Sabtu, 11 Mei 2013

Ikan Hiu Dilindungi?

Secara nasional, sampai saat ini, baru satu jenis ikan hiu yang berstatus dilindungi, yaitu hiu gergaji (Pristis microdon) yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah No. 07 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hiu gergaji adalah jenis hiu air tawar yang habitatnya di danau Sentani. Hiu gergaji ini baru masuk daftar Appendix II CITES pada bulan Maret 2013. Jadi kita sudah lebih dulu melindunginya dan dengan status lebih tinggi yaitu dilindungi atau setara dengan Appendix I CITES. Jenis-jenis ikan hiu lainnya (dari sekitar 117 jenis hiu yang ada di Indonesia) belum ditetapkan statusnya sebagai jenis ikan yang dilindungi. Kalaupun ada rencana akan menetapkan status perlindungannya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan , tidak untuk semua jenis hiu, tetapi terbatas hanya untuk 5 jenis hiu lagi. Itu-pun tipe status perlindungannya adalah perlindungan terbatas, bukan status perlindungan penuh. Status perlindungan terbatas adalah perlindungan suatu jenis ikan berdasarkan ukuran, waktu, atau tempat. Jadi ikan yang berstatus perlindungan terbatas masih dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Berbeda dengan pengertian status perlindungan penuh, perlindungan penuh adalah masyarakat tidak dapat memanfaatkan jenis ikan tersebut termasuk bagian bagian tubuhnya atau derivasinya (Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan). Dari 5 jenis hiu yang akan ditetapkan status perlindungannya, empat jenis hiu terkait dengan keputusan pertemuan para pihak COP ke 16-CITES di Bangkok pada bulan Maret 2013, yaitu 3 jenis hiu kepala martil, yang terdiri dari: hammerhead shark (Spyrna lewini), great hammerhead shark (Spyrna mokarran), dan smoot hammerhead shark (Spyrna zygaena), dan satu jenis hiu lainnya adalah hiu koboy atau oceanic whitetip shark (Carcharhinus longimatus). Sedangkan satu jenis hiu lagi diluar keputusan COP 16 CITES, yang juga sedang diproses status penetapan perlindungannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan, adalah hiu paus atau whale shark (Rhyncodon typus). Jenis hiu paus adalah jenis hiu yang memiliki ukuran paling besar diantara jenis hiu lainnya dan jinak. Hiu paus memang hiu tetapi ukuran dan penampilannya mirip paus, sehingga banyak orang yang menyangka jenis ini adalah paus. Hiu ini tidak dikonsumsi masyarakat, tetapi memiliki arti yang penting untuk kegiatan wisata nyelam. Para penyelam dapat bermain-main di dalam perairan laut dengan hiu paus yang exotic ini. Wisata selam di Raja Ampat dan Teluk Cendrawasih sudah memanfaatkan hiu paus ini sebagai bagian dari atraksi wisata selamnya. Proses konsultasi publik dalam rangka penetapan status perlindungan hiu paus ini, diprediksi relatif mudah dengan alasan-alasan tersebut di atas, sehingga akan lebih lancar untuk penetapan status perlindungannya. Berbeda dengan 4 jenis hiu yang telah disebutkan sebelumnya. Empat jenis hiu tersebut (tiga jenis hiu kepala martil dan 1 jenis hiu koboy) adalah jenis hiu yang termasuk banyak dimanfaatkan oleh para nelayan dan masyarakat. 
Tentang Peraturan Daerah Kab. Raja Ampat No. 09 tahun 2012 tentang Pelarangan Penangkapan Ikan Hiu dan Jenis Tertentu Lainnya. Perda tersebut adalah berada dalam konteks pengelolaan perikanan, bukan dalam rangka penetapan status perlindungan ikannya. Karena yang berwenang menetapkan status perlindungan jenis ikan hanya Menteri Kelautan dan Perikanan (Kepmen KP No. 03 tahun 2010 tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis Ikan. Proses penetapan status perlindungan suatu jenis ikan, dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan data yang akurat. Prosedur penetapan status perlindungan jenis ikan harus melalui berbagai kajian multi aspek yang dilakukan oleh lembaga penelitian nasional yaitu LIPI serta melalui berkali-kali konsultasi publik dengan berbagai stakeholder.
Kampanye untuk tidak makan ikan hiu termasuk makan sup siripnya, yang sedang gencar-gencarnya dilakukan, adalah masih dalam katagori ‘himbauan’, dan tidak bisa diberikan sangsi kepada yang melanggarnya karena memang belum tersedia peraturan nasional yang melandasinya (kecuali yang memanfaatkan jenis hiu gergaji). Dan juga tidak semua jenis ikan hiu akan diberikan status perlindungannya. Kita masih sangat perlu memikirkan sosial ekonomi dan kehidupan nelayan maupun masyarakat lainnya yang ‘bergelut’ dengan perikanan hiu sebagai sumber nafkah-nya.
Perdagangan Sirip Hiu
Baby Hiu yang kini banyak diperdagangkan
Jenis hiu mana yang dilindungi?
Hiu kepala martil yang dilindungi
Hiu kepala martil diperdagangkan
Masyarakat sedang memanfaatkan jenis hiu kepala martil

10 komentar:

  1. Informasi yang sangat penting Pak, karena saat ini sedang digalakkan #SaveShark Indonesia di dunia maya khususnya Twitter oleh Divemag Indonesia (@divemag_indo). Banyak sekali ditemui saat ini restoran-restoran yang menyajikan menu dari Hiu. Semoga postingan Bapak dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus) yang baru saja di tetapkan oleh MKP dapat menjadi dasar bahwa kita harus melindungi Hiu di Indonesia dari kepunahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali BU Iyussari, harapan bersama semoga hiu dapat dimanfaatkan secara lestari yang berarti ada keseimbangan antara aspek ekonomi dan konservasinya

      Hapus
  2. bagaimana dengan efektivitas cites dalam perdagangan hiu illegal pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena luasnya perairan laut kita maka pengawasan terhadap perdagangan spesies akuatik yang masuk kedalam daftar Appendix CITES perlu ditingkatkan. Ikan hiu yang ada di perairan kita yang sudah masuk dalam daftar Appendic CITES adalah hiu paus, tiga jenis hiu martil dan satu jenis hiu koboi. Tiga jenis hiu martil dan satu jenis hiu koboi masuk dalam daftar Appendix 2 CITES pada bulan Maret 2013 dan sekretariat CITES memberikan waktu 18 bulan untuk mempersiapkan implementasinya sehingga untuk 3 jenis hiu martil dan hiu koboi - pengaturan perdagangan internasional nya (ekspor mpor) baru efektif berjalan nanti setelah bulan September 2014. Untuk perdagangan internasional hiu paus sudah berjalan juga hiu paus karena sudah ditetapkan sebagai ikan yang dilindungi penuh secara nasional artinya ikan hiu paus ini tidak boleh diperdagangkan tidak saja secara internasional tetapi juga di dalam negeri.

      Hapus
  3. Pak, emangnya ada orang yg memperdgangkan hiu paus?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di CITES, hiu paus masuk dalam daftar Apendiks 2 yang berarti jenis ikan tersebut masuk katagori jenis ikan yang dilindungi yang boleh diperdagangkan namun melalui pengawasan yang ketat salah satunya melalui mekanismenya kuota. Dengan demikian ada indikasi kuat secara internasional ikan hiu paus ini diperdagangkan. Walaupun penentuan apakah salah satu jenis ikan masuk dalam daftar Apendiks 1 atau 2 dalam sidang COP CITES lebih disebabkan oleh tingkat keterancaman akan kepunahannya. Sampai saat ini negara China dan Taiwan masih menerima bagian bagian tertentu dari tubuh hiu paus. Kejadian terjeratnya 3 hiu paus di perairan pantai Kenjeran Surabaya pada awal bulan Desember 2013 kemarin, ikan ikan hiu paus tersebut dibeli oleh seseorang dimana dagingnya dibawa ke Sedayu Gresik untuk diolah menjadi ikan asin dan tulangnya diekspor ke Taiwan yang konon katanya untuk bahan obat obatan. Harga seekor hiu paus tidak seberapa hanya kisaran 500 ribu sampai 1 juta saja padahal bobotnya tiap ekor sampai 1 ton. Pihak Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah melakukan sosialisasi di Kenjeran Surabaya dan kini nelayan setempat sudah faham kalau hiu paus termasuk yang dilindungi secara penuh menurut peraturan Indonesia yang artinya sama sekali tidak boleh ditangkap, diperjualbelikan ,dan dikonsumsi. Hal tersebut diperlihatkan ketika ada seekor hiu paus yang terjerat kembali oleh jaring nelayan Kenjeran dan hiu paus itu diusahakan dan dapat direlease kembali ke perairan laut dengan keadaan hidup. Terima kasih atas respon dari Sugi Pratiwi. Salam

      Hapus
  4. Bagaimana dengan hiu botol pak? apakah termasuk yag dilinddungi atau direncanakan untuk dilindungi? sebab ini ini juga banyak ddi tangkap untuk di ambil hati nya guna kepentingan kesehatan maupn kosmetik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mb Shalomitha, hiu botol banyak ditangkap tetapi program KKP untuk waktu terdekat masih fokus untuk memberikan status perlindungan hiu martil dan hiu koboi. Kesulitan kami ketika akan memberi status dilindungi adalah minimnya ketersediaan data jenis ydm. Pemberian status perlindungan jenis ikan harus melalui berbagai tahapan yg masing masing tahapan memerlukan referensi ilmiah atau berbagai data yg diperlukan.
      Terima kasih atas atensi nya terhadap konservasi sumber daya ikan Indonesia.

      Hapus
  5. Hiu martil dan hiu koboi apakah masih diperbolehkan untuk diperdagangkan di dalam negri atau tidak ?. Karna dilapangan banyak di manfaatkan oleh oknum untuk menangkap orang yang memperdagangkan dan mengangkut ke dua jenis hiu tersebut. Mohon petunjuknya Pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 59 tahun 2014 tentang pelarangan ekspor dari hiu koboi dan 3 jenis hiu martil. Artinya kedua jenis hiu tersebut baik dalam keadaan utuh atau bagian bagiannya spt sirip, tulang, taring dll tidak boleh diperdagangkan keluar negara Indonesia. Untuk perdagangan di dalam negeri / keperluan dalam negeri masih diperbolehkan.

      Hapus