Senin, 14 Mei 2012

Pemetaan Terumbu Karang. Teori, Metode, dan Praktik. (sebuah resensi buku)


Data dan informasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (WPP) yang akurat adalah prasyarat untuk dapat mengelola (perencanaan, pemanfaatan, dan monitoring) wilayah tersebut secara optimal dan berkelanjutan yang akan bermuara terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakatnya.
Peta merupakan bagian dari data dan informasi adalah gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu, digambarkan pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu (Aryono Prihandito, 1988).  Arti pentingnya peta dalam pengelolaan WPP adalah terutama untuk penyusunan empat hirarkis perencanaan WPP, yaitu; Rencana Strategis, Rencana Zonasi, Rencana Pengelolaan, dan Rencana Aksi. Selain juga untuk kepentingan keputusan pemanfaatan WPP. Peta-peta dimaksud yang diperlukan untuk perencanaan dan pemanfaatan WPP adalah; peta dasar dan peta tematik.
Rencana Zonasi WPP yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah membagi WPP ke dalam empat kawasan, yaitu;
1.  Kawasan Pemanfaatan Umum,
2.  Kawasan Konservasi,
3.  Alur laut, dan
4.  Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT).
Kawasan pemanfaatan umum adalah bagian dari WPP yang ditetapkan peruntukkannya bagi berbagai sektor, seperti; perikanan tangkap, perikanan budidaya, wisata bahari, pemukiman, pertanian, dan lainnya. Dan, Kawasan Konservasi adalah bagian WPP dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan WPP secara berkelanjutan.
Kondisi ekosistem terumbu karang di suatu perairan akan mempengaruhi terhadap batas kawasan pemanfaatan umum dan kawasan konservasi. Kondisi ekosistem terumbu karang yang baik dapat masuk kawasan pemanfaatan umum, yaitu diantaranya sebagai fishing ground atau untuk wisata bahari dan juga bisa masuk kawasan konservasi apabila ada biota tertentu yang harus dilindungi. Tetapi kalau ekosistem terumbu karangnya dalam keadaan buruk apalagi sangat buruk, itu seyogyanya perairan sekitar ekosistem terumbu karang tersebut, ditetapkan saja sebagai kawasan konservasi. Penilaian kembali terhadap perairan tersebut bisa masuk ke dalam kawasan pemanfaatan umum, dilihat dari sejauh mana perairan tersebut dapat melakukan recovery ekosistem terumbu karangnya.
Dari situlah, peta tematik ekosistem terumbu karang di suatu wilayah perairan yang berfungsi sebagai media informasi bereferensi geografis sangat diperlukan walaupun dalam implementasi pemetaannya tidak semudah yang dikira (lihat foto-foto di bawah ini). Namun begitu, kita beruntung ada DR.Ir. Guntur,M.S. , Dita Prasetyo, dan Wawan, yang telah merumuskan semua hal tersebut dalam bukunya ‘Pemetaan Terumbu Karang. Teori, Metode, dan Praktik’, setebal 140 halaman dan diterbitkan oleh Ghalia Indonesia, 2012.
Buku ini sangat informatif, aplikatif, runut, rinci per proses, dan mudah dipahami oleh awam yang tidak memiliki pengetahuan dasar tentang perpetaan sekalipun -seperti saya- . Hanya ada hal-hal sangat kecil yang perlu sedikit koreksi, seperti pada halaman 18, dimana tentang ‘metode lyzenga’ seolah tiba-tiba muncul tanpa diberikan pengenalan terlebih dahulu. Kemudian pada halaman 24-25, pada kalimat ‘terdapat dua metode koreksi geometrik dari citra ke citra’, agar lebih mudah dipahami, sebaiknya ditulis ‘terdapat dua metode koreksi geometrik, yaitu ‘koreksi geometrik dari citra ke peta dan koreksi geometrik dari citra ke citra’. Dan satu hal lagi yang perlu disempurnakan adalah tentang penggunaan software aplikasi yang belum update dengan aplikasi terbaru yang memiliki feature lebih lengkap.
Sekali lagi, perlu diberikan apresiasi yang sangat tinggi ke penulis dan penerbit buku ini. Buku ini berbeda dari ratusan buku pesisir yang sudah ada yang lebih menonjolkan tentang ‘wacana’, buku ini betul-betul dapat menjadi pegangan penting bagi siapapun yang peduli dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Buku yang Informatif








Pesisir Prov. Sumatera Barat
Pesisir Prov. Sumatera Barat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar