Rabu, 29 Mei 2013

Santap Nikmat Masakan Melayu di Kota Pekanbaru

Di kota Pekanbaru yang semakin cantik dan bersih ini, banyak rumah makan yang menyediakan menu masakan Melayu, namun bagi saya, rasa otentik masakan melayu sudah pasti hanya ada di rumah makan Pondok Yurika yang berada di Jalan Sutomo. Rasa santan dan rasa pedasnya terpadu secara pas sehingga rasa dan aroma yang mampir di lidah adalah gurih wangi yang begitu menggoda. Sehingga secara tidak sadar nambah terus porsi nasinya.
Dengan eksterior dan interior bertema rumah jaman dulu, yang meja kursinya berderet seperti halnya di sebuah warung makan biasa dan dengan bunga artifisial di atasnya, semakin menguatkan rasa di berada rumah sendiri. Kemudian beragam makanan yang terdiri dari ragam masakan ayam, daging, sayur dan tentu yang menjadi ciri khas di rumah makan ini adalah aneka masakan ikan sungai seperti asam pedas ikan patin, gulai/goreng udang galah, gulai/goreng ikan baung, gulai/goreng selai baung yang disajikan didalam piring per piring seperti umumnya gaya penyajian di rumah makan Padang, menjadikan santap siang atau malam kami adalah ‘pesta demokrasi makan’ karena kami bebas memilih dan menentukan pilihan masing-masing. Bedanya disini, pilihan bukan hanya jatuh ke salah satu menu saja, tetapi sekiranya ruang perut ini masih mampu menampungnya, kami akan jelajahi rasa dan aroma dari masakan melayu yang tersedia di hadapan kami ini. Sungguh mantap rasa masakan melayu di Pondok Yurika ini.
Soal harga, rasanya tidak jauh berbeda dengan rumah makan sejenis lainnya. Harga gulai/goreng udang sungai Rp 25.000,-/porsi, gulai/goreng baung Rp 20.000,-, dan gulai/goreng salai baung Rp 25.000,-/porsi. Yang paling mahal adalah untuk seporsi asam pedas kepala patin, yaitu Rp 90.000,-/porsi. Apabila anda datang sendirian datang ke rumah makan ini, tentu tidak akan menyantap keseluruhan menu yang tersedia. Paling banyak kita menyantapnya hanya 2 jenis menu saja. Dan itu artinya harga yang harus dibayar oleh seorang pengunjung datang ke rumah makan ini, masih dalam kisaran harga yang wajar, yaitu sekitar Rp 50 rb – Rp 100 rb.
Selamat menikmati.
Di Pondok Yurika
Udang sungai Rp 25 rb/porsi
Goreng Ikan lais yang beraroma
Goreng ikan baung
Gulai ikan baung yang gurih
Goreng silais yang nikmat dan renyah

Santap siang yang nikmat
Patung Tarian Zapin makin mempercantik landmark kota Pekanbaru

Rabu, 15 Mei 2013

Pantai Lasiana Menjadi Andalan Wisata Kota Kupang


Letaknya hanya 15 km-an dari Bandara El Tari di Kupang NTT atau hanya sekitar 30 menit waktu tempuh dengan kendaraan pribadi. Bagi warga lokal, pantai Lasiana adalah tujuan favorit wisata pantainya, karena kemudahan akses dan keasriannya. Apalagi saat sore hari tiba.
Pantai Lasiana membentang sepanjang 5 km, terbentang pasir putih selebar 5 sampai 20 meter di pantai yang berbentuk landai. Sesekali ada sedikit hamparan karang mati dan bebatuan sebesar kepalan tangan. Penduduk setempat membagi dua bentang pantai ini, yaitu pantai Lasiana dan pantai Oesapa. Pantai Lasiana berada dalam enclave sempit sekitar 3 ha saja. Sedangkan, pantai Oesapa lebih terbuka dengan adanya jalan lebar yang berada persis di pinggir pantainya. Satu sisi lain dari jalan aspal ini dipenuhi tegakan pohon enau, yang orang setempat menyebutnya pohon sabuak yang buahnya biasa dijadikan minuman seperti kelapa dengan nama buah siwalan.
Kitapun dapat menyaksikan ketika penduduk sedang air pohon enau dari ujung tunas bunganya yang dipotong, yang tetesan airnya akan ditampung dalam jerigen. Air ini adalah tuak, minuman khas berkadar alkohol tinggi yang dapat memabukan bagi yang meminumnya. Air tuak ini kalau digodog atau diolah kembali akan menjadi minuman keras yang kadar alkoholnya lebih tinggi lagi dengan nama ‘sofi’. Sofi yang lebih mahal dari tuak, sangat populer di beberapa masyarakat.
Ketika sore hari tiba, pengunjung pantai Lasiana mulai berdatangan. Mereka kebanyakan adalah remaja yang mau main sepak bola atau hanya bercengkerama bersama teman-temannya. Para remaja membuat kelompok sendiri-sendiri untuk bermain sepakbola di atas hamparan pasir putihnya. Saya hitung setidaknya ada 6 kelompok remaja yang sedang main sepakbola. Namun, tidak ada satu-pun turis luar kota apalagi asing yang datang ke pantai ini. Di seberang sana, matahari mulai condong ke barat dan warna keemasan mulai melukis langit  di atas laut Teluk Kupang. Warna emas kemerahan di ujung langit sana semakin meredup seiring malam menjelang yang dibarengi bentuk matahari bulat tertelan bumi. Keindahan matahari tenggelam di pantai ini, melebihi keindahan sunset di Uluwatu Bali, seperti yang saya saksikan beberapa minggu lalu. Namun, banyak perbedaan suasana sunset antara di Lasiana dengan di Uluwatu. Disini seolah tidak ada yang peduli dengan keindahan sunset tersebut. Mungkin bagi orang setempat, fenomena alam itu sudah sangat biasa. Yang sedang bermain bola, mereka tidak sedikit-pun menolehnya, yang sedang bercengkerama, tidak peduli dengan keindahan alam itu. Berbeda dengan di Uluwatu, Tanah Lot, yang memang fenomena sunset itu untuk ‘dijual’ kepada turis. Sayang sekali. Mungkin perlu promosi yang lebih kuat, bahwa ada keindahan yang luar biasa pada sore hari di pantai Lasiana.
Masuk pantai ini hanya Rp 1000/orang, itu-pun bagi yang mau membayarnya. It’s peny. Pantas saja, kalau di pantai ini terutama di pinggir pasir putih di Oesapa, banyak bertebaran sampah laut maupun sampah domestik. Karena dengan pendapatan yang kecil, pihak pengelola, tidak akan sanggup menggaji petugas kebersihan yang diperlukannya. Tapi kan sayang, kalau pantai seindah ini harus dibiarkan tidak terkelola.
Jalan masuk ke Pantai Lasiana yang asri
Pantai Lasiana
Warga sedang bermain-main di pantai Lasiana
Lasiana
Deretan pohon enau di bagian pantai Oesapa
Pantai Oesapa bagian dari Lasiana
Pantai Oesapa
Fasilitas wisata di Oesapa
Perahu nelayan di Oesapa
Bercengkerama di Lasiana
Suasana ketika sore hari tiba
Sunset di pantai Lasiana

Sabtu, 11 Mei 2013

Ikan Hiu Dilindungi?

Secara nasional, sampai saat ini, baru satu jenis ikan hiu yang berstatus dilindungi, yaitu hiu gergaji (Pristis microdon) yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No. 07 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hiu gergaji adalah jenis hiu air tawar yang habitatnya di danau Sentani. Hiu gergaji ini baru masuk daftar Appendix II CITES pada bulan Maret 2013. Jadi kita sudah lebih dulu melindunginya dan dengan status lebih tinggi yaitu dilindungi atau setara dengan Appendix I CITES. Jenis-jenis ikan hiu lainnya (dari sekitar 117 jenis hiu yang ada di Indonesia) belum ditetapkan statusnya sebagai jenis ikan yang dilindungi. Kalaupun ada rencana akan menetapkan status perlindungannya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan , tidak untuk semua jenis hiu, tetapi terbatas hanya untuk 5 jenis hiu lagi. Itu-pun tipe status perlindungannya adalah perlindungan terbatas, bukan status perlindungan penuh. Status perlindungan terbatas adalah perlindungan suatu jenis ikan berdasarkan ukuran, waktu, atau tempat. Jadi ikan yang berstatus perlindungan terbatas masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Berbeda dengan pengertian status perlindungan penuh, perlindungan penuh adalah masyarakat tidak dapat memanfaatkan jenis ikan tersebut termasuk bagian bagian tubuhnya atau derivasinya (Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan). Dari 5 jenis hiu yang akan ditetapkan status perlindungannya, empat jenis hiu terkait dengan keputusan pertemuan para pihak COP ke 16-CITES di Bangkok pada bulan Maret 2013, yaitu 3 jenis hiu kepala martil, yang terdiri dari: hammerhead shark (Spyrna lewini), great hammerhead shark (Spyrna mokarran), dan smoot hammerhead shark (Spyrna zygaena), dan satu jenis hiu lainnya adalah hiu koboy atau oceanic whitetip shark (Carcharhinus longimatus). Sedangkan satu jenis hiu lagi diluar keputusan COP 16 CITES, yang juga sedang diproses status penetapan perlindungannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan, adalah hiu paus atau whale shark (Rhyncodon typus). Jenis hiu paus adalah jenis hiu yang memiliki ukuran paling besar diantara jenis hiu lainnya dan jinak. Hiu paus memang hiu tetapi ukuran dan penampilannya mirip paus, sehingga banyak orang yang menyangka jenis ini adalah paus. Hiu ini tidak dikonsumsi masyarakat, tetapi memiliki arti yang penting untuk kegiatan wisata nyelam. Para penyelam dapat bermain-main di dalam perairan laut dengan hiu paus yang exotic ini. Wisata selam di Raja Ampat dan Teluk Cendrawasih sudah memanfaatkan hiu paus ini sebagai bagian dari atraksi wisata selamnya. Proses konsultasi publik dalam rangka penetapan status perlindungan hiu paus ini, diprediksi relatif mudah dengan alasan-alasan tersebut di atas, sehingga akan lebih lancar untuk penetapan status perlindungannya. Berbeda dengan 4 jenis hiu yang telah disebutkan sebelumnya. Empat jenis hiu tersebut (tiga jenis hiu kepala martil dan 1 jenis hiu koboy) adalah jenis hiu yang termasuk banyak dimanfaatkan oleh para nelayan dan masyarakat. 
Tentang Peraturan Daerah Kab. Raja Ampat No. 09 tahun 2012 tentang Pelarangan Penangkapan Ikan Hiu dan Jenis Tertentu Lainnya. Perda tersebut adalah berada dalam konteks pengelolaan perikanan, bukan dalam rangka penetapan status perlindungan ikannya. Karena yang berwenang menetapkan status perlindungan jenis ikan hanya Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP No. 03 tahun 2010 tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis Ikan. Proses penetapan status perlindungan suatu jenis ikan, dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan data yang akurat. Prosedur penetapan status perlindungan jenis ikan harus melalui berbagai kajian multi aspek yang dilakukan oleh lembaga penelitian nasional yaitu LIPI serta melalui berkali-kali konsultasi publik dengan berbagai stakeholder.
Kampanye untuk tidak makan ikan hiu termasuk makan sup siripnya, yang sedang gencar-gencarnya dilakukan, adalah masih dalam katagori ‘himbauan’, dan tidak bisa diberikan sangsi kepada yang melanggarnya karena memang belum tersedia peraturan nasional yang melandasinya (kecuali yang memanfaatkan jenis hiu gergaji). Dan juga tidak semua jenis ikan hiu akan diberikan status perlindungannya. Kita masih sangat perlu memikirkan sosial ekonomi dan kehidupan nelayan maupun masyarakat lainnya yang ‘bergelut’ dengan perikanan hiu sebagai sumber nafkah-nya.
Perdagangan Sirip Hiu
Baby Hiu yang kini banyak diperdagangkan
Jenis hiu mana yang dilindungi?
Hiu kepala martil yang dilindungi
Hiu kepala martil diperdagangkan
Masyarakat sedang memanfaatkan jenis hiu kepala martil

Rabu, 08 Mei 2013

Pantai Sanur di Bali yang Tenang


Pantai Sanur adalah salah satu favorit wisata pantai di Bali. Geomorfologis Pantai Sanur berbeda dengan Pantai Kuta. Pantai Sanur berada dalam satu teluk yang lautnya tenang dan dangkal sehingga bukan tujuan para pehobi surfing. Berbeda dengan Pantai Kuta yang memiliki laut terbuka dengan gelombang ang tinggi. Nah, justru laut tenang Sanur yang jadi incaran turis tertentu, khususnya bagi pelancong lanjut usia dan pasangan yang berbulan madu.

Lingkungan Pantai Sanur terasa dalam suasana tenang dan tentram tanpa hingar bingar yang datang dari mall, restoran atau diskotik. Kalaupun di bar kecil ada yang menampilkan live music, dipastikan musicnya adalah musik cauntry, blues, atau classic. Dengan alat musik sederhana semacam: perkusi, akordeon, gitar, dan saksofon. Di sepanjang pantainya ditumbuhi oleh vegetasi pantai semacam pohon kelapa, cemara laut, sukun, dan lainnya dan sangat teduh dan rindang. Sungguh suasana yang membuat hati jadi senang.

Aktifitas turis di pantai ini, lebih banyak berjemur di atas kursi selonjor yang ditaruh di atas hamparan pasir putih, sambil memandangi laut yang biru. Tetapi ada juga yang beraktifitas wisata bahari yang bermain di atas jet sky, parasailing, sailing, snorkeling, atau jogging atau bersepeda di track yang telah ada dengan rapih di bibir pantai sepanjang 3 km-an.

Turisme Pantai Sanur lebih condong diperuntukkan kepada turis ‘berduit’. Tarif kamar hotelnya saja diatas Rp 1 juta per malam. Akan lebih mahal lagi kalau memilih hotel yang berada tepat di pinggir pantainya. Persoalannya bagi yang menginap jauh di bibir pantai, untuk masuk ke pantainya harus jalan melingkar agak jauh. Karena akses ke pantai sudah tertutup oleh bangunan hotel, restoran, atau tempat spa. Entahlah, apakah disini masih berlaku kaidah umum untuk laut atau pantai yaitu ‘open access’ ?