskriptif, dan ppengolahan peta-peta dari instansi penyedia peta.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data/peta dasar, data/peta tematik, dan data/peta tematik tata ruang, yaitu:
a.       Peta RBI (Rupa Bumi Indonesia) skala 1 : 50.000 belum tersedia secara menyeluruh di Indonesia, sehingga  apabila peta tersebut tidak tersedia di wilayah perencanaan zonasi WP3K maka perlu melakukan digitasi untuk memperoleh layer dasar seperti jalan dan sungai pada skala 1 : 50.000 dengan menggunakan citra satelit dengan resolusi spasial yang sesuai, yaitu minimal 30 X 30 m untuk provinsi dan minimal 10 X 10m untuk kabupaten/kota.
b.      Peta LPI (Lingkungan Laut Indonesia) yang merupakan gabungan antara peta RBI dan LLN, dapat digunakan sebagai ppengganti peta RBI skala 1 : 50.000 apabila peta RBI di wilayah tersebut tidak tersedia.
c.       Peta LLN (Lingkungan Laut Nasional) dengan skala 1 : 50.000 perlu disesuaikan penggunaannya untuk penyusunan peta rencana zonasi WPP provinsi 1 : 250.000 dan kabupaten/kota 1 : 50.000.
d.      Citra satelit oseonografi untuk pemodelan suhu permukaan laut dan klorofil memiliki resolusi spasial kecil yaitu antara 250 m s/d 1 km, sehingga perlu dilakukan verifikasi kebenarannya di lapangan, apabila akan digunakan untuk penyusunan peta rencana zonasi WPP  tingkat provinsi pada skala 1 : 250.000 dan tingkat kabupaten/kota pada skala 1 : 50.000

Senin, 14 Mei 2012

Pemetaan Terumbu Karang. Teori, Metode, dan Praktik. (sebuah resensi buku)


Data dan informasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (WPP) yang akurat adalah prasyarat untuk dapat mengelola (perencanaan, pemanfaatan, dan monitoring) wilayah tersebut secara optimal dan berkelanjutan yang akan bermuara terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakatnya.
Peta merupakan bagian dari data dan informasi adalah gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu, digambarkan pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu (Aryono Prihandito, 1988).  Arti pentingnya peta dalam pengelolaan WPP adalah terutama untuk penyusunan empat hirarkis perencanaan WPP, yaitu; Rencana Strategis, Rencana Zonasi, Rencana Pengelolaan, dan Rencana Aksi. Selain juga untuk kepentingan keputusan pemanfaatan WPP. Peta-peta dimaksud yang diperlukan untuk perencanaan dan pemanfaatan WPP adalah; peta dasar dan peta tematik.
Rencana Zonasi WPP yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah membagi WPP ke dalam empat kawasan, yaitu;
1.  Kawasan Pemanfaatan Umum,
2.  Kawasan Konservasi,
3.  Alur laut, dan
4.  Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT).
Kawasan pemanfaatan umum adalah bagian dari WPP yang ditetapkan peruntukkannya bagi berbagai sektor, seperti; perikanan tangkap, perikanan budidaya, wisata bahari, pemukiman, pertanian, dan lainnya. Dan, Kawasan Konservasi adalah bagian WPP dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan WPP secara berkelanjutan.
Kondisi ekosistem terumbu karang di suatu perairan akan mempengaruhi terhadap batas kawasan pemanfaatan umum dan kawasan konservasi. Kondisi ekosistem terumbu karang yang baik dapat masuk kawasan pemanfaatan umum, yaitu diantaranya sebagai fishing ground atau untuk wisata bahari dan juga bisa masuk kawasan konservasi apabila ada biota tertentu yang harus dilindungi. Tetapi kalau ekosistem terumbu karangnya dalam keadaan buruk apalagi sangat buruk, itu seyogyanya perairan sekitar ekosistem terumbu karang tersebut, ditetapkan saja sebagai kawasan konservasi. Penilaian kembali terhadap perairan tersebut bisa masuk ke dalam kawasan pemanfaatan umum, dilihat dari sejauh mana perairan tersebut dapat melakukan recovery ekosistem terumbu karangnya.
Dari situlah, peta tematik ekosistem terumbu karang di suatu wilayah perairan yang berfungsi sebagai media informasi bereferensi geografis sangat diperlukan walaupun dalam implementasi pemetaannya tidak semudah yang dikira (lihat foto-foto di bawah ini). Namun begitu, kita beruntung ada DR.Ir. Guntur,M.S. , Dita Prasetyo, dan Wawan, yang telah merumuskan semua hal tersebut dalam bukunya ‘Pemetaan Terumbu Karang. Teori, Metode, dan Praktik’, setebal 140 halaman dan diterbitkan oleh Ghalia Indonesia, 2012.
Buku ini sangat informatif, aplikatif, runut, rinci per proses, dan mudah dipahami oleh awam yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang perpetaan sekalipun -seperti saya- . Hanya ada hal-hal sangat kecil yang perlu sedikit koreksi, seperti pada halaman 18, dimana tentang ‘metode lyzenga’ seolah tiba-tiba muncul tanpa diberikan pengenalan terlebih dahulu. Kemudian pada halaman 24-25, pada kalimat ‘terdapat dua metode koreksi geometrik dari citra ke citra’, agar lebih mudah dipahami, sebaiknya ditulis ‘terdapat dua metode koreksi geometrik, yaitu ‘koreksi geometrik dari citra ke peta dan koreksi geometrik dari citra ke citra’. Dan satu hal lagi yang perlu disempurnakan adalah tentang penggunaan software aplikasi yang belum update dengan aplikasi terbaru yang memiliki feature lebih lengkap.
Sekali lagi, perlu diberikan apresiasi yang sangat tinggi ke penulis dan penerbit buku ini. Buku ini berbeda dari ratusan buku pesisir yang sudah ada yang lebih menonjolkan tentang ‘wacana’, buku ini betul-betul dapat menjadi pegangan penting bagi siapapun yang peduli dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Buku yang Informatif








Pesisir Prov. Sumatera Barat
Pesisir Prov. Sumatera Barat


Rabu, 02 Mei 2012

Fenomena Gelombang Bono, Icon Wisata Bahari di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau


   I.      Review Kebijakan
A.   Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 
Dalam mendukung implementasi program (MP3EI) koridor Sumatera di Kabupaten Pelalawan, kegiatan difokuskan pada pengolahan industri hilir kelapa sawit dan pariwisata BONO. Hal ini sebagai upaya mewujudkan Kab. Pelalawan sebagai Teknopolitan Koridor Sumatera, yaitu pembangunan yang berbasis Inovasi dan intervensi IPTEK, yang mampu mengembangkan kreatifitas dalam meningkatkan Value Added sehingga memberikan nilai tambah dan berkualitas baik yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 
B.  Draft RTRW Kab. Pelalawan
1.     Kawasan Lindung 
a.Kawasan Hutan Lindung
  • Kawasan yang ditetapkan di Kabupaten Pelalawan adalah kawasan yang secara fisik merupakan pulau-pulau pada alur perairan Sungai Kampar dan di perairan laut di Kuala Kampar, jadi bukanlah kawasan hutan lindung dengan berdasarkan kriteria kemiringan, jenis tanah, dan curah hujan. Bila dihubungkan dengan kriteria hutan lindung di depan, maka kawasan hutan lindung ini lebih sebagai perlindungan terhadap keberadaan pulau-pulau pada alur perairan Sungai Kampar dan laut tersebut. Di antara pulau-pulau tersebut yang diidentifikasikan namanya antara lain adalah: Pulau Muda, Pulau Ketam, Pulau Baru, Pulau Untut (di perairan Sungai Kampar), dan Pulau Lebung/Lebuh (di laut di Kecamatan Kuala Kampar).  
    b.  Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove):                                   1.399,14         ha di Kec. Kuala Kampar. 
    c   Kawasan Lindung Geologi
  • Kawasan Rawan Abrasi, abrasi pantai di kawasan sepanjang jalur tepian pantai di Kec. Kuala Kampar; dan di sepanjang jalur tepian sungai di Kec. Langgam, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Pangkalan Kuras, Teluk Meranti, dan Kuala Kampar.
2.      Kawasan Budidaya
Kawasan peruntukan perikanan terletak di perairan umum daratan berupa sungai dan anak sungai, danau alam, rawa, danau buatan, pesisir dan laut kewenangan Kabupaten.

II.    Gambaran Umum
-  Luas kabupaten Pelalawan adalah 13.256,7 Km2, dengan luas lautan 5,01% dari luas total wilayah.
- Kab.  Pelalawan merupakan salah satu kabupaten pemekaran berdasarkan UU No.53/1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3902);
    Letak geografis:  0°48’ 32” LU – 000 24’ 14” LS dan 101°  30’ 40” – 103°23’ 22” BT.
Dengan batas-batas wilayah adalah:
· sebelah utara        : Kabupaten Siak dan Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau;
· sebelah timur        : Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau;
· sebelah selatan    : Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau;
· sebelah barat        : Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru Provinsi Riau.
-  Kabupaten Pelalawan memiliki beberapa pulau yang relatif besar, diantaranya Pulau Mendul, Pulau Serapung, Pulau Lebuh, Pulau Muda dan beberapa pulau kecil, seperti Pulau Ketam, Pulau Tugau dan Pulau Labu.
- Karakteristik pesisir sebagian besar berupa rawa dengan pantai bertopografi landai dan berpasir.
- Struktur wilayah merupakan daratan rendah dan bukit-bukit. Dataran rendah membentang kearah Timur dengan luas wilayah mencapai 93% dari total keseluruhan. Secara fisik sebagian wilayah ini merupakan daerah konservasi dengan karakteristik tanah pada bagian tertentu bersifat asam dan merupakan tanah organik, air tanahnya payau, kelembaban dan temperatur udara agak tinggi.
-  Karakter fisik dasar wilayah Kabupaten Pelalawan erat kainnya dengan keberadaan Sungai Kampar yang mengalir di bagian tengah wilayah relatif dengan arah aliran dari barat ke timur. Dengan kata lain wilayah Kabupaten Pelalawan ini terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar (45%). Wilayah Kabupaten Pelalawan terletak di bagian hilir dari DAS Kampar tersebut hingga ke muara dan juga mencakup pulau-pulau di mulut muara tersebut.
- Struktur Perekonomian: kontribusi terbesar adalah industri pengolahan dan pertanian, sedangkan kontribusi sektor perikanan 0,92 % dari total PDRB.

III.  Potensi Sumber Daya Perikanan
-   Di Kabupaten Pelalawan terdapat dua jenis ekosistem penting bagi perikanan, yakni hutan mangrove dan estuaria. Ekosistem mangrove terdapat di Kecamatan Teluk Meranti dan Kecamatan Kuala Kampar. Ekosistem estuaria mempunyai karakteristik yang unik, terutamaadanya dinamika perubahan salinitas serta faktor-faktor terkait yang mempengaruhinya, termasuk dalam ekosistem estuaria adalah muara sungai, teluk pesisir, rawa pasang surut dan perairan yang terdapat di belakang tanggul pantai. 
-   Sektor perikanan yang dapat dikembangkan adalah Tambak Udang, Kolam Keramba, dan penangkapan Ikan (laut dan sungai). Produksi perikanan tahun 2006 terdiri dari perikanan laut 1.020,4 ton, perairan umum 1.737 ton, dan budidaya ikan tangkap 955 ton. Komoditas utama adalah ikan patin dan udang galah.

IV. Gelombang Bono, Potensi Wisata Bahari Kab. Pelalawan
-  Potensi pariwisata bahari yang terdapat di Kabupaten Pelalawan adalah terdapatnya fenomena gelombang Bono. Gelombang yang terjadi biasanya akan berwarna putih dan coklat mengikut warna air  dan kedalaman sungai/kuala Kampar. Gelombang yang berwarna coklat itu adalah alur dan memiliki kedalaman air yang tinggi sedangkan gelombang yang berwarna putih, itu menandakan bahwa di situ perairannya dangkal. Gelombang ini dikategorikan dalam Tidal Bore, yaitu fenomena hidrodinamika yang terkait dengan pergerakan sejumlah massa air dimana gelombang pasang yang menuju kehulu dengan kekuatan yang merusak. Hal ini juga bisa dapat dilihat dari tingkat abrasi tepian muara sungai Kampar yang setiap tahun makin membesar. Menurut pakar Tidal Bore Research Society (TBRS), Bono yang terjadi di Kuala Kampar ini merupakan suatu fenomena alam yang terjadi karena kondisi dimuara sungai terjadi pendangkalan berat, sehingga apabila terjadi pasang, gelombang laut tidak lancar untuk bergerak kehulu, karena dihalangi oleh endapan dan bentuk muara sungai yang menguncup. Bono di Indonesia memiliki tinggi max antara 4-5 meter, dan 40% gelombangnya merupakan endapan seperti lumpur dan pasir dasar Sungai Kuala Kampar tersebut. Gelombang tidak terjadi di garis pantai atau pulau, namun di sebuah sungai rimba terpencil yang dibuat berlipat oleh sebuah kekuatan gelombang (tidal bore) luar biasa.
-   Lokasi gelombang Bono Sungai Kampar dapat dijumpai di Sungai Kampar, Kecamatan Teluk Meranti berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Ada beberapa titik yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk melihat Bono salah satunya adalah Tanjung Sebayang atau Tanjung Bayang-Bayang.
- Gelombang ini terjadi 4 - 6 hari setiap bulan dengan puncak ketinggian dan kecepatan gelombang pada periode bulan November-Februari. Tidak tanggung-tanggung, Rentangan gelombang tersebut hampir selebar sungai Kampar. Gelombang ini terjadi akibat benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan Aliran air Sungai Kampar yang berbenturan di muara Sungai Kampar dengan menimbulkan gelombang besar yang menggulung dan menghempas jauh kedalam sungai sehingga dapat menggulung dan menenggelamkan kapal kecil, speed boat serta kapal besar. Namun demikian ombak di sungai adalah sangat baik untuk surfing karena bisa bertahan hingga dua jam. Bono akan datang berselisih satu jam lebih lambat daripada hari sebelumnya. Sebagai contoh, bila hari ini datang pukul 11.00, besok datang pukul 12.00. Kedatangan gelombang yang termasuk fenomena alam ini ditandai suara gemuruh di kejauhan.
-  Keunikan lainnya dari Bono adalah saat air laut bertemu dengan aliran sungai, dan akan terjadi gelombang tinggi yang disertai dentuman keras seperti suara guntur, diiringi hembusan angin yang kencang. Gelombang ini bisa mencapai tinggi empat hingga enam meter dengan kecepatan 40 kilometer per jam.
-  Dikarenakan tidak semua muara sungai atau teluk dapat melahirkan Gelombang Bono, maka fenomena Bono di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau menjadi pesona alam yang dianggap unik dan menarik. Berdasarkan laporan Tidal Bore Research Society beberapa Tidal Bore yang pernah terjadi di negara lain yaitu di Batang Lumpar (Malaysia), Sungai Siene (Francis), Sungai Shubenacadie dan Sungai Stewackie (Canada), Sungai Yang Tse-Kiang dan Sungai Hangzhou (Hangchow) di China, Bore di Sungai Amazon (pororoca) di Brazil, tidal bore di Sungai Seine (mascaret) di Perancis, dan Tidal Bore Hoogly di Sungai Gangga. Bore tertinggi dari seratus kejadian yang terpantau dari 60 tempat di seluruh dunia terjadi di Buy of Fundy Canada.

V.   Akses Menuju Muara Sungai Kampar
-  Tempat terjadinya gelombang Bono adalah sepanjang muara sungai Kampar yang masuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Meranti. Untuk mencapai tersebut memang tidak mudah. Ada 2 rute yang dapat ditempuh, yaitu;
1.    Rute jalan darat dikombinasikan dengan rute sungai dengan menggunakan speed boat. Rute tersebut adalah: Pekanbaru à Pangkalan Kerinci à Bunut à Teluk Meranti atau bisa juga dengan speed boat dari Pangkalan Kerinci sampai Teluk Meranti). Total waktu yang dibutuhkan untuk menempuh 191 km ini adalah 4,5 jam.
2.    Rute speed boat , adalah; Batam à Tanjung Batu àTeluk Meranti  (membutuhkan waktu 3 jam).
-           Waktu tempuh dari Batam menuju Teluk Meranti memang lebih cepat, namun     persinggahannya berada di Batam yang berada di luar Prov. Riau serta tentunya ongkosnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan ongkos melalui jalan darat.
-  Rute jalan darat sendiri tidak begitu nyaman karena sebagian ruas jalan tersebut masih berupa tanah.

VI. Alternatif Pengembangan Wisata Bono
-  Keunikan dari  fenomena gelombang ‘bono’ sudah merupakan point positif tersendiri, belum lagi tentang keindahan alam sekitar yang berupa perkebunan atau hotan tropis yang alami. Gelombang bono ini selain memiliki daya rusak yang tinggi tetapi dapat juga dimanfaatkan untuk berselancar (surfing) bagi yang piawai menaklukannya. Surfing di gelombang bono dapat dilakukan sampai 60 menit, padahal surfing di laut hanya dapat dilakukan dalam hitungan menit saja.  Namun, itu saja tidak cukup untuk dijadikan andalan wisata daerah setempat. Ketersediaan akses menuju tempat wisata, kenyamanan, dan keamanan turis juga perlu dipikirkan lebih jauh.
- Pembangunan infrastruktur menunjang pengembangan wisata gelombang bono, seperti  pembangunan jalan raya/ perhubungan, hubungan telekomunikasi, air bersih, dan penginapan yang mumpuni adalah hal yang perlu untuk didahulukan pembangunannya. Kemudian baru dipikirkan skala ekonomi dari bisnis pariwisata ini. Misalnya saja; bahwa kejadian gelombang bono  hanya berlangsung maksimal 6 hari dalam sebulan, sehingga kalau ada hotel atau penginapan yang hanya menampung turis-turis selancar perlu memikirkan sisa 24 hari yang pasti okupasi kamar hotelnya akan menurun drastis bahkan kosong. Untuk mengatasi kekosongan kamar sehingga skala ekonomi hotelnya bisa terpenuhi, maka perlu dibuat paket-paket wisata yang mencakup wisata- wisata lainnya seperti kunjungan ke hutan lindung, konservasi gajah, dan lainnya.  
  Teluk Meranti tempat terjadi gelombang bono berada di wilayah ‘remote’, dalam kondisi seperti itu tidak mungkin kalau fenomena gelombang bono ini dijadikan sebagai ‘mass turism’ tetapi akan lebih baik apabila ditujukan kepada wisata 'minat khusus'. 
Kab. Pelalawan di Prov. Riau
Dari Pekanbaru ke Teluk Meranti dapat Ditempuh 4,5 jam
Dari Batam ke Teluk Meranti hanya 3 jam dengan Speed Boat
Ombak di Sungai Kampar di Tengah Hutan
Surfing di Tengah Hutan
Surfing di Gelombang Sungai (Bono)