Kamis, 25 April 2013

Jalan-Jalan di Paotere Makassar


Sebagaimana wilayah pesisir perkotaan umumnya, susana padat penduduk dengan ragam aktifitasnya serta kondisi infrastruktur yang kurang me di kurang memadai juga ada di Kawasan Paotere Makassar ini. Namun, apabila benak dan pikiran kita sudah ditanamkan pikiran positif ketika kita akan mengunjungi tempat seperti itu, tentu kesenangan yang akan didapat.

Pelabuhan Rakyat Paotere
Persinggahan pertama kami adalah pelabuhan rakyat Paotere. Pelabuhan rakyat ini sudah ada sejak jaman Belanda. Ketika itu pelabuhan ini adalah pintu gerbang ekonomi tidak saja bagi Sulawesi tetapi juga untuk kawasan Indonesia Timur. Perdagangan hasil hutan, perkebunan, rempah-rempahan, dan pangan menggunakan jasa pelabuhan ini. Sisa-sisa jejak peninggalannya masih terasa dengan berjajarnya kapal-kapal phinisi yang terbuat dari kayu. Hanya kapal jenis itu yang merapat di pelabuhan ini. Dan kesibukan buruh angkut yang menaikkan atau menurunkan muatan kapal phinisi secara manual dengan cara mengendong atau memanggul barang-barang yang dinaikkan atau diturunkan. Sungguh hebat tenaga para buruh itu.  Saat ini muatan kapal yang diangkut memang sudah berbeda banyak, tidak lagi berupa kayu, rotan, kopi, atau rempah-rempahan tetapi sekarang lebih banyak berupa semen, bahan bangunan, barang manufaktur. Jaman sudah berubah.
Phinisi antar pulau
Kesibukan bongkar muat secara manual
Deretan truk tua yang masih operasional

Tempat Pelelangan Ikan Paotere
Suasananya tidak terlalu becek, tidak seperti di tempat pelelangan ikan lainnya. Cukup melipat sedikit ujung bawah celana panjang kita, kita sudah bisa bebas jalan-jalan di tempat pelelangan ikan ini. Datanglah pagi-pagi ketika belasan kapal nelayan ukuran 10 GT baru merapat dari operasi penangkapan ikan. Kita bis menyaksikan ikan-ikan segar diturunkan dari palka kapal untuk dijual di tempat pelelangan ikan ini. Siang maupun sore juga masih ada perahu nelayan yang baru datang dan merapat di tempat ini tetapi tidak sebanyak pada pagi hari.
Kapal nelayan dari sekitaran Makassar ini mencari ikan sampai ke perairan Lombok dan itu umumnya membutuhkan waktu 10 hari dari sejak berangkat sampai pulang operasi. Satu kapal diawaki oleh 12 orang nelayan. Burhan salah satu nelayan yang baru sandar mengatakan: ‘sekarang kami harus menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan lokasi penangkapan ikan (fishing ground) dan hasilnya tidak sebanyak dulu’. Menurut keterangannya; selama 10 hari melaut, satu kapalnya hanya mendapatkan 500 kg ikan dari berbagai jenis kalau diuangkan senilai Rp 7.500.000,-  dan itu tidak menutup biaya yang dikeluarkan.
Kalau dulu, tiap kapal nelayan mempunyai target ikan tangkapan sendiri-sendiri tetapi sekarang kebanyakan nelayan menggunakan alat tangkap multi fungsi sehingga jenis ikan apapun dapat ditangkapnya. Kalau tidak begitu, tidak akan dapat keuntungan. Maka tidak heran kalau satu kapal nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya terdiri dari lebih 5 jenis ikan.
Kami menyaksikan berbagai jenis ikan didaratkan dan dijual di tempat pelelangan ikan ini. Seekor ikan hiu yang masih utuh beserta siripnya berukuran 7-8 kg dijual seharga Rp 200.000,-. Harga sirip hiu Rp 300.000/kg, harga ikan kakap Rp 40.000/kg, harga ikan napoleon atau orang Makassar menyebutnya ikan lucangka seukuran telapak tangan orang dewasa, dijual Rp 50.000,-/kg. Ikan pari-pun ada banyak disini, dan lainnya.
Ketika kapal tangkap ikan baru merapat
Menurunkan berbagai jenis ikan hasil tangkapan
Ikan nimrod yang unik
Ikan hiu utuh (dengan siripnya) dijual Rp 200 ribu/ekor

Rumah Makan Ikan Bakar Paotere
Lelah jalan-jalan dan perut sudah mulai ‘bernyanyi’, mampirlah di Rumah Makan Ikan Bakar Paotere. Rumah ikan ini terletak di Jalan Sabutung, tidak jauh dari tempat pelelangan ikan, maka dijamin ikan yang dijual disini masih segar-segar. Kita milih sendiri ikan yang kita inginkan. Banyak pilihannya. Harganya didasarkan porsi atau ekoran tidak per kilo. Ikan kakap bakar Rp 50.000,-, ikan kudu-kudu yang berbentuk kotak dan berkulit keras Rp 40.000,-, harga udang satu porsi yang terdiri 2 tusuk Rp 25.000,-, cumi yang seporsinya terdiri dari 2 ekor seharga Rp 25.000,- ikan baronang Rp 40.000,- per porsi dan lainnya lagi. Kalau anda datang tepat pada waktu makan siang, anda dipastikan harus menunggu meja kosong dulu, pengunjungnya banyak sekali. Tentang rasa? Tentu rasa otentik dari jenis ikan itu-nya sendiri yang muncul, bukan rasa bumbunya yang lebih kuat yang mengalahkan rasa ikannya. Disini bumbunya hanya bumbu kacang atau kecap, itupun disajikan ketika ikan sudah dibakar. Kita kan beli rasa ikan bukan yang lain toh?
Ikan bakar di Paotere
Ikan kudu kudu Rp 40 ribu/ekor
Lahap tandanya nikmat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar