Minggu, 28 April 2013

Pandangan orang Timor terhadap Laut Sawu

Laut Sawu 
Perairan laut secara umum memiliki fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial. Kita harus bijak untuk memanfaatkannya dengan ketiga fungsi tersebut, demikian juga untuk perairan laut Sawu. Laut Sawu berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah dideklarasikan sebagai Taman Nasional Perairan (TNP) berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 38/MEN/2009 tentang Pencadangan Kawasan Koservasi Perairan Laut Sawu dan Sekitarnya. Kawasan konservasi TNP Laut Sawu seluas 3.521.130Ha atau sekitar ¼ luasan kawasan konservasi di Indonesia (luas kawasan konservasi di Indonesia, sampai Juli 2012 adalah 15,78 juta Ha) dimana di kawasan konservasi ini telah menjadi habitat dari beberapa jenis ‘ikan’, yaitu setidaknya ada 14 jenis paus yang antara lain terdiri dari: paus biru (blue whale), paus sperma (sperm whale), paus pembunuh kerdil (pigmy killer whale), paus kepala semangka (melon headed whale), dari jenis lumba-lumba (dolphin) diantaranya: lumba-lumba paruh panjang, lumba-lumba totol, dari jenis penyu, terdapat: penyu hijau, penyu sisik, dan penyu belimbing, belum lagi berbagai jenis karang, dan berbagai jenis ikan karang. Dari sedikit data tersebut memang sudah selayaknya bahwa laut Sawu harus ‘dirawat’ sebaik-baiknya. Bahkan, bagi orang Timor sendiri, laut Sawu adalah perairan yang harus dijaga, sebagaima tulisan di bawah ini.

Laut Sawu di Mata Orang Timor
Tulisan ini saya kutip dari tulisannya Piet Manesat SVD, M.A. dengan judul Pandangan Orang Timor Terhadap Alam Sekitar dalam buku Kebudayaan: Sebuah Agenda (Dalam Bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya), disunting oleh Gregor Neonbasu SVD,PH.D. yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 2013 (hal 73-81):
Kebudayaan adalah cara berpikir, cara hidup, cara bertindak, dan cara berkarya seseorang. Dari analisis mendasar tentang tentang kebudayaan, jelas sekali bahwa manusia pada prinsipnya hidup dalam perpaduan dunia kemarin, dunia hari ini, dan dunia hari esok.
Cara berpikir seseorang diatur oleh pengalaman perpaduan yang mendasar dari ketiga waktu di atas. Cara bertindak dan berkarya manusia juga tidak dapat terlepas dari perpaduan pengalaman yang sama.
Seturut ceritera turun menurun, selain orang Timor secara keseluruhan, dikenal juga cara dan pola hidup manusia Atoni Pah Meto. Orang mengenal mereka sebagai peramu, yang berarti suka berpindah-pindah tempat akibat peperangan atau bahaya penyakit, atau oleh tersebar oleh keagamaan asli dan alam sekitar yang tidak bersahabat dengan umat manusia. Keadaan yang tidak bersahabat disebut: afu i nata’an (Uab Meto) atau rai nee makaas/manas (Tetun), yang secara harapiah berarti tanah tempat tinggal ini panas.
Bagian dari orang Timor yaitu masyarakat Atoni Pah Meto menyebut laut Timor sebagai Taes Mone (Laut Jantan) karena sifatnya kasar, ganas, dan jahat. Sedangkan laut Sawu disebut sebagai Taes Feto (Laut Betina) karena sifatnya lembut, tidak ganas, dan tidak kasar. Orang Belu menyebutnya Tasi Mane dan Tasi Feto.
Menurut cerita-cerita dulu, seluruh daerah seantero Timor digenangi air laut, kecuali Nipumnasi (sebuah perbukitan di wilayah perbatasan Biboki Selatan dan Biboki Utara). Bukit itu sangat sakti, sehingga tidak digenangi air. Karena itu, semua orang berlindung di bukit itu. Air laut menjadi marah dan tidak mau surut untuk kembali ke asalnya jika orang-orang itu tidak memberinya korban. Karena itu, orang menjadi takut, sehingga mereka mulai berunding dan memutuskan untuk mengorbankan seorang anak laki laki dan seorang anak perempuan, karena sebelumnya air laut menolak korban berupa lesung yang penuh berhiaskan muti (kalung emas), tais, dan beti (kain sarung perempuan dan laki-laki). Anak laki-laki dikorbankan ke arah selatan dan anak perempuan dibuang ke arah utara. Setelah itu, air laut membelah menjadi dua bagian: yang satu mengalir menuju ke selatan menjadi Taes Mone (laut Jantan) dan satunya mengalir ke utara menjadi Taes Feto (Laut Sawu).
Di pantai-pantai, ada beberapa pantangan yang mengandung ajaran moral, kebersihan lingkungan, dan kelestarian alam. Antara lain, apabila dalam perjalanan, seseorang terantuk pada kayu atau batu, jangan sekali-kali mengucapkan kata-kata sumpah serapah atau maki-makian. Karena cara seperti itu akan mengundang bencana dan malapetaka. Larangan lain adalah, jangan membuang hajat di sembarang tempat, terutama di pantai. Buanglah di tempat yang jaraknya 2 km jauh dari pantai, sebab pantai adalah pekarangan rumah Tais Feto, sehingga tidak boleh dikotori. Pada kolam-kolam khusus yang ada ikan dan udang, orang tidak boleh menangkapnya pada sembarang waktu. Apabila tidak, akan datang bencana seperti disambar buaya.

Laut Sawu

Kamis, 25 April 2013

Jalan-Jalan di Paotere Makassar


Sebagaimana wilayah pesisir perkotaan umumnya, susana padat penduduk dengan ragam aktifitasnya serta kondisi infrastruktur yang kurang me di kurang memadai juga ada di Kawasan Paotere Makassar ini. Namun, apabila benak dan pikiran kita sudah ditanamkan pikiran positif ketika kita akan mengunjungi tempat seperti itu, tentu kesenangan yang akan didapat.

Pelabuhan Rakyat Paotere
Persinggahan pertama kami adalah pelabuhan rakyat Paotere. Pelabuhan rakyat ini sudah ada sejak jaman Belanda. Ketika itu pelabuhan ini adalah pintu gerbang ekonomi tidak saja bagi Sulawesi tetapi juga untuk kawasan Indonesia Timur. Perdagangan hasil hutan, perkebunan, rempah-rempahan, dan pangan menggunakan jasa pelabuhan ini. Sisa-sisa jejak peninggalannya masih terasa dengan berjajarnya kapal-kapal phinisi yang terbuat dari kayu. Hanya kapal jenis itu yang merapat di pelabuhan ini. Dan kesibukan buruh angkut yang menaikkan atau menurunkan muatan kapal phinisi secara manual dengan cara mengendong atau memanggul barang-barang yang dinaikkan atau diturunkan. Sungguh hebat tenaga para buruh itu.  Saat ini muatan kapal yang diangkut memang sudah berbeda banyak, tidak lagi berupa kayu, rotan, kopi, atau rempah-rempahan tetapi sekarang lebih banyak berupa semen, bahan bangunan, barang manufaktur. Jaman sudah berubah.
Phinisi antar pulau
Kesibukan bongkar muat secara manual
Deretan truk tua yang masih operasional

Tempat Pelelangan Ikan Paotere
Suasananya tidak terlalu becek, tidak seperti di tempat pelelangan ikan lainnya. Cukup melipat sedikit ujung bawah celana panjang kita, kita sudah bisa bebas jalan-jalan di tempat pelelangan ikan ini. Datanglah pagi-pagi ketika belasan kapal nelayan ukuran 10 GT baru merapat dari operasi penangkapan ikan. Kita bis menyaksikan ikan-ikan segar diturunkan dari palka kapal untuk dijual di tempat pelelangan ikan ini. Siang maupun sore juga masih ada perahu nelayan yang baru datang dan merapat di tempat ini tetapi tidak sebanyak pada pagi hari.
Kapal nelayan dari sekitaran Makassar ini mencari ikan sampai ke perairan Lombok dan itu umumnya membutuhkan waktu 10 hari dari sejak berangkat sampai pulang operasi. Satu kapal diawaki oleh 12 orang nelayan. Burhan salah satu nelayan yang baru sandar mengatakan: ‘sekarang kami harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan lokasi penangkapan ikan (fishing ground) dan hasilnya tidak sebanyak dulu’. Menurut keterangannya; selama 10 hari melaut, satu kapalnya hanya mendapatkan 500 kg ikan dari berbagai jenis kalau diuangkan senilai Rp 7.500.000,-  dan itu tidak menutup biaya yang dikeluarkan.
Kalau dulu, tiap kapal nelayan mempunyai target ikan tangkapan sendiri-sendiri tetapi sekarang kebanyakan nelayan menggunakan alat tangkap multi fungsi sehingga jenis ikan apapun dapat ditangkapnya. Kalau tidak begitu, tidak akan dapat keuntungan. Maka tidak heran kalau satu kapal nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya terdiri dari lebih 5 jenis ikan.
Kami menyaksikan berbagai jenis ikan didaratkan dan dijual di tempat pelelangan ikan ini. Seekor ikan hiu yang masih utuh beserta siripnya berukuran 7-8 kg dijual seharga Rp 200.000,-. Harga sirip hiu Rp 300.000/kg, harga ikan kakap Rp 40.000/kg, harga ikan napoleon atau orang Makassar menyebutnya ikan lucangka seukuran telapak tangan orang dewasa, dijual Rp 50.000,-/kg. Ikan pari-pun ada banyak disini, dan lainnya.
Ketika kapal tangkap ikan baru merapat
Menurunkan berbagai jenis ikan hasil tangkapan
Ikan nimrod yang unik
Ikan hiu utuh (dengan siripnya) dijual Rp 200 ribu/ekor

Rumah Makan Ikan Bakar Paotere
Lelah jalan-jalan dan perut sudah mulai ‘bernyanyi’, mampirlah di Rumah Makan Ikan Bakar Paotere. Rumah ikan ini terletak di Jalan Sabutung, tidak jauh dari tempat pelelangan ikan, maka dijamin ikan yang dijual disini masih segar-segar. Kita milih sendiri ikan yang kita inginkan. Banyak pilihannya. Harganya didasarkan porsi atau ekoran tidak per kilo. Ikan kakap bakar Rp 50.000,-, ikan kudu-kudu yang berbentuk kotak dan berkulit keras Rp 40.000,-, harga udang satu porsi yang terdiri 2 tusuk Rp 25.000,-, cumi yang seporsinya terdiri dari 2 ekor seharga Rp 25.000,- ikan baronang Rp 40.000,- per porsi dan lainnya lagi. Kalau anda datang tepat pada waktu makan siang, anda dipastikan harus menunggu meja kosong dulu, pengunjungnya banyak sekali. Tentang rasa? Tentu rasa otentik dari jenis ikan itu-nya sendiri yang muncul, bukan rasa bumbunya yang lebih kuat yang mengalahkan rasa ikannya. Disini bumbunya hanya bumbu kacang atau kecap, itupun disajikan ketika ikan sudah dibakar. Kita kan beli rasa ikan bukan yang lain toh?
Ikan bakar di Paotere
Ikan kudu kudu Rp 40 ribu/ekor
Lahap tandanya nikmat

Senin, 22 April 2013

Hasil Survei Status Populasi dan Pemanfaatan Bambu Laut (Isis hippuris) di Perairan Parigi Moutong-Prov. Sulawesi Tengah


PENDAHULUAN


Bambu laut (Isis Hippuris) yang termasuk dalam suku Gorgonacea yang merupakan kelompok dari karang lunak (Octocorallia) dimana karang lunak adalah salah satu unsur penyusun terumbu karang. Gorgonacea ini umumnya tersebar luas di perairan Indo-Pasifik dan beberapa tempat lainnya, terutama di daerah tropis. Sebagai unsur penyusun terumbu karang, diketahui bahwa karang lunak merupakan komponen terbesar kedua setelah karang batu, bahkan beberapa daerah yang kondisi terumbu karangnya rusak, karang lunak merupakan unsur utama penyusun terumbu karang (Manuputty, 2002).

Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, beberapa pakar telah giat melakukan penelitian tentang karang lunak. Penemuan-penemuan baru di bidang farmasi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti ditemukannya senyawa kimia yang dapat digunakan untuk bahan obat-obatan, zat antibiotik dan antitumor. Para ahli farmakologi dan ahli biokimia mencari produk baru untuk obat-obatan yang dapat diambil dari hasil ekstrak bahan kimiawi yang dihasilkan oleh karang Octocorallia (Fabicius dan Alderslade, 2001). Salah satu jenis Gorgonacea yang memiliki nilai ekonomis adalah Isis Hippuris yang biasa disebut sebagai bambu laut. Isis Hippuris mengandung berbagai macam senyawa yang dapat digunakan dalam kebutuhan industri farmasi dan biokimia. Isis Hippuris juga banyak mengandung senyawa spesifik hippuristanol yang memiliki sifat antivirus karena dapat mencegah proses replikasi virus (Manuputty, 2008).

Selain potensi tersebut diatas, Isis Hippuris juga banyak meliputi perhatian banyak orang, khususnya beberapa kawasan di Sulawesi karena banyak diekploitasi oleh masyarakat untuk tujuan ekspor. Data-data di media komunikasi menunjukkan banyaknya pengantarpulauan komoditas ini yang menjadi sitaan petugas karena tidak memiliki dokumen yang sah. Radar Toli-Toli (8 September 2009) mengabarkan bahwa tim gabungan ADPEL, BKSDA, Polisi dan TNI Angkatan Laut telah menyita sebuah kontainer berisi 18 ton Isis Hippuris yang siap dikirim dari pelabuhan Dede Tolitoli ke Lamongan, Jawa Timur. Dari media lain pun turut mengabarkan berita yang serupa. Berdasarkan arsip berita dari situs www.dkp.sulteng.go.id (30 Mei 2010) pun mengabarkan bahwa tim gabungan DKP Sulteng beserta Polair Polda Sulteng menemukan tumpukan bambu laut yang telah siap untuk dikirim yang mencapai 30 ton yang rencananya akan dibawa ke Kendari, Sulawesi Tenggara untuk diperdagangkan.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka dilakukan beberapa pencegahan seperti adanya pelarangan peredaran bambu laut untuk sementara oleh pemerintah. Sementara saat ini kondisi mengenai bambu laut khususnya dalam jumlah populasi masih belum diketahui dan dimiliki data yang akuntabel. Sehingga dilakukan kegiatan survey status populasi dan pemanfaatan biota bambu laut (Isis Hippuris) di wilayah Sulawesi yang dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan.


METODELOGI KEGIATAN


Waktu dan Tempat

Kegiatan survei identifikasi populasi dan pemanfaatan jenis bambu laut dilaksanakan selama 2 bulan yang dimulai pada bulan Juli hingga bulan Agustus tahun 2012 yang berlokasi di Perairan Laut Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong


Alat dan Bahan

Peralatan dan Bahan yang digunakan dalam kegiatan survei ini adalah (1) peralatan selam (scuba); (2) alat tulis bawah air / sabak; (3) under water camera; (4) alat ukur satuan panjang / rol meter; (5) alat penunjuk lokasi / GPS; (6) alat ukur parameter kualitas fisik dan kimia perairan (suhu, salinitas, kecerahan, pH dan arus) berupa thermometer, refraktometer, secchi disk, kompas, dan alat pengukur kecepatan arus; (7) alat pengaman personalia (pelampung); dan (8) perlengkapan perangkat pengolah data dan dokumentasi (peralatan komputer, kamera, printer, dan alat tulis lainnya).


Jenis dan Metode Pengambilan Data

Survei pengambilan data tentang status populasi bambu laut (Isis Hippuris) dilakukan dengan metode belt transect atau transek sabuk, dengan panjang 50 meter. Luasan pengamatan dari garis transek yaitu  masing-masing 5 meter di kiri dan kanan, sehingga luas total areal pengamatan 500 m2. Pengukuran dilakukan di daerah ekosistem terumbu karang yang ditemukan. Variabel yang diamati adalah jumlah koloni dan ukuran tinggi koloni dalam suatu transek.




Gambar 1. Metode pengambilan data status populasi


Sedangkan untuk pengambilan data sosial, ekonomi, dan budaya dilakukan pengambilan dengan cara wawancara langsung dengan masyarakat sekitar selaku pemanfaat biota Isis Hippuris.


Analisis Data

Untuk menjawab tujuan dari kegiatan survei ini diperlukan tahapan analisis data dari keseluruhan data yang telah diperoleh. Analisis data tersebut terdiri dari :

Analisa Kuantitatif

Analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan potensi bambu laut di perairan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.


               ∑ individu

D =

Luas Transek

Analisa Kualitatif

Digunakan untuk mengetahui kondisi hidup dari Isis Hippuris tersebut, baik mengenai ukuran, daerah zonasi terumbu karang sebagai habitat, maupun tingkat kedalaman ideal tempat biota tersebut hidup.

Analisa Deskriptif

untuk menggambarkan potensi dan sebaran bambu laut, praktek pengerjaan atau pembersihan, jalur-jalur pemasaran produksi bambu laut sampai ke pedagang besar.


HASIL DAN PEMBAHASAN


Status Populasi

Jumlah Koloni

Lokasi pengambilan data dilakukan di wilayah perairan Kecamatan Moutong, yang terdiri dari dua stasiun, stasiun I terletak di pantai wilayah Pulau Lalayan. Sedangkan stasiun II terletak di pantai barat kecamatan Moutong. Kedua stasiun tersebut merupakan daerah yang memiliki ekosistem terumbu karang.

Untuk jumlah koloni dari masing-masing stasiun, pada stasiun I memiliki kepadatan populasi sebesar 852 koloni / 500 m2, sedangkan pada stasiun II memiliki populasi 514 koloni / 500 m2. Dari data yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa jumlah populasi Isis Hippuris diwilayah perairan Kecamatan Moutong terbilang masih melimpah dengan kepadatan yang cukup tinggi. Hal tersebut disebabkan karena Isis Hippuris dapat hidup dengan baik pada zona terumbu karang.

Berdasarkan daerah zonasi terumbu karang

Berdasarkan data hasil survey, stasiun I memiliki karakter zona reef slope, sedangkan di stasiun II adalah zona reef flat. Sedangkan Isis Hippuris lebih dominan ditemukan hidup di zona reef slope. Hal ini kemungkinan dipengaruhi adanya arus yang lemah dan pengaruh gelombang air laut pada daerah reef slope. Arus yang tidak kuat memungkinkan Isis Hippuris tumbuh dengan baik.

Berdasarkan kedalaman




Gambar 2. Jumlah dan persentase koloni Isis Hippuris pada kedalaman 2 – 7 meter


Dari gambar 2 diatas menunjukkan jumlah dan presentase koloni Isis Hippuris lebih besar berada pada kedalaman 5 meter dengan persentase 38,14%. Diperkirakan bahwa Isis Hippuris dapat hidup dengan baik pada kedalaman 5 meter yang dimungkinkan pada kedalaman tersebut arus tidak terlalu kuat. Sedangkan persentase jumlah koloni terbesar selanjutnya pada kedalaman 2 meter dengan persentase 30,31%. Hal tersebut dimungkinkan karena pada daerah tersebut koloni Isis Hippuris adalah koloni yang baru berkembang kembali setelah dimanfaatkan oleh masyarakat. Seperti hal nya pada kedalaman 3 meter, di wilayah tersebut dimungkinkan termasuk salah satu wilayah Isis Hippuris yang dimanfaatkan oleh masyarakat namun baru mulai untuk berkembang kembali.

Berdasarkan ukuran

Gambar 3. Jumlah Populasi Isis Hippuris berdasarkan ukuran


Berdasarkan ukuran seperti yang dilihat pada Gambar 3 diatas, terlihat bahwa populasi Isis Hippuris yang dominan hidup di lokasi survey adalah koloni yang memiliki ukuran antara 30 – 50 cm sebesar 44,66%. Sedangkan untuk ukuran 0-30 cm memiliki populasi sebesar 19,47% dan pada ukuran diatas 50 cm hanya memiliki populasi sebesar 19,47%. Pada umumnya jumlah populasi akan sebanding dengan ukuran koloni, bahwa semakin besar ukuran Isis Hippuris maka semakin banyak juga populasinya. Namun pada data tersebut menggambarkan bahwa pernah dilakukan kegiatan pengambilan untuk dimanfaatkan.


Model Pemanfaatan

Kronologi Pemanfaatan

Pemanfaatan Isis Hippuris dilakukan masyarakat setempat sejak tahun 2008. Hal tersebut dilatar belakangi adanya permintaan pasar yang berasal dari pedagang pengumpul yang langsung membeli kepada masyarakat yang memanfaatkan bambu laut tersebut.

Sebelumnya dibuat laporan hasil tinjauan lapangan oleh pengumpul itu sendiri mengenai potensi bambu laut yang menghasilkan surat rekomendasi dari berbagai instansi Pos Polair Moutong, Kantor Pelabuhan Moutong, maupun dari pihak Kecamatan Moutong serta beberapa perangkat desa dan pernyataan bersama dari warga setempat.

BKSDA Provinsi Sulawesi Tengah turut memberikan rekomendasi dan dukungan melalui pelaksanaan sosialisasi tentang tata cara pengambilan bambu laut di Kecamatan Moutong. Pengolahan bambu laut tergolong mudah dan dapat dilakukan oleh masyarakat termasuk para wanita dan anak-anak sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan. Faktor pendukung lain adalah masih belum adanya peraturan yang mengatur pemanfaatan bambu laut saat itu.


Teknologi Pengambilan dan Pengolahan

Pengambilan bambu laut dilakukan dengan menggunakan peralatan berupa linggis dan parang. Teknik pengambilan selayaknya dilakukan dengan mematahkan batang maupun ranting bambu laut, tapi beberapa yang dilakukan adalah mencongkel substrat yang ada ditempati oleh bambu laut tersebut.   

Kegiatan pengambilan bambu laut ini dilakukan setiap hari baik bersamaan dengan kegiatan penangkapan ikan maupun secara langsung khusus untuk mengambil bambu laut. Untuk pengolahannya, bambu laut yang telah diambil direndam dengan air laut selama 2 hari kemudian di keringkan agar dapat dengan mudah dikelupas.


Karakter Sosial Ekonomi Budaya

Untuk aspek kependudukan, jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Moutong pada tahun 2011 sebanyak 20.705 jiwa (BPS Parigi Moutong, 2011). Penduduk Kecamatan Moutong Kabupaten Parigi Moutong merupakan sebagian besar pernah memanfaatkan Isis Hippuris tersebut disebabkan Isis Hippuris memiliki nilai ekonomis pada saat itu sehingga pemanfaatan biota tersebut bertujuan untuk menambah penghasilan bagi masyarakat setempat. Disamping hal tersebut juga didukung dengan belum adanya peraturan pemerintah ataupun adat yang mengendalikan pemanfaatan Isis Hippuris.


Distribusi Pemasaran Hasil

Alur Distribusi Hasil

Dari hasil wawancara yang diperoleh, alur distribusi hasil pemanfaatan bambu laut di Kecamatan Moutong yakni pedagang pengumpul mendatangi nelayan kemudian dilakukan transaksi dengan harga jual Rp.1.500,- per kg. Kemudian selanjutnya masyarakat tidak mengetahui jalur pemasaran selanjutnya hingga ke konsumen karena telah dilakukan sendiri oleh pedagang pengumpul. Namun sangat memungkinkan bila distribusi hasil pemanfaatan bambu laut tersebut dari pedagang pengumpul berlanjut kepada pihak eksportir.

Pengumpulan bambu laut oleh pedagang pengumpul rata-rata dilakukan setiap 3 – 5 bulan sekali. Hasil dalam sekali pengumpulan bambu laut dapat mencapai 6 – 7 ton berat kering bambu laut.

Alur distribusi tersebut dapat digambarkan pada skema berikut.







 Gambar 4. Alur distribusi pemanfaatan bambu laut (Isis Hippuris)


Kendala dan Permasalahan

Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut yakni teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat yang merupakan terumbu karang. Meskipun pernah dilakukan sosialisasi tata cara pengambilan bambu laut oleh pihak BKSDA namun pada kenyataannya pengambilan yang dilakukan secara umum langsung mencongkel bambu laut satu koloni dengan maksud dapat mengambil dan menjualnya lebih banyak.

Selain itu, beberapa hal lain yang mengancam ekosistem terumbu karang termasuk didalamnya adalah biota bambu laut tersebut yakni adanya aktivitas pengeboman ikan yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Sedangkan untuk kondisi pemanfaatan dan distribusi bambu laut di Kecamatan Moutong sudah tidak berjalan lagi sejak tahun 2011 sampai saat ini yang dikarenakan adanya pelarangan pengambilan bambu laut oleh pemerintah.

                                                      KESIMPULAN


Status populasi dari biota bambu laut (Isis Hippuris) dari masing-masing stasiun, pada stasiun I memiliki kepadatan populasi sebesar 852 koloni / 500 m2, sedangkan pada stasiun II memiliki populasi 514 koloni / 500 m2 dengan persentase hidup koloni Isis Hippuris lebih besar berada pada kedalaman 5 meter dengan persentase 38,14% dan rata-rata ukuran yang dominan hidup adalah ukuran 30-50 cm dengan persentase 44,66%.

Sementara dalam bentuk pemanfaatannya bambu laut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk dijual kepada pedagang pengumpul dengan harga Rp.1.500,- / kg, yang kemungkinannya dilanjutkan kepada eksportir. Pengumpulan bambu laut oleh pedagang pengumpul rata-rata dilakukan setiap 3 – 5 bulan sekali. Hasil dalam sekali pengumpulan bambu laut dapat mencapai 6 – 7 ton berat kering. Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut yakni teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat yang merupakan terumbu karang, serta ancaman dari adanya aktivitas pengeboman ikan yang dilakukan oleh oknum masyarakat.

 REKOMENDASI TINDAK LANJUT DAN KEBIJAKAN


Untuk rekomendasi tindak lanjut diperlukan pengkajian yang lebih mendalam mengenai Isis Hippuris baik dari segi biomorfologi nya sampai pada pengkajian mengenai habitat ekologi yang ideal dalam siklus hidupnya. Kaitannya dengan pemanfaatan biota Isis Hippuris ini diharapkan kedepannya dapat dimanfaatkan secara optimal namun tetap dalam konteks terkendali agar pemanfaatan dapat berjalan dengan membantu taraf penghasilan masyarakat secara berkelanjutan.
                                                        DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik Kab. Parigi Moutong., 2011. Kabupaten Parigi Moutong dalam Angka Tahun 2011. Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Fabricius, K. And P. Alderslade, 2001. Soft Coral and Sea Fan. Australia institude of Maritim Science, Queensland, Australia.

Manuputty, A. E. W., 2002. Karang Lunak (Soft Coral) Perairan Indonesia. LIPI, Jakarta

Manuputty, A. E. W., 2008. Isis Hippuris Linnaeus 1758 Oktokoral Penghasil Anti Virus. Oseana Vol. XXXIII(I) 2008 hal:19-24

Radar Toli-Toli, 8 September, 2009. Tim Gabungan Periksa Satu Kontainer Bambu Laut Rencananya Akan dikirm ke Jawa Timur.

www.dkp.sulteng.go.id ., 03 Mei 2010. Digagalkan Pengiriman 30 Ton Bambu Laut.




(Oleh: Tim survei Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut-Makassar)

Hasil Survei Status Populasi dan Pemanfatan Bambu Laut (Isis hippuris) di Perairan Prov. Gorontalo


Gambaran Umum Kabupaten Gorontalo Utara

Kabupaten Gorontalo Utara memiliki luas wilayah ± 1.676,15 kilometer persegi.  Terdiri dari lima kecamatan pesisir, yaitu Tolinggula, Sumalata, Anggrek, Kwandang dan Atinggola.  Kecamatan dengan area yang terbesar adalah Sumalata yaitu 504,59 kilometer persegi atau 28,40 % luas Kabupaten Gorontalo Utara sedangkan yang terkecil - adalah Kecamatan Gentuma Raya, yaitu 100,34 kilometer persegi atau 5,65 % luas Kabupaten Gorontalo Utara.

Kabupaten Gorontalo Utara sangat potensial dengan sumber daya perikanan dengan garis pantai ±320 kilometer, luas laut ±561,6 kilometer persegi, hutan mangrove 275,27 hektar serta potensi budidaya air payau seluas 2.583,4 hektar.  Pembangunan wilayah pulau-pulau di Kabupaten Gorontalo Utara juga dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata.  Keberhasilan dalam bidang pariwisata dicerminkan dari semakin meningkatnya arus kunjungan wisatawan. Jenis pariwisata bahari yang terdapat di Kabupaten Gorontalo Utara berupa keindahan alam pesisir dan laut, snorkeling, diving dan renang.  Lokasi wisata yang cukup dikenal saat ini adalah Pulau Saronde.

Pulau Saronde terletak di Kecamatan Kwandang, memiliki luas daratan sekitar 1 km2.  Pulau saronde ini tidak berpenghuni, hanya dijaga oleh petugas pengelola wisata. Selain memiliki pasir putih di pantainya,  perairan pulau Saronde terkenal memiliki keindahan bawah laut yang bagus, dimana terdapat atol yang melingkar di sekitar Pulau Saronde. 

   Kondisi Biofisik Perairan Pulau Saronde

1.        Sebaran Bambu Laut

Bambu laut di perairan dijumpai dalam bentuk spot-spot yang menyebar sepanjang area pengambilan data.  Pada beberapa lokasi ditemukan melimpah dengan menutupi seluruh area terumbu karang.  Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa rerata luas tutupan bambu laut di perairan Pulau Saronde yaitu di lokasi survei I adalah 0,05 m2/m2, sedangkan di lokasi survei II adalah 0,109 m2/m2.


2.        Kelimpahan Bambu Laut

Berdasarkan hasil survei, kelimpahan bambu laut di perairan Pulau Saronde adalah 2individu/m2.  Kedalaman perairan di area survei adalah 3 – 5 meter, sehingga memang masih banyak ditemukan individu bambu laut karena memiliki simbiosis dengan zooxanthella yang membutuhkan cahaya matahari.  Adapun sebaran kelimpahan di area survei terlihat pada Tabel berikut:

  Tabel.  Sebaran kelimpahan bambu laut di Perairan Pulau Saronde



No

Ukuran Koloni (individu)

Jumlah Kelompok

1.

1  -  10

62

2.

11 - 20

14

3.

21 - 30

6

4.

31 – 40

1

5.

41 - 50

2

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)

Berdasarkan Tabel tersebut maka diketahui jumlah ukuran kelimpahan individu didominasi oleh kelompok koloni 1 – 10 individu.  Di perairan Kabupaten Gorontalo Utara ini khususnya perairan Pulau Saronde belum ada kegiatan pengambilan bambu laut sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran komposisi dan kelimpahan bambu laut yang ada ini masih merupakan ukuran alamiah yang belum dimanfaatkan oleh nelayan.

            Kondisi Sosial Masyarakat

1.         Karakteristik Responden

Responden yang diambil terbatas hanyalah para nelayan yang berada di lokasi pengambilan data. Selain itu juga dilakukan wawancara di daerah lain dalam Provinsi Gorontalo mengingat di lokasi pengambilan data belum pernah ada kegiatan pengambilan bambu laut. Jumlah responden yang diwawancara adalah 10 orang.  Profesi utama responden dalah sebagai nelayan pancing dan jala. Tidak ditemukan responden yang berprofesi sebagai pedagang pengumpul bambu laut. 

Jika ditinjau dari kisaran umur, maka seluruh responden memiliki kisaran umur antara 25 – 45 tahun.  Hal ini menunjukkan bahwa para responden masih berada pada usia produktif.  Secara lebih detail maka klasifikasi responden berdasarkan umurnya dapat dilihat pada Tabel.

Tabel.  Klasifikasi Umur Responden


No

Umur (tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

1.

30 – 40

4

40

2.

41 – 50

6

60


Total

10

100

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)


Berdasarkan tingkat pendidikan, maka sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah yaitu hanya sampai pendidikan Sekolah Dasar (SD) atau yang sederajat.  Dari 10 orang responden yang diwawancara sebanyak 4 orang (40%) hanya sampai ke tingkat SD, 3 orang tidak menyelesaikan pendidikan SD dan kemudian 3 orang (30%) mampu bersekolah hingga ke pendidikan menengah pertama (SMP), Secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa rata-rata para responden memiliki pendidikan formal, walaupun relatif  masih rendah.  Kondisi ini disebabkan dengan fasilitas pendidikan formal yang belum lengkap di daerah Gorontalo.

Berdasarkan hasil pengolahan data primer maka dapat diketahui bahwa para responden umumnya telah bekerja di bidang perikanan lebih dari 10 tahun.  Jika lama bekerja dibidang ini diurai lebih jauh, maka diperoleh responden yang telah bekerja 10 – 20 tahun berjumlah 4 orang, sedangkan yang telah memiliki masa kerja di atas 20 tahun sebanyak 4 orang.  Sedangkan responden yang baru memiliki pengalaman kerja di bawah 10 tahun adalah 2 orang.  Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden telah memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai usaha perikanan. 

Tabel.   Klasifikasi responden berdasarkan lama berusaha di bidang perikanan


No

Lama Usaha (Tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

1.

<10

2

20

2.

10 - 20

4

40

3.

>20

4

40


Total

10

100,00

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)


Hasil wawancara dengan responden yang berprofesi sebagai nelayan menunjukkan umumnya mereka tidak lama menekuni usaha pengambilan bambu laut ini.  Hingga tahun 2011 yang diketahui terakhir kali ada aktivitas pengambilan bambu laut, sebanyak 3 responden belum pernah melakukan pengambilan bambu laut, sebanyak 2 responden baru menekuni usaha itu selama 1-2 tahun, sedangkan 5 responden telah melakukan pengambilan bambu laut lebih dari 2 tahun.  Dengan demikian jika dihubungkan dengan lamanya mereka berusaha di bidang perikanan maka dapat diketahui bahwa sebelum memulai usaha pengambilan bambu laut ini sebenarnya mereka telah bekerja di bidang perikanan, khususnya di bidang perikanan tangkap.



Tabel.   Klasifikasi responden nelayan berdasarkan lama berusaha di dalam usaha pengambilan bambu laut



No

Lama Usaha (Tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

1.

1-2

2

20

2.

>2

5

50

3.

Bukan pengambil bambu laut

3

30


Total

10

100

Sumber : Hasil olahan data primer (2012)


2.  Motivasi Masyarakat

Berdasarkan hasil wawancara dengan stakeholder yang berkaitan dengan usaha pengambilan bambu laut di Provinsi Gorontalo, maka dapat diketahui beberapa hal yang memacu keinginan para nelayan melakukan usaha pengambilan bambu laut ini sebagai pekerjaan tambahan.  Beberapa responden mengemukakan bahwa penanganan pengolahan bambu laut yang mudah sebelum dijual juga merupakan alasan yang dipilih sehingga mereka melakukan pengambilan bambu laut ini. 

Salah satu faktor pendukung meningkatnya pengambilan bambu laut ini adalah meningkatnya permintaan pasar serta tidak ada kebijakan yang jelas dari pemerintah terkait eksploitasi bambu laut ini.  Setelah adanya pelarangan pengambilan bambu laut oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo dengan berdasarkan Perda Nomor 01 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu di Provinsi Gorontalo, nelayan tetap menjalankan aktivitasnya mengambil bambu laut dengan alasan tidak adanya sosialisasi kepada mereka terkait pelarangan tersebut.  Menurunnya aktivitas pengambilan bambu laut hingga saat ini lebih banyak disebabkan oleh tidak adanya lagi permintaan dari pedagang pengumpul. 

Tabel.  Motivasi responden dalam pengambilan bambu laut



No

Parameter

Alasan utama

Responden Pemilih

1.

Teknologi pengambilan

Sederhana dan mudah diperoleh

5

2.

Pemasaran produk

Dijemput pihak pengumpul

4

3.

Pengolahan pasca panen

Mudah dilakukan

1

Sumber :  Hasil data primer yang telah diolah (2012)


Berdasarkan Tabel  maka dapat dijelaskan beberapa motivasi yang dimiliki masyarakat dalam melakukan kegiatan pengambilan bambu laut tersebut sebagai berikut :

1.        Teknologi pengambilan bambu laut

Pengambilan bambu laut dilakukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana yaitu linggis dan parang. Keterampilan yang dibutuhkan seorang nelayan pengambil bambu laut adalah menyelam, yang merupakan keahlian lazim bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.  Teknik yang digunakan untuk mengambil bambu laut itu adalah dengan mencongkel substrat yang ada ditempati oleh bambu laut tersebut. 

Kegiatan pengambilan bambu laut ini dilakukan setiap hari bersamaan dengan kegiatan penangkapan ikan, sehingga biaya operasional dapat diminimalisir.  Menurut hasil wawancara, sekali pengambilan bisa mencapai 10-15 kg berat kering.  Di lokasi pengambilan data (Kabupaten Gorontalo Utara), belum ada aktivitas pengambilan bambu laut oleh masyarakat.  Menurut hasil wawancara dengan aparat Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, daerah yang diketahui masyarakatnya pernah melakukan aktivitas pengambilan bambu laut adalah di Kabupaten Pahuwato dan Kabupaten Boalemo. 

Permasalahan utama yang berkaitan dengan kegiatan pengambilan bambu laut ini adalah teknik pengambilan bambu laut yang merusak substrat dasar yang merupakan terumbu karang.  Seiring dengan peningkatan permintaan pasar untuk bambu laut ini maka kegiatan eksploitasi bambu laut semakin meningkat dan berlangsung secara sporadis.  Hal ini secara langsung mempengaruhi kelestarian terumbu karang sebagai tempat hidup bambu laut.  Menurut hasil wawancara, kondisi terumbu karang di wilayah pengambilan bambu laut masih baik, namun demikian merupakan ancaman berat jika kegiatan pengambilan bambu laut masih menggunakan teknik tradisional seperti berlangsung saat ini.


2.        Pemasaran produk

Sistem pemasaran yang berlaku saat itu telah memudahkan nelayan dalam memasarkan bambu laut.  Sistem pemasaran yang berlaku adalah pihak pengumpul yang mendatangi nelayan untuk kemudian mengajukan penawaran harga.  Setelah diperoleh kesepakatan harga, maka pengumpul yang selanjutnya mendistribusikan produk tersebut sesuai dengan jalur pemasarannya.  Berdasarkan hasil wawancara, harga jual bambu laut selama ini berkisar antara Rp2.000,00 – Rp3.000,00.  Nelayan pengambil bambu laut tidak mengetahui secara jelas jalur pemasaran di tingkat pedagang pengumpul hingga ke konsumen.

Keuntungan dari sistem pemasaran ini adalah pihak nelayan tidak mengeluarkan biaya operasional untuk memasarkan hasil panennya, karena telah dijemput oleh pengumpul.  Namun demikian terdapat juga kerugiannya karena petambak tidak memiliki nilai tawar yang kuat dalam menentukan harga produk karena nelayan tidak memiliki kebebasan pemasaran produk akibat minimnya informasi pasar terhadap produk bambu laut ini.  Oleh karena itu, sejak tahun 2010 kegiatan pengambilan bambu laut ini semakin menurun intensitasnya karena selain adanya penegasan pelarangan dari pemerintah daerah untuk pengambilan bambu laut ini juga karena pedagang pengumpul yang tidak pernah lagi datang sehingga produk tidak bisa dipasarkan.


3.        Pengolahan produk

Pengolahan produk dibutuhkan untuk menjaga mutu dari produk yang akan dijual, karena bambu laut yang dijual disesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh  pihak pembeli.  Pengolahan produk bambu laut tidak memerlukan penanganan yang rumit karena hanya perlu dibersihkan kemudian dijemur.  Hal ini menurut para nelayan merupakan salah satu alasan yang menarik sehingga mereka juga ikut berusaha dalam pengambilan bambu laut.

Nelayan mengangkat bambu laut ini dari perairan diupayakan secara lengkap satu koloni.  Bambu laut ini kemudian direndam dalam air laut hingga kulit luarnya terkelupas, biasanya hingga seminggu. Selanjutnya bambu laut dijemur hingga kadar airnya turun selama 1-2 hari tergantung kondisi cuaca, karena metode pengeringan hanya mengandalkan panas sinar matahari.  Setelah itu kemudian bambu laut yang sudah kering dibersihkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk siap dipasarkan.