Sabtu, 21 Juli 2012

Di Pesisir Kota Pekalongan, Rob Dimanfaatkan Untuk Tambak Budidaya Udang Vaname

Rob yang merupakan dari pasang air laut yang melimpas ke arah daratan adalah salah satu dari tiga persoalan di wilayah pesisir yang berkaitan dengan pergerakan air. Ketiga persoalan tersebut adalah abrasi, rob, dan banjir. Rob dan banjir pada hakekatnya fluida yang sama, hanya berbeda kalau rob adalah air laut yang melimpas ke arah daratan sedangkan banjir adalah pergerakan air dari permukaan tanah yang lebih tinggi ke arah tanah yang lebih landai. Dan wilayah pesisir umumnya adalah daerah dengan kontur tanah yang landai dan relatif lebih rendah.
Rob dapat diakibatkan oleh adanya fenomena sea level rise atau kenaikan paras muka air laut, dimana perkiraan kenaikan paras muka air laut di wilayah Pantura Jawa sekitar 8 – 10 mm/tahun, dan yang terjadi di wilayah pesisir Pekalongan sekitar 8 mm/tahun. Hal tersebut dapat dianggap relatif kecil dibandingkan dengan penyebab kedua dari adanya rob yaitu penurunan permukaan tanah sebagai akibat penyedotan air tanah yang tidak terkendali.
Rob yang menimpa daerah terbangun seperti wilayah pemukiman, perindustrian dan lainnya, akan berakibat kerugian yang besar karena akan merusak infrastruktur yang telah ada dan tentu sangat mengganggu kenyamanan hidup bagi masyarakatnya. Sedangkan apabila terjadi pada lahan terbuka yang belum terbangun, lahan tersebut akan idle karena tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Lahan tersebut tidak layak untuk lahan pertanian pangan, kalaupun bisa, hal itu membutuhkan biaya yang relatif besar, atau kalaupun mau dijadikan sebagai lahan terbangun untuk peruntukan pemukiman dan lainnya, tentu juga diperlukan biaya untuk pengurugan dan penyediaan sarana prasarana lainnya akan sangat besar sekali.
Di desa Degayu di pesisir Kota Pekalongan terdapat seratusan hektar lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal karena sering terkena rob. Beruntung, sejak tahun 2011 ada masyarakat yang membuat inovasi dengan memanfaatkan lahan rob untuk usaha tambak budidaya udang vaname. Awalnya memang perlu kerja keras untuk mendapatkan teknologi yang pas dan juga harus punya nyali yang kuat agar tahan banting untuk menanggung resiko kegagalan yang mungkin timbul. Namun, dengan teknik peninggian tanggul dan menggunakan sistem perpompaan untuk menjaga kedalaman air tambak ideal untuk budidaya udang vaname yaitu sekitar 80 cm, baik pada waktu air normal maupun pada waktu terjadinya rob.
Alhamdulillah, dari hasil uji coba pada lahan 3200 m2 dapat menghasilkan udang vaname sekitar 2800 kg. Hasil yang cukup menggembirakan, namun itu perlu pembuktian keberhasilan itu dari reflikasi ke dua, ke tiga dan seterusnya. Apakah produktifitas budaya udang vaname di lahan rob itu akan sama?
Persoalan lain adalah mengolah lahan rob untuk tambak budadaya udang vaname yaitu membutuhkan permodalan yang relatif besar sebagai akibat dari biaya peninggian tanggul dan sistem perpompaan, dan itu menjadi constrain utama bagi masyarakat pembudidaya udang umumnya, lain halnya bagi para pemilik modal. Maka, seandainya bankable, tidak ada salahnya kalau para pembudidaya udang tersebut untuk dibantu permodalannya, sehingga setidaknya kesejahteraan masyarakat dapat merata.
Hampir seratus hektar lahan di pesisir desa Degayu Kota Pekalongan yang kena Rob
Untuk Tambak Budidaya Udang di daerah Rob perlu dibuat sistem pengairan yang baik
Tanahnya diolah sedemikian rupa dan permukaannya disesuaikan dengan tanggul
Tanggul yang diukur tepat dan sistem perpompaan kunci sukses mengolah lahan rob
Tambak udang vaname di lahan rob yang sudah berjalan

4 komentar:

  1. kami hatchery pembenihan di tegal - jateng menyediakan benur vaname dan windu unggul dengan harga terjangkau, utk order silahkan hub. pak Faqih 081902258259/ 085742846923

    BalasHapus
  2. kalo mo nyari benih vanamei di pekalongan di mana ya ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa langsung ke Balai Budidaya Air Payau di Jepara, mas sn

      Hapus
    2. Atau ke saudara Faqih sebagaimana komentar sebelumnya

      Hapus