Senin, 21 Mei 2012

Pemanfaatan Gili Sunut di Lombok Timur antara Pariwisata dan Konservasi


Gambaran Umum
Dari sudut pandang pariwisata, Gili Sunut memiliki potensi unggulan yang layak menjadikannya sebagai tujuan wisata. Faktor-faktor penentu daerah tujuan wisata, seperti aksesbilitas, keamanan, kenyamanan, keindahan, keunikan, penerimaan sosial, keramahtamahan, dan atraksi, semua ada di Gili Sunut. Hanya saja perlu dukungan permodalan, kelembagaan dan fasilitas transportasi dan infrastruktur.
Namun demikian, karena pariwisata ini berada di sebuah pulau kecil, maka seyogyanya pelaksanaannya harus mengikuti kaidah-kaidah pengelolaan pulau-pulau kecil sebagaimana diatur dalam Permen Kelautan dan Perikanan No. Per. 20/MEN/2008 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan Perairan di Sekitarnya. Salah satu pembatas dalam pemanfaatan pulau kecil adalah aspek daya dukung. WTO (2007), menjelaskan tentang daya dukung, yaitu jumlah maksimum manusia yang dapat mmengunjungi suatu daerah tujuan wisata pada waktu bersamaan, tanpa mengakibatkan kerusakan fisik, ekonomi dan sosio-budaya dan/atau terjadinya penurunan sesuatu yang tidak diharapkan dalam kualitas kepuasan pengunjung. Daya dukung bukanlah merupakan angka yang tetap/pasti tetapi dapat berubah-ubah yang dipengaruhi oleh tehnik manajemen dan pengendalian.
Secara umum yang dimaksud dengan daya dukung wisata di pulau-pulau kecil dapat meliputi:
1.    Daya dukung ekologis atau tingkat maksimal penggunaan suatu pulau,
2. Daya dukung fisik, yang merupakan jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang dapat diakomodir tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas yang didapat oleh pengunjung,
3.   Daya dukung sosial, yang merupakan batas tingkat maksimum dalam jumlah dan tingkat perubahan sosial yang akan menimbulkan dampak bagi masyarakat setempat maupun terhadap kenyamanan pengunjung.
Dari sudut pandang konservasi, konservasi perairan Gili Sunut dianggap sangat strategis karena Gili Sunut berada diantara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa serta sekaligus berada tidak jauh dari Kawasan konservasi Perairan (KKP) Gili Sulat. Karena letaknya tersebut, ekosistem terumbu karang Gili Sunut memiliki koneksitas bio-ekologis dengan ekosistem terumbu karang di wilayah sekitarnya. Saat ini perairan Gili Sunut menjadi daerah ruaya penyu dan transport planula karang diantara ekosistem terumbu karang di perairan sekitarnya.
Pemanfaatan Gili Sunut
Gili Sunut yang luasnya hanya 7,8 ha tentu tidak layak untuk dikembangkan ekonominya secara masif. Lebih lagi bahwa perairan sekitar Gili Sunut memiliki tutupan terumbu karang yang masih baik dan berada di sekitar kawasan konservasi perairan Gili Sulat. Pengembangan pariwisata yang paling tepat dikembangkan di Gili Sunut adalah kombinasi bersama dengan konservasi serta melibatkan masyarakat setempat dalam bentuk ekowisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Ekowisata ini mengintegrasikan empat aspek secara holistik yaitu:
1.    Pariwisata itu sendiri,
2.    Pemberdayaan masyarakat,
3.    Konservasi alam, dan
4.    Pengembangan wilayah.
The World Tourism Organization (WTO) menekankan pariwisata berkelanjutan atau ekowisata adalah pariwisata yang memanfaatkan sumberdaya lingkungan secara optimal dengan membantu pelestarian alam beserta keanekaragaman hayati, menghormati sosial-budaya masyarakat setempat dan menyediakan keuntungan ekonomi bagi seluruh pemangku kepentingan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar