Rabu, 17 Oktober 2012

Wisata Kota Medan. Mengunjungi “Rahmat” International Wildlife Museum and Gallery


Museum yang mengkoleksi berbagai jenis satwa liar awetan (taxidermy) dari berbagai negara baik yang berukuran kecil seperti serangga, kupu-kupu dan lainnya sampai harimau, badak, jerapah dan lain-lain berada di Jalan S. Parman, Kota Medan, cukup baik untuk sarana pembelajaran bagi para pelajar dan tidak hanya melulu sebagai ‘koleksi’ dari pemiliknya yang memang seorang pemburu.
Koleksi satwa-satwa liar taxidermy ada sekitar 3000 yang terdiri dari 1000 spesies, begitu banyak, sehingga dalam penempatan satwa-satwa awetan tersebut terkesan ‘umpel-umpelan’ dalam ruangan yang sempit, dan memang luas bangunan museum ini hanya 3000 m2 saja.
Taxidermy sendiri adalah seni mengembalikan bentuk satwa-satwa yang telah mati menjadi seperti aslinya seperti ketika hidup. Ahli taxidermy disebut taxidermist. Di kita sering menyebut satwa taxidermy dengan kata satwa opset-an. Taxidermy dapat dilakukan terhadap mamalia besar dan kecil, burung, ikan, amphibi, dan reptil. Namun taxidermy tidak dapat dilakukan sembarang orang. Sebagai contoh pengawetan satwa-satwa endemik Nusantara dilakukan di dalam negeri dengan cara memasukkan kapuk atau kapas ke dalam kulit dan tulang satwa yang akan diawetkan. Sehingga karena kapas kurang dapat membentuk lekuk satwa sesuai aslinya, maka hasilnya adalah bentuk dari satwa awetan itu kurang proposional. Ada yang berutnya bulat seperti drum minyak, ada leher satwa awetannya kepanjangan. Kan jadi aneh bentuknya. Sebagian besar satwa-satwa awetan/taxidermy yang berasal dari manca negara yang ada di museum “Rahmat” ini dilakukan di Nevada, Amerika dengan menggunakan material fiber, sehingga hasil ahir dari satwa awetan tersebut, persis sama dengan aslinya. Bagian-bagian satwa taxidermy yang diganti dengan fiber atau kapas adalah daging, lidah, dan mata. Bagian lainnya seperti kulit, kuku, tanduk, gigi, dan taring adalah asli.
Masuk museum ini hanya ditarik Rp 32rb untuk dewasa dan Rp 25rb anak-anak atau pelajar. Memang, kecil dibandingkan dengan biaya perawatan yang harus dikeluarkan oleh sang empunya museum ini. Namun demikian tidak ada salahnya, demi kemajuan museum ini sendiri untuk membenahi pengelolaannya supaya lebih proposional lagi. Beberapa saran untuk museum ini adalah: visualisasi tentang pemburuan satwa liar harus dikurangi banyak. Karena dengan pemburuan itu seperti yang dimengerti masyarakat umum adalah sebuah penganiayaan terhadap satwa. Dan di sisi lain mungkin saja menumbuhkan minat beberapa pengunjung untuk merasakan kegiatan berburu. Kalau perburuan itu dilakukan secara semena-mena tentunya itu adalah hasil yang tidak baik. Hal lain adalah penataan koleksi dengan back ground yang tepat mestinya. Masa ada harimau yang berada diantara pohon bunga sakura? Kemudian, suara latar, apapun satwa yang ditampilkan, hanyalah suara cicit burung. Mestinya kalau disitu ditampilkan hewan mamalia besar, suara latarnya adalah suara lenguhan sang satwa.
BTW, museum ini bagus dan perlu didukung keberadaanya. Jadi apabila berkunjung ke Kota Medan, tidak hanya beli durian atau bolu kukus, tetapi bisa menyaksikan hal lain, yang juga baik untuk anak-anak kita dan dunia ilmu pengetahuan. Yuk, kita kunjungi museum ini.    
Museum taxidermy di Kota Medan
Pintu masuk Museum Rahmat Wildlife bergaya Eropa yang menarik
Hasil taxidermy yang bagus
Koleksi satwa endemik Indonesia opset-an yang bagus
Koleksi taxidermy berbagai jenis kepiting
Hasil taxidermy/opset-an yang tidak baik sehingga bentuk satwa tidak proposional
BTW, museum ini membuat wisata di Kota Medan menjadi bervariasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar