Minggu, 20 Januari 2013

Banjir Jakarta, Penanggulangannya Melalui Penataan Ruang di Wilayah Hulu dan Rehabilitasi Wilayah Pesisirnya


Banjir di Jakarta ternyata sudah berlangsung sejak lama. Tahun 1654 tercatat Jakarta sudah dilanda banjir hebat padahal pada waktu itu wilayah Jakarta dan wilayah yang berada di atasnya masih berupa hutan dan perkebunan tanaman keras yang mana tidak perlu dipertanyakan lagi akan kemampuannya menyerap air hujan. Berbeda dengan saat ini, terjadi hujan kecil saja di dalam kota Jakarta, sudah pasti menimbulkan genangan-genangan air menyerupai banjir yang akan sangat mengganggu trasportasi, bisnis dan lainnya di ibu kota ini. Apalagi kalau terjadi curah hujan yang tinggi di Jakarta dan di wilayah di atasnya seperti di Bogor, Puncak, dan Cianjur, seperti yang terjadi pada bulan Januari 2013 ini.
Ada 13 sungai yang akan membawa limpasan air hujan (run off) menuju jakarta. Dan Jakarta tidak akan mampu menampungnya, ditambah lagi banjir di wilayah pesisirnya yang terjadi karena luapan air pasang laut atau rob. Banjir Januari 2013 khusus yang terjadi di Pluit dan wilayah pesisir sekitarnya adalah juga karena rob. Tidak heran pada waktu yang sama, apabila di wilayah lainnya di Jakarta, air banjirnya sudah mulai surut tetapi di Pluit malah semakin meninggi (Detik.Com, 20 Januari 2013). Jadi penyebab banjir Jakarta 2013 terjadi akibat:
1. Berkurangnya wilayah serapan air akibat konversi lahan pepohonan keras ke lahan terbuka dan bangunan-bangunan. Hal ini terjadi mulai dari wilayah muara sampai di hulu yang berada di kawasan Puncak,
2. Adanya penurunan muka tanah (land subsidence) Jakarta secara terus menerus,
3. Sedimentasi berat di 13 sungai yang melewati Jakarta,
4. Tekanan ledakan penduduk yang membutuhkan sarana prasarana dan sandang pangan yang kian meningkat, dan
5. Perubahan signifikan ekosistem pesisir di pantai utara Jakarta.

Sebagai contoh semakin menyusutnya daerah resapan air di wilayah Puncak (lihat gambar. 1) dimana pada tahun 1995, hutan primer, hutan skunder, dan perkebunan masih terlihat luas, namun 10 tahun berikutnya yaitu pada tahun 2005, luasan hutan primer, skunder, dan perkebunan sudah –berkurang banyak- yang beralih fungsi diantaranya menjadi pemukiman. Persoalan lain adalah adanya fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) sekitar 4 - 6 cm/tahun ditambah lagi kenaikan paras muka air laut sekitar 0,8 cm/tahun, menjadikan wilayah Jakarta seperti cekungan besar yang menjadi genangan air raksasa. Sedimentasi hebat di 13 sungai yang semakin membuat dangkal sungai-sungai tersebut selain oleh mateil bawaan dari hulu dan tengah DAS, seperti lumpur dan pasir, ditambah lagi oleh sampah dan limbah padat dan cair yang dibuang sembarangan oleh masyarakat. sehingga sungai-sungai tersebut tidak dapat menampung debit air yang ada. Dan jangan lupa juga, bahwa adanya perubahan kondisi ekosistem pesisir yang terjadi di wilayah pantai utara Jakarta, akan menambah persoalan Jakarta seperti banjir. Tutupan mangrove di wilayah jakarta kini tinggal 20 hektar saja jauh dari ideal sebagai sabuk pengaman wilayah pesisirnya.
Persoalan banjir di Jakarta lebih kompleks dibanding dengan di Amsterdam. Banjir di Amsterdam hanya karena air pasang laut semata. Sehingga dengan membuat tanggul laut raksasa yang membentengi kota Amsterdam, selesai sudah persoalan banjir yang mengancam kota itu.
Jakarta memang mempunyai rencana untuk membuat tanggul raksasa yang disebut Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) yang memanjang mulai Marunda sampai Dadap di Tanggerang, namun proyek ini perlu kajian lebih mendalam lagi terkait kebiasaan masyarakat kita yang suka membuang sampah sembarangan, mata pencaharian masyarakat pesisir dan ekosistem pesisirnya. Jangan sampai perairan dalam tanggul yang direncanakan, yang nantinya akan seperti laguna dimana air akan terperangkap yang tidak dapat leluasa keluar masuk, maka perairan dalam ‘laguna’ tersebut  akan mengalami sedimentasi yang luar biasa karena akan menjadi perangkap polutan padat maupun cair yang dibuang sembarangan oleh masyarakat dan tentunya dengan adanya tanggul raksasa tersebut juga merubah ekosistem pesisir yang akan mempengaruhi mata pencaharian nelayan dan pembudidaya ikan setempat. Pendapat saya, lebih praktis dan murah namun efektif dengan merahabilitasi hutan mangrove-nya saja. Jadi kalau mau mengurangi banjir di Jakarta secara signifikan, setidaknya harus memperhatikan:
1. RTRW di wilayah prov. Jawa Barat dan Prov.Banten, serta RTRW DKI Jakarta sendiri,
2. Daerah resapan air, dengan cara memperluas Ruang Terbuka Hijau atau RTH,
3. Merubah kebiasaan masyarakat dari kebiasaan buruk  dalam membuang sampah secara sembarangan,
4. Merehabilitasi ekosistem pesisir melalui rehabilitasi ekosistem mangrove.

Namun saya lebih dikhawatirkan dengan kebiasaan masyarakat kita yang cepat melupakan suatu kejadian. Jangan-jangan 2 minggu lagi persoalan banjir Jakarta sudah dilupakan dengan juga melupakan segala program pengendalian banjirnya karena masyarakat sudah harus menghadapi persoalan lain lagi. Jangan sampai persoalan banjir ditunda dulu baru tahun depan di buka lagi saat banjir yang lebih besar datang mernerjang Jakarta. Semoga tidak.
Gambar 1. Penyusutan Luasan Hutan dan Perkebunan sebagai daerah resapan air di Puncak
Land Subsidence di Jakarta
Rencana tanggul raksasa Pantura Jakarta atau Jakarta Coastal Defence Strategy
Luas Wilayah Banjir di Jakarta yang semakin meningkat
Simulasi wilayah Jakarta yang tenggelam pada 2040 akibat kenaikan paras muka air laut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar