Rabu, 02 Mei 2012

Fenomena Gelombang Bono, Icon Wisata Bahari di Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau


   I.      Review Kebijakan
A.   Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 
Dalam mendukung implementasi program (MP3EI) koridor Sumatera di Kabupaten Pelalawan, kegiatan difokuskan pada pengolahan industri hilir kelapa sawit dan pariwisata BONO. Hal ini sebagai upaya mewujudkan Kab. Pelalawan sebagai Teknopolitan Koridor Sumatera, yaitu pembangunan yang berbasis Inovasi dan intervensi IPTEK, yang mampu mengembangkan kreatifitas dalam meningkatkan Value Added sehingga memberikan nilai tambah dan berkualitas baik yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 
B.  Draft RTRW Kab. Pelalawan
1.     Kawasan Lindung 
a.Kawasan Hutan Lindung
  • Kawasan yang ditetapkan di Kabupaten Pelalawan adalah kawasan yang secara fisik merupakan pulau-pulau pada alur perairan Sungai Kampar dan di perairan laut di Kuala Kampar, jadi bukanlah kawasan hutan lindung dengan berdasarkan kriteria kemiringan, jenis tanah, dan curah hujan. Bila dihubungkan dengan kriteria hutan lindung di depan, maka kawasan hutan lindung ini lebih sebagai perlindungan terhadap keberadaan pulau-pulau pada alur perairan Sungai Kampar dan laut tersebut. Di antara pulau-pulau tersebut yang diidentifikasikan namanya antara lain adalah: Pulau Muda, Pulau Ketam, Pulau Baru, Pulau Untut (di perairan Sungai Kampar), dan Pulau Lebung/Lebuh (di laut di Kecamatan Kuala Kampar).  
    b.  Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove):                                   1.399,14         ha di Kec. Kuala Kampar. 
    c   Kawasan Lindung Geologi
  • Kawasan Rawan Abrasi, abrasi pantai di kawasan sepanjang jalur tepian pantai di Kec. Kuala Kampar; dan di sepanjang jalur tepian sungai di Kec. Langgam, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Pangkalan Kuras, Teluk Meranti, dan Kuala Kampar.
2.      Kawasan Budidaya
Kawasan peruntukan perikanan terletak di perairan umum daratan berupa sungai dan anak sungai, danau alam, rawa, danau buatan, pesisir dan laut kewenangan Kabupaten.

II.    Gambaran Umum
-  Luas kabupaten Pelalawan adalah 13.256,7 Km2, dengan luas lautan 5,01% dari luas total wilayah.
- Kab.  Pelalawan merupakan salah satu kabupaten pemekaran berdasarkan UU No.53/1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi, dan Kota Batam (Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3902);
    Letak geografis:  0°48’ 32” LU – 000 24’ 14” LS dan 101°  30’ 40” – 103°23’ 22” BT.
Dengan batas-batas wilayah adalah:
· sebelah utara        : Kabupaten Siak dan Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau;
· sebelah timur        : Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau;
· sebelah selatan    : Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, dan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau;
· sebelah barat        : Kabupaten Kampar dan Kota Pekanbaru Provinsi Riau.
-  Kabupaten Pelalawan memiliki beberapa pulau yang relatif besar, diantaranya Pulau Mendul, Pulau Serapung, Pulau Lebuh, Pulau Muda dan beberapa pulau kecil, seperti Pulau Ketam, Pulau Tugau dan Pulau Labu.
- Karakteristik pesisir sebagian besar berupa rawa dengan pantai bertopografi landai dan berpasir.
- Struktur wilayah merupakan daratan rendah dan bukit-bukit. Dataran rendah membentang kearah Timur dengan luas wilayah mencapai 93% dari total keseluruhan. Secara fisik sebagian wilayah ini merupakan daerah konservasi dengan karakteristik tanah pada bagian tertentu bersifat asam dan merupakan tanah organik, air tanahnya payau, kelembaban dan temperatur udara agak tinggi.
-  Karakter fisik dasar wilayah Kabupaten Pelalawan erat kainnya dengan keberadaan Sungai Kampar yang mengalir di bagian tengah wilayah relatif dengan arah aliran dari barat ke timur. Dengan kata lain wilayah Kabupaten Pelalawan ini terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar (45%). Wilayah Kabupaten Pelalawan terletak di bagian hilir dari DAS Kampar tersebut hingga ke muara dan juga mencakup pulau-pulau di mulut muara tersebut.
- Struktur Perekonomian: kontribusi terbesar adalah industri pengolahan dan pertanian, sedangkan kontribusi sektor perikanan 0,92 % dari total PDRB.

III.  Potensi Sumber Daya Perikanan
-   Di Kabupaten Pelalawan terdapat dua jenis ekosistem penting bagi perikanan, yakni hutan mangrove dan estuaria. Ekosistem mangrove terdapat di Kecamatan Teluk Meranti dan Kecamatan Kuala Kampar. Ekosistem estuaria mempunyai karakteristik yang unik, terutamaadanya dinamika perubahan salinitas serta faktor-faktor terkait yang mempengaruhinya, termasuk dalam ekosistem estuaria adalah muara sungai, teluk pesisir, rawa pasang surut dan perairan yang terdapat di belakang tanggul pantai. 
-   Sektor perikanan yang dapat dikembangkan adalah Tambak Udang, Kolam Keramba, dan penangkapan Ikan (laut dan sungai). Produksi perikanan tahun 2006 terdiri dari perikanan laut 1.020,4 ton, perairan umum 1.737 ton, dan budidaya ikan tangkap 955 ton. Komoditas utama adalah ikan patin dan udang galah.

IV. Gelombang Bono, Potensi Wisata Bahari Kab. Pelalawan
-  Potensi pariwisata bahari yang terdapat di Kabupaten Pelalawan adalah terdapatnya fenomena gelombang Bono. Gelombang yang terjadi biasanya akan berwarna putih dan coklat mengikut warna air  dan kedalaman sungai/kuala Kampar. Gelombang yang berwarna coklat itu adalah alur dan memiliki kedalaman air yang tinggi sedangkan gelombang yang berwarna putih, itu menandakan bahwa di situ perairannya dangkal. Gelombang ini dikategorikan dalam Tidal Bore, yaitu fenomena hidrodinamika yang terkait dengan pergerakan sejumlah massa air dimana gelombang pasang yang menuju kehulu dengan kekuatan yang merusak. Hal ini juga bisa dapat dilihat dari tingkat abrasi tepian muara sungai Kampar yang setiap tahun makin membesar. Menurut pakar Tidal Bore Research Society (TBRS), Bono yang terjadi di Kuala Kampar ini merupakan suatu fenomena alam yang terjadi karena kondisi dimuara sungai terjadi pendangkalan berat, sehingga apabila terjadi pasang, gelombang laut tidak lancar untuk bergerak kehulu, karena dihalangi oleh endapan dan bentuk muara sungai yang menguncup. Bono di Indonesia memiliki tinggi max antara 4-5 meter, dan 40% gelombangnya merupakan endapan seperti lumpur dan pasir dasar Sungai Kuala Kampar tersebut. Gelombang tidak terjadi di garis pantai atau pulau, namun di sebuah sungai rimba terpencil yang dibuat berlipat oleh sebuah kekuatan gelombang (tidal bore) luar biasa.
-   Lokasi gelombang Bono Sungai Kampar dapat dijumpai di Sungai Kampar, Kecamatan Teluk Meranti berjarak sekitar 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Ada beberapa titik yang biasa digunakan masyarakat sekitar untuk melihat Bono salah satunya adalah Tanjung Sebayang atau Tanjung Bayang-Bayang.
- Gelombang ini terjadi 4 - 6 hari setiap bulan dengan puncak ketinggian dan kecepatan gelombang pada periode bulan November-Februari. Tidak tanggung-tanggung, Rentangan gelombang tersebut hampir selebar sungai Kampar. Gelombang ini terjadi akibat benturan tiga arus air yang berasal dari Selat Melaka, Laut Cina Selatan dan Aliran air Sungai Kampar yang berbenturan di muara Sungai Kampar dengan menimbulkan gelombang besar yang menggulung dan menghempas jauh kedalam sungai sehingga dapat menggulung dan menenggelamkan kapal kecil, speed boat serta kapal besar. Namun demikian ombak di sungai adalah sangat baik untuk surfing karena bisa bertahan hingga dua jam. Bono akan datang berselisih satu jam lebih lambat daripada hari sebelumnya. Sebagai contoh, bila hari ini datang pukul 11.00, besok datang pukul 12.00. Kedatangan gelombang yang termasuk fenomena alam ini ditandai suara gemuruh di kejauhan.
-  Keunikan lainnya dari Bono adalah saat air laut bertemu dengan aliran sungai, dan akan terjadi gelombang tinggi yang disertai dentuman keras seperti suara guntur, diiringi hembusan angin yang kencang. Gelombang ini bisa mencapai tinggi empat hingga enam meter dengan kecepatan 40 kilometer per jam.
-  Dikarenakan tidak semua muara sungai atau teluk dapat melahirkan Gelombang Bono, maka fenomena Bono di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau menjadi pesona alam yang dianggap unik dan menarik. Berdasarkan laporan Tidal Bore Research Society beberapa Tidal Bore yang pernah terjadi di negara lain yaitu di Batang Lumpar (Malaysia), Sungai Siene (Francis), Sungai Shubenacadie dan Sungai Stewackie (Canada), Sungai Yang Tse-Kiang dan Sungai Hangzhou (Hangchow) di China, Bore di Sungai Amazon (pororoca) di Brazil, tidal bore di Sungai Seine (mascaret) di Perancis, dan Tidal Bore Hoogly di Sungai Gangga. Bore tertinggi dari seratus kejadian yang terpantau dari 60 tempat di seluruh dunia terjadi di Buy of Fundy Canada.

V.   Akses Menuju Muara Sungai Kampar
-  Tempat terjadinya gelombang Bono adalah sepanjang muara sungai Kampar yang masuk dalam wilayah Kecamatan Teluk Meranti. Untuk mencapai tersebut memang tidak mudah. Ada 2 rute yang dapat ditempuh, yaitu;
1.    Rute jalan darat dikombinasikan dengan rute sungai dengan menggunakan speed boat. Rute tersebut adalah: Pekanbaru à Pangkalan Kerinci à Bunut à Teluk Meranti atau bisa juga dengan speed boat dari Pangkalan Kerinci sampai Teluk Meranti). Total waktu yang dibutuhkan untuk menempuh 191 km ini adalah 4,5 jam.
2.    Rute speed boat , adalah; Batam à Tanjung Batu àTeluk Meranti  (membutuhkan waktu 3 jam).
-           Waktu tempuh dari Batam menuju Teluk Meranti memang lebih cepat, namun     persinggahannya berada di Batam yang berada di luar Prov. Riau serta tentunya ongkosnya jauh lebih mahal dibandingkan dengan ongkos melalui jalan darat.
-  Rute jalan darat sendiri tidak begitu nyaman karena sebagian ruas jalan tersebut masih berupa tanah.

VI. Alternatif Pengembangan Wisata Bono
-  Keunikan dari  fenomena gelombang ‘bono’ sudah merupakan point positif tersendiri, belum lagi tentang keindahan alam sekitar yang berupa perkebunan atau hotan tropis yang alami. Gelombang bono ini selain memiliki daya rusak yang tinggi tetapi dapat juga dimanfaatkan untuk berselancar (surfing) bagi yang piawai menaklukannya. Surfing di gelombang bono dapat dilakukan sampai 60 menit, padahal surfing di laut hanya dapat dilakukan dalam hitungan menit saja.  Namun, itu saja tidak cukup untuk dijadikan andalan wisata daerah setempat. Ketersediaan akses menuju tempat wisata, kenyamanan, dan keamanan turis juga perlu dipikirkan lebih jauh.
- Pembangunan infrastruktur menunjang pengembangan wisata gelombang bono, seperti  pembangunan jalan raya/ perhubungan, hubungan telekomunikasi, air bersih, dan penginapan yang mumpuni adalah hal yang perlu untuk didahulukan pembangunannya. Kemudian baru dipikirkan skala ekonomi dari bisnis pariwisata ini. Misalnya saja; bahwa kejadian gelombang bono  hanya berlangsung maksimal 6 hari dalam sebulan, sehingga kalau ada hotel atau penginapan yang hanya menampung turis-turis selancar perlu memikirkan sisa 24 hari yang pasti okupasi kamar hotelnya akan menurun drastis bahkan kosong. Untuk mengatasi kekosongan kamar sehingga skala ekonomi hotelnya bisa terpenuhi, maka perlu dibuat paket-paket wisata yang mencakup wisata- wisata lainnya seperti kunjungan ke hutan lindung, konservasi gajah, dan lainnya.  
  Teluk Meranti tempat terjadi gelombang bono berada di wilayah ‘remote’, dalam kondisi seperti itu tidak mungkin kalau fenomena gelombang bono ini dijadikan sebagai ‘mass turism’ tetapi akan lebih baik apabila ditujukan kepada wisata 'minat khusus'. 
Kab. Pelalawan di Prov. Riau
Dari Pekanbaru ke Teluk Meranti dapat Ditempuh 4,5 jam
Dari Batam ke Teluk Meranti hanya 3 jam dengan Speed Boat
Ombak di Sungai Kampar di Tengah Hutan
Surfing di Tengah Hutan
Surfing di Gelombang Sungai (Bono)
    









   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar